Married With My Besti

Married With My Besti
Siapa Pria Itu?


__ADS_3

"Gha, gantian gendong Kai-nya dong, aku pegel deh."


Gue langsung memandang Mala datar. Ya gimana nggak pegel, hampir tiga jam lebih kami muter-muter cuma nyari baby chair yang sesuai dengan selera Mala. Itu baru nyari baby chair, belum yang tiba-tiba pengen mampir nyariin baju sama sepatu buat Kai. Mana lama juga lagi milihnya, padahal dapetnya masing-masing sebiji doang. Untung bayinya enggak rewel, meski endingnya gue yang rewel sih sebenernya.


"Terus troli-nya yang dorong siapa?"


"Menurut kamu?" Mala balik bertanya dengan ekspresi wajah ngeselinnya.


Kebiasaan. Ditanya malah balik nanya. Astaga, beri hamba kesabaran Tuhan.


Sambil memutar kedua bola mata pasrah, gue akhirnya mengambil alih Kai dari gendongan Mala. Sekarang gue mulai agak menyesal dengan keputusan belajar menggendong menggunakan kain. Karena sekarang Mala jadi sering banget minta gantian gendong saat keluar begini, setelah gue udah mahir menggendong menggunakan kain. Soalnya, sebelum belajar Mala tidak pernah melakukannya.


Gue berdecak kesal saat menatap Mala yang malah mematung di depan rak berisi deretan bubur bayi dari berbagai merk, sambil mengusap dagunya. Terlihat seperti orang yang sedang bingung.


"Kenapa lagi?" tanya gue berusaha tetap mode kalem. Padahal asli gue udah gondok setengah mati.


"Bingung. Aku kemarin lupa belum searching bubur merk mana yang lebih bagus. Gimana ya, Gha? Apa kita telfon Mama atau Kak Ale dulu? Atau telfon Bunda aja deh."

__ADS_1


Mala langsung merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana, saat ia hendak menghubungi seseorang, gue langsung menahannya.


"Ya udah sih, ambil aja semua. Merk apapun rasa apapun, ambil aja semua, pilih yang isinya paling sedikit, ntar biar Kai sendiri yang milih, ngapain nelfon segala, kelamaan. Lagian selera Kai nanti belum tentu sama dengan saran yang yang bakal kamu telfon, udah nurut aku, ambil semua terus suruh Kai nyobain semua juga, ntar yang paling dia suka baru kita beli lagi. Beres kan?" ucap gue final, "udah nggak usah pake mikir lama. Aku beneran udah pegel banget loh ini, La," sambung gue dengan nada sedikit merengek.


Padahal anak gue anteng di gendongan. Tapi bodo amat gue nggak gengsi, karena saat ini gue beneran udah capek banget.


Kini giliran Mala yang berdecak kesal. "Gendong belum ada lima menit aja udah protes pegel. Apa kabar aku dulu yang harus bawa Kai kemana-mana selama sembilan bulan?"


Gue langsung menjentikkan jari di depan wajah Mala untuk menyadarkan dia. "Sadar diri, tolong ya, Buk! Si ibu dulu lahiran sebelum waktunya, jadi itungannya nggak nyampe sembilan bulan mengandungnya."


Gue mendengus. "Lagian tadi pas kita di toko bayi yang gendong Kai siapa? Pangeran dari Konoha?" gerutu gue kesal.


Mala menatap gue datar. "Dih, emang di Konoha ada pangeran," gerutunya kemudian sambil geleng-geleng kepala tentu saja. Tangannya kemudian sibuk mencomot berbagai merk bubur bayi dari rak dan meletakkannya pada troli kami yang sudah penuh.


"Udah kan? Yuk, langsung bayar," ajak gue kemudian. Gue sedikit mengintip ke arah Kai yang berada di gendongan, yang terlihat mulai mengantuk, "ini juga si Kai udah kelihatan ngantuk lagi."


Mala mengangguk. "Kayak ya udah deh, enggak ada yang kelupaan." Ia kemudian mengambil alih troli, "udah, aku aja yang dorong. Mana dompet kamu?" imbuhnya sambil menodongkan sebelah tangan.

__ADS_1


Gue melotot kaget. "Aku lagi yang bayar?"


Gue tahu konsep uang suami memang uang istri. Uang istri tetap milik istri. Terkadang memang tetep gue yang bayar ini-itu, meski gue udah transfer uang bulanan buat Mala. Tapi ini masalahnya baru kemarin sore gue transfer dia. Tanggal gajian kita sama. Sama-sama kemarin. Terus tadi buat beli baby chair--yang bisa dibilang harganya paling nggak murah--pake duit gue, di toko bayi juga pake duit gue. Lalu sekarang belanja bulanan tetep pake duit gue juga? Lha terus fungsi dari gue transfer uang bulanan kemarin sore buat apaan? Mempergendut rekening tabungan Mala gitu?


Ini gue curiga jangan-jangan Mala sengaja minta gue bayar semuanya karena tahu gue lagi ngincer lensa kamera baru. Soalnya tidak biasanya Mala seniat ini saat menguras isi dompet gue.


"Hehe," respon Mala sambil cengengesan.


Gue berdecak kesal lalu menyuruh Mala mengambil sendiri dompet gue yang ada di saku celana. Lalu kami segera menuju kasir untuk membayar.


Gue memutuskan untuk menyingkir dari antrian karena Kai mulai sedikit rewel. Anak gue udah ngantuk berat. Akhirnya setelah gue sedikit menyingkir dari kerumunan, Kai lebih tenang dan tertidur dengan lelap. Pandangan gue kemudian beralih menatap Mala, yang terlihat sedang mengobrol dengan pria.


Tunggu, sebentar, siapa pria itu? Kok keliatannya mereka akrab banget sama Mala? Mana ketawanya sok asik banget lagi. Gue mempertajam penglihatan gue, siapa tahu gue kenal tapi cuma pangling aja, tapi semakin gue perhatikan gue tetap tidak menemukan jawaban itu. Lantas siapa pria itu? Kenapa gue nggak merasa kenal ya?


Tbc,


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2