Married With My Besti

Married With My Besti
Kena Omel Mama


__ADS_3

*


*


*


Gue meringis ngilu saat melihat memar pada jidat Kai, bekas jatuh kemarin. Untungnya hari ini benjolnya sudah berkurang tinggal memar samar, yang pastinya masih bakalan tetap ter-notice Mama mertua gue nantinya.


Kai baru selesai dimandikan Mala dan kini sedang dipakaikan baju karena sebentar lagi dijemput Mama Mertua gue. Katanya Mertua gue ingin ngajak Kai jalan-jalan tanpa gue atau Mala. Padahal hari ini gue sama Mala libur, dan harusnya juga hari ini jatah kami main sama Kai. Eh, tapi Mertua gue malah pengennya Kai sama mereka. Karena enggak enak menolak permintaan mertua, akhirnya gue setuju saat Mama bilang mau ajak Kai jalan-jalan hari ini. Dan tentu saja hal ini membuat gue sama Mala sempat ribut kecil lebih dahulu, sebelum akhirnya ia pasrah dan setuju kalau Kai ikut orangtuanya hari ini.


"La, menurut kamu nanti kita bakal kena omel sama Mama nggak kalau ini ketahuan?" Tangan terulur dan menunjuk ke arah dahi Kai yang nampak memar.


"Ya pasti lah, kamu kayak nggak tahu Mama aja. Tapi kamu tenang aja, nanti kalau Mama ngomelnya panjang lebar dan nggak diem-diem, kita nggak usah kasih izin mereka buat bawa Kai. Gampang kan?" usul Mala yang membuat gue tertawa.


Ada-ada aja idenya.


"Nanti kalau Kai nggak jadi ikut Mama, kita nggak jadi pacaran dong?"


"Udah tua juga. Masih sok-sokan pengen pacaran," cibir Mala. Ia mengambil posisi duduk sambil bersandar pada bantal, bersiap menyusui Kai.


"Kan kita belum pernah pacaran, La, langsung nikah. Abis nikah juga sibuk sama kerjaan masing-masing sampe tahu-tahu kamu hamil terus Kai lahir. Gila, ternyata waktu cepet banget ya berjalannya."


Gue kemudian memutuskan untuk berbaring di atas paha Mala, tepat samping Kai. Sesekali memainkan jari-jemari Kai, sehingga membuat bocah itu sedikit tidak fokus minum. Alhasil Mala langsung mengomel.


"Jangan digangguin kenapa sih, Gha? Orang anaknya mau minum juga. Minggir, itu kan ada bantal, kamu pikir nggak bikin kesemutan apa kamu baringan di sini."


Gue meringis lalu pindah berbaring pada bantal.


"Kamu juga suka ngomel kalau digangguin kok, seneng banget gangguin anaknya."


"Ya, abis dia seneng gangguin kita kalau lagi pacaran."


Sambil berdecak Mala langsung memukul wajah gue menggunakan handuk yang belum sempat ia singkirkan.


"Jemurin sekalian handuknya."


"Siap ibu negara." Gue langsung bangun dari posisi berbaring, pasang badan tegap sambil memberi hormat lalu segera bergegas menjemur handuk.


Saat gue hendak kembali berbaring, terdengar suara bell berbunyi.

__ADS_1


"Kayaknya itu Mama deh, coba kamu cek sekalian, Gha."


Meski ambil menggerutu, gue akhirnya memilih untuk turun ke lantai bawah dan mengecek siapa tamunya. Dan saat gue membuka gerbang, ternyata benar, Mama Mertua gue.


Gue langsung mempersilahkan beliau untuk masuk ke dalam. Lalu gue bergegas memanggil Mala.


"Beneran Mama sama Papa, La. Ayo, buruan turun!" ajak gue kemudian.


Mala mengangguk setuju, lalu menyuruh gue untuk membawakan tas yang berisi perlengkapan Kai.


"Pagi banget sih?" protes Mala setelah sampai di bawah dan menemui kedua orang tuanya.


"Ya, biar nggak kesiangan," jawab Mama, ia kemudian langsung mengajak Kai mengobrol, "halo, cucunya Nenek. Udah ganteng banget sih, mau ke mana ini? Loh, ini dahinya kenapa?"


Oho, sepertinya omelan akan segera dimulai.


Kedua mata Mama langsung menatap tajam ke arah gue dan Mala secara bergantian.


Gue meringis. "Jatuh, Ma."


"Kok bisa jatuh? Jatuh dari mana? Emang gimana jagainnya?" Mama melotot semakin tajam lalu mengambil alih Kai dari gendongan Mala, "Ya ampun, kasian banget. Sakit ya, sayang? Siapa yang nakal? Mama sama Papa nakal, ya?"


Gue hanya mampu meringis canggung tanpa membalas. Soalnya enggak mungkin juga kan, gue jawab Kai jatuh karena kami tinggal asik ngobrol sendiri.


"Udah dikasih apa ini? Benjol ya kemarin?" tebak Mama.


Mala mengangguk dan membenarkan. "Iya, udah dikasih salep kok itu."


Mama berdecak kesal. "Makanya lain kali lebih hati-hati dong, kasian kan Kai-nya. Masih kecil loh ini."


"Iya," balas Mala pasrah.


Omelan Mama masih terus berlanjut. "Jangan cuma iya-iya aja, dijagain yang bener. Apalagi kan Kai ini anaknya aktif banget, harusnya kalian lebih extra lagi jagainnya. Gimana sih? Berdua masa jagain bayi satu aja nggak becus," komentar beliau pedas.


Hal ini tentu saja membuat Mala langsung naik pitam. "Ya, kan namanya kecelakaan, Ma. Emang Mama pikir kita sengaja?"


Dengan gerakan cepat gue langsung merangkulnya untuk menenangkan. "Ssst, udah, La."


"Mama yang mulai loh, Gha. Bisanya kok nyalahin terus."

__ADS_1


"Kan kita emang yang salah karena lalai jagain Kai-nya," bisik gue, langsung membuat Mala melotot tajam ke arah gue.


"Tuh, dengerin suami kamu. Udah lah, Mama langsung bawa Kai. Malem ini biar nginep sekalian di rumah Mama, besok baru Mama anter." Setelah mengatakan itu Mama langsung mengajak Papa, yang sedari tadi diam dan tidak berkomentar, untuk segera berangkat, "manfaatin waktu kalian berdua sebanyak-banyaknya, mumpung Kai sama Mama. Biar abis ini lebih fokus ngurusin Kai-nya."


"Iiihh, kesel banget aku sama Mama. Selalu seenaknya sendiri. Kan Kai itu anak kita, aku yang mengandung dan melahirkan loh," gerutu Mala dengan wajah kesalnya, "tapi kenapa Mama yang seenaknya sendiri. Aku ini ibunya loh."


Kai sudah dibawa pergi oleh Mama dan juga Papa. Kini tinggal gue sama Mala berdua. Mala terlihat sangat kesal. Gue langsung merangkul bahu Mala dan menyandarkannya pada pundak gue.


"Kan Mama yang bantu jagain Kai, La. Terus emang biasanya para nenek kan emang agak rewel kalau menyangkut cucu mereka."


"Tapi Bunda enggak tuh."


Gue hanya mampu meringis saat mendengar jawaban Mala. Usapan lembut pada pundaknya pun spontan terhenti. Gue garuk-garuk kepala, bingung harus merespon bagaimana.


"Ya kan tiap orang punya sifat dan kepribadian yang beda-beda, La," balas gue kemudian. Gue kembali mengusap pundak Mala, berusaha menenangkan Mala yang masih bad mood.


"Nah, makanya itu aku kesel sama Mama."


"Enggak boleh gitu, kan Mama yang udah ngelahirin kamu. Kamu lupa sakitnya ngelahirin Kai kemarin? Perut kamu sampai dibelah loh. Lupa sama sakitnya kemarin?"


Mala menatap gue sinis. "Mana mungkin aku lupa. Bekas jahitannya aja kadang masih suka kerasa kok."


"Makanya kamu nggak boleh gitu sama Mama. Lagian kan kemarin emang kita yang salah, kan kita kemarin keasikan ngobrol sampai kelupaan nggak pindahin Kai ke box bayi dan berakhir Kai yang jatuh kan? Emang kita yang salah, La."


"Ya, kamu sih kemarin pake acara nyebelin. Kan kita jadi lalai ngejagain Kai."


Gue langsung menampilkan wajah datar gue. "Kamu itu sama aja kayak Mama tahu," komentar gue sambil menyentil hidung Mala gemas, "sama-sama sukanya nyalahin."


Kali ini Mala tidak membalas dan hanya memasang wajah cemberutnya.


"Kalau nanti beneran Mama nggak pulangin Kai malam ini gimana? Kita jemput jangan?" tanya Mala mulai khawatir.


"Biarin aja."


"Lah, terus kita gimana? Mau ngapain?"


"Bikinin adek buat Kai," canda gue.


Namun, Mala merespon terlalu serius. Sehingga dengan gerakan supernya ia menjewer telinga gue sampai merah.

__ADS_1


Astaga, sakit banget Tuhan.


Tbc,


__ADS_2