
*
*
*
Sesuai yang dikatakan Mala, perempuan itu memang terlihat cukup baik-baik saja. Tidak terlihat seperti orang yang sedang menahan sakit atau berwajah pucat. Syukur alhamdulillah tidak. Tapi meski demikian Agha masih saja terlihat panik karena pengakuan Mala tadi yang bilang kalau tadi sempat mengalami flek.
Tak ingin membuang banyak waktu, ia langsung mengajak Mala ke rumah sakit untuk mengecek kondisi calon bayi mereka. Sepanjang perjalanan, Mala lah yang terus-terusan berusaha menenangkan Agha bukan sebaliknya.
Agha berusaha sekuat tenaga agar tidak panik, tapi entah kenapa itu terasa sulit. Ia benar-benar kesulitan untuk menenangkan dirinya sendiri.
Begitu sampai di rumah sakit, Randu sudah stand by di sana. Karena memang sebelumnya Mala sempat menelfon sang mertua. Bahkan sebelum menelfon Agha, Mala lebih dulu menelfon sang mertua.
"Gimana, Yah, kondisi calon bayi kami? Dia nggak papa kan?" tanya Agha dengan wajah khawatir terlihat jelas pada wajah pria itu.
Randu menghela napas sedih. "Kita rawat inap dulu ya, buat observasi lanjutan. Untuk sekarang kondisinya tidak terlalu serius tapi memang untuk detak jantung janin memang agak sedikit melemah jika dibandingkan janin kebanyakan. Tapi nggak papa, jangan terlalu berkecil hati karena kondisi janin yang naik turun begini wajar ya, Nak," ucapnya sambil mengelus rambut Mala agar sang menantu tidak terlalu khawatir.
Mala mengangguk paham. Pandangannya kemudian beralih pada sang suami yang terlihat khawatir.
"Enggak papa, Gha," ucap Mala mencoba menenangkan Agha.
"Maafin aku ya, La, nggak bisa jaga kalian dengan baik," sesal Randu.
Mala menggeleng. "Enggak papa, Gha, mungkin emang si adek lagi capek aja, yang penting kita udah sama-sama mengusahakan yang terbaik buat adek."
__ADS_1
Randu mengangguk dan ikut menenangkan sang putra. "Iya, Gha, nggak papa jangan terlalu ngerasa bersalah atau khawatir. Wajar kok hal-hal begini terjadi, sudah menjadi resikonya, yang penting kalian lebih sabar aja ya. Pokok jangan terlalu berkecil hati dan tetep semangat! Kalian nggak sendirian. Masih ada Ayah, Bunda, Mama, Papa, dan juga Kai kan? Yang penting kalian tetep kuat. Jangan terlalu sedih atau sampai dipikirin serius banget, ya. Nanti kita cari solusi sama-sama biar dedeknya sehat lagi. Sekarang mending kamu urus administrasi buat rawat inap Mala, Gha," suruhnya kemudian. Randu kemudian celingukan mencari seseorang, "Kai mana? Ikut nggak dia?"
Mala mengangguk. "Ikut, Yah, sama Abbas."
"Loh, Abbas ikut ke sini? Kebetulan banget, Ayah mau ada urusan sama dia."
"Urusan apa, Yah?" tanya Agha kepo.
"Ada deh, urusan pribadi nih. Kamu nggak usah kepo, sana urus administrasi dulu. Ayah mau nyari Abbas," ucap Randu pada Agha, ia kemudian beralih pada sang menantu, "Ayah tinggal dulu ya, Nak! Enggak usah terlalu mikirin yang enggak-enggak, biar si adek cepet sehat, ya! Nanti Bunda-mu bentar lagi ke sini kok."
Mala mengangguk paham. "Iya, Yah."
"Ya sudah Ayah tinggal."
Setelahnya Randu keluar ruang IGD untuk mencari Abbas. Tak butuh waktu lama akhirnya ia menemukan Abbas sedang asik main bersama sang cucu. Tumben banget mereka keliatan akur, padahal biasanya udah kayak musuh karena Abbas yang biasa memang jahil.
"Eh, Om Randu, ada apa ya, Om? Ada masalah serius sama adik Kai?"
Randu menggeleng sambil memasukkan kedua tangannya pada saku jas putihnya. "Enggak terlalu serius, cuma tetep aja kondisi Mala perlu observasi lanjutan."
Wajah Abbas terlihat terkejut. "Berarti Mala harus rawat inap lagi dong, Om?"
Sambil menghela napas Randu kemudian mengangguk untuk mengiyakan. "Ya kalau mempertahankan janin lemah ya emang begini, Bas, dikit-dikit masuk rumah sakit, meski si ibu udah usaha buat mengurangi hampir semua kegiatannya. Untuk Mala Om emang udah bener-bener minta sama Agha supaya kegiatannya dibatasi, cuma ya hal-hal begini tetep masih bisa aja terjadi. Kamu sebagai temen Agha, bantuin kasih semangat buat dia ya? Soalnya Om perhatiin yang gampang kepikiran justru Agha."
Abbas mengangguk paham. "Siap, Om, nanti Abbas coba kasih tahu Agha biar nggak terlalu khawatir."
__ADS_1
"Oh ya, mumpung kamu di sini, kamu mau nggak, Bas, Om kenalin sama seseorang?"
Abbas sedikit melongo saat mendengar pertanyaan Randu. Otaknya loading sebentar sebelum akhirnya menanyakan maksud dari Ayah sang sahabat.
"Maksudnya gimana, Om?"
"Begini, di antara kalian bertiga yang belum punya istri atau berkeluarga kamu kan? Ohim udah nikah dan udah punya anak, lah, kamu? Nah, mau nggak kamu Om kenalin sama salah satu murid Om, Om ada murid yang anaknya cekatan banget, cantik, ramah, penurut banget deh pokoknya, cocok dijadikan istri. Kamu mau nggak Om kenalin sama dia?" tawar Randu dengan begitu antusias yang langsung disambut gelak tawa oleh Abbas.
"Om randu ini ada-ada aja, perasaan dulu pas Agha nggak nikah-nikah, Om santai-santai aja deh."
"Kan Agha punya Mala, Bas, jadi Om nggak khawatir. Tapi kamu? Duh, kamu bahkan nggak terlihat deket sama siapapun, terus-terus adik kamu bahkan juga udah nikah, Om kasian, Bas, liat kamu, makanya Om inisiatif buat jodohin kamu. Mau ya? Kalau mau, Om bisa langsung telfon anaknya." dengan wajah antusiasnya, Randu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana.
Abbas meringis. "Hehe, sebelumnya terima kasih banget loh, Om, atas niat baiknya. Tapi kayaknya nggak usah deh," tolaknya sedikit sungkan.
"Loh, kenapa? Nggak papa, Bas, santai aja, kayak sama siapa aja kamu ini. Ini Om loh, Ayahnya Agha, Ayah Agha juga Ayah kamu juga. Mau ya? Beneran baik kok anaknya, Om jamin kamu suka. Kenalan dulu gitu loh, nanti kalau nggak cocok, Om kenalin sama yang lain. Kamu tenang aja nggak usah khawatir, kenalan Om banyak, kita tinggal atur waktu satu-satu, kira-kira mana yang cocok sama kamu."
Abbas kembali menggeleng. "Enggak usah, Om."
Randu menghentikan niatnya untuk menghubungi orang yang hendak ia jodohkan pada Abbas. Pandangannya kembali beralih pada pria itu. "Loh, emang kenapa? Kamu ada pacar?"
Abbas menggaruk bagian belakang kepalanya salah tingkah. Bingung harus menjawab apa. Masalahnya Alisa bukan pacarnya jadi ia tidak bisa sembarangan mengakui perempuan itu.
"Kan nggak punya, udah, Om kenalin aja," ucap Randu menyimpulkan, "pokoknya nggak ada penolakan. Kamu harus mau Om kenalin sama kenalan Om yang ini. Bentar, Om telfon dulu."
Abbas si paling tidak enakan mana bisa menolak. Akhirnya dengan terpaksa ia mengangguk dan mengiyakan. Meski sebenarnya dalam hati ia benar-benar ingin menolaknya.
__ADS_1
Tbc,