Married With My Besti

Married With My Besti
Takut Kehilangan


__ADS_3

*


*


*


"Bunda udah tidur, Yah, sekarang mending Ayah ikutan tidur," saran Ale.


Ayu sudah dipindahkan ke rawat inap, awalnya perempuan paruh baya itu menolak keras saat disarankan untuk rawat inap, tapi beruntung karena Randu berhasil mengancamnya dan berakhir membuatnya pasrah dan menurut.


Baik Ale maupun Agha belum menjelaskan terkait kondisi sang ibunda. Agha jelas tidak menjelaskan karena sekarang sedang berjuang menyelamatkan nyawa pasiennya. Sedangkan Ale, perempuan itu masih bingung harus memulai dari mana menjelaskannya.


"Enggak lah, Ayah nggak ngantuk. Lagian masih jam segini masa udah disuruh tidur."


"Ya kan Ayah habis kecapekan karena abis nyetir perjalanan jauh. Pasti ngantuk lah, jadi mending sekarang Ayah tidur dulu."


"Maafin Ayah ya, yang maksain diri nyetir malem-malem, eh, malah bikin Bunda-mu masuk rumah sakit begini," sesal Randu dengan wajah bersalahnya.


Ale semakin merasa sedih melihat sikap sang ayah yang terkesan kalem sejak tadi. Padahal biasanya Randu sangat lah ceria dan juga berisik. Dulu bahkan Ale sering mengomel karena kecerewetan sang Ayah. Mendadak ia merindukan sikap cerewet sang Ayah.


"Makanya, Yah, pake supir. Udah tua juga, sok-sokan nyetir sendiri. Begini kan endingnya?" canda Ale.


Randu terkekeh samar. "Ya gimana ya, Kak, kan Ayah mau berduaan doang sama Bunda menikmati indahnya perjalanan. Masa pake supir. Enggak seru lah," balasnya ikut bercanda.


"Justru kalau ada supir kan jadi bisa fokus berduaannya, nggak terbagi sama pandangan ke jalan, Yah."


Di luar dugaan, Randu kemudian mengangguk dengan wajah sedihnya. "Kamu benar, Kak, semua salah Ayah. Harusnya Ayah nggak begitu."


"Duh, Yah, kok jadi mendadak serius? Bukannya tadi kita bercanda?"


Randu tampak melamun sebentar lalu memanggil Ale secara tiba-tiba.


"Kak."


"Iya? Kenapa Ayah tetiba pengen makan sesuatukah? Mau dibeliin apa?"


Randu menggeleng. "Enggak, nggak pengen apa-apa. Ayah masih kenyang." ia kemudian menoleh ke arah sang putri dengan wajah seriusnya, "kamu nggak mau kasih tahu Ayah tentang kondisi Bunda-mu mumpung dia masih tidur?"


"Mau kok, Yah, tanpa Ayah minta kita pasti kasih tahu kondisi Bunda. Kan Ayah suami Bunda jadi Ayah berhak tahu."


"Apa luka dalamnya cukup serius?"


"Bunda sakit, Yah, bukan karena kecelakaan ini. Justru berkat kecelakaan ini kita jadi tahu kondisi Bunda."


Raut wajah Randu terlihat makin cemas. Ale langsung menggenggam tangan sang Ayah.


"Ayah nggak sendirian ya, Yah, nanti kita hadapi ini semua sama-sama."

__ADS_1


"Separah apa sakitnya?"


"Ada tumor di daerah payudara Bunda, hari ini kita langsung usahain buat tindakan biopsi buat mastiin tumornya jinak atau enggak."


Pandangan Randu kemudian beralih ke arah ranjang, di mana sang istri tengah tertidur pulas di sana. Pikirannya mulai berkecamuk.


"Ayah mau lihat hasilnya."


Ale menggeleng tidak setuju. Sebelah tangannya berusaha menahan lengan sang Ayah saat pria paruh baya itu mencoba berdiri.


"Kak!" panggil Randu dengan nada protes.


Kedua mata Ale mulai berkaca-kaca. Ia menggeleng tegas tak lama setelahnya. "Enggak usah, Yah, kita tunggu hasilnya nanti ya?" bujuknya kemudian.


"Kak, kamu tega giniin Ayah?" tanya Randu dengan suara yang mulai terdengar seperti bergetar.


"Ayah," panggil Ale dengan nada putus asa. Ia bingung sekaligus merasa serba salah.


Randu kembali duduk. Pandangan matanya kosong. Otaknya mulai berisik dengan berbagai asumsi.


"Ayah mau tahu buat nyiapin diri untuk segala kemungkinan, Kak," ucap Randu tiba-tiba. Ia kemudian menoleh ke arah sang putri sejenak sebelum akhirnya beralih menatap sang istri, "kalian selalu ngeledek Ayah kan kenapa Ayah bucin banget sama Bunda kalian. Ayah punya alasan, Kak, karena memang buat dapetin Bunda-mu itu susah. Ayah cinta banget sama Bunda kalian. Jadi, tolong, kasih liat hasilnya, Kak. Ayah mohon!" imbuhnya sambil menangis.


Hati Ale rasanya seolah seperti teriris. Sakit. Ia kemudian memalingkan wajah, agar sang Ayah tidak melihat tangisnya yang semakin pecah.


"Kak!" panggil Randu sekali lagi.


Ale kembali menggeleng tegas. "Enggak, Yah, Ayah nggak usah tahu kondisi detailnya. Nanti kita dengerin apa kata dokter begitu Bunda selesai tindakan biopsi dan hasilnya keluar ya?"


Ale diam sambil mengigit bibir bawahnya. Dan Randu sudah cukup mendapat jawaban dari ekspresi sang putri.


"Jadi Ayah gagal jagain Bunda kalian ya?"


"Ayah kenapa ngomong gitu sih? Enggak, Ayah nggak gagal, kita nggak gagal. Semua hasilnya belum keluar, masih ada harapan, Bunda pasti sembuh. Kita akan berjuang bersama-sama buat kasih semangat ke Bunda nantinya. Ayah jangan patah semangat dulu lah."


"Sikap kamu sekarang lah yang bikin Ayah ngerasa patah semangat, Kak."


Ale merasa tertampar. Ia mengakui kesalahannya.


"Maafin Ale, Yah! Maafin Kakak!"


Randu menundukkan kepalanya lalu bergumam, "Bunda-mu nggak akan ninggalin Ayah kan, Kak?" air matanya kembali jatuh.


Ale menggeleng cepat. "Enggak, Ayah, Bunda nggak akan ninggalin kita. Bunda sayang banget sama kita, Yah, Ayah tahu itu kan?"


Randu mengangguk. "Ayah tahu, Ayah juga sayang banget sama Bunda-mu. Tapi rasanya mungkin Ayah nggak akan sanggup kalau Bunda-mu sampai ninggalin Ayah duluan."


"Ayah kenapa ngomong gitu sih?" protes Ale dengan nada kesal, "Ayah nggak liat Bunda baik-baik saja sekarang?"

__ADS_1


Emosi Ale meluap begitu saja tanpa bisa ia kendalikan.


Randu tidak menjawab dan memilih berdiri untuk menghampiri Ayu, sang istri. Ia menarik kursi untuk ia duduki. Sebelah tangannya menggenggam telapak tangan sang istri, saat merasakan telapak tangan itu sedikit hangat dari biasanya, air mata Randu jatuh tanpa bisa ia bendung.


"Yu, kenapa kamu selalu giniin aku? Kenapa harus aku yang ngeliat kamu sakit? Kenapa sih, Yu? Kita udah nikah berapa puluh tahun aku tanya, anak-anak kita bahkan sudah punya pasangan dan buah hati, kita udah punya cucu, Yu. Tapi kamu masih aja begini, nggak berubah, aku harus bilang berapa kali sih kalau kamu ngerasa ada yang nggak beres sama diri kamu, bilang ke aku, Yu. Cerita! Aku suami kamu."


Tidur Ayu akhirnya terusik karena suara sang suami, yang terdengar seperti orang mengomel tapi dengan nada yang putus asa. Hal ini membuat Ayu kebingungan.


Kenapa sih ini suaminya?


"Kamu kenapa tiba-tiba panggil nama?" tanya Ayu dengan raut wajah bingung, "dan kenapa kamu nangis? Ada yang sakit? Yang mana yang sakit?"


"Janji satu hal sama aku, Yu!"


"Apaan sih? Malu, Yah, itu dilihat anaknya," omel Ayu dengan wajah kesal.


Tapi Randu menggeleng tidak peduli. "Pokoknya kamu harus sembuh, ikutin semua yang dokter suruh. Aku nggak mau jadi duda meski umur aku udah tua. Kamu ngerti?"


"Emang hasilnya udah keluar?"


Ekspresi Randu melongo tidak percaya. "Kamu notice kalau sakit tapi nggak periksa? Atau jangan-jangan kamu selama ini diem-diem periksa tanpa kasih tahu aku atau anak-anak?"


"Enggak lah, Bunda belum periksa. Bunda cuma ragu-ragu tiap mau periksa."


Ale terlihat putus asa sekaligus frustasi. "Kalau ibu ragu-ragu kan ibu bisa cerita dulu ke Ale."


Ayu memandang putri dan suaminya dengan wajah bersalahnya. "Maafin, Bunda! Apa cukup serius?" tanyanya dengan nada khawatir, "tapi Bunda nggak sampai perlu dioperasi kan?"


"Nanti kita ambil tindakan biopsi untuk memastikan tumornya jinak atau bukan, Bun."


Wajah Ayu nampak kebingungan. "Biopsi itu apa?"


"Itu tindakan yang ngambil jaringan atau sampel sel tumor yang nantinya bakal diidentifikasi oleh ahli patologi, Bun."


"Ayah mau keluar sebentar," pamit Randu tiba-tiba.


Wajah ibu dan anak itu berubah kebingungan, keduanya saling bertukar pandang sebelum akhirnya masing-masing menghela napas panjang.


"Ayahmu keliatan marah ya, Kak?"


Ale mencoba untuk tersenyum sambil mengelus pundak sang Bunda. "Enggak papa, Bun, Ayah cuma perlu waktu kok. Bunda nggak usah terlalu mikirin Ayah, ya, yang penting sekarang Bunda fokus ke kesehatan Bunda dulu."


"Bunda kok mendadak takut ya, Kak."


"Takut sama tindakan biopsinya?"


Ayu menggeleng. "Bunda lebih takut bikin Ayahmu khawatir."

__ADS_1


Rasanya Ale ingin menangis sekali lagi. Kenapa Bunda-nya masih sempat-sempatnya mengkhawatirkan Ayahnya ketimbang kondisinya sendiri?


Tbc,


__ADS_2