
*
*
*
Alisa menghela napas saat menatap bangunan rumah sederhana di hadapannya. Sebuah ujian berat baginya saat harus mengunjungi rumah mertua seorang diri. Jujur, meski ia sudah cukup berpengalaman tapi tetap saja perasaan berdebar itu masih tetap ada. Apalagi mengingat sikap sang mertua yang sejujurnya tidak terlalu menyukainya itu.
Meski sudah diberi restu dan kini ia sudah menjadi istri Abbas selama beberapa bulan, tapi tetap saja. Hapsari terkadang masih menunjukkan sikap kurang nyaman terhadap dirinya, apalagi kalau mereka hanya berdua dan tanpa ada Abbas. Semua terlihat begitu ketara, dan jujur itu sedikit melukai harga dirinya.
Batinnya kerap kali bertanya-tanya, kapan sang ibu mertua mau menerimanya dengan sepenuh hati?
Tak ingin terlalu berlarut dalam pikiran, Alisa mencoba menyemangati diri dan langsung turun dari mobil.
"Assalamualaikum," sapa Alisa saat memasuki pekarangan rumah. Kakinya kemudian melangkah ragu-ragu, karena belum mendapat sahutan dari sang mertua. Kalau berharap mendapat sahutan dari sang ipar soalnya lebih nggak mungkin, karena sudah jelas mereka pergi bekerja.
Saat ia masuk, sang ibu mertua ternyata sedang bermain bersama cucunya di ruang tengah. Mendadak Alisa tidak paham, apa maksud dari sang mertua saat ini? Kalau di ruang tamu bukankah harusnya mendengar suaranya, rasa-rasanya tidak mungkin kalau tidak dengar deh. Pikirnya tidak habis pikir.
Tidak ingin mencari perkara, Alisa memilih langsung mendekat lalu mencium punggung tangan sang mertua.
"Mana suamimu?"
Alisa awalnya sedikit bingung. "Di kantor, Bu. Kenapa?"
"Terus kamu ke sininya naik apa?" tanya sang mertua heran.
Alisa masih terlihat ragu-ragu. "Naik mobil, Bu."
Hapsari terlihat heran, hal ini membuat Alisa ikut bertambah heran.
"Kamu punya mobil?"
Alisa mengangguk untuk mengiyakan. Apakah ia memiliki mobil itu sebuah masalah besar? Batinnya tidak habis pikir. Di luar dugaan, ekspresi wajah Hapsari terlihat tidak suka.
"Kalian kan belum punya anak, cuma berdua, kenapa punya mobil sendiri-sendiri?" tanya Hapsari terdengar seperti menyindir tidak suka, "kan bisa kamu berangkat dianter- terus pulangnya dijemput suamimu. Kenapa harus nyetir sendiri-sendiri. Ya yang beginian nih yang bikin jalanan ibukota macet tiap harinya. Lagian kan kalau pulang-pergi bareng suamimu lebih hemat, terus juga lebih bagus untuk mempererat hubungan."
Alsa tidak berani menjawab apalagi berkomentar. Karena takut salah jawab, maka respon paling aman hanya tersenyum tipis.
Hapsari menghela napas. "Sudah makan kamu?" basa-basinya kemudian.
__ADS_1
"Sudah tadi, Bu, sebelum ke sini."
Hapsari kemudian celingukan. terlihat seperti sedang mencari sesuatu.
Mampus! Batin Alisa panik. Dalam hati ia meruntuki dirinya sendiri. Astaga, Tuhan kenapa bodohnya dirinya. Respon spontan Alisa hanya sebatas ringisan. Sedangkan Hapsari hanya mendengus samar.
"Ibu belum makan? Mau makan di luar?" tawarnya kemudian.
"Nggak usah," tolak Hapsari cepat, "ibu bisa beli sendiri nanti. Itu oleh-olehmu ada di dapur. Ambil sendiri saja."
"Ya sudah, kalau gitu biar Alisa beliin. Ibu mau makan apa?"
"Apa aja, seikhlas kamu saja lah. Ibu nurut."
Jawaban yang membingungkan nih. Alisa takut salah memilih.
"Jangan terserah, Bu, nanti Alisa takut ibu kurang cocok sama apa yang Alisa belikan."
"Loh, memang yang jawab terserah siapa? Kan ibu bilang seikhlas kamu saja."
"Tapi intinya sama saja, Bu," batin Alisa gemas. Begini banget punya mertua yang nggak kasih restu ke kita.
"Atau gini aja deh, ibu beli sendiri aku kasih uang biar--"
"Eh, enggak gitu, Bu, maksud Alisa biar nggak salah beli aja."
Salah lagi kan. Demi Tuhan, rasanya Alisa ingin kabur saat ini juga. Atau paling tidak ia diizinkan menangis lah biar emosinalnya sedikit tersalurkan.
"Ngomong-ngomong ibu mau nanya, Sa."
Oke, nada bicara sang ibu mertua mulai berubah lebih ramah, sedikit. Baik, kali ini ia tidak akan membuat kesalahan. Fix, tekadnya sudah bulat.
"Ya, gimana, Bu?"
"Itu istri Ohim hamil lagi ya?"
Wajah Alisa seketika bertambah pias. Arumi sudah hamil lagi? Tapi bukannya perempuan itu hendak kembali masuk kuliah lagi, kenapa malah sudah menambah momongan saja. Dirinya dan Abbas saja bahkan belum punya. Perasaan iri seketika langsung menguasai diri. Benarkah itu?
Tak ingin terlalu memperlihatkan kesedihannya, Alisa mencoba untuk tetap tersenyum tegar meski hatinya rapuh.
__ADS_1
"Oh ya, Bu? Alisa malah nggak tahu sih, soalnya denger-denger Rumi mau masuk kuliah lagi, jadi aku agak kaget kalau semisal dia juga hamil lagi."
"Kok kuliah lagi?" tanya Hapsari heran, "itu yang dokter itu loh, Sa. Yang ibunya baru meninggal belum lama ini."
"Oalah, Agha, Bu, maksudnya?"
"Nah, iya, ibu suka ketuker deh sama nama mereka padahal mereka sudah lama banget temenan sama Abbas."
Alisa meringis tipis. "Ya, Alisa tahu, soalnya aku juga temenan sama mereka bertiga."
"Kok kamu nggak pernah diajak main ke rumah?"
Alisa tidak mampu menjawab. Karena sejujurnya ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Bener juga sih, kan kamu cewek, ibu juga nggak suka kalau Abbas suka ajak-ajak cewek ke rumah gitu. Kalau Farhan sih wajar, kalau Abbas, ibu kurang suka."
"Kenapa begitu, Bu?" tanya Alisa heran sekaligus penasaran.
"Soalnya Farhan sudah biasa, sedangkan Abbas nggak."
Hapsari tiba-tiba memukul paha Alisa pelan. Jujur, hal ini membuat perempuan itu sedikit tersentak kaget.
"Jadi bener hamil nggak? Kemarin ibu tuh sempet denger kalau keguguran kok kemarin katanya pas iparmu nggak sengaja ketemu perutnya gede. Keguguran beneran nggak to kemarin?"
Alisa mengangguk dan mengiyakan. "Bener, Bu, cuma sekarang emang udah hamil lagi. Perutnya keliatan gede karena sekarang hamil anak kembar."
"Oalah, pantesan. Enak ya kalau dua-duanya dokter begitu, hamilnya cepet. Kalian coba lah minta saran atau gimana gitu, biar cepet hamil. Apalagi kamu sudah nggak muda lagi kayak dulu lho, Sa, jangan ditunda-tunda. Minum jamu-jamu apa gitu biar cepet hamil, atau usaha apa gitu lah, jangan cuma pasrah aja. Usaha yang niat biar Gusti Allah juga nggak ragu-ragu mau kasih amanah. Meski udah ada cucu dari iparmu, kan ibu juga pengen punya cucu dari kalian. Sudah ada tanda-tanda belum sih?"
Sambil meringis tipis, Alisa menggeleng pelan. Ekspresi sedih tidak jelas tidak bisa ia sembunyikan.
"Coba berhenti kerja lah kalau begitu, Sa. Kali aja kamu kecapekan. Kata Abbas juga kamu sering lembur bikin soal atau koreksi tugas muridmu sampai malam. Bisa jadi gegara ini loh, coba dikurangi, atau program gitu. Ibu denger Mama-nya siapa tadi yang hamil kembar?"
"Mala, Bu, namanya."
"Nah, iya, itu, ibunya Mala juga dulu program hamil, suntik apa gitu ibu lupa namanya, suntik human?"
"Suntik hormon mungkin, Bu."
Hapsari manggut-manggut sembari mengiyakan. "Nah, itu dia, suntik hormon. Padahal efeknya itu katanya abis suntik jadi bikin lemes, mual, muntah gitu, tapi Mama Mala tetep suntik itu. Namanya demi hamil ya apa-apa di lakuin. Kamu juga harusnya begitu lah, Sa. Jangan mikir nanti kalau udah rejekinya dikasih. Lha kalau kamu nggak usaha Tuhan juga gimana mau ngasihnya? Berdoa sama ikhtiar perlu diimbangi. Paham kamu?"
__ADS_1
Sambil tersenyum tipis, Alisa hanya mampu mengangguk pelan. Pembahasan ini sudah termasuk pembahasan sensitif baginya, jadi ia tidak bisa kalau disuruh bersikap tenang tanpa tersinggung.
Tbc,