
"Gimana, udah enakan belum, Gha?" tanya Mala setelah selesai menempelkan koyo cabe pada pinggang gue, lalu kembali menurunkan kaos hitam yang gue pake.
Seketika gue langsung memasang wajah datar saat meresponnya. "Baru juga dipasang, La," komentar gue kemudian, "emangnya iklan begitu dipasang langsung sembuh," sambung gue kemudian.
Mala meringis sambil menggaruk rambutnya. "Iya, juga sih." ia berdecak agak kesal, "lagian lo sih kenapa pake acara gendong gue segala. Kan dibangunin bisa, khawatir banget lo kalau guenya nyantai dikit?" dengusnya kemudian.
Kembali mengomel, guys. Mulut Mala kalau nggak ngomel tuh kayaknya kaku kali, ya?
"La, gue laper," ucap gue mengalihkan pembicaraan.
Mala langsung berdecak kesal. "Kan, kan, kan, emang nggak bisa banget lo liat gue nyantai dikit. Yang hamil gue, tapi yang harus nurutin ngidamnya lo, gue juga. Begini banget nasib gue."
Gue langsung menyahut karena tidak terima, "Kan gue yang morning sick, La. Enggak enak loh morning sick tiap pagi. Kita bagi tugas ini ceritanya, nggak lo semua yang ngerasain. Di luaran sana kebanyakan orang hamil ngerasain semuanya, lo masih mending dibagi sama suami lo. Harusnya lo bersyukur."
Mala mendengus. "Tapi istri di luar sana enak jadi diperhatiin suaminya, Gha, lah gue? Gue yang hamil tapi harus sambil ngurusin lo yang super duper rewel. Ya ampun, untung anak lo strong." Mala berdecak lalu berdiri, "ya udah, gue turun dulu masak mi-nya."
Ya, begini lah Nirmala istri gue. Meski acara mengomelnya tidak pernah absen, tapi dia selalu berusaha menuruti keinginan gue.
"Makasih, sayang."
Mala tiba-tiba menghentikan langkah kakinya dan berbalik lalu kembali menghampiri gue. "Lo udah nggak marah ya, Gha?" tanyanya hati-hati.
"Gue nggak marah, La," ucap gue sambil tersenyum tipis.
Mala mengangguk paham lalu segera bergegas keluar kamar. Gue menghela napas saat melihat punggungnya menghilang di balik pintu. Padahal aslinya gue hampir lupa kalau tadi siang sempat ngambek sama dia.
__ADS_1
Gue kemudian memutuskan untuk segera turun dan menyusul Mala.
"Gue pikir mau makan di kamar," sapa Mala saat melihat gue memasuki area dapur.
"Enggak lah, kamar kan tempat tidur, masa dibuat makan. Ntar ada semutnya lo ngomel lagi," balas gue lalu memilih duduk di kursi. Menunggu Mala selesai memasak.
Suasana kembali hening setelahnya. Mala sibuk dengan mi dan bumbunya sedangkan gue sibuk memandangi Mala. Gue juga bingung mau memulai obrolan apa. Rasanya agak canggung karena gue udah inget kalau kami sempat sedikit berdebat kecil tadi siang.
"Chitato-nya mau dibuat lauk?" tanya Mala setelah meletakkan sepiring mi goreng dan segelas air putih di hadapan gue. Ia pergi sebentar lalu membawa kantong kresek berisi chitato pesanan gue.
Gue mengangguk lalu membuka sebungkus chitato dan langsung meremasnya. Setelah lumayan agak remuk, gue langsung menaburkannya di atas mi.
"Lo mau nggak?" tawar gue sebelum menggulung mi menggunakan garpu.
Mala menggeleng sambil tersenyum. "Enggak usah, lo aja yang makan. Gue masih kenyang," balasnya sambil memegang perutnya sendiri.
"Gha?"
Lamunan gue seketika langsung buyar. Gue tersenyum lalu menyuapkan gulungan mi itu ke dalam mulut. "Oh, lagi menghindari mi instan?" tanya gue di sela kunyahan.
Mala mengangguk dan mengiyakan. "Kalau lagi nggak pengen-pengen banget, mending nggak usah lah, Gha."
Kini giliran gue yang mengangguk setuju. Tanpa memulai obrolan lebih lanjut, gue memutuskan untuk lebih menikmati mi goreng gue.
Saat mi gue tinggal sedikit, Mala tiba-tiba bangkit berdiri dan pergi meninggalkan dapur. Gue menatap kepergian dia dengan ekspresi bingung. Namun, bibir gue tetap tertutup rapat meski rasanya gue ingin sekali bertanya.
__ADS_1
Tak lama setelahnya, ia kembali sambil membawa amplop putih. Ia kembali duduk di hadapan gue setelahnya.
"Itu apa?" tanya gue sedikit gugup. Entah kenapa jantung gue rasanya seperti sedang berdebar-debar seperti orang tak sabar.
"Hasil pemeriksaan gue tadi." Mala kemudian menyerahkan amplop yang dia bawa, "gue baru tes darah tadi ditemenin Mama buat cek kadar beta HCG. Dan nggak sengaja ketemu Danu. Gue nggak kasih tahu dia, cuma dia nggak sengaja denger obrolan gue sama Mama, jadi secara nggak sengaja dia tahu kalau gue hamil. Kalau tahu begini, gue tadi ikuti saran Mama buat langsung telfon lo begitu tahu hasilnya positif. Maafin gue ya, Gha, gue ngaku salah. Enggak ada maksud gue buat nyembunyiin ini dari lo. Demi Tuhan, gue cuma pengen liat wajah bahagia lo pas denger kabar gue secara langsung. Itu aja. Tapi gue malah ngacauin semuanya," ucapnya penuh penyesalan.
Gue menghela napas lalu mengangguk paham tak lama setelahnya. "Enggak papa, La, lo nggak salah. Maafin gue juga ya, gue cuma nggak suka aja karena pria brengsek itu lebih dulu tahu. Sebenarnya kalau dipikir-pikir, siapa dulu yang lebih tahu nggak ada masalah sih, yang penting kan anak yang lo kandung itu anak gue, udah cukup. Maafin ya, karena gue beneran masih nggak suka kalau berurusan dengan pria itu," ucap gue tak kalah menyesal.
"Iya. Enggak papa, saling memaafin aja ya, Gha, kita. Baikan? Jangan ngambek-ngambek kayak cewek, gue pusing jadinya, Gha. Gue juga mau kali disayang-sayang sama suami, lah ini? Masa disuruh ngebujuk lo yang ngambekan mulu," gerutunya dengan bibir mengerucut imut.
Gue terkekeh sesaat sebelum akhirnya protes.
"Kapan gue ngambekan mulu?" protes gue tidak terima.
"Sering. Lo itu rewel banget sekarang, Gha, astaga. Beneran harus jadi istri siaga sekarang gue. Gila! Apa anak kita satu aja ya?" ucap Mala random.
Gue langsung menggeleng tidak setuju. "Enak aja, enggak mau. Minimal tiga dong, La. Lo kan udah ngerasain jadi anak tunggal, masa lo rela anak lo jadi anak tunggal juga? Enggak kasian lo?"
"Lah, kenapa emang? Jadi anak tunggal itu enak tahu, nggak perlu rebutan sama sodara, nggak perlu berantem sama mereka, perhatian orang tua ya cuma buat kita. Kenapa gue harus kasian?"
Sesaat gue lupa kalau istri gue itu Nirmala.
Gue menatap Mala serius. "Lo beneran cuma pengen anak satu?" tanya gue hati-hati.
Di luar ekspektasi, Mala tiba-tiba terbahak. "Ya, enggak lah, Gha. Masa cuma satu, minimal ya ikut anjuran pemerintah, dua anak cukup. Tapi kalau aku setuju sama kamu deh, gimana kalau tiga?"
__ADS_1
Gue tersenyum puas lalu mengangguk cepat. "Setuju!"
Tbc,