Married With My Besti

Married With My Besti
Minta Saran & Masukan


__ADS_3

*


*


*


"Selamat siang, Mas, ada yang bisa saya bantu?" sapa si penjaga resepsionis saat Abbas tiba di kantor Ohim.


Pria itu mengangguk seraya mengiyakan. "Iya, saya mau ketemu dengan Ohim," Abbas menggeleng cepat, "maksud saya Bapak Ibrahim," ralatnya kemudian, "beliau ada kan?"


Kebetulan Abbas memang fadi sempat lupa belum menghubungi Ohim, alhasil ia memutuskan untuk bertanya pada resepsionis lebih dahulu.


"Mohon maaf sebelumnya, Mas, apa sebelumnya sudah membuat janji dengan Bapak Ibrahim?"


Tapi ternyata respon sang resepsionis di luar dugaan. Biasanya ia kalau mau ketemu Ohim memang lebih sering mengajak pria itu keluar, tapi berhubung ia tahu kalau Ohim sendiri sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia jelas tidak enak jika harus mengganggu kesibukan pria itu.


Abbas menggeleng cepat. "Belum."


Sang resepsionis tersenyum tipis. "Mohon maaf, Mas, Bapak Ibrahim tidak bisa sembarangan ditemui kalau sebelumnya tidak ada janji temu. Jadinya Mas-nya bisa ke sini lagi lain kali setelah bikin janji sama beliau ya."


Diperlakukan demikian, Abbas langsung terkekeh samar. Merasa tidak ingin datang kemari dengan percuma ia kemudian memutuskan untuk menghubungi Ohim. Beruntung tidak perlu waktu yang lama panggilan itu langsung terhubung.


"Bro, sibuk banget lo?" sapa Abbas begitu sambungan terhubung.


"Lumayan. Kenapa? Gue nggak bisa kalau diajak ketemu, kalau mau lo aja yang ke sini."


Abbas melirik ke arah meja resepsionis sekilas. "Ini gue udah ada di lobi bawah kantor lo, kata resepsionisnya lo nggak bisa ditemui karena gue belum bikin janji temu sama lo. Jadi ini gue harus gimana?"


"Hah? Lo udah di bawah? Astaga, ya ampun, bentar, bentar, gue suruh sekertaris gue buat jemput lo. Sorry banget, bro, tungguin aja dulu ya!"


"Oke, bro, gue tunggu."


Klik. Sambungan terputus. Abbas kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana. Lalu memilih untuk duduk di sofa yang memang tersedia di lobi. Sambil menunggu sekertaris Ohim datang menjemputnya.


Tak butuh waktu lama, sekertaris Ohim datang.


"Mas Abbas? Maaf membuat anda menunggu, mari ikut saya!"


Abbas mengangguk lalu mengikuti langkah kaki sang sekertaris. Sebelum ia masuk ke dalam lift, ia melirik ke arah sang penjaga resepsionis dengan tatapan jumawanya. Sedangkan si penjaga meja resepsionis nampak menyesal dengan perlakuannya tadi.


"Sibuk banget Pak Ceo," sapa Abbas saat pria itu masuk ke dalam ruangan Ohim.


Ohim terkekeh sambil melirik Abbas sekilas lalu kembali fokus dengan tumpukan berkas yang ada di hadapannya.


"Sorry, nunggu lama?"

__ADS_1


Abbas menggeleng lalu duduk di sofa yang tersedia di ruangan itu. "Enggak juga. Gue ganggu nggak sih ke sini?"


"Ya tergantung lo mau ngapain dulu. Kalau lo cuma mau curhat dan gue cuma bertugas dengerin tanpa ninggalin kerjaan gue sih itungannya lo nggak ganggu."


"Lo boleh nyambi kerja, tapi gue mau minta saran dan masukan juga, bro."


Ohim mengangguk paham. "Ya udah, silahkan tapi mending lo duduk di sini aja, kalau lo duduk di sana takutnya kurang nyaman."


Abbas menggeleng tidak setuju. "Enggak deh, gue di sini aja. Kalau gue pindah ke situ takutnya nanti malah ganggu kerjaan lo."


Ohim mengangguk tidak masalah. "Ya udah, terserah lo gimana enaknya aja deh. Btw, mau minum apa lo?"


"Kopi boleh deh."


Sekali lagi Ohim mengangguk. Ia kemudian menekan interkom untuk menghubungi sang sekertaris agar dibuatkan kopi untuk tamunya.


"Jadi dalam rangka curhat apaan lo sampai datang kemari di jam kantor begini? Biasanya juga cuma minta ketemu di luar. Gue kaget banget loh tadi pas lo telfon dan bilang kalau udah ada di lobi bawah, gue pikir bercanda."


"Butuh temen curhat gue, Him, kalau mau gangguin Agha nggak mungkin, itu orang kan sibuknya ngalahin artis papan atas, ya lo juga sih sebenernya, cuma kan kalau lo waktunya lebih fleksibel dikit, makanya gue dateng ke sini lagi. Gue juga kaget sih tadi pas nanya ke resepsionis lo-nya ada atau enggak, eh, malah disuruh bikin janji temu dulu."


Ohim mendengus. "Ya lo nggak pernah ke kantor gue, karyawan gue mana ngerti kalau kita kenal jadi ya wajar kalau karyawan gue minta bikin janji dulu sebelum ketemu gue."


Abbas terkekeh. "Beneran orang penting ya lo?" ledeknya kemudian, membuat Ohim seketika langsung terbahak.


"Gue pengen nikahi Alisa secepatnya deh, Him," ujar Abbas langsung pada inti.


Ohim terkekeh sambil mengangguk paham. Ia tahu, semua orang tahu mengingat perjalanan kisah mereka tentu saja Abbas ingin menikahi Alisa secepatnya.


"Lalu masalahnya? Alisa masih belum siap karena status jandanya yang belum lama?"


Abbas menggeleng. "Gue pikir kekhawatiran dia memang itu, tapi ternyata gue salah selama ini."


Ohim mengerutkan dahi heran. Perhatiannya kini sepenuhnya kepada Abbas yang duduk sedikit jauh darinya.


"Salah gimana?" tanyanya heran.


Abbas baru hendak menjawab, tapi terpaksa harus ia urungkan karena suara ketukan pada pintu ruangan Ohim, lalu saat pria itu mengizinkan masuk, baru lah sang sekertaris masuk ke dalam ruangan sambil membawa nampan berisi dua cangkir kopi.


"Taruh saja di meja sana, meja saya penuh, nanti biar saya pindah ke sana," ucap Ohim saat menyadari ekspresi bingung sang sekertaris.


Si sekertaris mengangguk paham lalu melakukan apa yang sang atasan perintahkan, baru kemudian keluar ruangan setelah tugasnya sudah selesai.


Ohim kemudian berdiri dan berpindah duduk di sofa dekat Abbas.


"Lah, gue jadi nggak enak kalau lo pindah ke sini, gue ganggu kerjaan lo dong?"

__ADS_1


"Sepet banget, anjir, mata gue, butuh refreshing bentar. Ntar gue lanjut lagi."


Abbas mengangguk paham lalu menoleh ke arah meja kebesaran Ohim, yang nampak banyak tumpukan berkas.


"Itu lo habis cuti apa gimana deh, kok sampe segitu banyak berkasnya."


Ohim mengangguk dan mengiyakan. "Anak gue kemarin abis sakit, jadi gue cuti karena dia rewel parah pas abis imunisasi. Enggak tahu lah tumben banget, gue nggak tega mau kerja kalau liat anak rewel, ya bisa aja sih gue minta sekertaris gue anterin ke rumah, cuma emang nggak konsen aja gitu liat anak nangis terus."


"Terus sekarang keadaannya gimana? Enggak papa kan?"


"Ya enggak papa, udah ceria lagi kok tadi makanya gue ngantor. Kalau anak lagi rewel tuh beneran pusing banget sih, Bas, bingung mau gimana. Apa lagi gue anak tunggal, istri gue anak bungsu nggak pernah tahu rasanya punya adik kan."


Abbas mengangguk paham.


"Back to topic, jadi yang dikhawatirkan Alisa apaan?"


"Nyokap gue."


"Hah?" Ohim reflek melongo, "maksudnya? Dia khawatir nyokap lo nggak setuju karena lo memilih menikah sama janda gitu?" tanyanya ragu-ragu.


Abbas langsung mengangguk dan mengiyakan.


"Terus lo udah nanya nyokap lo belum soal ini?"


Dengan raut wajah sedihnya, Abbas menggeleng. "Enggak tahu kenapa pas Alisa ngomong begitu gue jadi ragu buat nanya nyokap gue sendiri. Gimana kalau ternyata bener, Him? Gue masih nggak siap, makanya pengen minta saran dan masukan dari lo dulu sebelum ngomong langsung sama nyokap gue."


Kali ini ekspresi Ohim yang bingung. "Duh, gimana ya, Bas, gue masalahnya nggak ada pengalaman beginian juga. Maksud gue, gue nikah sama bini dikenalin orang tua, bahasa kasarnya, kan gue dijodohin. Jadi bingung juga sih gue mau kasih saran atau masukan. Tapi menurut gue, nyokap lo kayaknya nggak bakalan protes deh dengan pilihan lo, kan yang mau nikah lo, yang ngejalani lo juga, jadi ya nggak papa kan kalau semisal wanita pilihan lo ini seorang janda?"


"Harusnya," gumam Abbas dengan wajah bingung dan juga putus asa, "tapi gue nggak tahu nyokap gue nantinya bakalan berpikir demikian atau enggak."


"Ya kalau menurut gue, kalau lo mau jawaban pasti ya tanya orangnya langsung, Bas. Kalau lo-nya cuma menerka-nerka yang nggak bakalan nemu jawaban."


Abbas diam sebentar. Apa yang Ohim katakan ada benarnya. Kalau ia duduk diam saja begini, ia tidak akan tahu jawaban pastinya.


"Jadi menurut lo gue cuma perlu nanya langsung sama nyokap gue tanpa perlu nyiapin diri kalau semisal nantinya beliau nggak setuju sama pilihan gue?"


"Ya kalau masalah nyiapin diri, menurut gue lo tetep perlu nyiapin diri lah, Bas. Apapun keputusan dan reaksi nyokap lo nanti, lo harus siap. Kalau seandainya nanti beliau nolak, lo bisa kok cari cara agar nyokap lo mau nerima dia. Meski berat, gue yakin bisa kok, nanti kita bisa cari caranya bareng-bareng, gue sama Agha nanti bakalan ikut bantu ngeyakinin nyokap lo. Yang penting sekarang lo ngomong dulu sama nyokap lo pelan-pelan. Bilang kalau lo udah sangat yakin sama keputusan lo, beberapa orang tua mungkin merasa khawatir kalau anaknya menikah dengan seseorang yang sudah pernah menikah, gue rasa kebanyakan orang tua pasti khawatir, Bas, tapi ya nggak papa, kita sebagai anak bisa kasih pengertian kalau memang ini keputusan yang terbaik."


Abbas mengangguk paham. "Oke, bakalan gue coba ngomong langsung sama beliau abis ini. Nanti kalau semisal nyokap gue nggak setuju, lo janji kan mau bantu gue sama Alisa?"


Dengan wajah penuh keyakinan, Ohim mengangguk cepat. "Pasti lah, Bas, lo nggak perlu khawatir soal itu. Gue sama Agha nggak mungkin diem saja ngeliat temennya kesusahan kan? Udah lah, lo nggak usah mikir yang jelek-jelek! Yang optimis biar semuanya lancar dan lo sama Alisa segera sah jadi suami-istri, biar umur anak lo sama umur gue dan anak Agha nggak kejauhan. Yok, bisa, yok!" ucapnya menyemangati.


Abbas terkekeh. Diam-diam dalam hati ia mengangguk dan juga mengiyakan sekaligus mengamini doa tersebut. Abbas tidak menginginkan hal yang macam-macam, cukup diberi restu agar ia bisa segera menikahi Alisa dan diberi kelancaran semuanya. Hanya itu untuk saat ini, ia tidak menginginkan hal lain.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2