
"La, Mama telfon nih," ucap Agha sebelum meraih handuk dan masuk ke kamar mandi.
Mala yang tadinya sedang sibuk di depan meja riasnya pun berdiri dan menghampiri ponselnya. Setelah memastikan sang suami masuk ke dalam kamar mandi, baru lah Mala menjawab panggilan tersebut.
"Ya, halo, Ma?" sapa Mala dengan nada bicara yang sedikit berbisik. Meski sudah jelas kalau pembicaraannya tidak akan terdengar dari kamar mandi, tapi tetap saja Mala merasa tidak tenang kalau menggunakan suara seperti biasa.
"Kenapa kamu bisik-bisik begitu suaranya? Suami-mu belum bangun? Abis nggak bisa tidur apa gegara abis dapet shift malam?"
Mala menggeleng sambil memainkan ujung kemejanya. "Enggak, bukan dua-duanya, Ma. Agha juga udah bangun, sekarang lagi mandi."
"Terus kenapa pake acara bisik-bisik begitu? Kayak lagi nelfon selingkuhan aja, ini Mama lo, La, Mama kamu. Perempuan yang mengandung dan melahirkan kamu. Jangan lupa kamu!"
"Iya, iya, nggak mungkin lupa juga kali, Ma. Mama nelfon ngapain?"
"Lah, iya, hampir lupa kan. Begini Mama mau konfirmasi soal yang kemarin, jadi tes hari ini kan? Apa sekalian kita bikin janji temu sama Om kamu."
Kening Mala mengkerut heran. Seingatnya ia tidak memiliki Om yang berprofesi sebagai dokter obgyn deh, dari kalangan doker sana tidak ada, apalagi dokter obgyn. Ada-ada saja ini Mama-nya.
"Om siapa, Ma?"
"Om Malvin, La, astaga, masa lupa kamu."
Astaga, ya ampun benar juga ya. Kok dirinya bisa melupakan besti-nya sang Mama yang sudah ia anggap sebagai seperti Om-nya sendiri.
"Hehe, Mala lupa, Ma. Udah lama juga nggak ketemu, kemarin pas nikahan aku datang bentar doang, giliran pas resepsi juga malah nggak bisa dateng. Om Malvin ada pacar baru ya, Ma?"
Menurut informasi yang ia dapat, Om-nya itu masih gagal move on dengan sang mantan kekasih dulu sewaktu masih muda. Lalu saat ia mencoba untuk move on dengan orang baru, eh, malah diselingkuhi. Alhasil pernikahan Om-nya kandas di tengah jalan dan sekarang statusnya menduda.
"Enggak tahu lah, Mama nggak peduli soal urusan asmara Om kamu yang itu, biarin suka-suka dia lah."
"Suruh nikah lagi deh, Ma. Kasian loh biar ada yang ngurusin gitu. Om Malvin kan meski udah tua tapi masih keliatan awet muda dan juga gagah begitu, pasti masih banyak tuh yang mau sama dia. Apa kita coba bantu cariin dia istri baru, Ma?"
Terdengar suara decakan dari seberang. "Halah, Om kamu itu udah tua, udah bisa ngurus dirinya sendiri. Dia tahu mana yang terbaik buat dirinya sendiri, kita nggak usah ikut campur. Mending urusin masalah hidup masing-masing, kamu jangan berlagak sok nggak punya masalah hidup deh. Ini kita lagi dihadapkan sebuah masalah kamu hamil atau enggak loh. Jadinya mau gimana? Mau bikin janji temu sama Om kamu atau mertua kamu?"
__ADS_1
Mala berdecak. "Apaan sih? Keluar juga belum hasil tesnya udah mau bikin janji temu aja. Ntar deh kalau udah positif baru kita bikin janji temu."
"Ya udah, terserah. Sampai ketemu di RS nanti."
"Iya, Mal tutup ya, Ma?"
"Eh, bentar, ini suami kamu yakin nggak mau dikasih tahu kalau kamu mau periksa?"
Bukannya menjawab, Mala malah melirik ke arah pintu kamar mandi. Helaan napas terdengar setelahnya. "Enggak dulu lah, Ma. Nanti aja kalau udah keluar aja hasilnya."
"Ya udah, iya, terserah kamu. Mama tutup telfonnya."
"Iya, Ma. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Klik. Sambungan terputus. Tepat setelahnya Agha kemudian keluar dari kamar mandi.
"Hah?" Mala menatap sang suami dengan ekspresi bingung.
"Itu Mama tadi nelfon kenapa? Mama sama Papa sehat aja kan?"
Mala mengangguk untuk mengiyakan. "Iya, sehat kok. Tadi cuma nanya kabar kita aja."
"Oh."
Kini giliran Agha yang mengangguk paham. Pria itu tidak berkomentar lebih lanjut lalu memilih segera mendekat ke arah lemari untuk memakai baju.
*
*
*
__ADS_1
"Tuh kan, bener, apa kata Mama. Kamu itu hamil, La," ucap Yana setelah memeriksa kadar beta-hCG Mala yang hasilnya di atas 26, "sekarang kamu telfon suami kamu langsung! Abis itu telfon mertua kamu buat bikin jadwal konsultasi. Apa mau milih Om Malvin aja? Terserah."
Bukannya langsung melakukan apa yang Yana suruh, Mala malah sibuk dengan pikirannya sendiri. Seperti perempuan itu masih sedikit shock dengan hasil pemeriksaannya.
"La, kok malah bengong sih?" tanya Yana heran.
"Bentar dong, Ma, Mala masih shock ini."
"Ya ampun aneh banget sih kamu ini, La? Suamimu aja udah begitu, sensitif wewangian, morning sick tiap pagi, harusnya kamu udah menebak dong ke arah mana gejala itu semua? Bukannya lebih aneh kalau kamu nggak hamil?" Yana berdecak sambil geleng-geleng kepala.
"Ya tetep aja Mala masih shock, Ma."
Yana menghela napas panjang lalu duduk di sebelah sang putri. "Oke, iya, iya, Mama paham. Tapi sekarang kamu perlu telfon suami kamu buat kasih kabar bahagia ini," sarannya kemudian. Menurutnya ini kabar baik dan Agha harus segera mengetahuinya, lewat telefon pun tidak masalah.
Namun, sepertinya Mala tidak setuju. Perempuan itu sepertinya ingin memberi kejutan kepada sang suami, jadi dia langsung menolak saat sang Mama meminta dirinya menghubungi Agha.
"Enggak ah."
"Kok enggak?" Yana menatap sang putri tidak percaya sekaligus bingung.
"Maksudnya nanti Mala mau kasih tahu Agha secara langsung, Ma."
"Kenapa nunggu nanti kalau bisa sekarang?"
"Kurang puas, Ma, Mala mau lihat secara langsung ekspresi seneng Agha."
"Ya udah, iya, terserah kamu. Ngomong-ngomong, selamat ya sayang. Bentar lagi jadi ibu kamu, jaga diri baik-baik, jangan sembrono, jangan sembarangan juga makannya. Oke, kalau butuh apa-apa, bisa langsung telfon Mama."
Mala mengangguk lalu memeluk sang Mama. "Makasih ya, Ma, udah yakinin Mala dan juga nemenin Mala juga. Kayaknya kalau Mama nggak paksa Mala, Mala nggak akan punya keberanian buat periksa."
"Iya, sayang. Sama-sama."
Tbc,
__ADS_1