
"Kamu bercanda kan, La?" tanya gue memastikan ulang, saking nggak percayanya.
Maksud gue, begini, selama dua tahun lebih pernikahan mereka, gue nggak pernah mendengar rumor kalau ada masalah sama pernikahan mereka. Ya, kalau masalah rumah tangga sih wajar, masing-masing pasti punya lah. Tapi gue beneran nggak nyangka kalau keputusan Alisa akan sampai sejauh ini. Seserius apa sih masalahnya sampai dia mau mengambil langkah sebesar ini dan gue baru tahu. Jadi wajar kalau gue masih nggak percaya.
Mala melirik gue agak sinis. "Kamu yang bener aja, masa iya aku bercandain hal serius begini sih, Gha. Ini masalah serius."
"Kenapa?" tanya gue heran.
"Kamu serius nanya ini?" Mala balik bertanya dengan ekspresi herannya.
Gue langsung menggeleng cepat karena Mala salah paham dengan pertanyaan gue. "Enggak gitu maksudnya, La. Maksud aku tuh, kenapa Mala sampai memutuskan buat cerai."
"Kalau masalah itu, aku mana tahu sih, Gha?"
Gue mengerutkan dahi bingung. "Lah, emang kamu dapet info kalau Alisa mau gugat cerai suaminya dari mana?"
"Artikel."
Gue menaikkan sebelah alis gue heran. Sebenernya menjadi hal wajar kalau berita mengenai hubungan Alisa sampai diberitakan di sebuah artikel, soalnya background suami Alisa sendiri memang bukan orang sembarangan. Jadi wajar, tapi yang membuat gue heran kenapa Mala bisa langsung mempercayai berita tersebut. Itu yang membuat gue heran.
"Kamu langsung percaya gitu aja hanya karena sebuah artikel yang kamu baca, La?" gue memandang Mala dengan ekspresi tidak percaya.
"Tapi katanya itu beneran loh, Gha, Alisa bahkan udah kirim gugatan cerainya ke pengadilan. Coba kamu cek, pihak suami Alisa bahkan mengkonfirmasi kebenarannya."
"Terus Alisa sendiri?"
Mala menggeleng lalu membawa buah yang sudah ia potong-potong ke hadapan gue. "Gue coba hubungi Alisa kan, Gha, dia sih respon cuma dikasih tahu buat nggak nanya soal berita ini dulu. Dia bilang kalau masalahnya udah selesai, baru dia mau cerita, yang jelas dia cuma minta doa yang terbaik buat mereka, gitu aja, Gha. Emang Abbas nggak ada cerita sama sekali?"
Gue menggeleng cepat. "Enggak."
Tapi gue yakin 100% kalau Abbas pasti tahu tentang masalah ini. Hanya saja pria itu memilih diam dan nggak bilang-bilang ke kita, mungkin juga karena Alisa sendiri yang melarangnya.
"Tapi, La, kapan hari pas aku ke apartemen Abbas, yang gegara masalah si Farhan, Abbas tiba-tiba ditelfon Alisa gitu malem-malem."
"Yang pas muka kamu sampai luka itu?"
Gue menggeleng cepat. "Bukan, La, bukan yang itu. Yang setelahnya, yang pas aku sama Ohim selesai ngelabrak Farhan. Kan besoknya aku sama Ohim ke apartemen Abbas, kita marah-marah dulu lah di sana, ngomelin Abbas, belum cukup puas sih kita marahin dia waktu itu, tapi nggak lama setelahnya Alisa tiba-tiba telfon kan, La, terus si Abbas pas ngangkat telfonnya sampai ngejauh gitu dari kita. Begitu kelar telfonan, muka Abbas keliatan panik gitu, La. Dia bilang Alisa butuh bantuan dia, tapi Abbas nggak bilang ada apa. Kita cuma disuruh pulang gitu aja. Gue pikir ya, nggak ada yang serius, apa waktu itu emang masalahnya serius banget ya, La."
"Bisa jadi, coba kamu hubungi Ohim atau Abbas-nya langsung buat konfirmasi. Soalnya sekarang gue jadi khawatir sama Alisa, Gha. Aku sempet denger gosip yang nggak enak soalnya."
"Gosip apa emangnya?" tanya gue sambil menatap Mala curiga. Perasaan gue mendadak tidak enak.
"Katanya Alisa gugat cerai suaminya tuh, karena permintaan suaminya sendiri."
Gue mengerutkan dahi tidak paham. "Maksudnya?"
"Ya, kan pernikahan mereka udah lumayan kalau dibandingkan dengan usia pernikahan kita maupun Ohim, Gha. Istri Ohim, si Arumi juga udah hamil, kita yang nikahnya paling akhir di antara kita bertiga, bahkan udah ada Kai, mana bentar lagi Kai udah mau setahun, tapi Alisa belum hamil juga. Denger-denger sih karena ini."
"Serius karena ini?"
Mala mengangkat kedua bahunya secara bersamaan lalu menyuapi putra kami. "Ya kalau masalah itu aku juga kurang tahu pasti, Gha, kan cuma denger dari katanya. Dan semoga aja bukan."
Gue berdecak kesal lalu berdiri untuk mengambil ponsel. Gue mulai terbawa emosi, enggak terima kalau seandainya Alisa teman baik kami diperlakukan begini oleh pihak suami. Gue langsung menghubungi Abbas. Beruntung karena panggilan gue langsung terjawab.
"Hm," respon Abbas dari seberang dengan nada suara yang terdengar ogah-ogahan.
"Lo lagi di mana?"
__ADS_1
Hening. Tidak ada jawaban. Tak berapa lama setelahnya terdengar helaan napas berat. Gue memanggil Abbas untuk memastikan kondisi pria itu, dalam keadaan baik-baik saja.
"Bas? Abbas? Lo masih di sana? Lo bisa denger suara gue?"
"Masih, Gha. Gue masih di sini, dan gue belum kehilangan pendengaran jadi masih bisa denger suara lo."
"Lo baik-baik aja?" tanya gue tidak ingin berbasa-basi.
Tak berapa lama Mala menyusul ke ruang tengah sambil menggendong Kai. Ia kemudian bertanya tanpa mengeluarkan suara. "Gimana?"
Gue menggeleng sambil menunjuk ke arah ponsel. Menandakan kalau gue masih telfonan dan belum mendapatkan jawaban.
"Gue sendiri nggak yakin, Gha, kayaknya sih gue nggak baik-baik aja."
"Lo di mana? Biar gue sama Ohim samperin."
"Rumah sakit."
"Hah? Rumah sakit? Rumah sakit mana? Emang lo kenapa? Bas, lo nggak papa kan?" tanya gue khawatir sekaligus panik.
Terdengar kekehan samar dari seberang. "Satu-satu kali nanyanya, Gha. Apa aja tadi pertanyaan lo? Pokoknya secara fisik gue baik-baik aja, yang sakit bukan gue tapi Alisa."
"Hah? Alisa? Emng kenapa sama dia?"
Mendengar nama Alisa, Mala langsung mendekat ke arah gue. "Gha, Alisa kenapa?" tanyanya ikut khawatir.
Gue langsung menekan tombol loudspeaker agar Mala ikut mendengarkan penjelasan Abbas terkait kondisi Alisa.
"Abis kurete. Kondisinya agak lemah jadi dokter saranin buat rawat inap beberapa hari dulu."
Kedua mata gue melotot kaget. Kurete? Itu artinya Alisa sempat hamil dong? Gue langsung menatap Mala dengan tatapan heran.
"Lagi sama Mala lo?"
"Iya, dia khawatir sama Alisa."
"Bas, Alisa nggak papa kan? Kondisi dia gimana sekarang?"
"Kata dokter sih udah membaik, cuma butuh waktu buat pemulihan."
"Kok bisa sampai harus dikurete sih? Emang kenapa?"
"Ceritanya panjang, La, gue nggak bisa jelasin lewat telfon. Kalian kalau mau jengukin bisa ke sini, ntar gue jelasin."
Gue dan Mala langsung saling bertukar pandang. "Ya udah, gue sama Mala langsung ke sana. Ini Alisa dirawat di mana?"
"Rumah sakit tempat kalian dinas."
Gue mengangguk paham. "Ya udah, gue sama Mala siap-siap dulu. Gue tutup telfonnya."
Gue langsung menutup sambungan telfon. "Kai gimana, La? Diajak aja atau titipin ke Mama dulu? Soalnya Bunda lagi nggak ada di Jakarta, pulang ke Solo dan pulangnya baru besok. Sebenernya Bunda pergi ke Solo sendirian sih, nggak sama Ayah, cuma kadang Kai nggak pasti bisa akur sama Ayah. Gimana? Mama bisa nggak kira-kira? Aku kurang nyaman kalau ke rumah sakit ajak Kai, La. Dia masih terlalu kecil. Enggak tega aku. Coba kamu telfon Mama."
"Kamu aja, hape aku di kamar masih aku charge."
Gue langsung mengangguk paham dan menghubungi Mama. Butuh waktu sedikit lebih lama sampai akhirnya Mama menjawab panggilan gue.
"Halo, assalamualaikum, Ma?"
__ADS_1
"Wa'allaikumsalam. Iya, ada apa, Gha?"
Gue menatap Mala sebentar, baru mengutarakan niat gue tak lama setelahnya. "Anu, begini, Ma, Mama sekarang lagi sibuk nggak?"
"Kenapa? Ya, enggak sibuk sih sebenernya, cuma kalau kamu mau nitipin Kai, Mama nggak bisa soalnya Mama nggak lagi di Jakarta. Papa-mu ngajakin Mama ke Bandung kemarin sore, pulangnya baru nanti malem."
Gue langsung menggeleng sambil menatap Mala. "Oh, gitu, ya, Ma. Ya udah nggak papa. Have fun ya, Ma, di Bandung-nya. Agha tutup telfonnya."
"Bentar," cegah Mama, gue pun urung untuk mematikan sambungan telfon, "emang kenapa? Kai nggak papa kan?" tanyanya terdengar khawatir.
"Enggak, Ma, Kai nggak papa kok. Tadi kalau semisal Mama ada waktu luang kita mau titipin Kai, soalnya aku sama Mala mau ke RS mau jenguk Alisa. Tapi berhubung Mama lagi liburan ya udah, nggak jadi."
Mama mendengus."Liburan apa? Orang Mama cuma nemenin Papa-mu seminar, ini aja Mama dari kemarin masih stay di hotel aja, enggak kemana-mana. Enggak ngerti lah, fungsi Mama diajak ke sini buat apa. Padahal malem nanti juga udah pulang ke Jakarta tapi ajak-ajak segala."
Gue meringis.
"Bunda-mu gimana? Emang belum pulang dari Solo-nya?"
"Belum, Ma, menurut rencana sih pulangnya baru besok."
"Ya udah, kamu ajak aja lah, nggak papa. Kai kan udah besar juga, bismillah, nggak papa, Gha. Ajak aja, daripada kamu titipin ke Ayah-mu, mending aman ikut kamu lah."
Gue terkekeh geli lalu mengangguk paham. "Enggak tahu lah, Ma. Ntar Mala-nya gimana.
"Ya udah, terserah kalian, kalau enggak ya kamu duluan aja yang jenguk biar Mama jenguk sendiri besok pas Mama udah balik ke Jakarta."
"Iya, Ma."
"Kalau gitu Mama tutup telfonnya."
"Iya, Ma. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Klik. Sambungan telfon langsung terputus.
"Mama lagi nggak di Jakarta," ucap gue begitu sambungan terputus, "gimana? Apa aku sendirian aja yang ke RS-nya?"
Mala langsung menggeleng tidak setuju. "Enggak mau, aku pengen liat kondisi Alisa, Gha. Kai ikut aja kenapa sih? Toh, Kai kan anaknya nggak rewel juga. Enggak papa deh. Kalau takut kena omel Mama, ya besok nggak usah ngomong Mama kan beres."
"Tadi Mama kasih izin sih."
"Tuh, malah kasih izin, ya udah berarti kita ajak aja."
"Kamu yakin?" tanya gue ragu-ragu.
"Yakin," ucap Mala penuh keyakinan.
Gue tidak protes tak lama setelah lalu mengangguk paham setelahnya. "Ya udah ayo siap-siap kalau gitu." gue langsung mengambil alih Kai dari gendongan Mala, "Kai biar aku yang gantiin bajunya deh, kamu kan kalau dandan lama."
"Tumben, biasanya juga ogah kalau soal gantiin baju, semangatnya kalau mandiin doang."
"Enggak papa, daripada lama."
Mala tersenyum bangga. "Duh, makasih, sayang. Gitu dong, bantuin istri jangan adanya cuma protes, protes, ngomel." kami melangkah menaiki anak tangga secara beriringan.
Gue langsung melotot tidak terima. "Astaga, La, perasaan aku bantuin terus deh. Kai kalau mandi pagi sama aku terus, kalau kamu tinggal masak atau dandan juga Kai aku yang jagain, terus kalau masalah ngomel perasaan masih banyakan kamu deh."
__ADS_1
"Iya, iya, suami aku emang yang terbaik. Puas."
Gue langsung terbahak merasa geli dengan cara Mala memanggil gue 'suami aku'.