Married With My Besti

Married With My Besti
Lihat Dedek


__ADS_3

*


*


*


Hari ini Kai begitu antusias karena tadi pagi sebelum Agha berangkat bekerja, pria itu menjanjikan akan mengajaknya menemui adiknya. Kai yang akhir-akhir ini sangat senang dengan anak kecil tentu saja sangat bergembira sekaligus tidak sabar. Bahkan sejak tadi pagi ia terus memburu-buru Mala yang masih sibuk dengan kegiatan rumahannya. Berhubung kehamilannya kali ini ia tidak merasakan apapun lagi seperti kehamilan anak pertamanya, Mala memang tetap melakukan berbagai kegiatan rumahan seperti biasa hanya saja ia mulai sedikit membatasinya.


"Mama lama banet ih," keluh Kai sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada sambil menatap sang Mama dengan tatapan sinisnya.


"Bentar dong, sabar, kan kita mau ketemu adik Kai, jadi Mama harus tampil cantik kan?"


Kai tidak membalas bocah yang sebentar lagi berumur genap dua tahun itu hanya menampilkan wajah juteknya. Hal ini membuat Mala mau tidak mau harus segera menyudahi acara berdandannya, Kai sangat mirip Agha kalau sudah merajuk.


"Iya, iya, ini Mama udah selesai. Ayo, kita berangkat sekarang!" ajak Mala langsung berdiri, sambil memakai lipstiknya dengan sedikit terburu-buru.


"Nanti tita beli tado dulu ngga, Ma?"


Mala sedikit mengerutkan dahi heran. "Hah? Kado? Kado buat siapa?"


Kai berdecak kesal lalu menghentikan langkah kakinya, otomatis Mala pun ikut menghentikan kakinya. Kedua tangan Kai langsung menyilang di depan dada, lirikan sinis kembali Kai tampilkan. Lalu sebelah kakinya menghentak tanda kalau dia sedang sangat kesal.


"Tado buat ade Tay, Ma!"


Mala meringis sambil menggaruk rambutnya yang sebenarnya tidak gatal. Mood Kai dari pagi tidak begitu bagus, dia bisa rewel seharian nih kalau semisal dia salah menjawab.


"Iya, nanti kita beli kado buat adik Kai. Sekarang kita berangkat dulu, oke?"


Ekspresi Kai kembali berbinar senang. "Ote." ia bahkan bersusah payah membentuk huruf O menggunakan jarinya meskipun itu tidak berhasil.


Keduanya pun akhirnya melanjutkan langkah kakinya menuruni anak tangga dengan riang. Bahkan Kai sesekali menyanyi meskipun tidak jelas apa yang sedang dia nyanyikan.


Mala menunggu antrian sekaligus menunggu Agha, seperti biasa pria itu datang terlambat.


"Ma, Papa bo'o?"


Mala terkekeh sambil mengelus rambut sang putra. "Enggak, Papa nggak bohong, cuma telat dikit. Kai nggak lupa kan Papa kerja apa?"


Dengan wajah cemberut, Kai menggeleng. "Tapi Papa telat teyu."


"Kan kerjaan Papa nggak bisa ditinggal begitu aja, sayang, kan Papa nyembuhin orang sakit. Meski telat dikit, tapi Papa keren kan bisa nyembuhin orang sakit. Harusnya Kai bangga."


"Tapi talau Tay atau Mama yang tatit, Papa nda nyembuhin."


Speechless. Mala tidak tahu harus menjawab apa. Sebenarnya apa yang dikatakan sang putra ada benarnya juga sih.


"Maaf, Papa telat ya?"


Mala langsung menoleh ke asal suara. Di mana Agha datang dengan napas yang terdengar ngos-ngosan. Peluh keringat membasahi dahi pria itu.


"Dari mana?" tanya Mala heran.


Maksudnya ia heran, kenapa pria ini sampai berkeringat sebanyak ini.


"IGD."


Mala mengangguk paham lalu menggeser tubuhnya, memberi ruang agar Agha duduk di sana. Ia kemudian menyerahkan botol air minum yang sengaja ia bawa dari rumah, karena Agha memang tidak bisa jauh dari air putih. Namun, belum juga Agha menerima botol itu, Kai lebih dulu merebutnya.


"No no no, ini punya Tay."

__ADS_1


Agha pura-pura memasang wajah cemberutnya. "Kai, nggak boleh pelit-pelit dong, harus bisa berbagi. Papa minta dikit, ya, ini haus banget. Nanti kalau Papa pingsan gimana?"


"Tepon doter lah. Tan sini banya doter ya, Ma?"


Sambil tertawa, Mala mengangguk dan mengiyakan. Sedangkan Agha hanya mampu memasang wajah cemberutnya.


"Kamu ini mentang-mentang sekarang sama Kai terus, aku-nya nggak pernah dibelain," rajuk Agha, "haus beneran ini loh aku, La."


"Kai, Papa kasih minumnya dikit dong, kasian iyu Papa kehausan. Nanti kalau Kai nggak mau berbagi nggak jadi ketemu adek loh."


Dengan bibir bawah yang maju ke depan, Kai akhirnya memberikan botol minuman kesayangannya. Agha menerima dengan senang hati.


"Makasih, Papa abisin ya?" goda Agha iseng. Hal ini membuatnya mendapat pelototan tajam dari Mala maupun Kai. Ia hanya terbahak tak lama setelahnya. Keduanya terlihat mirip kalau sama-sama sedang melotot begini.


*


*


*


"Halo, Kai," sapa Malvin saat mereka akhirnya masuk ke dalam ruangan, "salim!"


Dengan patuh, Kai langsung mencium punggung tangan Malvin. Setelahnya bocah itu celingukan seperti mencari sesuatu.


"Cari apa, Kai?" tanya Malvin heran. Ia ikut celingukan mencari sesuatu.


"Ade. Tata Papa hali ini Tay mau liat ade."


"Lah, La, kok Tay? Emang anak kamu namanya bukan Kai?" tanya Malvin heran. Berhubung pasiennya tinggal Mala, jadi mereka bisa lebih santai dan leluasa.


"Bener Kai kok, Om, cuma namanya belum lancar ngomong. Hehe."


"Enggak, bener Kai kok, Om."


Malvin manggut-manggut paham. "Beneran isi lagi kamu? Jujur, Om agak kaget pas kamu telfon, biasanya kan sama mertua kamu kalau hamil, cuma tumben kok ke Om?"


Agha tersenyum. "Iya, Om, semenjak Bunda saya sakit, Ayah emang udah nggak ngurus pasien lagi."


"Oh iya, Om udah denger kabarnya, turut berbela sungkawa ya, maaf banget ya kemarin Om nggak bisa dateng langsung buat ngelayat, soalnya Om ada kerjaan yang nggak bisa ditinggal. Ayah kamu pasti sedih banget ya, Gha? Gimana keadaan beliau sekarang? Ayah kamu itu luar biasa sih emang, salut banget Om sama beliau. Guru saya itu, Gha."


"Iya, Om, nggak papa kok, terima kasih. Alhamdulillah Ayah pelan-pelan udah mulai ikhlas, cuma belum ceria aja kayak sebelum-sebelumnya."


Malvin mengangguk paham lalu menepuk pundak Agha. "Enggak papa, semua butuh proses, pelan-pelan Om yakin kok Ayah kamu pasti bisa ngelewati ini semua. Meski belum ngerasain ditinggal perempuan yang dicintai untuk selamanya, tapi seenggaknya Om tahu rasanya kehilangan."


"Nikah lagi makanya Om."


Malvin menghela napas panjang. "Om kehilangan bukan karena perceraian Om, La."


"Terus?"


"Udah, nggak usah kepo kamu anak kecil," dengus Malvin dengan wajah pura-pura kesalnya.


Mala langsung tertawa. "Mala anak kecil gimana sih, Om? Bentar lagi udah mau punya anak dua loh, mana ini udah jadi kehamilan anak ketiga aku lagi."


"Ya emang dasar kamu aja yang ngegas. Anak masih kecil gitu kok udah mau nambah aja terus," decak Malvin sambil geleng-geleng kepala, "udah, ayo, buruan mending langsung periksa. Om nggak sabar liat Cucu Mama-mu."


*


*

__ADS_1


*


Agha nampak terkejut saat melihat ke layar monitor, di mana tidak hanya ada satu titik di sana. Melainkan ada dua.


"Om, kok itunya ada dua?" tanya Agha terkejut sekaligus heran, "bukannya harusnya satu aja?"


Malvin terkekeh. "Emang siapa yang mengharuskan?" Ia kemudian memanggil Kai, "Kai, sini, katanya tadi mau lihat adik Kai. Nah, ini adik Kai. Adik Kai ada dua loh."


"Itu butan ade."


Malvin tertawa. "Iya, ini adek Kai, sekarang emang kecil gitu masih kayak biji, tapi lama-lama nanti dia tumbuh besar di perut Mama. Terus begitu dia lahir nanti bakalan jadi adek yang lucu kayak Kai."


"Tenapa nda talang aja?"


Malvin celingukan ke arah Agha dan Mala. "Ngomong apa tuh?"


"Kenapa nggak sekarang aja?"


"Oh, ya nggak bisa, Kai harus jadi anak baik, pinter, nurut sama Mama biar perut Mama cepet gede."


"Tatih mam banya?"


"Iya, kasih makan yang banyak, inget ya, Kai nggak boleh nakal harus pinter. Oke?"


Kai mengangguk cepat lalu berhigh five dengan Malvin.


"Oke, bagus ya semua. Nggak ada masalah, semua normal, Mama dan calon bayi semua sehat. Usia kandungan masuk ke minggu ke enam, nanti kita ketemu dua minggu lagi, ya. Ada keluhan nggak? Semisal mual, muntah, atau pusing?"


"Bentar, Om, maksudnya adik Kai ada dua itu artinya kembar?"


Malvin terkekeh gemas. "Iya, Agha, ini berhubung ada dua ya artinya twins, alias kembar. Anak ketiga kamu kembar. Udah bisa dimengerti?"


"Kok bisa?" Agha menggeleng cepat, "maksudnya di keluarga aku atau Mala kayaknya nggak ada keturunan kembar deh."


"Ya mungkin ini rezeki kalian, bisa jadi kan?" Malvin kemudian menyuruh Mala untuk segera bangun karena pemeriksaannya sudah selesai, "ini gimana kamu ada keluhan nggak? Mual, muntah atau pusing?"


"Kalau Mala nggak ada, Om, soalnya yang mual muntah Agha."


Malvin melongo tidak percaya. "Lagi? Bukannya yang hamil pertama begitu juga?"


Sambil meringis malu-malu, Mala mengangguk dan mengiyakan. "Yang ini malah sama diare juga, Om. Kasian banget aku liatnya."


Malvin kemudian menuliskan resep obat yang perlu mereka tebus. "Berarti kamu nggak ngerasain yang namanya morning sick dong, La? Enak banget kamu," komentarnya kemudian.


"Ngerasain Om, pas kehamilan sebelum ini."


"Oh, iya, Om inget. Oke, berarti ini nanti obatnya di bagi dua ya, yang anti mual buat Papa, terus yang vitaminnya buat Mama. Eh, kalau diare gimana? Masih lanjut nggak tuh sampai sekarang?"


Agha menggeleng. "Udah nggak sih, Om, paling mual aja, muntahnya tadi pagi juga udah nggak sih."


Malvin mengangguk paham lalu menyerahkan resep yang harus mereka tebus. "Nanti ditebus di apotik ya, btw, congrat's ya. Sehat-sehat buat kalian. Om free nih sekarang, makan bareng dulu, yuk!" Ia berdecak sambil menunjuk Agha, "kita kerja satu rumah sakit loh, tapi nggak pernah makan bareng. Om traktir deh."


"Makasih, Om, atas tawarannya tapi Agha nggak bisa. Ada visit bentar lagi."


Malvin berdecak lalu mengusir Agha. "Ya sudah, sana kamu pergi temuin pasien-pasien kamu, biar anak sama istri kamu Om ajak pulang. Kebetulan Om duda udah lama."


"Om!" protes Agha membuat Malvin langsung terbahak puas.


End/Tbc??????

__ADS_1


__ADS_2