
Bantuin koreksi typo dll ya gaes, atau minimal nongol lah lu2 pada jgn malu2, soalnya jatah malu2in dah gue kok🤣🤣🤣
*
*
*
Gue sama bokap baru selesai jogging keliling komplek. Saat sampai depan pintu, beliau langsung menjatuhkan dirinya di depan pintu begitu saja. Napasnya terdengar ngos-ngosan dan wajahnya pun terlihat letih. Maklum, ya, namanya udah berumur. Udah jadi Kakek-kakek pula.
"Gha, ambilin air dong buat Ayah. Ayah rasanya udah nggak sanggup, haus banget."
"Iya, bentar." Gue mengangguk paham lalu segera masuk ke dalam rumah.
Saat gue sampe di dapur, ada nyokap yang nampak sibuk dengan pisau dan telenannya.
"Udah mau masak, Bun?" tanya gue basa-basi.
"Belum kok, buru nyicil motong-motong aja buat ntar, abisnya bingung mau ngapain."
Nyokap gue emang paling nggak bisa kalau disuruh nganggur sih. Biasa super sibuk ngurus ini-itu soalnya.
Gue mengangguk paham sambil berdehem karena merasakan tenggorokan gue tidak nyaman sejak tadi pagi.
"Kenapa, Dek?" tanya nyokap terdengar khawatir.
Gue tersenyum. "Enggak papa, Bun, tenggorokannya cuma agak nggak nyaman dikit. Aman kok. Nanti minum wedang jahe juga enakan."
"Mau Bunda bikinin sekarang?"
"Aduh, jangan dong, Bun, kalau sekarang. Soalnya ini masih gerah banget, masa minum wedang jahe, ntar aja kalau udah mandi."
Kini giliran nyokap yang mengangguk paham dan kembali melanjutkan kegiatan memotong sayurnya yang sempat tertunda.
Gue kemudian berjalan mendekat ke kulkas dan membukanya. Tak lama setelahnya terdengar suara nyokap memanggil.
"Itu mau ngapain?"
"Ambil minum." Gue kemudian menunjukkan botol air mineral.
"Kamu kan lagi batuk, jangan minum es dulu dong, Dek," tegur nyokap.
Gue melongo sesaat. "Kan ini bukan es, Bun."
"Tapi air dingin, Dek, sama aja." Nyokap gue langsung merebut dua botol air mineral yang gue pegang lalu memasukkannya kembali ke dalam kulkas, "minum air galon aja sana!" perintahnya kemudian.
"Tapi yang satu buat Ayah, Bun."
"Sama aja, buat Ayahmu juga jangan dingin. Dia udah tua."
Mau tidak mau gue akhirnya pasrah. Mengambil gelas lalu mendekat ke arah dispenser dan mengambil air dari sana.
Gue menegak segelas penuh dalam hitungan detik, karena kehausan. Setelahnya gue mengambil gelas baru untuk mengambilkan bokap. Setelahnya gue langsung membawanya ke depan. Gue dapat menebak kalau gue bakal diomeli bokap abis ini.
"Nih, minumnya, Yah," kata gue sambil menyodorkan segelas air kepada bokap.
Beliau tidak langsung menerimanya. Tatapan matanya berubah tajam. "Kok bukan air dingin?" protesnya kemudian.
"Nggak boleh Bunda."
"Kok bisa?"
Gue berdehem sambil terbatuk sekali.
"Kan yang batuk kamu bukan Ayah."
"Tapi sama aja, Bunda nggak kasih izin. Kalau mau ya, ini, kalau enggak ya sana Ayah ambil sendiri. Tapi Bunda di dapur, kalau mau kena omel ya, silahkan! Agha nggak bisa bantuin." Gue menggeleng tegas.
Ekspresi bokap langsung cemberut. Dengan perasaan tidak rela beliau akhirnya meminta gelas itu. Gue kemudian langsung memberikannya dan duduk di sebelah beliau. Badan gue rasanya masih keringetan banget mau langsung mandi.
"Minggu depan main badminton sama Papa Mala yuk, Dek."
Gue menggeleng tanpa mengalihkan pandangan gue dari layar ponsel. "Enggak bisa, Yah, minggu depan ada pemotretan."
"Dih, kayak model aja kamu gayanya mau pemotretan," cibir bokap, "alih profesi nih ceritanya? Udah bosen ngebedah tubuh manusia ceritanya?"
Gue berdecak seraya melirik bokap sekilas sebelum kembali fokus menatap arah layar. "Bantuin Abbas, Yah."
"Eh? Abbas? Mau prewed nih ceritanya? Jadi sama yang itu?"
"Bukan. Pemotretan artisnya, Yah, bukan foto prewed. Lagian yang Ayah maksud sama 'yang itu' bentar lagi nikah sama orang lain, bukan sama Abbas."
"Kok bisa?"
"Ya, bisa, namanya bukan jodoh. Ya pasti nikahnya sama orang lain lah, Yah."
"Terus si Abbas-nya sekarang sama siapa? Punya pacar nggak sih dia?"
Gue menggeleng sedih kala mengingat nasih Abbas. "Belum, Yah, kan Abbas itu naksir berat sama Alisa. Eh, malah mau ditinggal nikah, gimana mau punya pacar?"
Ekspresi bokap langsung berubah prihatin. "Ya ampun, kasian banget. Ditinggal nikah, bilang ke dia kalau semisal butuh calon suruh telfon Ayah ya, Gha, ntar biar Ayah bantu."
Gue terkekeh. "Lah, Ayah nggak ada niatan bantu anaknya sendiri nih?"
__ADS_1
"Ngapain? Kamu kan punya Mala."
Gue shock saat mendengarnya. Ingin protes tapi tidak jadi karena yang disebutkan namanya tiba-tiba nelfon.
Tak ingin obrolan kami didengar bokap, gue memutuskan untuk berdiri dan langsung masuk ke dalam rumah. Dan bisa kalian tebak abis itu apa yang terjadi? Ya benar, bokap ngeceng-cengin gue.
"Ya, kenapa, La?" sapa gue bergitu sambungan terhubung. Gue kemudian memutuskan untuk duduk di sofa ruang tamu.
"Gha, Lisa bilang undangan nikahan buat gue di lo ya?"
"Hm, iya, di gue."
"Kok lo nggak bilang?" protesnya dari seberang.
"Sorry, kelupaan."
"Dasar tua! Ya udah, lo simpenin dulu nggak papa, ntar bisa dikasih pas udah deket sama hari H aja."
"Nggak hari H sekalian?"
"Ya, jangan dong, kan gue mau ngajakin Robby ntar rencananya. Kalau lo kasih di hari H, ntar lo gangguin lagi. Dih, males."
Gue spontan tertawa. "Heh, siapa bilang lo bisa ngajakin dia?"
"Lah, emang kenapa?"
Gue berusaha menahan ketawa. "Coba lo tebak!"
Hening selama beberapa saat.
"Anjir, jangan bilang undangan buat gue gabungan sama lo lagi?" tebak Mala dari seberang. Terdengar sekali kalau perempuan itu setengah kesal sekaligus tidak percaya,
Gue hanya terbahak.
"Kalau undangannya gabungan terus gini, mending ntar kita beli kadonya gabungan juga. Kesel banget gue, pada punya masalah apa sih mereka sama kita? Coba lo pikir, kita itu diginiin udah berapa kali coba?"
Entah lah, gue bahkan sudah malas untuk sekedar menghitungnya karena memang sudah lumayan sering terjadi. Bahkan parahnya saat kami masing-masing punya pasangan masih saja diginiin.
"Mau cari kado hari ini?" tawar gue kemudian, "kalau mau gue langsung siap-siap nih."
"Minggu depan aja gimana? Kan masih ada waktu minggu depan, Gha."
"Enggak bisa gue kalau minggu depan, gue udah janji bantuin pemotretan artisnya Abbas. Kalau mau hari ini aja."
Terdengar suara decakan dari seberang. "Duh, gimana ya, Gha, gue hari ini ada janji sama Robby, nggak enak lah kalau mendadak batalin."
Gue perhatikan Mala sering banget jalan sama si Robby-robby ini. Apa mereka serius sedang dalam masa pendekatan?
"Kalian lagi pdkt ya?" tanya gue tidak ingin berbasa-basi.
Gue merengut kesal. "Lah, kan lo yang nggak mau. Kenapa jadi nyalahin gue?" protes gue kemudian.
"Gue nggak mau apa? Lo itu yang nggak gentle jadi cowok. Udah lah, males gue ribut. Gue mau jalan sama Robby, jangan gangguin gue!"
Klik.
Tanpa menunggu persetujuan dari gue, Mala langsung mematikan sambungan telfonnya secara sepihak. Hal ini membuat emosi gue meradang. Umpatan samar keluar spontan dari mulut gue.
Entah lah, gue marah karena Mala mematikan sambungan sepihak atau karena Mala akan jalan dengan si tetangga Mala, ya?
*
*
*
"Anjir, siapa nih?" celetuk Ohim secara tiba-tiba, "Mala itu punya sodara nggak sih?" sambungnya kemudian.
"Punya," jawab gue singkat. Pandangan mata gue masih fokus pada layar ponsel.
"Lah, bukannya anak tunggal?" Kali ini Abbas yang menyahut.
Gue mengangguk, membenarkan. "Dia emang anak tunggal."
"Lah, kalau anak tunggal punya sodara dari mana, nyet?" Ohim tiba-tiba melempar bekas kulit kacang yang ada di hadapannya ke arah gue. Namun, untung saja gue dengan cepat bisa menghindar.
"Sodara sepupunya, njir."
"Oh, jadi ini sepupunya?"
"Yang mana?"
Gue bertanya, namun, pandangan gue masih tetap fokus ke arah layar. Karena kalau gue tinggal menoleh ke arah ponsel Ohim yang ada ntar gue kalah. Umur boleh kepala tiga tapi main game di saat gabut begini tetap menjadi pilihan kami. Oh, ralat, karena kali ini yang ngegame cuma gue sama Abbas.
"Di igs-nya."
"Belum lihat igs-nya gue seharian ini."
Ohim tiba-tiba mendekatkan ponselnya tepat di wajah gue, hal ini menghalangi pandangan gue ke layar, membuat gue akhirnya berhasil dikalahkan Abbas.
"Anjir, jadi kalah nih gue," seru gue emosi. Sedangkan Abbas sendiri langsung berseru kegirangan.
"Biarin, mampus! Lagian kalian berdua itu udah tua, harusnya fokus nyari bini bukannya nggame doang."
__ADS_1
Emosi gue meradang. Dengan wajah kesal gue langsung membekap wajahnya menggunakan bantal sofa. "Ngaca woy!"
"Dih, sorry, ya, gue bentar lagi nyusul Alisa. Jangan sama-samakan gue sama kalian!" balas Ohim tidak terima. Tentu saja setelah berhasil meloloskan diri.
Abbas terkekeh dengan wajah kalemnya. "Mau nyusul sama siapa lo?"
"Sama calon bini gue lah," balas Ohim percaya diri, "tungguin aja, undangan masih dicetak. Ntar gue kirimin secepatnya. Gue mah orangnya sat-set, nggak kebanyakan mikir kayak lo berdua."
Mendengar jawaban Ohim yang terdengar sangat yakin. Gue dan Abbas langsung bertukar pandang.
"Lo serius, Him?" tanya Abbas mewakili.
Ohim mengangguk cepat. "Sumpah demi Allah, Bas, Gha. Gue nggak mungkin berani bohong kalau udah bawa-bawa Tuhan. Seriusan mau kawin gue dalam waktu dekat, paling nggak nyampe dua bulan lagi gue udah sah jadi suami orang."
"Sama siapa, njir? Lo balikan sama Vika?"
Serius, gue masih shock. Ini berita terlalu mengejutkan bagi gue.
"Bukan. Ada lah pokoknya. Ntar juga kalian tahu pas jadi groomsmen gue."
"Lo serius? Kok bisa-bisanya lo mau kawin nggak kasih tahu kita dulu."
"Ya ini juga gue kasih tahu, lo pikir gue ngapain ini?" balas Ohim tak kalah emosi, "lagian semuanya emang serba mendadak--"
"Jangan bilang lo kebobolan?" potong gue dengan tatapan curiga.
"Sembarangan banget mulut lo! Kaga, anjir. Begini-begini iman gue nggak selemah itu, meski masih sering goyah."
"Lha terus? Ini, tuh, terlalu mendadak, Him. Gue nggak bisa mikir yang lain selain ke arah sana," aku gue jujur.
Di samping gue, Abbas mengangguk setuju. "Gue juga."
"Anjir, ya, lu berdua!" Ohim berdecak, "gue dijodohin. Eh, bukan dijodohin sih, tapi dikenalin gitu sama anak temennya bokap. Sama-sama keturunan Arab ceritanya. Pertama kali ketemu tuh, gue ngerasa kayaknya emang ini deh orangnya. Gue nggak tahu kenapa sih punya keyakinan begini, cuma pas ketemu tuh, gue ngerasa gitu. Aneh banget nggak sih?"
Gue sama Abbas sama-sama diam. Hal ini membuat Ohim kembali berdecak.
"Ah, lo nggak bakal paham. Pokoknya intinya gue ngerasa yakin aja gitu. Gue mau nikah dan siap menikah, capek juga lama-lama nggak ada yang ngurus. Ya udah, karena gue udah yakin gue minta ketemu lagi lah buat sama-sama meyakinkan mau lanjut apa enggak, dan dia sih mau. Ya udah, dua hari kemudian gue langsung dateng ngelamar."
"Anjir, keturunan Arab emang beda ya. Mainnya ta'aruf, njir. Kena mental gue, Bas."
Ohim spontan terbahak. "Makanya jadi orang tuh yang sat-set, kasian itu anak orang." Ia tiba-tiba menunjuk wajah gue, "terutama lo! Kasian itu si Mala, Gha. Buruan nikahin! Ntar keburu dinikahin yang barusan diposting," ledeknya kemudian.
"Maksud lo?"
Ohim kemudian menunjukkan layar ponselnya. "Ini loh, Gha, kayaknya nggak mungkin deh kalau yang ini saudara sepupu. Soalnya Mala jadi sok anggun, nggak bar-bar macem biasa."
Anjir, ini kan tetangga Mala. Kenapa Mala pake acara posting-posting segala sih?
Dengan sedikit kesal, gue langsung menelfonnya.
"Mau ngapain lo?" tanya Ohim.
Gue memilih untuk mengabaikannya karena sambungan telfon sudah terhubung.
"Ngapain?" tanya gue tak ingin berbasa-basi.
"Lo mabuk ya, Gha? Yang telfon ini lo, bukan gue," balas Mala terdengar kesal, "jangan aneh-aneh! Masih siang ini."
Gue menghela napas. "Gue tanya sekali lagi ya, La. Lo lagi ngapain sama si sok asik?"
"Sok asik siapa? Anjir, sumpah lo aneh banget."
"Ya, itu tetangga lo."
"Namanya Robby, Gha, astaga!"
"Sama aja. Jadi kalian ngapain aja? Awas ya lo kalau sampai berani macem-macem!"
"Lah, suka-suka gue, siapa lo ngelarang-ngelarang?"
"Oh, jadi nantangin lo? Jangan lo pikir gue nggak tahu ya, La, lo sekarang di mana. Gue samperin gue seret balik mau lo?"
Terdengar suara decakan dari seberang. "Iya, iya, gue balik. Nggak bisa banget liat orang seneng," gerutunya kemudian.
Detik berikutnya sambungan terputus. Mala mematikan telfon secara sepihak. Sekarang giliran gue yang bingung. Lah, kan gue cuma nanya dia lagi ngapain? Kenapa malah mau langsung pulang? Aneh banget.
"Mana sih, Him, kok di gue nggak ada ya?"
Abbas kepo ternyata. Gue terkekeh. "Mungkin postingannya cuma buat only friend, Bas," komentar gue kemudian.
"Iya kah?" Abbas sedikit melongok ke arah layar ponsel Ohim. Sedangkan pria itu terbahak.
"Anjir."
"Kenapa lo?" tanya gue heran.
"Udah dihapus ternyata, njir. Wkwk, si Mala takut diamuk temen lo makanya postingannya langsung dihapus. Sumpah ya, kalian berdua tuh gokil banget. Buruan nikah deh kalian berdua! Gue udah dapet gedung sama catering nih, mau lo pake dulu apa gimana? Apa mau dipake berempat sekalian? Nikah bareng, seru tuh, ntar biar sekalian gitu Abbas ngerasainnya, abis ditinggal kawin gebetan, eh, ditinggal kawin dua sohibnya."
Ohim terbahak puas banget, reflek membuat gue ikut terbahak. Yang dibalas Abbas dengan umpatan kasar.
"Sialan lo berdua! Tahu lah, mau cabut aja gue. Nggak asik lo berdua!"
Ohim semakin terbahak. "Lah, mau cabut ke mana dia? Orang jelas-jelas ini lagi di apartemen dia. Emang bego tuh temen lo, makanya ditinggal kawin."
__ADS_1
"OHIM, EMANG ANJING YA LO!" amuk Abbas.
Tbc,