
*
*
*
"Ssssst..."
Gue spontan menoleh ke asal suara dan menemukan bokap yang sedang menyempulkan kepalanya di balik pintu.
"Kenapa, Yah?"
"Ada yang nyariin tuh di bawah."
"Siapa?"
"Calon istri kamu."
Spontan gue berdecak lalu menggeleng. "Bilangin kalau Agha udah tidur gitu lah, Yah." Gue kemudian mulai menyibak selimut dan bersiap untuk berbaring.
Terdengar suara decakan yang keluar dari mulut bokap. "Kamu nyuruh Ayah bohong?"
Gue diam sesaat lalu menggeleng cepat. "Ya udah, bilang aja kalau Agha lagi nggak enak badan. Mau istirahat gitu, besok aja lah ketemu di RS."
Ekspresi bokap langsung berubah marah. Dengan emosi, beliau melepas sandalnya dan bersiap melemparkannya ke arah gue.
"Turun nggak?!" ancamnya tidak main-main, "jadi cowok kok ngeselin banget. Nggak usah berlagak sok kegantengan kamu. Masih untung disamperin. Jadi cowok itu yang gentle, kalau ada masalah dihadapi, diomongin baik-baik. Bukannya malah ngambekan begini. Buruan turun atau Ayah usir kamu malem ini juga."
"Iya, iya," balas gue pasrah. Gue tidak bisa berkutik. Langsung turun dari ranjang, memakai sandal dan langsung keluar kamar.
Dengan langkah gontai gue menuruni anak tangga dan berjalan menghampiri Mala. Perempuan itu langsung menyapa gue dengan senyum tipisnya. Gurat wajah lelah terlihat pada wajah cantiknya. Membuat gue sebenarnya tidak tega juga melihatnya. Namun, ego gue ternyata lebih tinggi untuk saat ini.
"Kalau capek itu langsung pulang, kenapa malah ke sini?" tanya gue dengan nada ketus, yang tanpa perlu repot-repot gue sembunyikan. Gue emang sengaja biar Mala nyadar kalau gue masih kesel sama dia.
"Karena gue tahu, lo nggak bakal menghindar kalau gue ajak ngomong di sini."
Seketika gue langsung mendengus. Pinter banget ya si Mala, tahu banget kelemahan gue.
Gue kemudian menghela napas. "Ya udah, sekarang lo bisa jelasin alesan lo. Gue siap dengerin."
"Mama Danu--"
"Nggak usah sebut nama dia, gue nggak suka dengernya, La. Bikin gue emosi," potong gue dengan wajah kesal.
Terlihat sekali kalau Mala sedang menahan diri agar tidak ikut tersulut emosi. Sebenarnya Mala tipekal perempuan yang kurang sabaran, dan biasanya harus gue lah yang banyak ngalah kalau menghadapi dia. Tapi di saat momen-momen tertentu, seperti sekarang ini, gue akui dia lumayan jago dalam menghandle gue yang sedang mode sensi.
"Oke. Gue ulang. Jadi Mama si brengsek abis nemuin gue."
Oho, sepertinya kesabaran Mala sudah menipis. Terdengar jelas sekali dari nada bicaranya yang mulai ketus. Gue menahan diri untuk tidak tersenyum, karena mengingat gue lagi dalam mode kesal padanya.
"Awalnya, beliau datang buat minta maaf atas kelakuan anaknya, sambil nangis-nangis. Gue ikut sedih melihat dan nggak tega ngeliatnya, Gha, apalagi beliau keliatan putus asa banget. Mau bagaimanapun, gue pernah dekat dan akrab dengan beliau, karena hubungan gue sama anaknya nggak bisa dibilang sebentar juga, Gha."
"Terus lo langsung luluh gitu aja ngeliat tangisan nyokapnya?"
Mala diam. Perempuan itu tidak langsung membalas dan malah menundukkan kepalanya. Hal ini membuat gue menyimpulkan kalau apa yang gue katakan benar.
Emosi gue meradang.
"Gue nggak suka cara pikir lo, La. Serius. Gue kecewa. Marah. Kita mau menikah. Lo akan jadi ibu nantinya, ibu dari anak-anak kita. Tapi begini cara lo menghadapi masalah? Apa kalau anak kita salah nanti lo akan melakukan hal ini juga?"
Mala masih tetap dalam mode diamnya. Sepertinya ia sedang dalam mode pasrah gue omeli.
__ADS_1
Baiklah kalau gitu. Bakal gue kabulin secara langsung.
"Enggak kan, La? Kalau anak kita salah, dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya, itu bukannya malah sembunyi di balik orangtuanya. Lo mau anak lo begitu? Kalau gue, sorry, La, gue nggak mau begitu. Kalau dia salah, ya, salah, dan dia harus bertanggung jawab penuh atas kesalahannya. Kita nggak bisa belain anak yang salah, karena nanti bakal keterusan. Lo ngerti nggak sih kenapa gue semarah ini?"
Mala langsung mengangguk cepat. "Gue ngerti, Gha, gue paham betul atas kekecewaan lo sekarang. Tapi, plis, kasih gue kesempatan buat ngejelasin."
"Ya, silahkan! Bukannya emang tujuan lo ke sini buat itu."
"Oke, pertama, gue sependapat sama lo--"
"Sependapat soal apa? Lo bahkan bantuin meloloskan penjahat. Ini bukti jelas kalau kita nggak sependapat, La," potong gue kesal.
Mala terlihat jauh lebih kesal. Namun, gue tahu perempuan itu sedang menahan kekesalannya itu mati-matian.
"Bisa tolong jangan potong kalimat gue?" tanya Mala dengan ekspresi datarnya.
Meski antara rela dan tidak rela, gue akhirnya mengangguk.
"Meski gue ngebantu Tante Yuli, bukan berarti kalau anak kita salah gue bakal ngelakuin hal yang sama kayak Tante Yuli, Gha. Kalau anak kita salah, gue bakalan tetep mau dia jadi anak yang bertanggung jawab atas perbuatannya. Lo nggak perlu khawatir kalau soal ini. Dan perihal kenapa gue bantuin Tante Yuli, karena gue punya alasan, Gha. Sejujurnya, ini juga berat buat gue. Karena apa yang Danu lakukan ke gue kemarin bahkan nggak bisa gue maafin gitu aja. Semua ketakutan yang gue alami kemarin terkadang masih keinget jelas. Kalau lo tanya apa gue trauma? Mungkin jawabannya, iya, karena sampai detik ini gue masih belum berani ke apartemen gue sendiri."
Mendengar pengakuan Mala, hati gue rasanya agak ngilu. "La," panggil gue ragu-ragu.
"It's okay, lo nggak perlu khawatir, gue bakal konsul kok ke Monik nantinya. Gue udah bikin janji sama dia, cuma emang jam kerja kita agak bentrok, jadi belum sempet ketemu."
Gue mengangguk. "Kalau lo butuh gue temenin, bilang aja. Nanti pasti gue usahain."
Kini giliran Mala yang mengangguk. "Iya, nanti kalau gue ngerasa butuh lo, gue bakal bilang. Boleh gue lanjut?"
Lagi-lagi gue mengangguk.
"Danu sakit, Gha."
Kali ini gue tertawa sinis. "Jelas. Mana ada yang yang waras tega melakukan hal keji begitu terhadap perempuan? Gue rasa nggak ada kecuali orang itu sakit."
Mendadak tenaga gue seperti habis untuk sekedar melanjutkan perdebatan kami. Kepala gue yang tadinya kerasa mendingan, kini mendadak pening lagi.
"Kita bahas ini besok lagi lah, La. Gue capek, serius." Sebelah tangan gue memijit pelipis gue, berharap sedikit meredakan denyutan.
"Lo lagi kurang sehat ya?"
Gue mengangguk dan mengiyakan. "Iya, hampir gila gue rasanya mikirin lo."
"Gha," panggil Mala dengan nada merengek. Namun, kedua matanya melotot tajam ke arah gue.
"Serius. Lo pikir gue bercanda?"
"Iya, iya, gue percaya. Tapi sekarang baikan dulu, yuk." Mala langsung berdiri dan menghampiri gue. Jari kelingkingnya mengacung tepat di depan gue.
Gue menggeleng tegas. "Nggak. Ogah. Males. Gue masih kesel sama lo."
"Iiih, Agha, stop nyebelin! Ini gue udah ngalah nemuin lo duluan, ya, lo jangan ngelunjak!"
"Bodo amat, siapa juga yang minta? Kan gue nggak minta."
"Sumpah, jahat banget sih lo?"
"Lo juga jahat ya, anjir, giniin gue," balas gue tidak mau kalah, "udah sana lo balik. Gue mau istirahat. Besok gue ada visit pagi."
"Ya, makanya kita baikan dulu biar gue bisa langsung pulang, Agha."
"Enggak." Gue masih bersikeras menolaknya, "gue masih kecewa, jadi lo harus pulang dengan perasaan kecewa juga. Biar adil," sambung gue sambil sedikit tertawa kecil.
__ADS_1
Mala mengamuk. Perempuan itu langsung mengambil bantal sofa yang ada di sebelahnya. Lalu ia menggunakan bantal itu untuk mendorong wajah gue. Kebetulan gue yang sedang dalam kondisi kurang fit tentu saja langsung jatuh. Mala dengan gerakan brutal langsung menduduki pinggang gue.
Gue berteriak panik. "Anjir, La, gue susah napas ini." Karena bantal sofa itu masih berada tepat di wajah gue, "mana lo berat banget lagi."
"Nggak usah body shamming!" Mala memukul lengan gue kesal, "eh, bentar, Gha. Badan lo kok anget?" Dengan gerakan panik ia langsung menyingkirkan bantal sofa dari wajah gue. Akhirnya gue bisa bernapas lega.
"Lo beneran lagi sakit?" tanyanya panik. Telapak tangannya kemudian langsung mengecek suhu tubuh gue. Dimulai dari dahi, pipi, hingga leher gue, "demam ya lo? Kok lo nggak bilang sih kalau lagi sakit?"
Gue diam saja. Tidak membalas. Yang gue lakukan hanya menatap wajah cantik Mala dari posisi ini. Bagaimana bulu mata itu menerjap, bibir itu bergerak, dan wajah paniknya. Gemes juga ya ternyata.
"Astagfirullah, adek!"
Seketika lamunan gue buyar. Mala bergerak turun dari posisinya cepat-cepat. Gue kembali merubah posisi gue menjadi duduk. Meringis canggung sambil menyapa Ayah dan Bunda.
Samar-samar gue mendengar gumaman bokap. "Wow, ternyata anak Saga lebih mirip Yana ya, Bun. Agak agresif." Dan setelah itu terdengar suara bokap mengaduh karena dicubit nyokap.
Gue kemudian berbisik ke telinga Mala. "Sorry, ya, Ayah emang suka gitu. Jangan dimasukin ke hati."
Senasib dengan bokap, kini giliran gue yang dicubit. Gue sedikit mengaduh kesakitan sambil melotot tajam ke arah Mala sebagai bentuk protes gue. Dan dibalas dengan pelototan tajam oleh perempuan itu, yang artinya kurang lebih menyuruh gue untuk diam. Alhasil, gue langsung menutup bibir gue rapat-rapat.
"Kalian sudah baikan?" tanya Bunda mewakili.
Gue mengangguk, namun, Mala menggeleng. Lalu saat gue menggeleng, giliran Mala yang malah mengangguk.
"Lah, kenapa nggak kompak banget sih pasangan baru?" ledek bokap sambil geleng-geleng kepala. Ekspresinya terlihat seolah sedang menatap kami antara, miris dan kasian, "ya udah, kalau emang belum kelar. Silahkan dilanjut, tapi jangan berisik," sambungnya kemudian.
"Apanya yang dilanjut, Yah? Ayah jangan mulai deh."
"Ngobrolnya maksud Ayah, Gha. Kamu itu pikirannya jorok mulu mentang-mentang cowok."
Bokap gue emang paling jagonya sih kalau soal berkilah begini. Padahal gue tahu banget maksud arah pembicaraan beliau. Tapi karena males berdebat gue hanya mengangguk dan mengiyakan.
"Nggak boleh macem-macem, dek, inget belum muhrim." Kini giliran Bunda yang menasehati.
Gue hanya mampu mengangguk dan mengiyakan. Lalu Ayah dan Bunda pergi meninggalkan kami berdua lagi.
"Gara-gara lo tuh, gue jadi dicap jelek sama bokap lo," omel Mala sambil memukul gue menggunakan bantal sofa.
Gue tidak terima. "Apaan, lo duluan, ya, ngapain nyalahin gue? Lagian siapa yang nyuruh lo duduk di pinggang gue? Lo sendiri ya, njir, jadi itu emang salah lo."
"Ya kalau lo nggak rese terus kita baikan, gue pasti nggak bakal gituin lo. Gue pasti sekarang udah di jalan, pulang."
"Terus salah gue?"
"Iya lah."
"Pulang sana!" usir gue kesal.
Mala langsung terbahak. "Dih, gitu aja ngambek."
"Bukan gitu aja, ini gue ngambeknya dari kemarin-kemarin. Kita belum baikan, La."
Secara tiba-tiba Mala meletakkan telapak tangannya di pipi gue. Perlakuannya yang tiba-tiba membuat gue agak kaget.
"Jangan sakit," bisiknya dengan suara rendah. Namun, mampu membuat bulu kuduk gue meremang dan jantung gue rasanya jumpalitan. Agak terdengar norak memang, tapi gue sama Mala jarang memiliki momen seperti ini. Jadi wajar kalau reaksi tubuh gue norak.
Gue mengangguk sambil menyentuh punggung tangannya yang masih menempel pada pipi gue. "Enggak. Gue nggak sakit kok," balas gue sambil tersenyum.
Di luar dugaan, Mala mendengus sambil mendorong dahi gue kasar. "Tapi lo demam, anjir."
Seketika tubuh gue mematung. Ya ampun gue barusan ngarepin apaan sih dari Mala?
__ADS_1
Tbc,