Married With My Besti

Married With My Besti
Berdebat


__ADS_3

*


*


*


Awalnya Alisa merasa begitu antusias ingin bertemu sang calon mertua. Tapi setelah akhirnya bertemu, ia mendadak seperti merasa ingin melarikan diri. Apalagi saat Hapsari ngotot ingin menggelar acara resepsi padahal dirinya dan Abbas sudah sepakat untuk menggelar acara tersebut.


"Pokoknya Ibu nggak mau tahu, kalian harus tetap menggelar resepsi pernikahan. Bagi Alisa mungkin ini sudah jadi pernikahan keduanya, tapi kamu? Ini tetap pernikahan pertama kamu, Bas. Ibu nggak setuju kalau kalian menikah tanpa resepsi. Kamu tahu berapa lama Ibu menunggu momen ini?" Hapsari menggeleng tidak setuju, "enggak, ibu tidak setuju," ucapnya kekeuh dengan pendiriannya.


"Ibu sudah kasih restu buat kalian menikah, lalu kamu masih mau giniin ibu?" Hapsari menggeleng cepat, "enggak. Ibu nggak rela. Kalau nggak mau nurutin permintaan ibu, ya sudah, nikah saja ke KUA doang terus nggak usah undang ibu sekalian."


"Astagfirullah, Ibu, kenapa tega ngomong begitu? Memangnya Ibu ada uang buat gelar acara resepsi pernikahan, sampai sengotot ini minta kita adain resepsi?" tanya Abbas mulai kesal. Sejak tadi ia sudah mencoba untuk bersabar, tapi sepertinya sekarang tidak.


"Jadi kendala kalian di biaya?"


"Iya. Ibu mau membiayainya?"


Pandangan Hapsari kemudian beralih pada sang calon menantu. "Biaya resepsi harusnya ditanggung pihak wanita, karena pihak pria harus memikirkan biaya seserahan dan juga mahar."


Ekspresi Abbas melongo tidak percaya. Tidak menyangka sang ibu akan berbicara demikian.


"Ibu tega ngomong begitu?" tanyanya dengan nada tidak percaya.


"Loh, memang biasanya begitu kan pihak perempuan yang menggelar resepsi lalu pihak laki-laki urusan seserahan, mahar, dan lainnya. Kamu lupa gimana pernikahan adikmu?"


"Baik, Bu, kalau memang Ibu maunya begitu, nanti--"


"Sa!" seru Abbas tidak setuju, ia frustasi dengan sikap sang kekasih yang malah terkesan menuruti sang Ibu, "kamu nggak perlu nurutin Ibu. Kita bisa nikah sesuai kemampuan atau kemauan kita. Yang mau nikah kita, aku sama kamu," sambungnya dengan nada putus asa, "bukan ibu."


Abbas menghela napas panjang. Guna mengatur emosinya agar tidak kembali meledak.


"Bu, Abbas mohon, jangan begini! Kita bukan dari kalangan berada yang hartanya nggak habis. Apa ibu lupa, warisan tanah peninggalan Bapak semua sudah ludes Ibu jual, hanya rumah ini yang tersisa. Abbas mohon, Bu, jangan minta Abbas buat nuruti gengsi ibu lagi. Udah cukup, Bu, tabungan Abbas bahkan nyaris ludes untuk nikahan Farhan dan biaya persalinan Glory, Abbas juga harus mikirin masa depan Abbas sama Alisa, Bu. Dibandingkan untuk menggelar resepsi, kami memilih untuk menggunakan tabungan kami untuk membeli rumah."

__ADS_1


"Kenapa beli rumah? Kamu kan sudah ada apartemen. Ngapain beli rumah?" tanya Hapsari terlihat heran.


"Karena Abbas nggak mau keluarga kecil Abbas nanti tinggal di apartemen, Abbas mau mereka tinggal di perumahan. Nantinya Abbas mau jual apartemen Abbas nanti."


"Biar dibeli adikmu saja," ucap Hapsari tiba-tiba.


Hal ini tentu saja langsung mengundang kekehan samar dari Abbas. "Memangnya Farhan punya uang?" tanyanya dengan nada tidak percaya, "enggak. Abbas sudah punya orang yang mau beli apartemen Abbas."


"Kenapa nggak tanya ibu dulu?"


"Kenapa harus? Kan itu apartemen milik Abbas pribadi, jadi suka-suka Abbas mau jual atau enggak."


"Bas," tegur Alisa dengan raut wajah tidak sukanya. Menurutnya nada bicara Abbas sekarang terdengar seperti sedang menantang sang Ibu.


Namun, berhubung Abbas terlihat sudah sangat kesal. Ia memilih untuk mengabaikan teguran sang kekasih.


"Sekarang ibu jadi berpikir, keputusan ibu buat kasih izin menikah itu keputusan yang tepat atau bukan," ucap Hapsari membuat emosi Abbas kembali naik.


"Bu," panggil Abbas dengan nada tiba-tiba meninggi.


"Kamu bentak ibu?" tanyanya dengan nada tidak percaya.


Abbas menghela napas berat. "Terserah ibu mau mikir apa, tapi yang jelas, menurut Abbas, ibu sudah keterlaluan. Abbas juga nggak terima kalau Ibu bilang begitu. Niat Abbas ke sini itu baik-baik, mau minta doa restu dan ngomongin rencana pernikahan kami, tapi kalau ibu begini. Mungkin benar kata ibu, kalau mungkin Abbas harus nikah tanpa kehadiran ibu sekalian."


"Abbas!" kali ini giliran Alis yang menaikkan nada bicaranya, "kamu nggak boleh ngomong gitu," tegurnya kemudian.


Abbas sudah terlanjur terbawa emosi. Dan ia kesulitan mengendalikan diri. Ia bahkan langsung berdiri dan pamit pergi sambil menarik telapak tangan Alisa begitu saja.


*


*


*

__ADS_1


Begitu sampai di luar, Alisa langsung menghempaskan tangan Abbas yang tadinya menggenggam telapak tangannya.


"Bas, aku rasa kamu udah keterlaluan deh barusan. Nggak seharusnya kamu bersikap begitu, kalau begini yang ada Ibu kamu makin berpikir jelek tentang aku. Dikiranya aku mempengaruhi kamu."


"Ya terserah lah ibu mau mikir apa yang jelas kamu nggak begitu kan?" Abbas berdecak kesal, "lagian sikap ibu tadi udah keterlaluan banget, Sa. Bisanya cuma nyuruh ini-itu tapi juga nggak bisa kasih modal. Aku kesel, Sa, aku marah. Ibu aku nggak bisa digituin terus-terusan, nanti yang ada keterusan. Udah cukup sampai sekarang."


"Ya oke, aku ngerti. Tapi nggak seharusnya kamu bersikap demikian, itu nggak sopan, mau gimana pun, beliau tetap ibu kamu, Bas. Dan nggak seharusnya kamu begitu."


"Aku putus asa. Aku capek ngadepin ibu aku yang selalu begitu. Kamu nggak tahu rasanya jadi aku, Sa. Kamu bisa ngomong begitu karena orang tua kamu nggak begitu, dua-duanya masih ada, nggak kayak aku. Selama ini aku udah coba sabar dan nuruti kemauan beliau karena itu memang bakti aku sebagai anak. Tapi lama kelamaan aku capek, aku nggak bisa, Sa. Kamu nggak akan ngerti!"


Alisa melongo tidak percaya. "Kenapa kamu jadi marah sama aku? Ya emang aku nggak ngerti rasanya jadi kamu, tapi harus banget ya kamu bersikap seolah-olah aku nggak tahu apa-apa? Kamu pikir yang hidupnya menderita kamu doang? Semua orang punya masa sulitnya masing-masing juga, Bas."


"Maaf, kalau kalimat aku keterlaluan," sesal Abbas dengan perasaan bersalah, "aku nggak maksud begitu."


Namun, Alisa sudah terlanjur kesal. Kali ini ia yang kesulitan mengontrol emosinya.


"Aku mau pulang."


"Aku antar."


Alisa menggeleng tidak setuju. "Enggak usah, aku mau pulang sendiri. Kita ketemu lagi besok begitu kita sama-sama nggak emosi."


"Sa, jangan begitu lah," cegah Abbas saat perempuan itu hendak pergi begitu saja, "aku anter, minimal kasih izin aku buat anterin kamu. Yang bawa ke sini aku, jadi kasih aku izin buat anter kamu. Ini bentuk rasa tanggung jawab aku ke kamu, tolong jangan diabaikan!"


Alisa mencoba memaksakan senyumnya. "Aku tahu, tapi aku punya keputusan sendiri. Jadi tolong hargai juga keputusan aku. Aku bener-bener lagi diselimuti emosi, Bas. Tolong ngertiin aku!"


"Oke. Kalau gitu pake mobil aku."


Alisa menggeleng sebagai tanda penolakan. "Enggak, aku lagi males nyetir."


"Alisa!"


"Terserah kamu mau marah-marah atau ngamuk sekalian, yang jelas aku mau pulang sendiri. Itu aja."

__ADS_1


Setelahnya mengatakan kalimatnya itu, Alisa benar-benar pergi begitu saja. Abbas meruntuki emosinya sendiri karena mencari kendaraan di komplek perumahan sang ibu tidak mudah. Tapi sepertinya memang semesta ingin berpihak pada Alisa. Perempuan itu dengan mudahnya mendapatkan taksi untuk membawanya pulang. Sekarang ia bahkan bingung harus bagaimana.


Tbc,


__ADS_2