Married With My Besti

Married With My Besti
Menyapa Tetangga Baru


__ADS_3

Gue meringis tidak enak kala melihat Mala terus-terusan memegang pinggangnya sambil berjalan mondar-mandir di depan kompor. Gue berniat mau bikinin dia sarapan awalnya, cuma tadi pas gue coba mau goreng telur, eh, telurnya malah gosong. Gue coba tawarin cariin sarapan di luar, Mala tidak sabar, alhasil dia masak sendiri.


Maklumin ya, guys, gue dari kecil emang biasa dimanja. Apa-apa udah disiapin nyokap gue, padahal beliau sibuk banget sama EO-nya. Jadi, ya, gue nggak pernah berurusan sama dapur karena gue juga punya kakak perempuan. Ditambah lagi kan gue nggak pernah tinggal sendiri, alhasil ketrampilan memasak gue udah jelas nol besar.


"Ini aku harus bantuin ngapain?" tanya gue seperti orang bego.


Mala menoleh sekilas. "Mandi, ganti baju, terus anterin gue ke RS. Kamu sarapannya abis nganter aku aja." lalu membalik telurnya.


Tak ingin semakin menyusahkan Mala, entah secara fisik maupun emosional, gue langsung mengangguk cepat dan berlari kecil menuju lantai atas untuk mandi dan melakukan semua instruksi yang diperintahkan Mala. Kebetulan gue dapet jatah shift sore jadi berangkatnya masih nanti siang.


Saat gue udah selesai mandi dan berganti pakaian, gue kemudian bergegas ke lantai bawah. Ternyata Mala udah siap.


"Loh, emang sarapannya udah?" tanya gue heran.


"Sarapan di mobil aja, aku takut telat kalau sarapan di rumah. Ayo, mending berangkat sekarang! Aku udah keluarin mobil sama panasin juga, ini jadi kita bisa langsung berangkat sekarang."


Gue tersenyum bangga kala mendengar penjelasan Mala. Tangan gue langsung melingkar pada pinggangnya, kecupan ringan gue daratkan pada pelipis Mala.


"Ya ampun, istri gue emang yang paling terbaik, ya. Pantes aja gue makin cinta," bisik gue sambil tersenyum genit.


Kami berjalan beriringan masih dengan tangan yang melingkar pada pinggangnya.


Mala menatap gue datar. "Lo cinta sama gue, Gha?" tanyanya tidak yakin.


Gue tertawa. "Cinta lah. Lo pikir perut lo bisa segede balon gini karena apa kalau bukan karena cinta?"


"Karena ****** lo lah," balas Mala dengan santainya lalu masuk ke dalam mobil.


Seketika gue kehilangan kata-kata. Astaga, ngarepin apaan lagi sih gue? Kan gue nikahnya sama sahabat sendiri, ya. Nirmala pula.

__ADS_1


"Gha, buruan! Nanti gue bisa telat!" teriak Mala dengan nada tidak sabaran.


"Iya, iya, bawel lo." Sambil berdecak sedikit kesal, gue langsung masuk ke dalam mobil untuk menyusul Mala.


Ternyata dia sudah asik menikmati sarapan ala kadarnya. Nasi putih sama telur ceplok tiga yang dikasih kecap manis.


"Mau nggak?" tawar Mala.


Gue langsung menggeleng cepat sambil memakai seatbelt. "Enggak usah, buat kalian aja. Ntar aku cari sarapan di luar aja."


"Oke." Mala mengangguk paham dan memilih kembali menyuap, "oh ya, Gha, ngomong-ngomong kok aku belum pernah ketemu sama tetangga baru kita itu lagi ya. Pertama kali lihat pas mereka baru pindah waktu itu, abis itu nggak pernah liat lagi. Profesi mereka apaan sih, kok kayaknya sibuk banget sampe nyaris nggak pernah keliatan."


Gue mengangkat bahu tanda tidak tahu. "Aku bahkan belum pernah ketemu mereka, La. Kan waktu mereka pindahan aku lagi di Bogor. Aku juga nggak tahu sih profesi mereka apaan, soalnya Pak RT cuma bilang kalau tetangga kita itu pasutri baru gitu doang."


"Udah hampir setengah bulan kan mereka pindahnya?"


"Mungkin karena kita nggak sibuk nggak sih, makanya nggak pernah liat?"


"Hah, masa sih? Tapi bisa jadi sih, jam kerja kita kan suka nggak menentu. Tiba-tiba dapet emergency call lah, tahu-tahu harus cito lah. Jadi mungkin gegara itu kali ya?"


Gue mengangguk dan mengiyakan. "Iya, bisa jadi tuh."


"Tapi gimana kalau besok kita coba sapa mereka? Kali aja mereka mau nyapa duluan masih sungkan, jadi kita sebagai warga yang lebih duluan tinggal di sini, mending duluan yang nyapa. Gimana menurut kamu?"


Gue berpikir sejenak lalu mengangguk setuju. "Iya, aku rasa itu bukan ide yang buruk. Nanti pulang dari RS aku beli sesuatu deh buat dibawa ke rumah mereka. Enggak enak juga kan kalau datang tangan kosong."


Mala manggut-manggut setuju dan tidak berkomentar lebih lanjut. Karena lebih fokus dengan sarapannya, sedangkan gue memilih untuk fokus pada jalanan.


*

__ADS_1


*


*


"Gha, emang nggak papa bertamu pagi-pagi begini? Kok aku nggak enak ya?" Mala menghentikan langkah kakinya, menatap gue tidak yakin. Detik berikutnya ia menggeleng cepat, "aku sungkan deh, kita ke sini-nya kapan-kapan aja gimana?"


Spontan gue ikut menghentikan langkah kaki gue lalu menarik lengan Mala, meyakinkannya kalau apa yang kita lakukan ini bukan lah masalah besar. Maksud gue, niat kami baik, cuma mau nyapa sebentar lalu pulang. Toh, kami juga harus segera berangkat ke rumah sakit habis ini. Jadi gue rasa enggak akan terlalu mengganggu, setidaknya itu menurut gue.


"Enggak papa, tanggung udah sampe sini, La. Lagian kalau nggak sekarang kapan lagi? Ntar keburu nggak sempet. Masa udah lama tetanggaan belum pernah nyapa?" ucap gue meyakinkan.


"Ya udah, biar mereka yang nyapa duluan," saran Mala.


Gue langsung menatap Mala datar. "Heh, nggak boleh gitu." Tak lama setelahnya gue langsung menggeleng tidak setuju dengan kalimatnya, lalu memutuskan untuk memencet bell.


"Permisi!" teriak gue kemudian, "assalamualaikum!"


Mala langsung memukul lengan gue. "Enggak usah pake teriak!" omelnya kemudian, "pencet bell juga udah kedengeran orangnya, Gha."


"Ya kan namanya bertamu harus ucap salam kan?" Gue menatap Mala dengan ekspresi polos.


Mala berdecak sambil menatap gue datar. "Ya, tapi tunggu yang punya rumah bukain dulu lah."


Tak ingin berdebat, akhirnya gue menurut. Diam seperti orang bego, menunggu sampai yang punya rumah membukakan pintu.


Oh, tidak, kayaknya gue makin keliatan kayak orang bego setelah sang pemilik rumah membukakan pintu. Karena gue lumayan shock berat saat mengetahui siapa yang menjadi tetangga baru kami. Gue kalau shock biasanya emang keliatan kayak orang bego.


Astaga, ya ampun, takdir macam apa ini?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2