Married With My Besti

Married With My Besti
Pov 3


__ADS_3

Berhubung momen langka Mala ngambek sampe begini, mari kita ganti pov 3 karena aku mulai agak bosan pake pov 1. Hehe


💕💕💕💕


"Siapa yang kasih izin pulang?"


Tubuh Agha terasa seperti membeku seketika saat mendengar nada bicara Mala yang masih terdengar ketus. Ia menarik napas dalam sebelum akhirnya berbalik untuk menatap sang istri dengan raut wajah yang dibuat setenang mungkin.


"Pulang ke rumah sendiri emang perlu izin?"


Agaknya Agha memang sedang mode ingin mencari perkara dengan Mala. Sudah tahu istrinya merajuk bukannya dibujuk malah ditantangin. Sepertinya pria itu sudah bosan hidup makanya berani bersikap demikian.


Satu...


Dua...


Belum sampai pada hitungan ketiga, nyali Agha seketika langsung menciut, saat mendapat tatapan tajam dari Mala.


"Ya kan, nggak mungkin juga aku ke RS pake baju kemarin, La. Makanya aku pulang. Kai mana? Masih tidur?"


Nada bicara Agha kali ini terdengar lebih lembut dan pelan.


Mala menaikkan sebelah alisnya. "Emang kamu semalam tidur di mana? Bukannya tidur di rumah sakit?"


Agha tertawa kecil. "Hahaha, yang bener aja dong, La, masa iya kamu berharap aku tidur di..." ia menghentikan kalimatnya saat menyadari sesuatu, "lah, iya, kenapa aku semalam nggak tidur di rumah sakit aja ya?"


"Gimana sih? Emang semalem kamu tidur di mana? Di tempat Abbas kan?"


Agha menggeleng cepat. "Abbas nggak lagi di Jakarta."


Mala melotot terkejut. "Terus di rumah Bunda?"


"Ya, enggak lah bisa abis kena omel Ayah 24 jam aku, La. Kamu kayak nggak tahu Ayah aja."


"Terus kamu tidur di mana?"


Mala mulai berkacak pinggang dan itu membuat Agha mulai waspada siaga satu.


"Ho--"


"Bagus, ya, sok kaya banget kamu sampai nginep di hotel?"


"Ya, gimana, emang kamu berharap aku tidur di mana lagi sih, La, kamu larang aku pulang, Abbas nggak di Jakarta, kalau aku pulang ke rumah Bunda, pasti Ayah bakalan ngomel panjang lebar terus ujungnya aku diusir juga. Berarti pilihan satu-satunya ya, aku harus nginep di hotel."


Mala mendengus sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada. "Emang sejak kapan kamu jadi tukang nurut?"


"Hah?"


Agha melongo seperti orang bodoh. Maksudnya, semalam Mala tidak benar-benar melarangnya untuk pulang ke rumah begitu?


Tunggu sebentar, Agha masih loading.


Ia memandang sang istri, bermaksud meminta jawaban. Tapi Mala justru melengos pergi begitu saja.


"Jangan berharap aku masak pagi ini, makan aja di luar," ucap Mala.


Tanpa mengeluarkan protes, Agha langsung mengangguk paham.

__ADS_1


"Kai semalam nggak rewel kan?"


Hening. Tidak ada jawaban.


"Kamu bisa tidur kan?"


Lagi-lagi pertanyaan Agha diabaikan sang istri. Hal ini membuat pria itu berdecak kesal sambil berkacak pinggang.


"La, seriusan ini ngambeknya masih dilanjut?" tanya Agha dengan ekspresi tidak percayanya.


Mala memandang dang suami dengan wajah galaknya. "Ya emang siapa duluan yang mulai?" tantangnya kemudian.


Agha manggut-manggut. "Iya, iya, aku yang salah. Aku minta maaf."


Mala mendengus. "Besok-besok mau diulangi?" sindirnya kemudian.


"Iya," balas Agha tanpa sadar.


Mala semakin melotot galak. "Apa kamu bilang?!"


"Hah?!"


Agha melongo beberapa saat, ia kemudian menggeleng cepat saat menyadari kesalahannya."Enggak kok, enggak. Enggak bakal diulangi. Janji ini yang terakhir," ucapnya sambil mengibaskan kedua telapak tangan secara cepat.


"Kalau ketahuan ingkar janji diapain?"


"La," rengek Agha seperti anak kecil.


"Kalau ketahuan ingkar janji diapain?" ulang Mala dengan nada penuh penekanan, "kamu itu kebiasaan, Gha, kalau nggak diginiin pasti bakalan kamu ulangin lagi."


"Astaga, La, emang aku ngapain sih? Kan juga aku nggak selingkuh, aku setia sama kamu doang loh."


Agha menggeleng panik. "Enggak, bukan gitu, La. Iya, aku tahu kok."


"Apa?"


"Enggal boleh foto sama dokter koas?"


"Agha!" panggil Mala dengan nada penuh penekanan, "bercandaan kamu nggak lucu, ya."


Agha menggerutu dalam hati. "Padahal juga gue nggak lagi ngelucu."


"Pokoknya kalau sampai kamu ketahuan ganjen, minta diapain?"


Agha menghela napas pasrah. "Terserah. Aku siap diapain aja. Yang penting sekarang kita baikan. Oke?" bujuknya tidak ingin menyerah. Ia kembali mendekat ke arah Mala dan beruntung kali ini Mala tidak menghindar. Namun perempuan itu masih diam dan seolah tidak mau menggubrisnya sama sekali.


"Sayang!"


Mala berdecak sambil mendorong dahi Agha gemas. "Apaan sih? Berisik. Ntar Kai bangun. Baru bisa tidur tahu abis subuh tadi."


Agha langsung menutup bibirnya rapat-rapat. "Oh masih tidur? Tapi udah jam segini loh, bentar lagi kita dinas. Gimana?"


"Ya enggak gimana-gimana, nanti biar dimandiin Mama aja. Kasian kalau mau aku bangunin sekarang, semalem dia agak rewel."


Mengetahui sang putra semalam rewel, Agha jadi khawatir. "Kenapa? Anget?"


Mala menggeleng. "Nyariin kamu kayaknya."

__ADS_1


"Loh, kenapa nggak telfon?"


Kali ini Mala diam saja. Wanita itu bahkan terkesan menghindari tatapan mata Agha. Hal ini tentu saja menjadi kesempatan pria itu untuk menggoda Mala.


"Cie, gengsi ya," ledek Agha sambil menyenggol lengan Mala.


Wanita itu berdecak cuek. "Apaan sih?" tanyanya sebal, "nggak usah genit!"


"Loh, kenapa? Kan sama istri sendiri. Dari pada genit sama dokter koas, ntar kamu ngamuk lagi. Cemburu."


"Dih, siapa yang cemburu? Sok ganteng banget sih kamu, Gha. Udah ah, aku mau mandi dulu." Setelah mengatakan itu Mala langsung bergegas meninggalkan Agha, menaiki anak tangga dengan langkah sedikit tergesa-gesa.


Agha pun langsung menyusulnya. "La, nggak mau bareng?"


Mala menghentikan langkah kakinya dan berbalik. "Ngapain?"


"Mandinya," cengir Agha sok malu-malu.


Mala yang melihatnya pun kembali emosi dan melempar sandal jepitnya hingga sukses mengenai wajah Agha.


"Astagfirullah, La, begini banget kamu sama suami sendiri?" protes Agha kesal.


"Siapa suruh nantangin," decak Mala sebelum pergi meninggalkan sang suami.


💕💕💕💕


Baik Mala dan Agha kini masing-masing sudah berpakaian rapi. Keduanya berdiri berdampingan sambil menatap putra mereka yang masih terlelap di box bayi ukuran besarnya. Helaan napas terdengar setelahnya, lalu keduanya saling bertukar pandang.


"Siapa yang gendong?" tanya Mala.


"Kamu aja lah, aku nggak tega kalau nanti kebangun."


Mala berpikir sejenak lalu menggeleng tidak setuju. "Kai berat kalau lagi tidur, Gha. Anak kamu udah gede. Kamu aja lah yang gendong."


Awalnya Agha ingin mendebat, namun, setelah melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya. Ia memilih diam dan langsung mencoba menggendong Kai. Tidur nyenyak bocah itu sedikit terusik, bahkan selama beberapa saat kedua matanya terbuka meski pada akhirnya kembali terlelap.


"Kamu yang nyetir berarti ya?" tanya Agha dengan nada berbisik.


Mala melotot sesaat sebelum akhirnya menggeleng tidak setuju. Agha langsung mendengus lalu tetap melanjutkan langkah kakinya meninggalkan kamar mereka.


"Mau kamu pangku apa taroh di car seat aja?" tanya Agha setelah mereka sampai di depan mobil.


"Aku pangku aja deh." Mala kemudian mengambil alih Kai dari gendongan Agha.


Sesaat Kai kembali membuka mata saat berpindah gendongan. Namun bocah berumur setahun ini memilih kembali memejamkan kedua mata tak lama setelahnya. Sepertinya Kai benar-benar masih mengantuk. Agha yang gemas melihatnya pun terkekeh sambil mencium putranya gemas, sehingga tidur bocah itu sedikit terganggu. Hal ini tentu saja membuat Mala kembali kesal dan memukul Agha.


"Enggak usah usil kenapa sih?"


Yang diomeli hanya memasang wajah polos bak tak punya dosa.


"Buruan bukain mobilnya!"


"Iya, iya, marah-marah mulu. Lupa kalau baru aja baikan?"


Sekali lagi Mala memukul pundak Agha sebelum masuk ke dalam mobil. "Ya, makanya nggak usah mancing!" decaknya sebal.


"Ya makanya jangan kepancing!" balas Agha tak mau kalah.

__ADS_1


Mala melotot tajam. Agha menyengir malu-malu dan langsung menutup pintu mobil. Sebelum akhirnya dirinya ikut masuk ke dalam dan meninggalkan rumah.


Tbc,


__ADS_2