Married With My Besti

Married With My Besti
Tetiba Disuruh Pulang


__ADS_3

*


*


*


Setelah selesai bermain basket keduanya langsung berbaring di lapangan begitu saja, dengan napas yang terdengar ngos-ngosan. Maklum, selain karena keduanya sudah masuk usia hampir kepala tiga, keduanya juga sudah mulai jarang melakukan olahraga berat, sehingga tubuh mereka sedikit kaget.


"Gila, tua beneran ya kita main bentar doang aja rasanya capek banget gue," keluh Agha dengan deru napas yang terdengar ngos-ngosan. Ia merentangkan kedua tangan dengan pandangan menatap langit malam Jakarta. Kebetulan lapangan sedang sepi.


"Lo kali yang tua, gue mah masih muda," balas Abbas tidak terima, "kalau lo mah emang beneran udah tua, soalnya udah hampir punya dua bocah, gue kan belum jadi masih muda lah. Enak aja nyama-nyamain aja lo!"


"Sialan, lo juga sama aja udah tua, cuma bedanya lo masih tetep membujang meski udah tua."


"Halah, sirik aja lo!" sahut Abbas sambil tertawa.


"Lo juga sama aja pasti, suka sirik sama gue atau Ohim pasti. Ngaku aja lo!" balas Agha tak mau kalah.


Abbas tidak langsung menjawab. Pria itu diam sebentar lalu diam-diam mengangguk dan mengiyakan. Munafik kalau ia tidak merasakan hal tersebut. Apalagi di saat dulu Alisa juga sudah menikah, hitungannya termasuk ia sendiri yang belum menikah di antara berempat. Saat melihat hampir semua orang berpasangan sedangkan dirinya tidak, tentu saja ia merasa iri.


Merasa tidak mendapat jawaban, Agha langsung menendang kaki Abbas pelan. "Bas, nggak tidur kan lo? Kalau sampai tidur beneran gue tinggal loh, serius, nggak bakal gue bangunin," ancamnya galak.


Padahal jelas-jelas ia akan menginap di apartemen pria itu, tapi bisa-bisanya ia berbicara demikian.


"Apaan sih? Berisik," decak Abbas kesal.


"Ya makanya lo jangan diem aja. Lagi ngelamunin apaan sih?" tanya Agha heran.


"Alisa," aku Abbas jujur.


Mendengar kata Alisa, Agha langsung mengubah posisi berbaring menjadi tengkurap.


"Kenapa sama Alisa?" tanya Agha kepo, "lo ada rencana mau nembak dia?" ia kemudian berpikir sejenak, "eh, enggak deh, masa iya kayak bocah mainnya tembak-tembakan. Langsung lamar lah ya?" sambungnya bermonolog sendiri.


Abbas menghela napas pendek. "Gue agak worry deh, Gha, kalau langsung lamar. Takut Alisa masih ada trauma masa lalu atau bagaimana," akunya jujur. Pandangannya menerawang.


"Lebih baik langsung lamar tapi ada kejelasan, dari pada HTS. Menurut gue itu lebih parah loh, Bas, serius," ucap Agha meyakinkan.


Abbas mengerutkan dahi bingung. "HTS?" beonya tidak paham, "HTS apaan?" tanyanya seperti orang bingung.


Agha langsung mencibir. "Norak, masa nggak tahu HTS sih, Bas?" ia berdecak heran tak lama setelahnya.


Abbas menggeleng cepat. "Gue taunya BTS, grup yang dari negeri ginseng itu kan kalau BTS?"


"Anjir, tahu aja lo BTS, tapi ini yang gue bahas HTS, Bas, hubungan tanpa status. Parah banget kan? Masa punya hubungan tapi nggak ada statusnya, kan nggak menguntungkan banget tuh. Kata gue mending langsung lamar."


"Bukannya kalian dulu gitu?"

__ADS_1


Agha menaikkan alis bingung. "Kalian siapa yang lo maksud?" tanyanya tidak paham.


"Lo sama Mala."


Agha berdecak tidak terima. "Enak aja, status gue sama Mala mah dulu jelas, cuma sahabatan, terus langsung gue perjelas lagi dengan status tunangan, eh, tahunya diperjelas lagi sama nyokap-bokap kita. Kata gue lo juga harus begitu."


"Tiba-tiba lamar Alisa gitu maksud lo?"


"Kalau itu sih terserah lo, yang penting lo tunjukin keseriusan lo."


Abbas berpikir sejenak. "Kalau mau ngelamar berarti harus nyiapin cincin ya?"


Agha mengangguk cepat. "Iya lah, masa ngelamar anak orang cuma pake kata-kata doang, yang ada ntar dikira cuma bercanda. Kalau beli cincin kan berarti udah keliatan serius dan niat."


"Tapi gue nggak ngerti gimana cara beli cincin tuh gimana, Gha."


"Tenang, kan ada gue, ntar gue bantuin."


Abbas menatap Agha tidak yakin. "Emang dulu lo belinya langsung sendiri?"


Agha mengangguk cepat. "Ya beli langsung sendiri lah, masa beli online. Enggak yakin gue takut kena tipu."


"Enggak, bukan itu maksud gue, maksudnya lo pergi ke toko perhiasan sendirian dan milih sendirian gitu?"


"Oh, kalau itu sih gue ditemenin nyokap soalnya waktu itu gue lagi nemenin nyokap belanja bulanan, terus sekalian mampir deh."


"Ya emang kenapa? Ada masalah?" Agha balik bertanya, "itu sih bukan niat lamaran emang, gue cuma pengen beliin dia aja. Hehe, pas lamarannya gue ajak orangnya buat milih sendiri. Tapi lo jangan ngeremehin gue, kan gue udah ke sana dua kali buat beli cincin lamaran, jadi paham kok tips dan triknya."


"Kalau gitu temenin yok, besok nyari cincinnya."


"Besok? Duh, bisa nggak ya gue, gue liat jadwal operasi gue dulu besok. Ntar kapan gue ada waktunya gue kabarin."


Abbas langsung mendengus. "Sama aja bohong, anjir, kalau gini mending gue minta bantuan Ohim."


"Ya udah, sana, gue juga nggak masalah. Terserah lo sih itu."


"Jadi serius lo mau lamar Alisa dalam waktu deket?"


Abbas mengangguk dan mengiyakan. "Abis males gue kalian nyinyirin terus, jadi ya udah lah gue langsung lamar sekalian biar kalian puas."


"Nah, gitu dong, gerak cepat, sat set sat set, biar nggak ditikung orang lagi. Soalnya gue yakin yang ngajak Alisa nikah lagi banyak."


"Iya, iya, gue tahu."


"Jangan iya-iya doang lo, tapi langsung dibuktikan!"


"Bawel lo!"

__ADS_1


"Abis lo kalau nggak dibawelin nggak gerak, Bas." ia kemudian bangun, "udahan, yuk, gerah nih gue, pengen mandi."


Abbas mengangguk setuju lalu bangun dari posisi berbaringnya. Saat hendak melangkah ia tiba-tiba merasakan ponselnya bergetar, ia lalu merogoh kantong celananya dan mengeluarkan benda pipih dari dalam sana.


"Anjir, lo bawa hape?" komentar Agha saat menyadari Abbas memegang ponsel.


"Ya emang kenapa? Wajar kan orang jaman sekarang ke mana-mana bawa hape? Ke toilet aja dibawa kok, masa ke luar nggak bawa."


"Anjir lah," komentar Agha sambil geleng-geleng dan berdecak.


Sementara Abbas langsung menjawab panggilan tersebut.


"Ya, halo, Sa?"


Oalah, pantesan, yang menelfon Alisa. Sekarang ia mengerti kenapa pria itu seolah tidak mau pisah dengan ponselnya, takut kalau sang pujaan hati menelfon sewaktu-waktu.


"..."


"Ini lagi sama gue."


"..."


"Sekarang banget?"


"..."


"Oke, nanti kalau kalau pulang nyetirnya hati-hati."


"..."


Klik. Sambungan terputus.


"Kenapa?" tanya Agha heran.


"Disuruh pulang lo."


Agha mengerutkan dahi bingung. "Sama?"


"Bini lo lah."


"Sekarang?"


"Enggak, nunggu anak kedua lo lahir. Ya sekarang lah, Gha, gimana sih?"


Agha mengangguk paham lalu bergegas naik ke unit Abbas untuk mengambil barang-barangnya, baru setelah itu ia langsung bergegas pulang begitu saja tanpa mandi lebih dahulu.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2