Married With My Besti

Married With My Besti
Clear


__ADS_3

*


*


*


"Tidur aja, yuk!" ajak gue kemudian.


Gue sudah selesai mandi. Udah selesai makan juga. Dan sekarang kita lagi duduk berhadapan di ruang makan ditemani secangkir teh di hadapan masing-masing. Tapi Mala tidak kunjung memulai pembicaraan. Perempuan itu terlihat gelisah dan ragu-ragu. Hal ini membuat gue tidak tega melihatnya.


Ini nggak bisa dibiarin, Mala belum siap dan gue tidak punya hak untuk memaksanya. Karena kalau gue perhatikan dari raut wajah Mala, sepertinya ini benar-benar tidak mudah buat dia. Jadi gue nggak boleh egois.


"Tapi kan aku belum cerita."


Gue mengangguk paham. "Iya, aku tahu, La, tapi kamu bisa cerita lain kali, untuk sekarang aku nggak akan maksa kamu buat cerita sekarang. Jadi jangan terlalu memaksakan diri." Gue mencoba tersenyum secerah mungkin untuk meyakinkan Mala kalau gue beneran nggak papa, walau nggak mendengar cerita itu sekarang, "tidur aja, yuk!" ajak gue kemudian.


Namun, di luar dugaan, Mala memilih menggeleng tidak setuju dengan kalimat gue. "Aku mau cerita, Gha. Malam ini, tapi enggak di sini. Di kamar aja, ya, sambil dipeluk. Boleh nggak?"


Spontan gue langsung terbahak lalu menghampirinya. "Ayo, apa sih yang nggak buat istri tercinta?" goda gue sambil mencubit hidungnya gemas.


Gue jadi pengen cium saking gemasnya, soalnya Mala jarang-jarang bersikap begini. Dan ini termasuk momen langka.


Mala langsung berdiri lalu gue merangkul pinggangnya dan mengajaknya naik ke lantai atas.


Kami memeriksa tidur Kai lebih dahulu, sebelum akhirnya kami berbaring di ranjang. Sesuai permintaan, Mala langsung memeluk tubuh gue begitu kami sama-sama berbaring di atas ranjang. Dapat gue rasakan pelukannya lebih erat dari biasanya. Lalu tak berapa lama setelahnya gue tiba-tiba merasakan kaos gue sedikit basah. Cepat-cepat gue mengurai pelukan kami.


"Hei, kok nangis? Kalau nangis nggak usah jadi cerita aja deh, La, mending kita tidur, ya? Ceritanya besok-besok lagi?" tawar gue makin tidak tega.


Mala langsung menggeleng cepat sambil mengusap kedua pipinya sedikit kasar. Gue kemudian ikut membantu mengusap pipinya yang masih sedikit basah lalu memeluknya kembali.


"Enggak papa, La, enggak papa," bisik gue mencoba menenangkan. Tangan gue perlahan mengelus rambutnya, "Berat banget emang ya, La?" tanya gue hati-hati.


Mala mengangguk pelan. "Tapi aku sayang sama kamu, Gha."


"Aku tahu. Aku juga sayang sama kamu kok. Tidur aja ya?" tawar gue tidak tega.


Mala merubah posisi berbaringnya menjadi terlentang. Namun, tubuh kami masih saling menempel.


"Aku bisa kok," ucapnya sambil menyeka air matanya kembali.


Gue mengangguk. "Oke."


"Aku, Bagas, sama Dirga dulu kami bertiga berteman dekat sejak kecil. Kita udah kayak tiga sekawan yang nggak terpisahkan karena kemana-mana bareng. Bagas itu orangnya iseng banget, dia usil dan hobi banget ngerjain aku. Beda banget sama Dirga yang emang anaknya baik banget, ramah, dan paling pintar juga di sekolah. Dirga itu orangnya perhatian, peka, dan juga penyayang. Mungkin karena sering banget dibantuin dan dikasih perhatian berlebih, perasaan itu mulai timbul saat kita beranjak remaja." Mala mulai bercerita.


Oke, siaga satu. Saingan gue nggak main-main. Terlalu paket komplit kayaknya kalau didengar dari cerita Mala.

__ADS_1


"Kata Bagas Dirga juga suka sama aku, dia bilang Dirga bakalan nembak aku sebelum hari kelulusan. Tapi sampai hari kelulusan itu tiba Dirga nggak nembak-nembak aku. Bahkan sehari setelah hari kelulusan kami, aku malah memergoki dia sama perempuan lain. Aku marah sama mereka, terutama sama Bagas. Aku marah karena tega-teganya dia membohongi aku."


"Tapi sebenarnya Bagas berkata jujur, Dirga saja yang bodoh dan mengira kami berpacaran makanya dia nembak perempuan lain."


"Tunggu sebentar, maksudnya kami itu, kamu sama Bagas?" sela gue meminta penjelasan.


Mala mengangguk dan mengiyakan. "Bodoh banget kan Dirga? Padahal Bagas sama sekali nggak tertarik sama aku, dan padahal jelas-jelas aku udah kasih kode ke Dirga kalau aku sukanya dia. Tapi tetep aja dia bego."


"Terus sekarang Dirga-nya gimana? Hubungan kalian? Kalian pernah pacaran nggak pada akhirnya?"


Sambil tersenyum miris, Mala menggeleng.


"Kenapa?" tanya gue hati-hati. Perasaan gue mendadak tidak enak.


Bukannya menjawab, Mala malah memiringkan tubuhnya sambil memeluk gue erat. Dapat gue rasakan kaos gue kembali basah, dan suara sesenggukan yang mulai terdengar.


"La, you okay?" tanya gue tidak terlalu yakin.


Mala menggeleng di dalam pelukan gue.


Apa karena mereka tidak sempat berpacaran makanya Mala sesedih ini?


"Kamu sayang banget ya sama Dirga ini?"


Masih di dalam pelukan gue, kali ini Mala mengangguk. Dan jujur itu menimbulkan sensasi ngilu. Hati gue rasanya seperti tercubit. Sakit, man!


"Kenapa?"


"Karena dia memilih pergi."


Gue mengurai pelukan kami. "Emang dia pergi ke mana? Kenapa dulu nggak disusul?"


"Kalau aku susul dia, kita nggak akan pernah bertemu, Gha. Enggak akan pernah ada Kai juga."


Gue mengangkat kedua bahu secara bersamaan. "Ya, belum tentu juga kan. Bisa jadi kita ketemu setelah kamu pulang nyusulin dia."


Mala tersenyum miris lalu memeluk gue kembali. "Enggak bisa, kalau aku nyusul dia, itu artinya aku udah nggak ada di dunia. Karena dia udah nggak ada di dunia ini."


Tubuh gue seketika langsung menegang. Tidak ada di dunia ini? Maksudnya meninggal?


"La?" panggil gue ragu-ragu. Pelukan kami sedikit meregang.


Dengan kedua mata sembabnya, Mala mengangguk. "Dia udah meninggal dunia," bisiknya dengan suara bergetar.


Detik berikutnya tangis Mala kembali pecah. Dengan gerakan sigap gue kembali memeluk lebih erat Mala dan mengusap punggungnya, mencoba untuk menenangkannya.

__ADS_1


"Dirga kecelakaan tepat di depan aku sama Bagas, Gha. Bayangan--"


"Ssstt, nggak usah terusin," potong gue sambil memeluk Mala erat, "aku paham, La. Udah, cukup. Kamu nggak perlu terusin!"


Mala semakin menangis sesegukan di dalam pelukan gue. Gue tidak mengatakan apapun, hanya mendekapnya erat sambil mengelus punggungnya. Sesekali gue mendaratkan kecupan pada pucuk rambutnya.


Sekarang gue paham kenapa Mala sesulit ini untuk cerita. Kehilangan seseorang yang sangat berarti dalam hidup kita memang tidak lah mudah, apalagi kepergiannya tepat di hadapan kita. Jelas saja ini berat. Tapi gue tetap merasa salut sama Mala.


"Maafin aku, ya, Gha," bisik Mala dengan suara sedikit serak karena kebanyakan nangis.


Gue menggeleng tanda tidak setuju. "Kamu nggak salah, jadi nggak perlu minta maaf."


"Mulai sekarang kalau kita nggak sengaja ketemu Bagas lagi kamu jangan cemburu ya?"


Mau tidak mau gue akhirnya mengangguk pasrah. "Iya."


"Dan soal Dirga, dia mungkin tetap punya ruang di hati aku, tapi kamu nggak perlu khawatir, karena rasa sayang dan cintanya aku lebih besar ke kamu kalau dibandingkan ke Dirga."


Sekali lagi gue mengangguk paham. "Iya, aku tahu."


"Enggak boleh cemburu-cemburuan lagi loh abis ini?"


Sambil terkekeh geli gue mengangguk dan mengiyakan. "Tetep aku usahain, sayang, cuma kamu juga harus bantuin aku. Kalau semisal kamu ketemu mantan kamu, jangan asik sendiri sampe lupa sama suami sendiri."


"Kapan aku begitu?" protes Mala tidak terima, "aku nggak ada mantan selain Danu loh, Gha."


Gue menatap Mala tidak percaya. "Serius mantan kamu cuma si brengsek itu?"


"Iya." Mala mengangguk pasti untuk mengiyakan, "aku itu bukan kamu, Gha, yang ditembak sekali langsung diterima gitu aja. Aku itu pemilih."


Seketika gue langsung mencibir. "Halah, pemilih, sekalinya milih dapetnya brengsek."


Mala langsung menatap gue datar.


Gue meringis takut lalu memeluknya erat. "Hehe, bercanda, sayang. Udah, yuk, tidur!" ajak gue kemudian, "eh, tapi bentar, ini mata kamu nggak mau dipakein apa dulu gitu, takut besok pagi jadi bengkak soalnya." gue kemudian salfok ke mata Mala yang masih sembab.


"Gampang lah besok, tinggal dipakein Concealer yang banyak. Concealer-ku bagus, jadi aman."


Gue menatap Mala ragu. "Emang bisa?" tanya gue tidak yakin.


"Bisa. Aman. Udah, ayok tidur! Ntar kalau kita nggak buruan tidur, Kai ikut bangun dan nggak mau tidur. Kamu mau begadang?"


Sambil meringis samar, gue menggeleng cepat. "Ya udah, ayo, tidur! Good night, sayang!" bisik gue sambil mencium kening Mala. Dan respon Mala hanya sekedarnya saja.


"Hm."

__ADS_1


Ck, ngarepin apaan sih gue ini?


Tbc,


__ADS_2