Married With My Besti

Married With My Besti
Kena Sembur Mama Mertua


__ADS_3

"Gha, udah pagi, bangun dulu sarapan!"


Samar-samar gue mendengar suara Mama mertua membangunkan. Namun, mata gue rasanya sulit terbuka. Gue bahkan hanya merespon dengan gumaman. Samar-samar gue juga mendengar beliau mengomel tak lama setelahnya. Begitu pula dengan Mala. Istri gue juga sama aja. Dia terdengar ikut mengomel padahal semalam masih suka merintih dalam tidurnya.


Bodo amat, gue masih ngantuk dan memilih untuk kembali terlelap. Ya, bukan bermaksud ngebantah ucapan istri apalagi mertua. Masalahnya gue pesennya dibangunin jelang jam praktek shift gue aja. Bukan buat sarapan seperti yang dilakukan mertua gue dan Mala saat ini.


Iya, gue tahu sarapan itu penting. Tapi bagi gue sekarang tidur jauh lebih penting. Karena gue sudah ngantuk berat.


Gue semalem nggak jadi tidur. Bukan karena begadang jagain Mala atau anak gue. Tapi karena gue apes dan malah dapet emergency call. Kata gue residen yang nelfon gue keterlaluan sih, gue kan posisinya lagi jagain istri yang baru saja melahirkan tapi bisa-bisanya malah gue yang ditelfon duluan. Mana alasannya sialan banget lagi, karena posisi gue yang udah stand by di rumah sakit. Rasa-rasanya semalam gue pengen pulang gitu aja.


Operasi yang gue lakukan selesai tepat setelah adzan subuh berkumandang. Begitu sampai di kamar inap Mala, gue udah seperti zombie. Tanpa berbasa-basi ke Mala, gue memilih langsung tidur begitu saja. Dan sekarang bisa-bisanya gue dibangunin di saat gue baru tidur berapa jam?


Tolong siapa pun jawab gue, kalau begini ceritanya siapa yang keterlaluan?


"Mama ambilin air terus Mama siram ke wajah kamu ya, Gha, kalau nggak bangun sekarang!" ancam Mama tak lama setelahnya.


Seketika gue langsung panik bukan main. Meski dengan kedua mata yang masih sedikit sulit terbuka, gue memaksa tubuh gue untuk langsung bangun dan berdiri. Alhasil, kepala gue agak kleyengan dikit karena bangun secara tiba-tiba.


"Heran, susah banget sih dibangunin," gerutu Mama, "itu udah Mama beliin bubur ayam. Dimakan," sambungnya kemudian.


Buset. Ini mertua gue kenapa deh, galak banget perasaan. Gue ada salah apa? Apa karena semalem gue nggak stand by jagain Mala makanya gue kena sembur? Duh, serem banget buset.


Gue sedikit memiringkan tubuh, agar bisa bertanya pada Mala. "Mama kamu kenapa?" tanya gue tanpa mengeluarkan suara.


"Berantem sama Papa," balas Mala tanpa mengeluarkan suara juga.


Seketika gue langsung mengangguk maklum. Mama mertua gue emang suka sensi mendadak kalau lagi berselisih paham sama Papa mertua gue. Tak jarang kita juga ikutan kena sembur kalau mereka lagi berselisih paham begini.

__ADS_1


Tak ingin membuat mood mertua gue makin down, gue langsung menyantap sarapan gue. Selesai sarapan gue langsung cuci muka sama sikat gigi.


"Enggak mandi sekalian?" tanya Mala saat gue keluar dari kamar mandi.


Mala sedang sendirian. Kayaknya mertua gue lagi keluar untuk membeli sesuatu. Mungkin. Enggak tahu juga sih gue, asal nebak aja.


Gue menggeleng. "Enggak. Nanti aja. Mama ke mana?" gue celingukan mencari keberadaan beliau.


"Nengokin cucunya," jawab Mala, tak berapa lama setelahnya bibirnya langsung manyun seketika, "aku kapan boleh nengoknya sih, Gha?"


"Nanti dulu dong, La, kondisi kamu masih belum memungkinkan. Nanti deh kita tanya Ayah, ya? Kamu makanya cepet sembuh dong, biar bisa lihat anaknya," ucap gue mencoba menenangkan.


Pasalnya mau bagaimana pun juga, Mala ini anak tunggal dan dia tipe yang punya keinginan maunya dituruti.


Mala merengut. "Aku yang mengandung dan ngelahirin juga, masa nggak boleh lihat."


Gue terkekeh gemas mendengar gerutuannya. "Bukan nggak boleh liat, La, tapi karena kondisi kamu yang belum stabil betul, sayang. Nanti kalau udah memungkinkan pasti boleh kok. Kan kamu ibunya gimana sih? Yang ngerawat, menyusui dan lain-lainnya kan nantinya kamu, masa nggak boleh liat? Ya boleh dong."


Gue berdecak kesal sambil menjawil hidung Mala gemas. "Mau aku cubit dulu biar tahu kamu mimpi apa enggak?" tawar gue kemudian.


"Kita alay nggak sih, Gha?" Mala balik bertanya dan bukannya menjawab pertanyaan gue.


Gue terkekeh. "Ya, tergantung," jawab gue asal.


Mala menatap gue penuh minat. Terlihat cukup penasaran dengan jawaban apa yang akan nenek berikan. "Tergantung apa?" tanyanya kepo.


Gue berpikir sebentar. "Ya, tergantung sudut pandang orang yang ngeliatnya lah, La."

__ADS_1


"Gha, aku mau nanya," ucap Mala tiba-tiba.


Asli sih, gue tuh suka agak deg-degan tiba-tiba kalau Mala ngomong pake prolog begini.


"Soal?" gue menaikkan sebelah alis gue heran.


"Ririn."


Gue menatap Mala dengan sebelah alis terangkat. "Kenapa?" tanya gue kemudian.


Mala balas menatap gue cukup lama. Dia tidak langsung menjawab. Seperti ada keragu-raguan di dalam dirinya. Gue berusaha untuk meyakinkannya sambil menggenggam tangannya.


"Nanya aja, La. Aku bakal jawab kok," ucap gue meyakinkan.


Sebelum memulai mengatakan kalimatnya, Mala menghela napad. "Kamu nggak nyalahin dia kan atas apa yang terjadi sama aku?" Kini gantian Mala yang menggenggam telapak tangan gue, "dia beneran nggak sengaja loh, Gha. Ini pure karena aku yang ceroboh. Maafin aku, ya, kalau aja aku nggak--"


Gue menggeleng cepat. "Enggak, La, aku nggak nyalahin siapapun. Baik kamu ataupun Ririn. Kamu nggak perlu khawatir atau ngerasa bersalah, ya? Yang penting sekarang kita fokus ke kesehatan kamu dulu. Biar abis itu kita bisa lanjut fokus ngebesarin anak kita. Oke?" gue menggenggam telapak tangannya.


Mala mengangguk paham. "Makasih ya, Gha, aku beneran ngerasa beruntung karena orang itu adalah kamu. Aku beneran nggak tahu harus gimana kalau seandainya aku nikahnya sama orang lain. Makasih banget, ya, udah kasih kesempatan buat jadi istri kamu dan juga ibu dari anak kamu. Aku sayang dan cinta sama kamu."


Sudut bibir gue langsung membentuk senyuman. Jarang-jarang Mala mengungkapkan perasaanya secara terang-terangan begini.


Gue ikut mengangguk. "Aku juga sayang dan cinta sama kamu, La. Terima kasih karena kamu udah bersedia jadi istri dan juga ibu dari anak aku. Kita belajar jadi orangtua yang baik, ya, buat anak-anak kita nanti. Jangan pernah lelah ngehadapi aku, ya."


Ibu jari gue langsung terulur dan menghapus sisa air mata yang masih menempel pada kedua pipi Mala.


Gue baru nyadar kalau ternyata Mala nangis.

__ADS_1


Demi Tuhan gue sayang banget sama Mala. Gue juga nggak tahu harus gimana kalau seandainya perempuan itu bukan dia. Apakah gue akan ngerasa selengkap ini?


Tbc,


__ADS_2