Married With My Besti

Married With My Besti
Ada Apa Dengan Kai?


__ADS_3

*


*


*


Setelah pulang kerja gue memutuskan untuk mampir ke rumah Ohim, karena pria itu mengundang gue di grup chat. Saat gue sampai di sana, gue belum melihat mobil Abbas, padahal tadi yang bilang mau otw duluan dia, ketimbang gue. Kenapa yang nyampe duluan justru gue?


"Abbas mana?" tanya gue begitu Ohim membukakan pintu.


Hal ini langsung membuat si pemilik rumah berdecak kesal. "Salam dulu kek, basa-basi apa gitu? Masa langsung nanyain Abbas?" protesnya sambil berdecak kesal.


"Assalamualaikum, Pak Ustad, apa kabar dikau hari ini?"


"Apaan sih, Gha? Geli, anjir," responnya kemudian.


Gue mendengus. "Salah mulu perasaan, terus gue kudu gimana?"


"Masuk sana!"


Gue mengangguk paham lalu masuk ke dalam rumah mewah Ohim. "Istri lo mana?"


"Ada di atas lagi kelonin si baby."


Gue mengangguk paham lalu duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sedangkan Ohim kembali membuka pintu karena suara bell terdengar kembali. Gue memilih memejamkan kedua mata sejenak guna mengusir lelah. Namun, secara tiba-tiba gue merasakan jentikkan jari pada dahi gue.


Gue langsung mengaduh kesakitan. "Sakit, anjir, Him!"


Gue langsung membuka mata dan ternyata si pelaku adalah Abbas. Pria itu kini sedang tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya.


"Lo setelah nikah gampang molor di mana aja ya, Gha?"


Gue berdecak sambil menegakkan tubuh. "Gue nggak molor, anjir, cuma merem doang."


"Tapi ketiduran?" tebaknya dengan nada meledek.


"Enggak lah, beneran merem doang gue tadi, belum sampai ketiduran," elak gue tidak terima. Karena memang gue belum sampai ketiduran beneran.


"Iya deh, iya," respon Abbas pada akhirnya.


Gue kemudian celingukan mencari keberadaan seseorang.


"Nyari siapa lo? Ohim?"


Gue menggeleng. "Alisa. Enggak lo ajak?"


"Lah, ngapain?" bukannya menjawab, Abbas malah balik bertanya, ia kemudian terkekeh geli tak lama setelahnya, "lo aja nggak ajak Mala kok, kenapa gue harus ajak Alisa?"


Gue mengerutkan dahi heran, merasa aneh dengan jawaban Abbas lalu terbahak tak lama setelahnya. "Lah, apa hubungannya sama Mala? Mala kan udah jadi bini gue, kita bahkan udah ada Kai, ngapain ajak Mala segala buat nongkrong? Ngadi-ngadi aja lo."


"Maksud lo?"


Gue mengangkat kedua bahu secara bersamaan sambil berusaha menahan senyum.


Menyadari usaha gue yang sedang berusaha untuk menahan ketawa, Abbas langsung mengumpat kasar. Gue merubah wajah pura-pura kaget. Abbas kembali mengumpat sambil melempar bantal sofa.

__ADS_1


"Najis, Gha!"


Gue seketika langsung terbahak puas.


"Emang hubungan kalian udah sejauh itu?" tanya gue kemudian.


Abbas menggeleng. "Ya belum lah, gila aja lo, kan lo tahu sendiri kondisi dia gimana sekarang."


Gue mengangguk paham. Situasi memang belum mendukung sih, meski sekarang status Alisa sudah resmi bercerai dari Kevin, tetap saja Abbas tidak bisa langsung gas mendekati Alisa begitu saja. Karena Abbas tipe yang pemikir, dia mana tega kalau seandainya Alisa dianggap berselingkuh duluan karena begitu cepat mendapat pengganti. Gue paham. Paham banget, tanpa perlu dijelaskan pun gue sangat mengerti keduanya.


"Tapi lo pernah nggak nyinggung soal ini?"


Abbas menggeleng. "Belum berani lah, Gha, untuk saat ini gue masih mau membiarkan Alisa menikmati kesendiriannya dulu, sebelum nanti akhirnya gue pelan-pelan mau deketin ke arah yang serius."


"Tapi inget, jangan sampai keduluan orang lagi, Bas. Ngerti lo?"


Abbas tertawa sambil mengangguk paham. "Iya, iya, nggak bakalan kok, yang udah gue biarin berlalu. Dan kali ini gue nggak bakalan ngebiarin diri gue mengulang kesalahan yang sama. Meski pada akhirnya nanti kalau Alisa memilih untuk nggak milih gue, seenggaknya gue pengen ngakui perasaan gue."


Gue tersenyum sambil menepuk pundak Abbas bangga. Selama ini Abbas sudah mengalami masa-masa sulit, dan gue beneran pengen lihat dia bahagia bareng Alisa.


"Eh, btw, lo sama Mala jadi mau ambil cuti?"


Gue mengangguk cepat. "Jadi dong, udah pesen tiket juga nih gue, mau join lo?"


"Join apa?" sahut Ohim baru datang sambil membawa naman berisi berbagai kaleng soda dan satu kantong plastik yang gue tebak kayaknya berisi berbagai cemilan.


"Gue mau holiday nih sama anak istri, lo mau join?"


"Gila lo? Bocah gue masih berapa bulan, ya kali mau holiday," dengus Ohim dengan wajah kesalnya, "tapi, btw, mau ke mana?"


"Anjir, ke Solo doang? Itu mah bukan holiday, tapi cuma mau ke rumah saudara. Nyokap lo asli orang Solo kan?"


Gue mengangguk untuk mengiyakan. "Tapi dengerin dulu, gue belum kelar ngomongnya. Abis dari Solo rencana gue mau lanjut main ke Jogja sih."


"Anjir, Jogja? Gue udah lama nggak ke sana, pengen join deh kalau itu, tapi nggak mungkin gue ikutan lah kalau ini."


"Kenapa? Takut bini?" tanya Abbas sambil membuka kaleng soda yang Ohim sediakan.


Bugh!


"Anjing!" umpat Abbas reflek karena air soda yang baru saja ia buka tumpah hingga mengenai celananya.


Gue melongo. Ternyata Ohim baru saja melempar bantal sofa ke arah Abbas yang baru membuka kaleng, alhasil minumannya tumpah dan mengenai celananya.


"Lo ada masalah apa, nyet?" seru Abbas emosi, "anjir lah, celana gue jadi basah ini, Him. Mahal tahu celana gue."


"Ya abis, lo ngadi-ngadi. Lo pikir gue suami apaan? Begini-begini gue itu suami yang bertanggung jawab, Bas, ya kali gue ninggalin anak istri cuma demi jalan-jalan."


Abbas mendengus dengan muka sewotnya. "Ya terus, sampai harus bikin celana gue basah begini demi kasih tahu ke gue kalau lo itu suami yang bertanggung jawab?"


"Kalau itu gue nggak sengaja, elah, ya sorry, abis nada bicara lo tadi songong banget, anjir, kan gue jadi tersinggung dengernya."


Gue tidak terlalu tertarik dengan perdebatan mereka, gue lebih memilih untuk makan cemilan yang tersedia, lumayan buat ganjel perut.


"Eh, sorry, menyela bentar, ini nggak ada makanan berat gitu? Gue mulai laper deh kayaknya."

__ADS_1


"Gue nggak tahu, coba lo cek aja di dapur sendiri, kalau ada ya di situ, kalau di dapur nggak ada, pesen aja udah, ntar gue yang bayar."


"Eh, gue pengen burger deh, pesen itu, yok! Gue dah lama nggak makan burger nih," sahut Abbas tiba-tiba.


Ohim mengangguk tidak masalah. "Pesen aja terserah."


"Gue pizza deh kalau begitu."


"Sok, buruan, pesen sesuka hati kalian, bentar, gue tinggal naik mau nanya istri, kira-kira mau apa."


Gue langsung mengacungkan jempol lalu mulai ribut memilih makanan sama Abbas. Kebetulan kita udah lama nggak ditraktir si Bapak Ceo, jadi kami tidak ingin kehilangan momen. Ohim kalau traktir udah nggak peduli apapun, boleh pesen semua asal dihabiskan, kalau seandainya terpaksa nggak habis hari itu, maka boleh dihabisin besoknya. Tapi ya, harus kita sendiri yang abisin, dia mah udah nggak ada urusan.


"Bini gue udah tidur ternyata. Enggak usah dipesenin kalau gitu," ucap Ohim setelah kembali dari lantai atas. Ia duduk di salah satu sofa lalu menyalakan televisi.


Gue dan Abbas hanya mengacungkan jempol kami secara kompak, lalu direspon Ohim dengan dengusan tidak percaya.


"Btw, ini yang geter-geter hape siapa?" celetuk Ohim tak lama setelahnya.


Gue langsung menatap Abbas. "Hape lo kali," ucap gue.


Abbas langsung mendorong dahi gue cukup keras. "Eh, dodol, lo pikir yang buat scroll-scroll ini, yang lagi lo pegang itu hape siapa?"


Gue kemudian membalik ponsel yang berada di tangan gue. Oho, ternyata bukan ponsel gue. Berarti ponsel yang bergetar punya gue dong?


Cepat-cepat gue meraih ponsel gue dan menemukan nama Mala, tertera di layar ponsel.


Tumbenan ini si Mala, nelfon pas gue lagi nongkrong sama temen-temen. Soalnya Mala selama ini nyaris nggak pernah melakukan hal ini kecuali dalam situasi genting.


"Ya, halo, La, assalamualaikum. Ada apa?"


"Kamu cepetan pulang sekarang deh, Gha!" suruh Mala dengan suara panik, samar-samar gue mendengar suara tangisan Kai.


"Emang kenapa? Kai kenapa itu? Kok kayak nangis?"


"Makanya kamu buruan pulang! Ini si Kai dari tadi nangis terus, Gha, aku bingung harus gimana."


Gue langsung berdiri. "Oke, kamu tenang dulu, aku pulang sekarang."


"Buruan!"


"Iya."


Klik. Gue langsung mematikan sambungan telfon.


"Guys, kayaknya gue musti pulang sekarang."


"Kenapa emang? Kai kenapa? Lagi sakit?"


Gue menggeleng. "Enggak tahu, ini gue mau pulang dulu buat memastikan. Semoga aja nggak papa, gue cabut dulu."


"Iya, hati-hati! Kalau ada apa-apa kabarin kita!"


Gue hanya mengangguk cepat sebelum akhirnya berlari keluar meninggalkan rumah Ohim. Dalam hati gue tidak henti berdoa semoga tidak terjadi sesuatu dengan Kai. Aamiin. Semoga dia cuma rewel doang, lagi manja terus kangen sama gue.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2