Married With My Besti

Married With My Besti
Agak Tidak Biasa


__ADS_3

*


*


*


Acara pemakaman sudah selesai digelar dan semua berjalan lancar. Suasana rumah duka masih ramai dengan beberapa tamu yang datang untuk mengucapkan bela sungkawa. Mulai dari sanak saudara, kerabat sekaligus rekan kerja. Tapi Randu tidak bisa menemui mereka dikarenakan kondisinya yang begitu terpukul, bahkan seusai pemakaman pria paruh baya itu memilih untuk mengurung diri di dalam kamar. Anak dan menantunya sampai bingung harus bagaimana.


Tok Tok Tok


"Ayah ini Agha, boleh Agha masuk?"


Hening. Tidak ada respon. Agha menghela napas berat, ia mencoba memutar knop pintu, dan terbuka. Ternyata sang Ayah tidak menguncinya.


"Ayah," panggil Agha sekali lagi, sebelum memutuskan untuk benar-benar masuk ke dalam kamar.


Posisi sang Ayah saat ini cukup memprihatinkan. Wajah kacau, kedua mata sembab dan pandangan kosong. Randu duduk di lantai samping ranjang dengan kedua lutut ditekuk.


"Ayah kenapa duduk di situ? Nanti dingin, Ayah bisa sakit."


Hening. Lagi-lagi tidak ada respon dari sang Ayah. Agha kembali menghela napas lalu duduk di sebelah sang Ayah.


"Kata Kak Ale, Ayah belum makan dari pagi, makan dulu yuk, Yah! Ayah mau makan apa biar Agha traktir, bebas deh Ayah mau milih apa nanti Agha janji nggak akan masang budget. Jadi Ayah bisa makan sepuas Ayah. Gimana kalau kita makan nasi padang, Ayah pasti lama nggak makan rendang kan? Atau sate kambing aja gimana?" tawar Agha yang lagi-lagi masih belum mendapatkan respon dari sang Ayah.


Agha masih tidak ingin menyerah. "Ya udah, oke, kalau gitu Agha ambilin makanan yang ada di bawah deh." ia kemudian memutuskan untuk langsung berdiri.


"Jangan," cegah Randu.


Agha tersenyum tipis lalu kembali duduk. "Terus kalau gitu Ayah mau makan apa?"


Randu menggeleng. "Jangan bawa makanan ke kamar nanti Bunda-mu marah."


"Ayah, Bunda udah nggak ada, Ayah harus ikhlasin! Jangan begini!"


"Ayah tahu, Dek, tapi Bunda-mu baru meninggal tadi pagi, bagi Ayah Bunda masih di sini nemenin Ayah."


Kedua mata Agha kembali terasa perih. Ia kemudian mengangguk dan mengiyakan. "Iya, Bunda akan terus nemenin kita, Yah, Bunda nggak pernah ninggalin kita."

__ADS_1


"Tapi sekarang Ayah nggak bisa liat Bunda-mu lagi, Dek, nggak bisa dengerin omelannya juga. Ayah sekarang sendirian, kamu sama Kakakmu masing-masing sudah berkeluarga, terus Ayah nanti sama siapa? Padahal Bunda-mu sudah janji nggak akan ninggalin Ayah, tapi kenapa dia pergi cepet banget ya, Dek. Apa Bunda-mu udah capek ngurusin Ayah?"


"Enggak, Yah, Bunda nggak pernah ngerasa demikian. Karena Bunda sayang banget sama Ayah, Bunda seneng ngelakuin itu semua. Jadi Ayah nggak usah mikir yang macem-macem."


"Tapi Bunda-mu ninggalin Ayah kayak Kakek-Nenek kamu, Gha. Ayah sendirian lagi."


"Ayah nggak sendirian, kita semua ada buat Ayah. Ayah punya kita, kalau pun pada akhirnya aku atau Kak Ale sibuk dengan keluarga kecil kami masing-masing, coba inget Om Gilang sama Pakde Lingga, Yah. Sahabat Ayah yang nggak pernah ninggalin Ayah, mereka bahkan selalu nyempetin buat jenguk Ayah dan Bunda. Jadi, jangan pernah ngerasa sendiri, Yah, kita semua ada buat Ayah."


"Ayah boleh bersedih karena kehilangan Bunda, tapi Ayah harus inget buat bangkit lagi ya abis itu. Jangan buat Bunda sedih nantinya!" sambung Agha.


Dengan kedua mata berkaca-kacanya Randu mengangguk. "Tapi Ayah perlu waktu, Gha."


"Iya, Agha paham, Yah. Agha nggak akan maksain Ayah. Pelan-pelan aja! Sekarang kita turun ke bawah dulu, yuk! Kita makan bareng-bareng," ajak Agha.


Randu menggeleng sebagai respon. "Ayah nggak laper, kamu aja sama yang lain makan duluan. Nanti kalau Ayah laper Ayah cari sendiri, nggak papa. Ayah ngantuk pengen istirahat!"


Agha tidak bisa berkomentar banyak. Ia hanya mengangguk paham lalu pamit keluar. Mungkin Ayahnya masih perlu waktu untuk benar-benar bisa menerima semua ini.


"Gimana?" sambut Mala saat ia menuruni anak tangga.


"Tidur. Tadi begitu selesai makan langsung ngajakin tidur."


Agha mengangguk paham. Kai pasti kelelahan diajak kesana-kemari. "Terus kamu gimana? Udah makan belum?"


"Udah tadi ngabisin makan Kai."


Agha meringis dengan perasaan bersalahnya, lalu merangkul pinggang sang istri. "Makan Kai seberapa sih, La, ayo, makan sama aku kalau gitu. Maafin ya, kamu pasti capek banget seharian ini, apalagi abis begadang ngurusin aku semalam."


Mala mendengus. "Ngomong apaan sih? Kayak sama siapa aja pake minta maaf segala," gerutunya kemudian.


"Ya tetep aja aku ngerasa bersalah, La, kalau aja aku semalem nggak sakit kan kamu pasti nggak terlalu capek banget hari ini. Maafin, ya!"


"Udah nggak usah dibahas, ayo, katanya mau makan! Kamu pasti laper, yang lain udah pada makan duluan soalnya."


Agha mengangguk setuju. Lalu keduanya bergegas menuju ruang makan dengan posisi saling memeluk pinggang masing-masing, jarang-jarang Mala mau bersikap begini apalagi sekarang mereka sedang berada di rumah mertua dengan posisi sedang berkabung pula. Agak tidak biasa memang.


Mala spontan langsung menghentikan langkah kakinya saat mendengar sang suami menghela napas sambil memijit pelipisnya. Ia langsung melepaskan rangkulan pada pinggang pria itu dan menatap Agha khawatir.

__ADS_1


"Kenapa? Kamu ngerasa pusing? Mau ke rumah sakit?"


Agha menggeleng sambil tersenyum tipis.


"Enggak papa gimana orang tadi kamu menghela napas sambil pegang kepala gitu kok. Kenapa kepalanya sakit?" tanya Mala dengan ekspresi khawatir tergambar jelas pada wajah sayu itu. Mungkin karena efek kelelahan dicampur kurang tidur membuat wajah sang istri terlihat sayu.


Agha merasa sedikit aneh dengan reaksi sang istri, yang menurutnya sedikit berlebihan.


"Enggak, La, aku nggak papa. Cuma agak pusing, tapi bukan pusing karena sakit."


"Kamu bikin aku takut tahu, Gha." di luar dugaan, Mala tiba-tiba merajuk kesal, "kamu tahu nggak sih aku tadi pagi rasanya kayak mau jantungan, pas dapet telfon dari rumah sakit dan dikasih kalau kamu pingsan. Aku langsung keinget wajah lemes kamu yang tadi pagi. Pikiran aku langsung kemana-mana."


Agha meringis dengan ekspresi wajah bersalahnya lalu mendekat ke arah Mala dan langsung memeluk sang istri.


"Iya, iya, maafin, aku nggak ada maksud bikin kamu khawatir apalagi takut. Maafin, ya!"


"Apalagi pas tahu kabar kalau Bunda nggak ada, aku makin takut, Gha. Aku takut kalau aku bakalan kayak Ayah yang ditinggalin Bunda."


"Nirmala, astagfirullah, kok mikirnya jauh banget," keluh Agha dengan nada sedikit memprotes. Ia kemudian merenggangkan pelukannya, ia kembali menarik tubuh sang istri ke dalam pelukannya saat menyadari Mala kini sedang menangis, "enggak, enggak, nggak papa. Aku nggak papa, La, nggak papa. Aku beneran udah sehat."


Agha kembali merenggangkan pelukannya sambil memegang kedua pundak Mala. "Coba lihat aku baik-baik! Aku baik-baik aja kan?"


Mala mengangguk. "Tapi tetep aja aku takut, Gha. Aku takut kamu kenapa-kenapa."


"Tapi kan yang penting aku baik-baik aja, aku sehat, hasil pemeriksaannya juga baik-baik aja kan? Nggak ada masalah. Kok kamu bisa mikir jauh banget sih?"


Kali ini Mala merengut kesal. "Ya namanya orang takut, kan gitu, Gha, pikirannya suka mikir kemana-mana tiba-tiba."


Agha sedikit terkekeh lalu mengusap kedua pipi Mala menggunakan kedua ibu jarinya. "Udahan nangisnya, nanti kalau ada orang tiba-tiba ke dapur dikiranya aku-nya ngapa-ngapain kamu."


"Maaf."


"Iya, nggak papa."


Sambil terkekeh maklum, Agha kembali memeluk sang istri. Ia bersyukur memiliki Mala, entah lah apa yang akan terjadi padanya jika ia tidak memilikinya. Mungkin ia akan merasa hancur karena telah kehilangan Bunda-nya.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2