Married With My Besti

Married With My Besti
Kecewa


__ADS_3

*


*


*


"Agha?"


Gue spontan menoleh ke asal suara dan menemukan Robby. Tetangga Mala. Pria itu kemudian berjalan cepat dan menghampiri gue.


Gue mengulas senyum untuk menyapanya. "Ngapain? Jenguk temen?" tanya gue berbasa-basi.


Robby tersenyum seraya mengangguk dan membenarkan. Gue pun ikut mengangguk sambil ber'oh'ria.


"Eh, btw, Gha, gue mau nanya kabar Mala gimana? Gue turut prihatin ya sama apa yang menimpa dia."


"Iya, thanks, ya. Kondisi dia baik kok. Dan syukur alhamdulillahnya udah balik kayak Mala yang biasa, sibuk operasi ini pasti orangnya," ucap gue sambil melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan, "kalau mau ketemu nggak bisa sekarang, dia join operasinya tim neurologi paling cepet juga kelarnya ntar sore."


"Oh, enggak kok. Emang nggak ada rencana mau ketemu, niat gue ke sini emang sengaja mau jengukin temen doang. Terus nggak sengaja ketemu lo, ya udah, sekalian nyapa sekalian nanyain kabar aja. Soalnya gue mau chat langsung nggak enak. Takutnya gue salah ngomong."


"It's okay, Mala santai kok." Gue tersenyum samar sambil mengangguk sekali lagi.


"Oh, beneran damai ya?"


Mendengar pertanyaan Robby, gue tidak bisa menyembunyikan wajah bingung gue. "Maksudnya?" tanya gue nggak paham.


"Ya, maksudnya nggak dibawa ke hukum, Gha."


"Gila aja lo, Rob, ya enggak lah. Masalah ini serius, nggak bisa langsung selesai dengan kata damai."


Robby diam sesaat. Otaknya terlihat seperti sedang mengingat-ingat sesuatu. "Berarti gosip yang kesebar di gedung tuh cuma kabar burung?" Ia lanjut manggut-manggut paham seraya menghela napas lega, "syukur deh. Gue sebagai cowok yang punya adek perempuan rasanya kayak nggak terima kalau masalah selesai dengan kata damai doang."


Gue mengangguk setuju.


"Ya udah, kalau gitu duluan, ya. Titip salam buat Mala ya."


"Iya. Nanti gue sampein."


Setelahnya Robby langsung pergi. Gue niatnya mau melanjutkan langkah kaki, namun, mendadak urung karena merasakan getaran dari saku celana. Nama Abbas tertera di sana.


"Ya, kenapa, Bas?"


"Sibuk nggak lo?"


Bukannya menjawab, Abbas malah balik bertanya.


"Ya, tergantung lo minta tolongnya apa dulu. Kalau sekarang nggak bisa. Gue sejam lagi ada operasi."


"Enggak kok, nggak sekarang. Tapi minggu ini. Lo free nggak?"


"Minggu ini ya?" tanya gue memastikan, "gue minggu ini janji nemenin Mala liat lokasi. Jadi nggak bisa, sorry, bro, lo kan tahu beberapa persiapan kemarin sempet ditunda. Jadi, ya, baru kesempatan minggu ini."


"Ya elah, liat lokasi doang kan? Bisa lah lo bantu gue."


"Bantuin ngapain emang?"


"Ini ada artis gue yang mau pake lo."


"Heh, sembarangan banget lo! Lo pikir gue cowok apaan?"


"Hah?" Abbas loading sesaat sebelum akhirnya terdengar umpatan samar, "bukan pake yang itu maksud gue, anjir. Maksudnya pake jasa lo. Jasa fotografi lo. Dia pengen lo ngefotoin dia."


"Minggu depan aja lah," saran gue. Yang ternyata langsung ditolak Abbas mentah-mentah.


"Kaga bisa, ntar keburu keluar baby-nya, ege! HPL-nya udah deket."


"Lah? Gue disuruh ngefotoin bumil?"


"Ho oh."


"Gue nggak ada pengalaman, anjir."

__ADS_1


"Ya, enggak papa. Yang penting lo fotoin aja, sama aja lah. Dia nggak mau balik ke agensi gue lagi nih kalau semisal lo nggak mau fotoin dia. Sumber cuan gue ini, njir, bantuin kenapa sih?"


"Bukannya nggak mau bantuin, bro. Tapi masalahnya gue beneran enggak bisa, udah ada janji. Bisa diamuk Mala gue kalau semisal batalin janji. Lo tahu sendiri itu perempuan kalau ngamuk kayak apa."


Terdengar decakan dari seberang. "Ya, nggak usah dibatalin juga lah, Gha, jadi lo pergi liat lokasi sama Mala. Begitu kelar lo langsung fotoin artis gue. Gimana? Lumayan, bro, buat tambahan modal nikah. Dia berani bayar mahal kok asal lo yang fotoin. Suaminya sultan."


"Sorry, Bas, dana gue cukup kok untuk biaya nikahan, resepsi dan lain-lainnya. Lagi nggak kekurangan juga."


"Sialan. Susah juga ya nawarin kerjaan orang berduit."


"Nah."


"Seriusan nggak bisa lo?"


"Enggak."


"Ah, temen macam apa lo? Dasar nggak guna."


"Iya, nggak papa. Gue udah biasa lo gangguin juga," balas gue nggak nyambung. Sengaja untuk memancing emosi Abbas.


Terbukti setelahnya Abbas langsung mengumpat kasar dan memutuskan sambungan secara sepihak. Gue hanya terkekeh sambil menatap ponsel gue lalu kembali memasukkannya ke dalam saku.


*


*


*


"Gimana operasinya? Lancar?" sapa Mala saat gue masuk ke dalam ruangannya. Perempuan itu tengah sibuk mengeluarkan nasi bungkus dari dalam plastik, "sini duduk!" ajaknya kemudian.


Gue mengangguk lalu menghampiri dia. "Apaan nih menunya?"


"Nasgor."


Gue mengangguk paham lalu membuka tutup botol air mineral yang ada di hadapan gue. "Beli di depan?"


Mala hanya mengangguk dan mengiyakan tanpa mengucapkan sepatah kata. Karena mulutnya kini sudah penuh dengan nasi dan sibuk mengunyah.


"Muka lo kenapa deh? Lagi ada masalah?"


"Abbas? Kenapa sama dia?"


"Dia minta tolong sama gue tapi gue nggak bisa nolongin. Jadi agak kepikiran sampe sekarang."


"Emang Abbas minta tolong apaan sampe lo nggak bisa bantuin?"


"Dia mau gue fotoin salah satu artisnya gitu. Minggu ini."


"Emang minggu ini lo mau kemana kok nggak bisa?"


"Lo lupa?" Gue menghentikan suapan gue dan menatap Mala datar, "kan lo sendiri kemarin yang ngingetin gue biar nggak lupa, masa sekarang lo yang lupa?"


Mala reflek menepuk dahinya. "Ya ampun, sorry, sorry, gue beneran lupa. Hehe."


"Tua," ledek gue.


"Lo lebih tua ya, anjir."


Sambil tertawa gue mengangguk dan mengiyakan. Lalu menyuruh Mala segera menghabiskan makanannya, karena gue tidak sabar pengen nanya soal apa yang dibicarakan Robby tadi siang.


Setelah kami selesai makan. Gue langsung bertanya pada Mala. Menurut gue, gue sudah nggak bisa menundanya lagi.


"La, gue mau nanya sesuatu tapi lo jangan marah ya?"


"Apaan?" Mala balik bertanya lalu kembali duduk setelah selesai membuang sampah ke tong sampah, "lo abis beli kamera lagi? Atau beli lensa?"


"Enggak. Bukan itu."


"Terus? Hape baru yang keluaran dari Korea itu, yang produknya bisa dilipet-lipet itu?" Mala berdecak sambil geleng-geleng kepala, "gila ya itu si samsul kayaknya terobsesi banget bikin gadget dilipet semua. Lo udah nonton belum video terbaru produk mereka?"


Gue menggeleng sebagai tanda jawaban karena memang belum menonton. Selain karena takut ngiler dan berakhir pengen beli, gue juga belum segabut itu buat nonton video iklan produk.

__ADS_1


"Gila sih, Gha, saran gue lo jangan nonton karena udah pasti lo bakal ngiler langsung. Agak gila gue rasa itu brand."


"Kenapa sih sirik aja lo. Tim boba diem aja deh."


"Gue nggak sirik. Ngapain sirik, kalau pengen mainin kan tinggal pinjem punya lo. Lo kan semua produk lipetan mereka ada."


"Nggak semua juga elah, La," elak gue.


"Yang mana yang nggak lo punya?"


Kali ini gue diam mencoba mengingat-ingat namun nihil. Gue tidak menemukan jawaban.


"Kan, diem lo. Itu tandanya emang nggak ada yang nggak lo punya. Semua lo pernah punya." Mala kembali berdecak sambil geleng-geleng kepala, "heran banget deh gue. Padahal dulu lo itu anti banget gonta-ganti hp baru, kecuali emang udah nggak layak pakai. Eh, giliran si samsul keluarin produk lipet-lipetnya lo jadi doyan banget gonta-ganti hape, njir."


Gue meringis malu. "Hehe, ya gimana, La. Abisnya bagus. Gue suka. Gue suka sensasi pas mau angkat telfon atau pas abis telfon tuh buka-tutup lipetannya." Kemudian gue tersadar sesuatu, "eh, kenapa kita jadi bahas hape sih?" protes gue kemudian.


"Lah, bukannya bahasan kita emang mau bahas ini?"


"Bukan."


"Terus?"


"Itu. Tadi gue ketemu sama Robby."


"Oh ya? Ngapain dia sakit? Jadi pasien lo? Sakit apaan, njir?"


Gue langsung menatap Mala tidak suka. "Kok reaksi lo gitu banget? Lo suka beneran, ya, sama itu orang."


"Astaga, ya ampun, lo cemburu gitu sama Robby?"


"Kalau iya kenapa?" tantang gue, "gue calon suami lo, lo calon istri gue. Wajar kan kalau gue cemburu?"


Di luar dugaan Mala langsung melempar bekas tisu ke arah wajah gue, yang untungnya dengan cepat langsung gue hindari.


"Merinding, anjir, lo sebut-sebut calon istri calon suami."


"Lah, masalahnya di mana? Kan emang bener."


"Tapi gue belum terbiasa."


"Ya, makanya ini gue ngajakin lo untuk membiasakan diri, La."


Mala tidak membalas dan kembali membersihkan meja. "Terus abis itu ngapain? Lo nggak nyari gara-gara ke dia kan?"


"Sembarangan! Ya, enggak lah. Dia ngasih tahu gue gosip aneh yang nyebar di gedung apartemen lo."


"Gosip apaan?"


"Kata lo mau damai sama si guguk." Gue tertawa sambil geleng-geleng kepala tidak habis pikir, "aneh banget kan gosipnya? Kelihatan ngarang bang--" kalimat gue mendadak terhenti saat menyadari raut wajah Mala yang berubah. Tidak cuma itu, pergerakan tangannya yang tadi sedang sibuk membersihkan meja mendadak terhenti.


Gue menatap Mala serius. "La," panggil gue ragu, "itu nggak bener kan?"


"Gue bisa jelasin, Gha."


Gue mengangguk setuju. "Gue siap dengerin. Tapi kalau lo mau membenarkan gosip itu, sorry, La, gue nggak mau denger."


"Gha, lo jangan gitu. Gue punya alesan--"


Emosi gue memuncak. Perasaan gue kecewa sekaligus marah. Kenapa Mala melakukan hal ini ke gue? Gue langsung berdiri sambil menatap perempuan itu tajam.


"Mau pake alasan apa? Alasan kalau lo masih cinta sama mantan lo yang brengsek itu? Terus lo anggep apa gue selama ini? Beneran cuma ban sarep lo doang?"


Mala menggeleng panik. Kedua matanya memerah, terlihat sekali kalau dia sedang berusaha menahan tangisnya mati-matian.


"Enggak gitu, Gha, ini semua nggak kayak yang lo pikirin."


"Ya, terus apa?!" seru gue marah, "La, lo lupa apa yang udah dia lakuin ke lo? Dia udah nyakitin kamu, fisik kamu, mental kamu. Kamu lupa?! Hah?"


Emosi gue benar-benar sudah tidak dapat gue bendung lagi. Gue frustasi. Dengan gerakan kasar gue menjambak rambut gue dengan putus asa.


"Kasih gue waktu sampai gue siap dengerin penjelasan lo. Dan gue berharap saat gue siap nanti gue bisa denger alasan masuk akal dan bisa gue terima."

__ADS_1


Setelah mengatakan itu, gue langsung pergi keluar dari ruangan Mala sambil membanting pintu. Sepertinya emosi terlalu menguasai diri gue sampai gue tidak bisa berpikir jernih.


Tbc,


__ADS_2