Married With My Besti

Married With My Besti
AA Couple Story 21


__ADS_3

*


*


*


Hari ini adalah jadwalnya bagi Alisa dan Abbas untuk membereskan barang-barang di apartemennya. Karena besok mereka akan segera melakukan pindahan. Sebagai kawan yang baik Ohim dan Agha memutuskan untuk datang berkunjung, niat hati sih mau membantu tapi ternyata kedatangan mereka lebih ke merepotkan keduanya ketimbang membantu. Bagaimana tidak merepotkan, Ohim yang datang paling awal datang hanya untuk makan karena sebegitu selesai makan sang istri menelfon dan bilang kalau putri kecil mereka agak rewel.


Abbas dan jiwa tidak enakannya pun jelas saja langsung menyuruh pria itu untuk pulang. Lalu tak lama setelah Ohim pulang, Agha datang.


Agha yang dan melihat nasi sisa makan Ohim langsung muntah-muntah, tidak sampai di situ, Abbas harus repot-repot merebuskan kentang lebih dahulu, karena Agha terlihat lemas. Awalnya dia ingin langsung membawa pria itu ke rumah sakit karena tidak tega, tapi berhubung Agha menolak ya sudah.


"Gila sih, lo sama Ohim ngapain sih pake acara ke sini segala?" decak Abbas kesal.


"Ohim jadi ke sini?" tanya Agha dengan suara yang masih sedikit lemas.


Abbas kemudian mengangguk untuk mengiyakan. "Jadi, tapi cuma numpang makan doang, anjir, kesel banget gue. Ngabisin nasi doang, bantuin enggak," gerutunya kemudian.


Agha agak terkekeh geli. "Lah, emang kenapa nggak jadi bantuin? Padahal yang ngajak tuh Ohim loh, gue rencana tadinya mau nyusul bentar doang terus pulang, eh, sekarang malah begini ya mana sanggup gue kalau langsung pulang."


"Lo juga dateng ngerepotin doang, pake acara muntah segala lagi." Abbas berdecak sedikit kesal, "lagian perut Mala perasaan udah gede banget deh, kenapa lo masih begitu?"


Agha memasang wajah masamnya. Ia sendiri pun merasa heran dengan apa yang sedang ia rasakan. Tapi mau bagaimana lagi, ini juga di luar kuasanya. Kalau bisa memilih Agha mau-nya juga udahan, karena ia juga bosan.


"Enggak tahu lah, gue sendiri juga heran. Udah bosen makan rebus-rebusan terus. Tapi mau gimana lagi, Bas, namanya juga ini takdir bukan gue juga yang minta."


Kali ini Abbas mendengus. "Bukan lo yang minta apa, orang jelas-jelas lo pengen nambah anak lagi kok nggak minta."


"Eh, tapi kata Mala sekarang Kai jadi ikutan suka makanan yang direbus-rebusan gitu ya?"


Agha mengangguk cepat untuk mengiyakan. "Itu bocah kayaknya ada potensi bakal sukanya makanan sehat sih. Tapi lucunya gue pernah disangka diet loh sama dia, yang gue heran dia dapet kosa kata diet dari mana itu loh. Ada-ada aja."

__ADS_1


"Tapi punya anak kayak Kai gitu gemes deh gue rasa, kayak nggak bakalan capek walau harus ngurusin seharian," komentar Alisa sambil memasukkan beberapa barangnya ke dalam kardus


Respon Agha tentu saja langsung tertawa. "Mau coba aja dulu gimana? Gue kasih pinjem sehari lo rasain rasanya ngurusin bocah yang lagi aktif-aktifnya. ia kemudian menggeleng tak lama setelahnya. Diiringi dengusan tidak percaya.


Abbas mendengus seraya geleng-geleng kepala. "Lo kata anak lo barang apa dikasih pinjem."


"Maksud gue lo boleh kok kalau mau main sama dia seharian terus biar dia nginep di sini."


"Kita aja mau pindah, Gha."


Benar juga.


"Ya udah kalau gitu nginep di rumah baru lah. Biar gue pacaran sama emaknya."


"Beneran boleh?" tanya Alisa.


Agha langsung mengangguk cepat. "Ya boleh, lo kalau mau bisa minta izin langsung sama bocahnya, tapi kayaknya dia langsung mau juga sih. Tapi emang lo seriusan mau? Maksud gue kan lo tahu sendiri anak gue aktifnya kayak apa. Terus kadang dia juga gampang bosenan, suka ngajak begadang kadang. Yakin mau?"


"Ya udah, minta izin sana sama emaknya. Kalau ngajak Kai sih gampang, tapi kalau minta izin ke emaknya kayaknya agak susah-susah gampang. Soalnya semua tergantung mood dia. Kadang emang mood Mala suka susah ditebak."


"Gampang itu mah, ntar gue yang minta izin pasti dikasih."


"Ya udah, ajak aja ke rumah baru kalian kalau gitu."


*


*


*


Akhirnya setelah selesai membereskan barang-barang mereka, Abbas dan Alisa bisa beristirahat. Endingnya Agha tidak jadi bantuin, kedua sahabatnya kompak hanya merepotkan mereka saja. Memang sudah paling benar kalau dari awal ia tidak mengizinkan keduanya datang kalau tahu endingnya bakalan begitu.

__ADS_1


Agha sudah pulang, setelah muntah dua kali di apartemennya. Pria itu memang sempat bantu-bantu meski sebentar, tapi mengingat efeknya Abbas jadi kesal sendiri. Bagaimana tidak, Agha jadi lemas dan tidak kuat menyetir sendiri, alhasil dirinya yang harus mengantar. Benar-benar merepotkan.


"Gegara Ohim sama Agha sok-sokan ke sini mau bantu-bantu, capekku jadi double, Sa. Ngeselin banget deh," keluh Abbas sambil menghempaskan tubuhnya pada badan sofa. Ia memejamkan kedua mata tak lama setelahnya. Lalu dengan cekatan sang istri memijat sang suami, berharap sedikit meredakan capeknya.


Merasakan tangan halus sang istri menyentuhnya, Abbas spontan membuka mata. "Eh, nggak usah, Sa, kan kamu sama-sama capek juga kayak aku. Enggak usah lah," tolaknya kemudian.


"Enggak papa, besok aku libur kok, bisa istirahat sepuasnya."


Abbas terkekeh sambil mencubit hidung sang istri gemas. "Besok kita mau pindahan, Sa, aku juga libur, kita nggak bisa istirahat sepuasnya seperti yang kamu bilang. Oke?"


"Hehe, lupa."


"Dasar," dengus Abbas kembali memejamkan kedua matanya. Lama kelamaan pria itu mulai menikmati pijatan sang istri, "ngomong-ngomong kamu jadi mau ngajak Kai nginep di rumah baru kita nanti? Kai aktif banget loh, Sa, kalau kamu lupa."


"Iya, aku inget kok. Enggak papa, emang dasar aku-nya yang pengen. Anggap aja pancingan juga, siapa tahu nanti kit bisa cepet punya anak setelahnya."


Abbas manggut-manggut paham. "Ya udah terserah kamu aja lah. Nanti kalau pusing tanggung sendiri loh, ya, aku nggak ikutan."


"Kok begitu? Ya harus tanggung berdua dong, Bas, biar adil."


Abbas menggeleng tidak setuju. "Enggak mau, kan kamu yang punya ide. Kenapa ngajak-ajak aku? Tanggung jawab sendiri lah."


Mendengar jawaban sang suami, Alisa langsung merengut kesal. Abbas tentu saja langsung tertawa saat melihatnya, sang istri kalau sedang mode begini benar-benar imut dan menggemaskan. Sebuah momen yang hanya bisa ia lihat setelah menikah, dan Abbas menyukai itu. Karena dulu waktu mereka hanya berteman Alisa sangat jarang melakukannya. Tapi begitu mereka menikah, perempuan itu jadi senang melakukannya. Benar-benar menggemaskan.


"Ngapain kamu malah senyum-senyum nggak jelas begitu?" protes Alisa kesal.


"Gemes sama kamu, jadi pengen ngajak bikin dedek," rayu Abbas kemudian.


Respon perempuan itu hanya mendengus lalu pergi meninggalkannya begitu saja. Bahkan panggilan sayang dan teriakannya diabaikan begitu saja.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2