Married With My Besti

Married With My Besti
Dijengukin Uncle dan Aunty


__ADS_3

*


*


*


Sepertinya karena tahu gue sedang cuti, Kai sama sekali nggak mau ikut siapa pun kecuali gue. Sama Mala pun maunya kalau minum asi doang sisanya nempel doang sama gue, padahal untuk makan dia nggak mau kalau gue sendiri yang nyuapin, maunya disuapin sama Mala. Diajak duduk pun susah, alhasil hampir seharian, dari kemarin gue berdiri sambil menggendong Kai, dia mau diajak duduk kalau udah jam 12 lewat sampai adzan subuh. Sisanya dia bakalan minta digendong, kalau gue tinggal menunaikan ibadah salat pun kadang harus melalui drama.


"Solo deket ya ternyata," goda Ohim saat masuk ke dalam ruang rawat inap, "gue pikir lumayan jauh loh."


Sengaja banget emang ini bapak anak satu mau ngegodain gue karena udah ambil cuti, eh, gagal liburan.


Gue mendengus. "Seneng banget lo liat gue kena musibah?"


"Su'udzon," balas Ohim tidak terima, "gue ikut sedih, bro. Gimana keadaan Kai?"


Gue mengangguk sambil mengiyakan. "Udah mendingan. Demamnya udah turun, dari tadi pagi juga udah nggak muntah." gue kemudian celingukan mencari seseorang, "Abbas mana? Katanya mau sama Abbas? Tapi ini kok lo sendirian?"


Ohim mengangkat kedua bahunya lalu duduk di salah satu sofa yang tersedia di ruangan. "Enggak tahu lah, nggak jelas, gue tungguin nggak ada kabar, ya udah gue tinggal lah. Tahu pacaran dulu kali, soalnya katanya Abbas sekalian mau ngajak Alisa."


Mendengar kata Alisa, gue langsung mengangguk paham dan tidak bertanya lebih lanjut. Sudah mengerti.


Kali ini giliran Ohim yang celingukan mencari seseorang. "Sendirian aja lo? Nyokap atau mertua lo nggak ada yang nemenin? Bini lo juga nggak keliatan?"


"Mala lagi gue suruh nyari makan, sedangkan nyokap baru aja pulang, kalau mertua lagi ada acara, paling ke sininya sore sih."


"Oh. Tapi kenapa nggak lo aja yang nyari makan?"


"Mau lihat?" tawar gue.


Ohim menatap gue seperti orang kebingungan. Gue tidak menunggu jawabannya lalu mendorong tiang infus Kai mendekat ke arah sofa lalu duduk di sana. Detik berikutnya Kai langsung bangun dan menangis.


"Maksudnya apa itu barusan?" tanya Ohim makin kebingungan.


"Masih sama gue aja dia nggak mau gue ajak duduk, terus sama Mala lebih parah lagi. Dia sama sekali nggak mau diajak Mala kecuali minum asi."


"Kok gitu? Tumben."


Gue mengangkat kedua bahu secara bersamaan. Soalnya gue juga nggak ngerti.


Cklek!


Pintu ruangan terbuka lalu Mala masuk tak lama setelahnya.


"Hai, La," sapa Ohim.


"Oh, lo, Him, udah lama?"


Ohim mengangguk dan mengiyakan. "Lama. Udah dari tadi."


"Baru juga nyampe, ngaku-ngaku aja lo," sahut gue diiringi dengusan.


Ohim hanya merespon dengan terkekeh.


"Sendiri aja? Tumben nggak ngajak Abbas?"


"Tadinya ngajak, berhubung itu orang kelamaan ya udah gue tinggal. Sibuk pacaran sih gue rasa."


Mala menghentikan kegiatan membuka plastik dan menatap Ohim dengan ekspresi sedikit terkejut. "Abbas ada cewek?"


Gue terkekeh. "Alisa, La," ucap gue menjelaskan.


Mala ber'oh'ria sambil mengangguk paham. "Oh, jadi mereka udah pacaran?"


Gue langsung menggeleng panik sambil mengibaskan tangan. "Eh, enggak gitu maksud aku, La, aduh, gimana ya jelasinnya. Hubungan mereka tuh sebenernya belum jelas, tapi orang bakalan ngeliatnya kalau mereka itu pacaran."


"Lah, kenapa begitu?"

__ADS_1


"Karena situasi dan kondisi, La. Kamu tahu sendiri lah gimana mereka. Alisa cerai belum lama, Abbas mana berani?"


"Ya, daripada keburu ditikung orang?"


"Siapa yang ditikung orang?"


Gue, Mala, dan Ohim sontak menoleh ke asal suara dengan gerakan kompak. Kami bertiga cukup terkejut saat menemukan Abbas dan Alisa sudah berada di ruang rawat inap.


Lah, kapan masuknya ini mereka berdua? Kok tahu-tahu udah di dalem aja?


"Anjir, kaget gue, masuk nggak pake permisi tahu-tahu di dalem aja," decak Ohim sambil mengangkat sebelah kakinya, terlihat seperti orang yang sedang bersiap menendang tubuh Abbas, namun, tidak benar-benar dilakukan pria itu.


"Enggak permisi apa? Kita udah ngomong permisi, assalamualaikum, sampai annyeonghaseyo, ya anjir, emang dasar kalian aja yang keasikan ngegosip sampai nggak sadar sama keberadaan kita," balas Abbas tidak terima, ia berdecak lalu duduk di salah satu sofa dan mengambil posisi duduk di sebelah Ohim, "lagian lagi ngegosipin siapa sih?" sambungnya kepo.


Kami hanya saling bertukar pandang dan tidak ada yang bereaksi atau pun berkomentar.


Abbas langsung melotot curiga. "Anjir, jangan bilang kalau kalian lagi ngegosipin gue?"


"Pede gila lo," komentar gue sambil mendengus, "btw, ini kalian semua datang jenguk anak gue tanpa bawa apa-apa?"


"Gue males mampir ke toko buah, jadi nggak bawa apa-apa," sahut Ohim, "ntar gue transfer aja deh buat nambah-nambah biaya rumah sakit," sambungnya yang membuat gue sedikit agak kesal.


Samar-samar gue mendengus, sedangkan Ohim hanya tertawa. Meski untuk sekarang dia terkesan seperti sedang bercanda, tapi kadang Ohim suka tiba-tiba transfer uang beneran.


Gue mengangguk dan mencoba memaklumi alasan Ohim. Pandangan gue kemudian beralih pada Abbas dan Alisa.


"Kalau kalian berdua alasannya apa?"


"Alasan apa? Gue bawa keranjang buah, anjir." Abbas kemudian memandang Alisa, "kamu taroh mana, Sa, keranjang buahnya?"


"Kok aku? Kan kamu yang aku suruh bawa sekalian, gimana sih?" protes Alisa.


"Loh, kapan kamu bilangnya?" sekarang giliran Abbas yang protes, "ya, aku pikir udah kamu bawa tadi loh."


"Ya, menurut kamu aja lah, masa aku yang bawa? Kan keranjang buah itu berat, Bas."


Kami, minus Abbas dan Alisa saling bertukar pandang seraya menahan senyum. Membiarkan dua sejoli ini ribut, mempermasalahkan keranjang buah.


Baik Abbas dan juga Alisa langsung menoleh ke arah gue dengan gerakan cepat dan kompak.


"Apanya yang aku-kamu?" tanya Alisa sambil menatap gue bingung.


"Panggilan kalian. Sejak kapan?"


"Ngarang, apanya yang aku-kamu," elak Alisa tidak terima, "sekarang lo ambil dulu lah, Bas, buahnya," suruhnya pada Abbas.


Abbas tidak protes dan langsung pamit keluar untuk mengambil keranjang buah yang masih ketinggalan di mobil.


"Aku-kamu juga boleh kok, Sa," ucap Mala yang langsung kami angguki setuju.


"Yang bilang enggak boleh siapa? Ya emang boleh kan?" sahut Alisa dengan wajah sok tenangnya. Padahal gue cukup yakin kalau ia kini tengah menyembunyikan perasaan gugupnya, "ngomong-ngomong gimana keadaan Kai? Kata dokter dia sakit apa?"


"Pengalihan isu," cibir gue.


"Gue ke sini niatnya emang cuma mau jenguk Kai, ya. Nggak minat dengan obrolan nggak jelas kalian."


Gue mengangguk paham. "Udah mending kok, udah nggak muntah, tapi kalau demam masih naik-turun."


"Terus kenapa ini gendongan doang? Kenapa nggak dibaringin di ranjang aja sih kan biar lebih nyaman."


"Maunya gue juga gitu, tapi bocahnya yang nggak mau."


"Padahal kemarin malah mau, begitu dapat kamar kan Agha ada visit sama jaga poli, Kai mau di tidur di ranjang, tapi sejak semalem, maunya gendongan terus, nggak mau turun sama sekali."


Alisa melotot terkejut. "Terus ini lo gendong dari semalem gitu? Gantian sama Mala?"


Gue tertawa miris. "Boro-boro mau gantian, maunya sama gue doang. Mau sama Mala kalau minum asi doang."

__ADS_1


"Terus sama yang lain?"


Gue menggeleng. "Enggak mau juga."


"Serius lo?" Alisa menampilkan wajah tidak percayanya.


"Enggak percaya lo?"


Alisa menggeleng cepat. "Enggak."


Mala langsung berdiri dan menyodorkan kedua tangannya bersiap menggendong Kai.


"Kai, sayang, ikut Mama, yuk! Mimik?"


Kai melengos sambil menggeleng.


"See!" ucap gue.


Alisa masih terlihat setengah tidak percaya lalu tertawa. "Kok bisa?"


"Lo heran?"


Alisa mengangguk cepat.


"Sama, kita semua juga heran."


"Enggak, maksud gue kan Agha kalau sama Kai usil banget, kadang kan mereka suka nggak akur, iya nggak sih, La?"


Mala mengangguk dan mengiyakan. "Di saat momen-momen tertentu, mereka tuh kadang udah kayak musuh bebuyutan."


Gue tertawa kala mendengar kalimat Mala yang terdengar sedang melebih-lebihkan.


"Nah, makanya itu," sahut Alisa mengangguk dan mengiyakan.


"Enggak separah itu juga kali," sahut gue tidak terima, "gue sama Kai itu besti ya, enak aja. Orang dia kalau mandi tiap pagi sama gue terus kok, ya kali musuh bebuyutan mandi bareng tiap pagi."


"Kan aku bilang di saat momen tertentu, Gha. Btw, ini kamu mau makan sekarang atau nanti?"


"Sekarang lah, La, aku udah laper banget soalnya."


"Terus Kai gimana kalau kamu makan?" tanya Alisa dengan ekspresi bingung menatap gue dan Mala secara gantian.


Mala langsung berdiri dan menyuapi gue.


"Astaga," gumam Alisa dengan ekspresi kagetnya, "sampai begitu banget?"


Gue mengangguk dan mengiyakan. "Apa boleh buat, sorry, ya kita ngobrolnya gue sambil makan nggak papa kan?"


"Gue sih nggak papa," sahut Ohim.


"Gue kenapa-kenapa, anjir, geli banget gue liatnya."


"Iri bilang, bos," ledek gue.


Alisa langsung mendengus. "Enggak ya, ngapain juga harus iri? Enak aja lo," sahutnya tidak terima.


"Lo hamil, La?" tanya Ohim random dan tiba-tiba.


Mala langsung melotot galak. "Lo minta dihajar?"


"Lah, kan gue cuma nanya. Kenapa jadi ngajak gelud?" balas Ohim tidak terima.


Gue terkekeh. "Gue main aman, bro," sahut gue kemudian.


"Ya, siapa tahu kebobolan."


Mala menampilkan wajah seperti sedang mengajak berperang. "Lo ngomong lagi, gue pastikan masuk IGD abis ini," ancamnya tidak main-main.

__ADS_1


Mendengar ancaman Mala, Ohim langsung menutup bibirnya rapat-rapat. Ia bahkan tidak berani berkomentar apapun setelahnya. Sedangkan gue dan Alisa hanya mampu menertawakan nasib Ohim. Wkwk, salah sendiri cari masalah kok sama bini gue. Ya begini dapetnya.


Tbc,


__ADS_2