Married With My Besti

Married With My Besti
Bantuin Abbas part 2


__ADS_3

*


*


*


Abbas baru menyesal sekarang, kalau tahu begini ia mungkin tidak akan memilih untuk mengajak Agha. Lebih baik ia pergi sendirian dan mengurus segala yang ia butuhkan sendirian. Bukannya meminta bantuan Agha dan malah berujung begini. Agha yang seharusnya berperan sebagai konsultan karena sudah lebih berpengalaman, eh, malah keasikan main sama Kai. Tentu saja ia merasa kesal. Apalagi waktu bocah itu kelelahan karena kelamaan bermain dan mulai mengantuk. Ia sendiri jadi ikut bertambah pusing karena Agha kurang cukup ahli dalam mengurus Kai saat sedang rewel.


"Mau ngapain lo?"


Abbas berdecak kesal karena Agha tiba-tiba menepuk jidatnya, padahal ia baru saja mau memejamkan kedua matanya. Agha baru saja keluar dari kamar Abbas setelah menidurkan sang putra di kamar pria itu.


"Tidur lah, capek banget nih gue," balas Abbas sambil merentangkan kedua tangannya yang terasa pegal.


"Tidur pale lu!" decak Agha sewot, "ayo, mulai kerja, lo masak gue yang dekor. Biar cepet beres."


"Nanti aja lah."


"Sekarang!" ucap Agha ngotot.


Abbas cukup takjub dengan Agha yang seolah tidak ada capeknya. Padahal hampir seharian tadi pria itu menggendong Kai. Ia baru menggendong Kai sebentar saja sudah pegal luar biasa, apalagi Agha yang hampir seharian. Memang tidak capekkah pria itu?


"Buset, capek banget loh ini, Gha. Emang nggak capek lo?" tanya Abbas heran.


Agha mengangguk dan mengiyakan. "Ya capek, cuma mau gimana lagi namanya punya bocah, Bas, harus pinter-pinter atur waktu, kalau nggak langsung dikerjain sekarang ntar gue nggak bisa bantuin karena ntar keburu Kai bangun, ya harus gue ajak pulang. Jadi orang tua emang capek, Bas, tapi seru. Ajaib gitu tahu nggak sih? Nggak jarang mereka yang bikin kita lagi capek jadi tambah capek, atau yang lagi mumet jadi tambah mumet. Tapi anak itu lebih sering bikin kita yang tadinya capek jadi ilang aja gitu capeknya, padahal cuma liat dia ketawa doang," cerocosnya panjang lebar.


Abbas langsung berdecak dan mengumpat kesal. "Sialan, lo malah bikin gue tambah ngiri, anjir!"


"Ya makanya, ayo, buruan, ini dikerjain biar cepet beres. Biar lo bisa cepet lamar Alisa, nikah, terus bikin anak, punya sendiri deh. Mantap kan?" Agha mengacungkan jempol.


Abbas mendengus. "Ya, nggak semudah itu forguso!"


Dengan wajah emosi, Agha langsung mendorong kepala Abbas pelan. "Dasar lo! Kalau bisa mudah kenapa dipersulit? Makanya lo dengerin saran gue, biar dipermudah sama Tuhan. Ayo, buruan, gas! Lo masak gue yang dekor."


"Bentar dulu deh," decak Abbas dengan wajah memelas.


Masih berniat menolak ajakan pria itu. Hal ini membuat Agha semakin gemas dibuatnya.


"Buset, dah, yang mau lamaran sape yang semangat siape. Ntar begitu kelar dekor, gue bantuin masaknya, elah."

__ADS_1


Abbas terkekeh. "Nah, makanya, yang mau ngelamar kan gue, tapi kenapa lo yang semangat 45 begini sih? Apa pengen lagi ya lu? Ah, gue tahu, lo kan dulu nggak pake lamaran romantis gitu, soalnya lo antara niat nggak niat buat lamar. Terus begitu mau acara tunangan, eh, malah disuruh ijab sekalian. Enak banget ya skenario jalan cerita kalian."


Agha menghela napas panjang. "Semua tergantung amal perbuatan. Makanya lo jadi orang jangan lembek, yang sat set sat set, jangan cupu! Gila ya, lo kalau nggak gue giniin kelamaan mikir, anjir, nggak tahan banget gue ngeliatnya." Agha langsung menarik tangan Abbas, "ayo, buruan! Yang semangat kalau berjuang tuh, jangan setengah-setengah kek telur setengah mateng begini. Udah dibantuin juga masih aja begitu. Gue tinggal balik mampus lu!"


"Iya, iya, thanks, ya, sekarang gue nggak jadi nyesel."


Agha menaikkan sebelah alis heran. "Emang tadi lo sempet nyesel?"


Abbas mengangguk cepat. "Iya lah, orang lo malah sibuk ngajak main Kai gitu, ya gue sempet kepikiran nyesel lah."


"Anjir lah, meski gue sambil jaga Kai, tapi kan ya gue tetep bantu pilih ini-itu, nggak yang main-main doang," decak Agha tidak terima.


"Ya abis, tadi kan Kai rewel, gue yang lagi mumet tambah mumet."


Agha mendengus. "Begini nih, kalau orang nggak pernah berurusan sama bocah."


"Ya emang nggak pernah."


"Makanya bikin!" ucap Agha mendadak ngegas.


"Sembarangan! Nggak suka gue yang namanya DP duluan, sukanya bayar kontan, sah, baru deh bikin." Abbas menyahut tidak terima.


Agha tipe yang jarang mengumpat menggunakan bahasa Jawa, meski tahu kalau pria itu cukup fasih menggunakan bahasa Jawa, karena Bunda-nya asli orang Solo.


Seketika Abbas langsung terbahak. "Ngomong apaan lo barusan?"


"Enggak usah kebanyakan nanya, buruan masak, anjir!" seru Agha makin emosi. Lama kelamaan kesabarannya makin menipis dalam menghadapi pria itu. Ia mulai tidak tahan.


"Anjir lah, lo sama emak gue kenapa galakan emak gue dah."


Agha melirik Abbas sinis. "Ya wajar kan?"


"Kebalik anjir, lo sama emak gue galakan lo!" ralat Abbas yang membuat Agha hanya mendengus samar, "itu maksud gue."


Pria itu tidak berkomentar apapun setelahnya, langsung sibuk melakukan tugasnya. Membongkar belanjaannya dan mulai mendekor. Baru setengah jalan mendekor, tiba-tiba ia mendengar suara Kai menangis. Mungkin sang putra merasa asing dengan kamar yang ditempatinya.


Dengan langkah terburu-buru, Agha langsung bergegas menuju kamar Abbas. Saat ia sampai di sana, Kai menangis sambil celingukan dengan posisi duduk. Cepat-cepat ia berlari menghampiri sang putra lalu menggendongnya.


Ia kemudian keluar kamar dan meminta Abbas untuk membuatkan susu untuk Kai.

__ADS_1


"Bikinin susu buat anak gue dong, Bas! Itu susu sama botol minumnya ada di dalam tas. Kalau di dalam botol masih nyisa, dibuang aja, terus dicuci. Tapi nyucinya pake air hangat ya."


"Maksudnya gimana?"


"Direndem dulu gitu."


"Ah, nggak paham. Mending lo sendiri aja lah yang bikin, gue yang ajak Kai. Bentar, gue cuci tangan dulu."


"Ikut Om Abbas ya?"


Masih dengan wajah mengantuk Kai menggeleng lalu menyembunyikan wajahnya pada ceruk leher Agha.


"Enggak mau, Bas."


"Gue paksa lah. Gue iming-imingi mainan atau es krim."


"Enggak bakalan mempan lah."


"Kemarin mempan loh. Sini, Kai, ayo, ikut Om! Kita beli es krim, yuk!"


Dengan wajah tegas, Kai menggeleng. Detik berikutnya bocah itu langsung menangis kencang.


"Malah nangis nih! Lo sih," omel Agha, "masih rewel ini kan tadi dia tidurnya belum nyenyak."


Abbas garuk-garuk kepala bingung. "Terus gimana dong, Gha?"


"Kalau adek nggak mau ikut Om, duduk ya?"


Kai berpikir sebentar lalu mengangguk pelan. Sementara Abbas berdecak tidak percaya. Bisa-bisanya Kai lebih memilih duduk doang ketimbang ia ajak.


"Bener-bener ya anak lo, Gha."


"Maklumi kenapa sih? Namanya juga bocah." Agha sedikit terkekeh geli lalu menepuk pundak Abbas, "kayaknya anak gue nggak suka lo. Dia demennya cewek cantik."


"Persis bapaknya," cibir Abbas di sela dengusannya.


Agha hanya terkekeh dan tidak membalas setelahnya.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2