
*
*
*
"Gha," panggil Mala.
Langkah kaki gue yang tadinya hendak menaiki anak tangga mendadak terhenti saat mendengar suara Mala memanggil. Gue otomatis berbalik dan otomatis menatap Mala yang kini sedang sibuk membongkar plastik yang gue bawa tadi.
"Kenapa?" tanya gue heran.
"Nggak jadi beli Vienetta?" tanyanya dengan raut ekspresi heran.
Gue seketika panik. Cepat-cepat gue merogoh saku celana gue dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Takut kalau semisal Mala tadi tiba-tiba chat minta dibeliin tapi gue-nya nggak notice. Dan pas gue cek, enggak ada chat yang Mala kirimkan. Gue langsung bernapas lega setelahnya. Seenggaknya aman.
"Gha," panggil Mala. Ekspresinya terlihat datar tapi seram.
Waduh, kenapa nih? Kok Mala terlihat begitu kesal, salah gue di mana nih?
"Ya?" Ekspresi gue terlihat sedikit bingung. Lalu tak berapa lama kemudian gue mengangguk cepat. "Jadi kok."
"Lha kok ini nggak ada?" tanya Mala heran.
Gue kemudian memutuskan kembali menuruni anak tangga dan berjalan menghampirinya.
"Udah dimakan. Bukannya kamu bilang nggak mau? Sekarang mau? Kalau mau aku beliin sekarang," tawar gue yang malah langsung dapet pelototan tajam dari Mala.
Decakan kesal terdengar tidak lama setelahnya. "Bukan itu intinya, Gha." Kedua tangannya bersedekap di depan dada, "kamu bikin aku tersinggung loh, Gha. Segitu nggak relanya berbagi sama istri sampe nggak kamu bawa pulang?"
Gue seketika langsung menggeleng cepat. "Enggak gitu, La." Gue kemudian duduk di samping Mala sambil merangkul pundaknya.
Namun, dengan cepat ia langsung menjauhkan diri. "Enggak usah pegang-pegang!" ketusnya judes.
Buset, galak banget.
Oke, oke, gue harus bersikap semanis mungkin buat meluluhkan hati Mala yang terlanjur kesal ini.
"Sayang, jangan gitu lah! Dengerin dulu penjelasan aku," bujuk gue berusaha semanis mungkin. Meski yang gue dapat hanya tatapan sinis dari Mala tak lama setelahnya.
"La, aku beneran bisa jelasin," ucap gue masih berusaha membujuk Mala agar mau mendengarkan penjelasan gue.
Mala melirik gue sebentar lalu mengangguk pasrah tak lama setelahnya. "Oke, buruan jelasin! Kalau alasan kamu nggak masuk akal atau bikin aku makin kesal, berarti kamu harus tidur di luar," ucapnya final.
__ADS_1
Astaga, ancamannya. Ini pertama kalinya Mala mengancam gue pake ancaman tidur di luar. Karena selama ini yang suka nyariin dan peluk-peluk tuh dia, apalagi sejak dia hamil. Jadi, Mala jarang banget ngeluarin ancaman ini meski lagi sekesal apapun dia. Tapi lihatlah barusan, dia bahkan berani mengancam gue pake ancaman itu. Kalau seandainya alasan gue nggak diterima berarti gue nggak bakal dapet jatah kelon nih?
"Gha!" bentak Mala sambil memukul paha gue keras. Serius keras banget sampe nyut-nyutan rasanya, "buruan jelasin! Kenapa malah melamun?"
"Iya, iya, ini mau jelasin," ucap gue pasrah.
Mala kembali berdecak. "Sumpah lo mencurigakan banget, Gha."
"Aku-kamu, La," tegur gue takut-takut.
Serius. Mala tuh kalau lagi mode ngambek bikin gue serba salah.
"Bodo amat. Lo udah bikin gue kesel ya."
Gue diam saja karena takut salah ngomong. Tapi Mala malah semakin naik pitam karena gue nggak kunjung menjelaskan. Serba salah banget jadinya.
Astaga, hampir aja lupa gue.
Gue menghela napas panjang sebelum akhirnya mulai bercerita. "Jadi ceritanya tadi aku abis ketemu Ririn, La. Dia keliatan sedih gitu, kayaknya masalah sama Aldi kali ini serius banget deh. Aku kan nggak tega lihatnya, ya udah--"
"Kamu makan sama dia?" potong Mala dengan wajah yang terlihat makin galak.
Masih dengan ekspresi takut-takut, gue mengangguk pelan. Gue salah ngomong atau gimana sih ini?
Seketika wajah gue langsung berubah panik. Gue mengibaskan kedua telapak tangan gue cepat tak lama setelahnya.
"Eh, enggak gitu, La, maksud aku. Aku cuma kasian sama Ririn, La. Dia keliatan--"
Lagi-lagi kalimat gue dipotong begitu saja sama Mala.
"Terus kamu nggak kasian sama aku? Enggak mikirin perasaan aku? Kalau begini ceritanya yang ada aku jadi makin tersinggung, Gha."
Waduh, kayaknya kesalahan gue fatal banget nih.
"La," panggil gue sambil menarik ujung lengan daster batik yang dia kenakan, "enggak gitu maksudnya, sayang!"
"Udah lah nggak usah dibahas. Aku males," ketus Mala.
Gue langsung mengangguk cepat. "Oke, enggak akan aku bahas lebih lanjut, tapi kita tetep tidur bareng kan?"
Mendengar pertanyaan gue, Mala langsung melotot galak. "Apa kamu bilang?"
Gue meringis takut-takut. "Kita tetep masih bisa tidur bareng kan?"
__ADS_1
"Enak aja, enggak! Kamu tetep tidur di luar," ketus Mala galak lalu pergi meninggalkan gue begitu saja.
Seketika bahu gue lemas. Tahu begini tadi gue bohong aja, ya. Ck, resiko nikah sama sahabat tempat curhat begini nih, susah bohong. Karena kebiasaan dari dulu susah bohong. Tapi kalau gue bohong pun kayaknya Mala bakalan tambah ngamuk deh.
Astaga, ya ampun beneran tidur di luar nih gue?
Tak ingin menyerah begitu saja, gue langsung berlari kecil menaiki anak tangga dan mengejar Mala.
"La, masa iya kamu tega nyuruh aku tidur di luar sih? Dingin dong, sayang. Masa kamu tega ngebiarin aku tidur sendirian."
"Kamu aja tega kok giniiin aku, masa aku nggak boleh tega juga sama kamu."
Gue berdecak kesal. Sepertinya Mala beneran ngambek sama gue.
"Kamu kenapa sih segini marahnya sama aku cuma karena es krim? Kan di rumah ada--"
"Apa lo bilang? Cuma?" potong Mala dengan wajah galaknya, ia mendengus tidak percaya, "enak banget kamu bilang cuma. Gha, kamu tahu nggak sih posisi kita masing-masing?"
Gue langsung mengangguk cepat. "Tahu dong, La, aku suami kamu, kamu istri aku. Calon ibu dari anak-anak aku."
"Lalu kenapa kamu giniin aku?"
Kepala gue langsung menunduk takut-takut. "Maaf," sesal gue kemudian, "aku nggak tahu kalau kamu bakalan semarah ini sama aku. Ini di luar kuasa aku, La. Semua terjadi begitu aja, aku nggak tega liat perempuan yang lagi sedih apalagi aku kenal. Ririn itu kan tetangga kita, masa aku biarin dia gitu aja? Enggak mungkin kan?"
"Tapi Ririn itu mantan kamu, Gha!" seru Mala emosi, "orang yang pernah kamu sayang." kali ini nada bicaranya kembali normal, "coba kamu bayangin kalau kamu ada di posisi aku, menurut kamu, kamu masih bisa gitu biasa aja tanpa kesal?"
Seketika gue langsung diam. Benar juga sih, kalau seandainya posisi dibalik, Mala yang ketemu mantannya, udah pasti gue bakalan ngamuk sih.
"Oke, aku ngaku salah. Apa yang aku lakuin udah kelewatan, terus aku harus ngapain biar kamu mau maafin aku? Aku rela deh, La, disuruh ngapain aja asal kamu maafin aku."
"Malam ini kita pisah kamar."
Ekspresi wajah gue seketika berubah kecut. "Enggak ada yang lain."
"Tidur di luar beneran mau kamu?"
Gue langsung menggeleng panik. "Enggak," tolak gue. Gue mengangguk cepat tak lama setelahnya, "oke, malam ini kita pisah kamar. Tapi abis itu kamu maafin aku kan?"
Dengan wajah cueknya, Mala mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Kita liat aja besok."
Seketika tubuh gue terasa lemas. Ah, elah, gini amat nasib gue. Niat hati mau bantuin tetangga, eh, mala kena ambek sama istri. Jelek banget nasib gue.
Tbc,
__ADS_1