Married With My Besti

Married With My Besti
Ikut Nongkrong


__ADS_3

*


*


*


Gue spontan menutup room chat dan menekan tombol power saat Mala memanggil gue. Dengan gerakan gesit gue turun ke lantai yang dilapisi karpet bulu dan duduk di sebelah Mala.


"Ya, kenapa?" Gue langsung menaruh perhatian penuh ke Mala, takut anaknya ngambek lagi kayak kemarin pas gue masih sibuk bales chat padahal Mala lagi ngajakin gue diskusi.


"Tumben fast respon banget?"


Cowok itu emang tempatnya salah ya? Kita slow respon diambekin kita fast respon ditumbenin. Terus kalian maunya kita ngapain?


"Biasanya kalau nggak dipanggil dua kali dulu nggak nyaut tuh."


"La, gue besok ada operasi pagi-pagi, ini si Abbas ngajakin nongkrong, lo jangan ngajakin ribut bisa?"


"Dih, siapa juga yang ngajakin ribut? Enggak ada ya. Lo itu yang ngajakin ribut."


Gue menghela napas panjang. Merapal dalam hati agar diri ini lebih bersabar dalam menghadapi Mala mode nyebelin seperti sekarang.


"Oke. Jadi kenapa manggil?"


"Ini tukang jahit langganan Bunda ngechat, nanyain model kebaya maunya fix yang mana. Bantuin milih dong!"


Tubuh gue seketika mematung saat melihat layar ponsel Mala yang menunjukkan beberapa model kebaya, namun, masih berbentuk sketsa. Gue kalau disuruh milih gambar kebaya yang sudah jadi aja pasti bingung, gimana kalau masih berbentuk sketsa begini. Astaga, mampus gue.


"Gha," panggil Mala sambil menyenggol lengan gue, "bantuin milih, kenapa malah bengong sih?"


Gue memandang Mala ragu. "Lo serius nyuruh gue milih ini?"


"Ya, serius masa bercanda."


"La, serius deh lo suruh gue milih gambar kebaya yang udah dalam bentuk jadi aja gue bingung, gimana kalau masih bentuk sketsa begini?" Gue frustasi sendiri, "demi Tuhan gue nggak tahu. Bagus semua nggak sih?" tanya gue ragu-ragu.


"Nah, iya kan? Menurut gue tuh emang bagus semua dan gue bingung mau milihnya. Gimana ya, duh, salah penjahitnya juga sih ya, kan gue bilang nurut, kenapa malah dikirimin sketsa gambar sih, kan bingung sendiri gue jadinya."


"Terus maunya gimana? Gue beneran nggak ngerti, La. Serius. Kalau enggak tanya Mama deh."


"Mama lagi nggak ada di rumah, Gha. Gimana sih, kan tadi perginya pas lo sampe. Masa lupa?"


"Ya, kan bisa nanti." Gue kemudian teringat sesuatu, "oh ya, buat cincin kan kita belum nyari, La. Menurut lo enaknya kapan nyarinya? Tapi minggu ini gue nggak bisa, ya. Kalau minggu depan bisa tuh."


"Lah, ngapain nyari kan lo udah beliin kemarin? Pake itu aja lah, nggak usah buang-buang duit. Pengeluaran kita bakal banyak banget ini loh, Gha, jadi nggak usah aneh-aneh deh. Pake aja itu yang ada, lagian gue juga belum pernah pake kok cincinnya. Jadi ntar kita tinggal pake itu." Mala kemudian tersadar akan sesuatu, "eh, buat lo belum ada deh, ya. Ya udah ntar kita nyarinya buat lo aja."


Kini giliran gue yang menggeleng tidak setuju. "Enggak, ah, gue nggak usah. Lo kan tahu gue nggak suka pake gituan."


Wajah Mala seketika berubah tidak terima. "Ya, mana bisa begitu lah, curang itu namanya. Ntar orang ngira lo masih single, terus orang pada


flirting ke lo sesuka mereka. Enak saja, nggak! Enggak boleh, berarti fix, besok kita atur waktu buat nyari cincin."


Eh, kok gue berasa kayak lagi diposesifin?


"Kenapa lo senyum-senyum?" Mala memicingkan kedua mata curiga.


Gue menggeleng cepat. "Enggak. Siapa yang senyum-senyum. Gue biasa aja tuh, pede banget deh lo."


Mala terlihat tidak puas dengan jawaban gue, namun, dia tidak berkomentar lebih setelahnya. Ia bahkan langsung mengalihkan pembicaraan kami.


"Ya udah deh, untuk perkara cincin nanti kita coba nanya-nanya ke toko perhiasan langganan Mama. Kira-kira bisa desain dengan waktu mepet apa enggak. Kalau semisal ntar bisa tapi harganya lebih lo ada masalah enggak?"


Gue menggeleng. "Asal sesuai apa yang lo mau, gue nggak masalah sih soal harga."


"Oke. Berarti masalah cincin beres ya? Sisanya kita bahas besok lagi lah, gue pusing banget ngurusin ini itu. Mana kemarin tukang cetak undangannya nagih foto kita lagi, kita kan selfi aja jarang gimana mau punya foto bareng kan? Eh, kita ada foto bareng nggak sih? Di hape gue nggak ada sama sekali. Kemarin gue scrol-scrol sampe pusing rasanya nyari. Apa kita perlu photoshoot  dulu?"

__ADS_1


Gue terkekeh. "Cuma buat undangan lamaran aja sampe sebegininya, La, gue jadi agak worry pas nyiapin nikahan gimana ntar lo?"


Bahu Mala mendadak terlihat melemas. "Iya deh, nyiapin lamaran doang aja segini ribetnya gimana ntar nikahan sama resepsi ya? Duh, stres banget gue rasanya."


"Makanya, kan gue bilang lamaran biasa aja, nggak usah heboh. Atau minimal meski mau tetep pake acara engagement party serahin aja langsung sama Bunda dan karyawannya. Kita terima beres gitu loh. Mereka seenggaknya kan udah pengalaman banget soal begini, percaya deh mereka nggak akan ngecewain."


"Bukan karena gue nggak percaya, Gha, cuma gue itu nggak enak sama Bunda. Masa gue cuma terima beresnya aja, berasa mau enaknya doang nggak sih? Udah gratisan masa nggak ambil adil di acara sendiri."


Gue menatap Mala sambil menaikkan sebelah alis. "Dih, siapa yang bilang kalau gratis?"


"Lah, emang kamu bayar?"


Spontan gue tertawa. "Ya, enggak sih, cuma kan Bunda yang bayar."


Di luar dugaan, Mala tiba-tiba memukul pundak gue. Lumayan sakit lagi rasanya.


"Bayar karyawannya maksud gue elah, ya kan Bunda gue bosnya ya wajar kan kalau beliau yang bayar?"


"Ya sama aja lah, Gha, intinya itu yang bayar Bunda. Harusnya Bunda dapet untung tapi malah buntung lo ini gimana sih?"


"Lah, lo yang gimana? Ini yang mau nikah anaknya, La, buntung dari mana? Yang ada untung karena dapet menantu. Gimana sih lo? Aneh bener, lagian nih ya, gue kasih tahu, EO nyokap gue nggak akan langsung bangkrut cuma perkara ngurusin nikahan kita doang dan kitanya nggak bayar. Paham lo?" Gue langsung berdiri, "ini gue mau ketemu sama Abbas sama Ohim, lo mau ikut apa nggak? Si Abbas misuh mulu nih."


"Boleh deh. Sumpek banget di rumah mulu. Bentar, gue ganti baju dulu. Lo jangan tidur, ntar gue make-up annya di mobil lo aja biar nggak lama."


Gue hanya mengacungkan jempol lalu duduk di sofa. Membiarkan Mala bergegas menuju kamarnya untuk berganti pakaian.


*


*


*


"Widihhh, bau-baunya bulol udah mulai tercium menyengat nih. Sampe nongkrong aja ditemenin calon bini," goda Ohim saat gue dan Mala sudah sampai di tempat biasa kami nongkrong. Pria itu masih sendirian, dan sepertinya Abbas belum sampai.


Gue kemudian duduk. "Abbas belum sampe?"


Ohim menggeleng sebagai tanda jawaban. Mala ikut duduk tak lama setelah tadi sempat bertegur sapa dengan Ohim.


"Btw, bulol apa?" tanya Mala polos. Pandangannya beralih antara gue dan Ohim.


Gue dan Ohim saling bertukar pandang. Gue kemudian menoleh ke arah Mala setelahnya. "La, lo serius nggak tahu artinya?"


Padahal juga biasanya Mala paling update soal bahasa anak muda. Maklum dia kalau nongkrong sukanya sama dokter koas kalau nggak ya perawat magang.


Dengan wajah santainya Mala menggeleng. "Emang lo tahu?" Ia kemudian balik bertanya dan ini sukses membuat Ohim langsung terbahak.


"Anjir, La, lo tinggal di mana deh sampe nggak tahu apa itu bulol?"


"Seriusan nggak ngerti gue, sumpah. Emang artinya apa?"


"Kalau bucin lo tahu?"


Mala langsung mengangguk cepat. "Ya tahu lah."


"Nah, bulol itu bucin tolol--"


"Heh, kok kasar?" protes Mala tidak suka, ia kemudian menoleh ke arah gue, "Gha, itu si Arab KW ngibulin gue ya?"


"Enggak. Emang artinya itu. Lo serius beneran baru tahu, La?" tanya gue benar-benar tidak percaya.


"Baru tahu beneran gue, anjir, itu siapa sih yang bikin gituan? Ya ampun, gue nggak suka banget dengernya." Mala geleng-geleng kepala lalu memilih memanggil pelayan.


"Agak unik ya calon bini lo, Gha."


"Lumayan. Mana khir-akhir ini bikin mumet banget lagi, Him," curhat gue kemudian.

__ADS_1


"Gue masih di sini, anjir, masih kedengeran. Kalau mau ngomongin gue minimal tunggu gue ke toilet dulu deh." Mala melirik gue sinis sambil terus membolak-balikan buku menu. Sepertinya dia tengah kebingungan mau milih makan apa.


"Kan gue nggak suka ngomongin orang di belakangnya, lebih seneng langsung."


Ohim tersenyum puas sambil mengacungkan jempolnya. "Btw, ini kalian manggilnya masih lo-gue banget nih?"


Gue langsung mengangguk dan mengiyakan, setelah menyebutkan pesanan gue dan Mala. Saat gue hendak membuka suara, Mala lebih dulu membuka suara.


"Temen lo geli katanya kalau ganti aku-kamu. Gue sih sebagai makmum yang baik ya nurut aja."


"Ntar aja kalau udah ada anak deh ganti aku-kamunya," sambung gue yang langsung mendapat cibiran dari Mala.


"Dih optimis banget kalau bakalan sampe punya anak?" goda Ohim.


Mala geleng-geleng kepala sambil menoleh ke arah gue. "Gha, lo kok masih betah sih temenan sama manusia salty macem ini Arab Kw?"


"Terpaksa."


"Anjir." Ohim langsung memasang wajah pasrahnya lalu mulai mengganti topik, "jadi kalian seriusan mau nikah?"


"Ya serius lah, ya kali bercanda," sahut Mala mewakili, "kenapa? Nikahan lo bercandaan ya? Makanya ini gue dapet undangannya?"


"Sembarangan! Gue juga serius, anjir, mau nikah beneran nih. Buat lo nggak dapet jatah undangan deh, soalnya lo udah dapet privilege langsung dari gue kan lo calon bininya Agha."


"Berarti ntar nggak usah kirim amplop atau kado kan?"


"Enak aja, nggak gitu konsepnya, La. Amplop atau kado tetep harus lah, mesin cuci boleh lah, mesin cuci rumah gue udah perlu diganti tuh."


"Oke, tapi ntar gue mau kado buat gue kulkas 4 pintu model terbaru ya?"


Ekspresi Ohim seketika langsung berbuah masam. Ia menoleh ke arah gue. "Calon bini lo agaknya kurang tahu diri ya?"


Sambil tertawa kecil gue hanya mengangguk dan mengiyakan. Yang dibalas Ohim dengan dengusan kesalnya.


"Btw, spill calon istri lo dong, Him. Denger-denger dapetnya jalur ta'aruf ya?"


Ohim menggeleng tidak setuju. "Kaga ada spill-spillan, ntar aja liat sendiri pas akad."


Mala merengut. "Pelit lo. Dapet yang seumuran atau lebih muda?" tanyanya kepo.


"Lebih muda dong," balas Ohim jumawa.


Mendengar jawaban Ohim, ekspresi Mala kembali cemberut. Ia kemudian menoleh ke arah gue. "Gha, lo iri nggak sama Ohim? Dia aja dapet yang lebih muda, masa lo dapet yang seumuran?"


Astaga, Mala mode on.


"Ya, kan lo juga lebih muda dari gue, La. Ya ampun."


"Tapi cuma setahun."


"Ya, masih mending kan? Daripada Abbas."


"Emang kenapa sama Abbas? Dia dapet Tante--eh, maksud gue dia dapet yang lebih tua?"


Ohim langsung terbahak. "Bukan. Kalau Abbas belum dapet-dapet, seenggaknya Agha masih mending udah dapet. Iya, nggak, Gha?"


"Yoi, masih mending--"


Kalimat gue terpaksa terhenti karena gue tiba-tiba merasakan seseorang memukul kepala gue bagian belakang. Dan saat gue menoleh ternyata ada Abbas dengan ekspresi tidak bersahabatnya.


"Bagus ya, kalian, nistain gue terus mentang-mentang kalian udah berpawang?" Sebelah tangannya berkacak pinggang, "persahabatan macam apa ini?"


Gue hanya mampu meringis bersalah sedangkan Mala dan Ohim, keduanya malah terbahak puas.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2