
*
*
"Ya, halo?"
Gue spontan melambatkan langkah kaki saat menerima telfon dari salah satu perawat tim bedah. Gue baru saja menyelesaikan visit baru beberapa langkah keluar dari ruang bangsal.
"Halo, dokter Agha, mohon maaf mengganggu waktunya. Ini saya mau mengabari kalau dokter Mala barusan hampir pingsan--"
"Apa?!" Kali ini kedua kaki gue spontan berhenti, "lagi? terus gimana kondisi dia sekarang?"
Kondisi Mala memang akhir-akhir ini lagi kurang bagus, entah efek kecapekan atau memang karena dia lagi beneran hamil atau apa gue sendiri juga nggak tahu. Soalnya tiap kali gue suruh periksa Mala selalu menolak.
"Masih lemes banget, dok, tapi mau coba kita ajak ke IGD nggak mau. Makanya kami terpaksa langsung menghubungi dokter Agha."
"Ya udah, oke, saya langsung ke sana. Ini di mana posisinya?"
"Ruang istirahat dokter residen, dok."
"Oke, saya langsung ke sana. Makasih ya infonya."
Setelah mematikan sambungan telfon, gue langsung bergegas menuju ruangan yang dimaksud. Sepanjang perjalanan, hati gue tidak henti-hentinya mengomel.
Kenapa istrinya ini keras kepala sekali sih?
Saat ia sampai di sana, Mala nampak sedang bersandar di sofa yang kebetulan tersedia di sana. Wajahnya terlihat pucat. Gue kemudian langsung berlari kecil untuk menghampiri Mala yang terlihat lemas.
"La, kita ke IGD yuk!" bujuk gue langsung bersimpuh di hadapan Mala.
Perempuan itu menggeleng lemah sambil memejamkan mata. "Enggak usah, kayaknya aku lemes gegara coba mau maksain diri deh, Gha."
Gue berdecak jengkel. "Kamu sih, dikasih tahu kenapa ngeyel banget sih, La? Jangan begini lah, ayo, ke IGD, kita cek semuanya sekalian. Biar kita tahu pasti kondisi kamu, kamu enggak kasian apa sama aku dan juga Kai nggak ada yang ngurusin kalau kamu sakit-sakitan begini? Ini bukan pertama kalinya loh, La, kamu begini. Sekarang aku nggak mau denger alasan apapun lagi, kita ke IGD sekarang!"
Mala menggeleng tegas. "Enggak mau," tolaknya kemudian.
Agha berdecak samar. "Terus maunya gimana kalau nggak mau ke IGD, mau dipanggilin siapa? Ayah? Atau aku telfonin Om Malvin?" tawar gue kemudian.
__ADS_1
Mala langsung memelototi gue dengan tatapan mata tajamnya.
"Ya abis, kamu dikasih tahu ngeyel banget, nggak mau dengerin aku, sekalian aja aku telfon Ayah lah, biar kamu diomeli beliau, soalnya kamu kalau aku yang ngomelin kurang mempan begini kok, kamunya nggak kapok-kapok. Masih aja tetep ngeyelan."
"Pulang aja."
Gue kembali berdecak sambil menatap Mala datar. "Sekarang?" tanya gue ragu-ragu.
Gue kemudian mengintip jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangan. "Tapi kalau sekarang aku nggak bisa, La, bentar lagi ada operasi. Enggak bakal cukup waktunya buat bolak-balik. Terlalu mepet. Aku bawa kamu ke IGD aja dulu ya, istirahat di sana, nanti begitu kelar operasi aku, baru aku anterin kamu pulang."
Mala menggeleng tanda tidak setuju. "Aku naik taksi aja nggak papa, Gha."
Gue langsung melotot sewot dan menggeleng tegas. "Dengan kondisi kamu yang lemes begini? Enggak bakalan aku izinin lah. Enak aja, kamu mungkin nggak papa, La, tapi aku yang kenapa-kenapa." gue berdecak frustasi sekaligus mulai putus asa, "La, ayo lah, jangan begini!"
"Ya terus gimana? Masa nunggu kamu?" Mala langsung menggeleng cepat, "enggak mau."
"Ke IGD aja ya? Sekalian ntar biar dicek semuanya," tawar gue yang langsung mendapat gelengan kepala cepat dari Mala.
"Aku ngambek loh, La, kalau kamu terus-terusan mau begini," ancam gue tidak main-main. M
Tapi Mala terlihat seolah tidak peduli. "Terserah kamu, yang aku mau pulang lah."
Gue berdecak tak lama setelahnya, lalu menghela napas pasrah. Kalau sudah begini gue jadi serba salah, membiarkan Mala naik taksi tentu nggak mungkin, membiarkan Mala beristirahat di ruang residen juga nggak mungkin karena udah jelas Mala bakalan menolak, kalau gue sendiri yang mengantar itu lebih nggak mungkin karena gue ada jadwal operasi sebentar lagi.
"Aku nggak papa kok, naik taksi aja," ucap Mala berusaha meyakinkan gue.
Gue melotot sinis ke arah Mala lalu berdiri. Merogoh kantong dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana lalu mencoba menghubungi seseorang.
*
*
*
Gue agak kaget karena saat terbangun tinggal sendirian. Padahal tadi ada Kai dan Mala di sampingnya, tidak seperti malam-malam biasanya, malam ini Kai memang terus merengek minta tidur bersama. Gue awalnya tidak memberi izin, namun, pada akhirnya pasrah dan membiarkan putra semata wayang kami tidur bersama gue dan juga Mala. Lalu kenapa sekarang gue tinggal sendirian? Ditinggal ke mana nih?
Gue melirik jam, masih pukul setengah sebelas malam. Hari bahkan belum berganti, lalu ke mana Mala? Pandangan gue kemudian beralih pada box bayi besar Kai, ternyata Mala sudah memindahkan putra kami jke sana.
__ADS_1
Gue kemudian memutuskan untuk mengecek di kamar mandi, siapa tahu Mala sedang buang air besar atau bahkan muntah-muntah seperti malam kemarin. Kosong. Tidak ada siapapun di sana. Gue kemudian memutuskan untuk turun ke bawah. Memanggil-manggil nama Mala tapi tidak ada jawaban, gue baru menemukan saat gue ke dapur.
"Loh, La, ngapain?" tanya gue heran.
Mala kemudian menoleh. "Bikin mi. Kamu mau?" tawarnya kemudian.
Gue kemudian menggeleng. "Kan kamu masih sakit kok malah makan mi?"
"Laper. Lagian aku udah sembuh kok. Nggak papa."
"Kan makanan lain banyak, tadi dibawain anak-anak. Kenapa malah masak mi?"
Karena tahu Mala sedang kurang sehat, Ohim beserta anak istri, Abbas dengan Alisa datang kemarin datang berkunjung untuk menjenguk Mala.
"Ya pengennya ini."
Gue mendengus. "Tapi kan kamu sakitnya bukan demam, La, masa malah makan mie. Nanti kalau muntah lagi gimana?"
Mala menggeleng yakin. "Enggak," ucapnya yakin.
Gue berkacak pinggang. "Ngeyel lagi?"
Mala merengut. "Sekali doang. Pengen banget ini, Gha. Lagian aku kan jarang makan mie instan. Makan berdua aja deh."
"Aku masih kenyang."
"Ya udah, aku abisin sendiri."
"Terserah kamu lah," ucap Agha pasrah pada akhirnya, "ngeyel banget kalau dikasih tahu," gerutu gue angkat tangan.
Udah nggak sanggup lah gue kalau menghadapi Mala yang begini. Nyerah deh gue, dikasih tahu nggak pernah mau dengerin. Ngeyel doang adanya.
"Tahu lah, aku mau lanjut tidur lagi."
"Enggak mau nemenin?"
Gue menggeleng cepat. "Ngapain juga nemenin orang ngeyelan. Males banget," ucap gue dengan nada bicara agak kesal.
__ADS_1
Mala mengangkat kedua bahu acuh tak acuh, lalu kembali makan mie tanpa perasaan bersalahnya. Kini gantian gue yang merengut kesal. Dalam hati gue mengumpat samar, sialan gue dicuekin lagi.
Tbc,