Married With My Besti

Married With My Besti
Kerja Lagi, Yok!


__ADS_3

*


*


*


"Tumben si Kai udah molor jam segini, La?" tanya Agha saat masuk area dapur. Mala sedang menyiapkan makan malam mereka sedangkan pria itu berjalan menuju kulkas dan mengambil sebotol air mineral lalu membawanya ke meja makan, "enggak lagi sakit kan?"


Mala menggeleng. "Enggak, sehat kok. Kecapekan kayaknya, tadi ngajak main ke rumah Ririn hampir seharian dan nggak mau diajak pulang, mandi aja tadi di rumah dia."


"Oh ya? Tumben?"


Akhir-akhir ini Kai memang lebih senang menghabiskan waktu di rumah, kalau diajak pergi biasanya suka rewel mendadak. Pasti langsung minta pulang, tapi ini tumbenan ngajak main sampai lupa pulang. Tentu saja Agha heran.


"Soalnya dia baru tahu kalau di sana ada bayi, Kai lagi seneng anak kecil soalnya. Kemarin aku ajak beli sayur di depan tiba-tiba ngintilin Aldi yang lagi ajak anaknya."


Agha ber'oh'ria sambil menangguk paham. "Terus tadi pulangnya gimana? Kamu bujuk pake apa?"


"Enggak dibujuk, soalnya dia udah ketiduran dari tadi sore. Terus aku gendong pulangnya."


Seketika wajah Agha berubah pias. Kalau Kai tidurnya tadi sore, itu artinya itu bocah bisa kebangun jam berapa aja dan ngajakin begadang. Mana anaknya ini suka nggak adil lagi, mau ia sudah tertidur lelap sekalipun, maka tetap akan dibangunkan, padahal ada Mama-nya yang siap menemaninya begadang. Tapi tetap saja bocah itu akan lebih memilih main dengannya pada malam hari. Entah ini hanya akal-akalan Kai agar tidak membiarkan sang Papa istirahat dengan tenang atau hanya karena bocah itu bosan kalau harus main seharian dengan sang Mama.


"Ada kemungkinan dia bakal bangun dong bentar lagi?"


Mala mengangguk cepat lalu menyerahkan nasi untuk Agha. "Segini cukup?"


Agha menggeleng cepat. "Tambahin lagi, aku harus banyak tenaga kalau ada potensi begadang."


Mala terkekeh samar, lalu kembali mengambilkan tambahan nasi untuk sang suami. Baru setelahnya ia mengambil untuk dirinya sendiri. Lalu keduanya makan dengan tenang, tentu saja sebelum nanti akhirnya Kai bangun dari tidurnya.


"Kira-kira mungkin nggak kalau nanti Kai nggak kebangun? Bangunnya besok pagi sekalian gitu, La?"

__ADS_1


Mala menggeleng sebelum menyuap nasinya. "Kayaknya sih enggak, Gha, soalnya Kai tadi belum makan, baru makan cemilan doang tadi sore, paling ntar kebangun karena laper. Agak minim kemungkinan kalau dia bangunnya pagi. Tahu sendiri kan anakmu kalau laper pasti rewel."


Agha meringis lalu mengangguk dan mengiyakan. Ada tiga hal yang membuat putra sulung mereka itu rewel, yang pertama kalau lagi sakit, kedua karena lapar, dan yang terakhir karena gerah. Udah sih, dia bisa tentrum parah kalau lapar ditambah gerah. Perpaduan antara dirinya dan Mala. Mala juga suka sensi kalau lapar, begitu juga dirinya kalau gerah bisa mendadak sensi.


"Ngomong-ngomong kamu udah bosen belum di rumah aja?"


Mala seketika langsung mendengus saat mendengar pertanyaan sang suami. "Di rumah aja? Kesannya aku di rumah kayak nganggur doang ya, Gha?"


"Eh, enggak gitu, maksudnya kan kamu udah biasa sibuk kalau di rumah terus emang nggak bosen."


"Kamu pikir di rumah aku lontang-lantung nggak jelas sampai bikin aku bosen, anak kamu berantakin mainan sehari bisa lebih dari lima kali loh, bisa-bisanya kamu sebut aku bosen. Ngurus rumah sama Kai itu capek."


Agha kembali meringis. "Ya, maksudnya itu, La. Kamu ngurus rumah sama Kai kan capek, gimana kalau balik kerja lagi?"


Mala langsung menyipitkan kedua mata curiga. "Kenapa emang? Keuangan kita mulai menipis sampai kamu minta aku kerja lagi? Emang kalau aku nggak kerja, kamu nggak bisa nafkahi aku ya?"


"Sembarangan!" sahut Agha tidak terima, "kok kamu kesannya kayak ngeremehin aku?"


"Ya abis, aku masih mau menikmati peran sebagai ibu rumah tangga aja tapi kamu malah minta aku cepet-cepet masuk kerja. Ya aku kan jadi curiga. Ada apa emang?"


"Tapi aku belum puas loh, Gha, jadi ibu rumah tangganya. Lagian emang pihak HRD nggak nyariin pengganti aku?"


"Ini lagi nyari, cuma kan nyari dokter kan nggak gampang, La, apalagi kayaknya Tias bakalan cuti panjang mengingat kondisi dia yang hamil muda. Aku rasa suaminya nggak akan kasih izin dia kerja deh, tahu sendiri kan suami dia pengusaha batu bara, Tias tinggal duduk ongkang-ongkang kaki enak."


"Kamu nggak mau begitu juga, biarin istrinya duduk diem di rumah ngurus anak, ngurus rumah, ngurus kamu."


"Yee, aku kan cuma dokter bukan pengusaha kaya raya."


"Heh, tapi gaji kamu udah cukup untuk ngebiayai aku dan anak-anak kita."


"Ya tapi aku tetep lebih seneng liat kamu kerja."

__ADS_1


Mala mendengus seraya geleng-geleng kepala. "Emang agak lain ya kamu itu, Gha."


"Iya. Soalnya aku nggak suka kayak orang kebanyakan, terlalu mainstream, nggak main aku yang begitu-begitu. Mau ya, La? Ya, ya, ya?" bujuk Agha tidak ingin menyerah.


Mala mendengus dan tidak membalas. Yang perempuan itu lakukan malah memilih menghabiskan nasinya yang tinggal sedikit. Sebenarnya kalau boleh jujur, ia memang lebih senang bekerja dibandingkan di rumah. Tapi untuk sekarang ia masih ingin menikmati momen sebagai ibu rumah tangga seutuhnya, sebelum nantinya kembali sibuk dengan urusan pekerjaan.


"La, sayang, Mama! Mau ya?" rengek Agha persis seperti anak kecil. Kai saja bahkan jarang sekali merengek padanya, tapi kenapa justru Papa-nya lah yang lebih sering merengek?


Mala berdecak risih. "Apaan sih, Gha, kayak bocah."


"Makanya mau, ya? Kerja lagi biar dapet duit yang banyak, biar kita cepet kaya."


"Nggak kaya nggak papa asal cukup. Sekarang kita belum kaya aja kamu boros banget begitu, gimana kalau kaya?"


"Jadi kamu nggak mau kerja lagi?"


"Bukan nggak mau. Tapi nanti, kasih aku waktu lah, aku masih pengen jadi pengangguran."


"Yes, berarti nanti kalau kamu bosen jadi pengangguran bakal balik kerja lagi kan?"


"Iya. Nggak bakalan lama kok, tenang aja. Nggak usah ribet deh, kayak bocah aja."


"Ngomongin bocah, bikin bocah lagi, yuk, mumpung Kai masih tidur!" ajak Agha membuat Mala langsung melotot kesal sambil mengangkat sendoknya.


"Lagian kan Kai juga seneng anak kecil, jadi bisa lah bikin lagi. Kasian, kayaknya dia kesepian deh."


Mala berdecak sebal. "Makanya, aku di rumah aja biar anak kamu nggak kesepian."


"Lah, kalau kamu di rumah buat nemenin Kai, yang ada aku dong yang kesepian."


"Apaan sih? Kan staf rumah sakit banyak, kesepian dari mananya?"

__ADS_1


Agha baru hendak menjawab, namun, urung karena mereka tiba-tiba mendengar suara anak kecil menangis. Keduanya langsung bertukar pandang. Kai sudah bangun. Cepat-cepat Agha meninggalkan meja makan dan berlari menuju lantai atas. Sementara Mala memilih untuk membereskan makan malam mereka.


Tbc,


__ADS_2