Married With My Besti

Married With My Besti
Saran Ayah


__ADS_3

*


*


*


Seketika gue langsung panik karena Mala yang tiba-tiba menangis. Cepat-cepat gue mengelus pundaknya dan menenangkannya.


"Ssst, udah dong, kok malah nangis cuma karena itu?"


"Cuma?" beo Mala dengan nada tersinggung marah. Ia kemudian membersihkan ingusnya menggunakan tisu, "ini anak kamu yang pengen loh, Gha, tapi susah diwujudinnya bisa-bisanya kamu nyepelein begini."


Duh, ternyata repot juga ya kalau yang mengalami perubahan hormon itu Mala sendiri. Perasaan pas gue kemarin Mala masih dapat menghandle gue dengan baik, kenapa sekarang justru sebaliknya?


"Aduh, bukan nyepelein maksudnya, La." gue garuk-garuk kepala bingung.


Duh, gue harus ngomong apa nih biar Mala tidak tambah ngambek begini?


"Oke, gini, aja, aku telfon Ayah ya?"


"Buat apa?"


"Kasih tahu kalau kamu lagi ngidam mi Singapure, jadi biar beliau bisa kasih saran gitu gimana solusinya."


Mala langsung berhenti menangis dan ekspresinya berubah. "Tapi kan Ayah lagi perjalanan pulang, Gha, masih nyetir pasti kan?"


Benar juga sih, meski sudah masuk usia paruh baya tapi bokap gue lebih sering nyetir sendiri ketimbang pakai supir, padahal di rumah ada supir. Ke luar kota saja kadang masih suka nyetir sendiri. Cuma kalau sama Bunda perginya biasanya lebih sering pakai supir.


"Ya udah, aku coba telfon Bunda aja kalau gitu."


Mala mengangguk cepat dengan ekspresi imut. Gemes banget pokoknya. Setelah hamil anak kedua, Mala benar-benar terlihat banyak berbeda, gue merasa seperti mengalami banyak culture shock, lebih parah sekarang ketimbang jaman awal menikah. Awal menikah, kami menyesuaikan diri dengan baik.


Gue kemudian berdiri untuk mengambil ponsel. Lalu tiba-tiba Kai mendekat ke arah gue dan minta digendong. Mau tidak mau gue pun langsung menggendongnya.


"Mam!" ucapnya lantang.


Gue mengerutkan dahi bingung. "Kai mau makan?"


"Mam. Mamam."


"Itu minta apel sama Mama," ucap gue berniat menurunkan Kai, namun, dia menolak dan tidak mau diturunkan. Tangannya semakin memeluk gue erat, dan kepalanya menggeleng tegas, "Papa cuma mau ke kamar buat ambil hape, Kai, nanti ke sini lagi. Turun dulu, ya!" ucap gue berusaha kembali menurunkan Kai dari gendongan gue, namun, lagi-lagi Kai menggeleng cepat dan tidak mau diturunkan.


"Ajak aja udah, Gha, dari pada nangis," saran Mala.


Meski sambil berdecak gue akhirnya memutuskan untuk tetap menggendong Kai dan mengajaknya naik ke lantai atas.


Saat menaiki anak tangga, Kai tiba-tiba seperti sedang melakukan protes. "Mam. Mamam," ucapnya kemudian.


Mungkin dia ingin protes karena minta makan kok malah diajak naik ke lantai atas. Mungkin.


"Iya, nanti, Kai, kan Papa mau ambil hape di kamar."

__ADS_1


"Mam. Mamam."


Gue berdecak gemas. "Iya, Kai, nanti dulu, kan Papa bilang Papa mau ambil hape dulu. Salah sendiri kamu tadi disuruh minta ke Mama-mu malah ikut Papa. Enggak dapet makanan kan sekarang."


"Mam. Mamam," ucapnya ngeyel.


Gue tertawa lalu mencium wajahnya gemas. "Nanti, nanti, nanti! Papa gigit nih," ancam gue dengan nada bercanda.


Bukannya takut, Kai malah tertawa senang dan kembali berkata, "Mam. Mamam."


Seolah meledek gue.


"Bodo amat, Kai," ucap gue lalu berlari kecil menuju kamar dan masuk ke dalam kamar.


Saat di dalam kamar, Kai tiba-tiba menunjuk ranjang boxnya.


"Kenapa? Kai mau tidur?"


Bocah itu kemudian mengangguk. Gue pun langsung menurunkan Kai di ranjang box sesuai permintaannya. Ia kemudian berbaring sambil memeluk guling kecilnya. Reflek gue terkekeh saat melihatnya.


Duh, gemes banget anak gue kalau lagi mode begini.


Setelahnya gue pun bergegas mencari ponsel dan langsung menghubungi Bunda.


"Ya, halo, Gha, ada apa?" sapa Bunda begitu sambungan terhubung. Kalau didengar dari nada bicara beliau sepertinya beliau khawatir, karena baru pulang kok langsung ditelfon.


"Hehe, maaf, Bun, ganggu sebentar. Enggak papa kok, aku mau ngomong sama Ayah bisa nggak?"


"Iya, ini Ayah, Gha, ada apa? Ada problem?"


"Halo, Yah? Iya, ada sedikit problem. Mala ngidam."


"Astaga, ya ampun, Gha, perkara ngidam doang aja sampai kamu nelfon Ayah, bikin deg-degan Bunda mu saja."


Gue garuk-garuk kepala karena merasa bersalah. "Hehe, maaf, Yah, Bun, udah bikin khawatir, sebenernya enggak ada maksud bikin kalian khawatir. Tapi gimana ya, aku bingung mau nanya siapa."


"Emang menantu Ayah ngidam apa kok sampai bingung terus telfon Ayah?"


"Mie--"


Terdengar suara decakan dari seberang. "Ya ampun, Gha, cuma mie aja kamu sampai telfon Ayah?" decaknya dengan suara tidak percaya, "kasih aja, nggak papa, asal nggak terlalu berlebihan. Kamu nggak usah terlalu lebay, dikit-dikit nggak boleh, apa-apa nggak boleh."


Spontan gue memutar kedua bola mata karena sikap sotoy bokap gue. Udah panjang lebar, salah lagi.


"Yah, Agha belum selesai bicaranya."


"Mau ngomong apa lagi?"


"Mala maunya mie Singapure."


"Laksa? Harus banget di Singapure?"

__ADS_1


Gue mengangguk dan mengiyakan, meski tahu saat ini posisinya bokap nggak bisa melihat gue. "Iya, pengennya di Singapure, tapi nggak mungkin, Yah, kan Mala masih hamil muda, nggak mungkin Ayah biarin naik pesawat. Lagian kondisi Mala sendiri saja begini. Jadi gimana ya, Yah? Agha bingung deh, tadi aja Mala sempet nangis kayak bocah."


"Gimana kalau begini, kan Ayah pernah di Singapure lumayan lama, Ayah ada tuh kenalan yang jago banget bikin laksa, gimana kalau Ayah suruh dia ke Indo buat bikinin laksa buat Mala."


"Bisa begitu, Yah?"


"Ya siapa tahu bisa, apa salahnya nyoba dulu kan? Coba kamu tanyain kira-kira mau atau enggak."


"Kayaknya nggak mau deh," ucap gue berasumsi sendiri.


"Belum tanya kok udah bilang nggak mau, tanya dulu orangnya sana! Udah, Ayah suruh matiin sambungan telfonnya, ntar kalau udah nanya Mala baru kamu hubungi Ayah."


Mau tidak mau gue pun mengangguk pasrah. "Ya udah, iya. Agha coba tanya dulu deh."


Gue langsung mematikan sambungan telfon, lalu berjalan mendekat ke arah ranjang box. Gue agak terkejut saat menemukan Kai yang ternyata sudah terlelap nyenyak di sana.


"Lah, udah molor aja ini bocah, katanya tadi minta makan juga." gue berdecak sambil geleng-geleng kepala. Lalu keluar kamar menuju lantai bawah.


"Lama banget sih? Terus Kai-nya mana? Lupa kamu kalau tadi ajak ke kamar? Atau malah lupa kalau udah punya bocah?" tuduhnya dengan wajah galak.


"Su'udzon banget sih jadi orang, noh, udah tidur orangnya. Padahal tadi ngotot minta makan begitu sampai kamar, eh, malah minta diturunin di ranjang box-nya."


"Lah, malah udah tidur?"


Gue mengangguk lalu mengiyakan.


"Terus gimana kamu udah telfon Ayah?"


Sekali lagi gue mengangguk dan mengiyakan. "Udah, Ayah kasih saran buat kamu supaya kita undang kenalan Ayah yang jago banget bikin Laksa yang rasanya persis kayak Laksa Singapure, kamu mau nggak digituin? Apa kita beli yang deket-deket sini aja?"


Mala langsung menggeleng tegas. "Enggak mau yang dari deket-deket sini."


"Ya udah, kalau gitu kuat kamu bayarin temen Ayah buat PP Singapure-Jakarta? Kalau kuat aku langsung telfon Ayah nih."


"Kok aku yang disuruh bayar kan yang kerja kamu, aku sekarang pengangguran terus yang pengen kan anak kamu. Kan kamu yang ngehamili aku." Ekspresi Mala langsung berubah cemberut.


Gue tertawa. "Ya kan yang handle keuangan kamu, aku cuma yang kerja doang."


"Ya udah, gitu juga nggak papa."


Seketika ekspresi gue berubah tidak percaya. "La, serius kamu?"


Dengan wajah yakinnya Mala mengangguk dan mengiyakan. "Iya, emang kenapa? Kamu sayang uangnya?"


Gue menggeleng cepat. Dibanding sayang uang, jelas gue lebih sayang anak-istri lah.


"Terus kenapa?"


"Heran. Hormon kehamilan kamu yang sekarang beneran bikin aku culture shock."


"Gantian biar adil, soalnya dulu kamu juga begitu. Nggak cuma culture shock, tapi sering banget bikin aku stres ngadepin kamu."

__ADS_1


Gue meringis malu. Lah, gue pikir yang ngerasa begitu gue doang, eh, tahunya Mala juga.


__ADS_2