
*
*
*
Setelah menyadari kedatangan Alisa, Agha memutuskan untuk langsung pulang. Ia jelas tidak mau mengganggu mereka berdua, meski awalnya Alisa melarang keras dirinya agar pulang. Tapi tentu saja ia memilih pulang dan membiarkan keduanya mengobrol dengan tenang, agar masalah yang sedang mereka hadapi cepat selesai.
"Kamu kenapa nyuruh Agha dateng ke sini sih, Bas? Maksud aku, kan kamu tahu sendiri kondisi Agha gimana. Dia pasti udah lumayan pusing dengan sakit yang diderita Bunda-nya, belum lagi Ayahnya yang keliatan terpukul banget karena sang istri sakit. Kok kamu bisa-bisanya masih nyuruh dia ke sini buat dengerin curhat kamu?"
Alisa melirik Abbas sedikit sinis. "Kalau kamu mau bilang nggak curhat, aku nggak bakalan percaya, Bas," sambungnya tiba-tiba.
"Iya, aku ngaku salah. Tapi aku nggak maksud nyuruh Agha ke sini, aku nyuruhnya Ohim, eh, tapi ternyata yang dateng Agha."
Alisa mengerutkan dahi heran. "Kok bisa?"
Abbas meringis tipis. "Salah kirim ke grup bukannya chat langsung ke Ohim."
Alisa berdecak. "Astaga, ya ampun, Bas. Kamu kenapa bisa ceroboh banget gitu sih?"
Pria itu langsung menampilkan wajah bersalahnya. "Ya namanya nggak sengaja, Sa, aku mana tahu kalau ternyata salah kirim ke grup."
"Terus Ohim dateng nggak tadi?"
Abbas menjawab dengan gelengan kepala.
"Lain kali hati-hati, kasian loh Agha, dia pasti lagi sibuk banget. Secara fisik dan pikiran pasti dia lagi capek banget. Kasian banget kalau masih kamu tambahin denger curhatan kamu."
"Iya, aku ngerti." Abbas mengangguk setuju, "tapi nggak papa juga sih kata Agha-nya, Sa, soalnya kita bisa jadi saling curhat. Ngomong-ngomong Om Randu juga udah lebih bisa terima kenyataan kali ini. Abis nemenin Tante Ayu kemo, kata Agha sikap beliau mulai berubah, nggak banyak ngelamun kayak sebelum-sebelumnya. Sekarang beliau udah bisa kasih perhatian sepenuhnya."
"Syukur deh, aku seneng dengernya." Alisa menghela napas lega tak lama setelahnya, "aku mau minta maaf soal yang kemarin ya. Aku kebawa emosi banget sampai nggak mau kamu anter dan nggak mau kamu hubungi."
Abbas tersenyum maklum. Ia tidak masalah dengan sikap Alisa. Karena perempuan itu tahu bagaimana harus bersikap setelah merasa lebih baik. Tanpa perlu dia bujuk, Alisa datang kemari sendiri dan berusaha memperbaiki semuanya. Ia suka dengan sikap sang kekasih. Ia akan belajar darinya, nanti kalau mereka menikah.
"Enggak papa, aku juga sadar sih kemarin udah keterlaluan sama ibu."
"Berarti udah minta maaf kan sama beliau?"
Abbas meringis sambil menggelengkan kepalanya malu. Alisa yang mengetahui itu hanya mampu menghela napas berat. Ingin sekali ia membenturkan kepalanya sendiri saking gemasnya.
"Aku masih kesel soalnya sama ibu, Sa."
"Ngalah sama yang lebih tua susah banget ya, Bas?"
__ADS_1
Ngeselinnya bagi Alisa, pria itu langsung mengangguk cepat tanpa banyak berpikir. Gemas sekali rasanya perempuan itu melihatnya.
"Bas, kamu sadar nggak sih kalau kita mau nikah? Aku udah bilang sejak awal kan, aku nggak mau nikah kalau kita nggak mengantongi restu. Kalau kamu masih nggak mau turunin ego kamu buat minta maaf sama ibu kamu, sorry, Bas, aku rasa kita nggak usah nikah."
"Sa!"
"Bas, aku bukan anak gadis kemarin sore yang ngebet nikah dan menghalalkan segala cara agar menikah. Yang nggak dapet restu nggak papa, yang penting nikah." Alisa menggeleng cepat, "enggak, Bas, aku nggak gitu. JaNgan lupakan fakta bahwa aku sudah pernah menikah dan gagal, Bas, tolong pahami aku!"
"Maafin aku, Sa, karena aku kurang dewasa dan kurang bisa memahami kamu. Aku janji abis ini aku bakalan nemuin ibu buat ngomongin semuanya secara baik-baik."
Alisa menghela napas panjang, ditatap sang kekasih dengan pandangan serius. "Bas, kalau soal begini bukan perkara kamu yang harus ngertiin aku atau nggak. Ini kan kewajiban kamu sebagai anak, nggak harus kamu begitu lah. Aku nggak suka dengan pola pikir kamu begini," decaknya sedikit sebal.
Abbas manggut-manggut paham. " Iya, maafin. Enggak seharusnya aku bersikap demikian, maafin, Sa, kamu jangan marah dong. Aku pusing deh kalau kamu marah."
Alisa mendengus. ''Makanya jangan begitu, ibu kamu tuh nggak suka sama status aku, kamu jangan cari perkara, bantuin aku biar nggak makin dibenci ibu kamu kenapa sih?"
"Iya, iya, janji abis ini nggak kok. Maafin ya," bujuk Abbas sambil merengek persis seperti anak kecil, Alisa bahkan sampai geli saat melihatnya.
"Aku bilang kamu harus minta maaf sama ibu kamu, bukan sama aku."
Abbas manggut-manggut sekali lagi. "Iya, iya, nggak usah kamu ulang-ulang kalimat kamu, Sa, aku tahu apa perlu aku nemuin ibu?"
Dengan gelengan cepat, Alisa meresponnya. "Enggak perlu sampai begitu lah, Gha. Besok-besok lagi aja."
"Berarti ini kita baikan kan?"
Matilah," balas Abbas berkomentar.
Alisa kemudian meresponnya sambil tertawa. Hal ini membuat Abbas mau tidak mau ikut tertawa.
*
*
*
"Emang lo beneran nggak ada duit, Kak, kalau cuma buat gelar resepsi. Ya kan yang mau nikah kalian berdua, lo nikah kalian berdua masa Kak Alisa nggak mau sih diajak patungan. Lagian kan mantan suami dia tajir melintir dulu, harta gono-gininya pasti banyak lah. Harusnya nggak jadi masalah kan?"
Demi Tuhan, ingin rasanya Abbas meninju wajah sang adik saat mendengar kalimat seenaknya yang terlontar dari sang adik. Tidak tahu diri, begitulah ia mengatai sang adik di dalam sang adik. Kesal bukan main tengah ia rasakan. Demi Tuhan kalau mereka sedang tidak di rumah, sudah pasti Farhan babak belur di tangannya.
Masalahnya Abbas selalu merasa tidak enak dengan sang ibu, jadi ia berusaha untuk tetap menahan diri.
"Masalahnya kalau karyawan biasa macem gue sih wajar nggak ada duit. Lah kalau lo? CEO, punya perusahaan sendiri, jadi sangat aneh kalau sampai nggak ada duit. Pasti ini permintaan Kak Alisa kan?" tebak Farhan sok tahu.
__ADS_1
Abbas memutar kedua bola matanya malas. "Lo kalau nggak tahu apa-apa minimal diem deh, Han, minimal nggak usah bacot gitu loh."
Sebisa mungkin ia tetap menahan diri.
"Loh, gue bacot gimana sih, Kak, kan gue menebak kemungkinannya aja. Kenapa harus sampai ngatain gue bacot segala?" gerutunya tidak terima, "kayaknya bener deh kata ibu, bucin lo ke Kak Alisa nggak wajar, jadi terkesan kayak mendewakan Kak Alisa banget lo."
BUGH!
Akhirnya kali Abbas tidak mampu menahan emosinya lagi. Sebuah pukulan berhasil mendarat pada wajah sang adik. Hal ini tentu saja mengundang perhatian dari sang ibu, karena Farhan sempat mengaduh cukup keras.
''Lo apa-apaan sih, Kak?" protes Farhan tidak terima. Ia langsung berdiri dan balik menantang sang kakak, "salah gue apa?"
"Salah lo apa? Lo nggak nyadar? Gue udah memperingatkan lo sejak awal, tapi lo nggak mau dengerin gue. Ini akibatnya."
"Ada apa sih? Mau jadi sok jagoan main pukul-pukulan?" omel Hapsari.
Farhan langsung menunjuk sang kakak dengan ekspresi tidak terimanya. "Kak Abbas duluan yang mulai, Bu, padahal dari tadi Farhan diem saja, tapi Kak Abbas tahu-tahu mukul aku."
"Gue nggak bakal ngehajar lo kalau lo-nya bisa jaga omongan lo," balas Abbas tidak mau kalah.
Hapsari menatap kedua putranya secara bergantian lalu menggeleng prihatin. "Memangnya umur kalian masih cocok nyelesaiin masalah pake adu jotos?"
Keduanya kompak saling menunduk, tidak ada yang berani menjawab. Hapsari menghela napas panjang. Ia menatap putra sulungnya. "Kenapa kamu mukul adikmu?"
"Karena Abbas udah peringatin Farhan buat nggak ngomong yang aneh-aneh tentang calon istri Abbas, tapi Farhan nggak mau dengerin."
Hapsari menghela napas panjang. "Kamu ini serius mau nikah atau nggak sih sebenernya, Bas, ibu perhatiin kok emosional kamu malah jadi labil begitu. Kalau memang belum siap, mending nggak usah nikah dulu."
"Kok ibu malah ngomong gitu sih?"
"Karena ibu pengen tahu seserius apa kamu pengen nikahin anak orang."
"Abbas harus ngapain biar ibu tahu seberapa seriusnya Abbas mau menikah."
Sambil tersenyum Hapsari berkata, "Sampai kamu tidak goyah."
Abbas melongo dengan ekspresi bingungnya. "Maksudnya?" ia benar-benar merasa tidak paham dengan kalimat sang ibu.
"Ibu salah, maafin ibu, nggak seharusnya ibu menghalangi kebahagiaan kamu. Menikahlah sesuai dengan niat, kemauan atau pun kemampuan kalian. Ibu nggak akan menghalang-halangi lagi."
Abbas menampilkan wajah bingung sekaligus tidak percayanya. Hapsari langsung mengangguk dan mengiyakannya. "Ibu akan sepenuhnya mendukung kalian. Sekarang ibu nggak akan minta apapun lagi sama kamu. Apapun yang kamu mau dan inginkan, lakukan! Tidak seharusnya kamu menderita karena ibu! Maafin ibu karena selama ini terlalu banyak menuntut."
Abbas menggeleng cepat. "Abbas juga salah beberapa hari terakhir, padahal nggak seharusnya Abbas begitu."
__ADS_1
Dengan wajah terharunya, Abbas memeluk sang ibu. Tak lupa sambil mengucapkan terima kasih berulang-ulang.
Tbc,