
*
*
*
"Minum kopi nggak, Mas?" tanya Riki sambil menggoyang-goyangkan kopi sachet sebelum membukanya dan menuangkannya ke dalam gelas.
Gue mengangguk untuk mengiyakan. Karena gue jelas tidak akan bisa bertahan dengan malam-malam panjang di ruang operasi tanpa cairan hitam pekat berkafein itu.
"Tapi kopi sachet sih. Mau? Kalau mau gue buatin sekalian."
Gue mengangguk sambil merenggangkan otot gue yang terasa kaku. Demi Tuhan gue kangen kasur sebenernya. Tapi ego gue seolah melarang gue.
"Boleh deh. Gue minum kopi apa aja kok, yang penting bikin melek."
"Kalau pegel ditinggal rebahan dulu, Mas. Dilanjut lagi ntar," saran Riki.
Gue mengangguk setuju. Punggung gue rasanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Gue butuh berbaring meski hanya lima belas menit.
Gue kemudian berdiri dan berjalan menghampiri sofa yang memang tersedia di ruangan ini. Gue memejamkan mata sejenak.
"Lo biasa sendiri ya kalau kerja?"
Setelah hening beberapa saat, gue akhirnya kembali membuka suara meski kedua mata gue masih setia terpejam. Takutnya kalau gue nggak ngajak Riki ngobrol yang ada gue ketiduran.
"Ya sendiri, Mas, shift. Gantian sama temen. Kopinya udah siap nih, mau langsung diminum atau ntar?"
Gue langsung membuka mata dan menegakkan tubuh. "Sekarang aja lah, ngantuk banget gue."
Mendengar jawaban gue, Riki langsung berjalan mendekat ke arah gue sambil menyodorkan segelas kopi untuk gue.
Gue menerimanya dengan senang hati tak lupa mengucapkan terima kasih tentu saja.
"Thanks ya, sorry banget loh kalau kedatangan gue ini ngerepotin lo."
Riki tertawa lalu menyesap kopinya. "Enggak sih sebenernya, Mas, malah enak, berasa ada yang nemenin, ada temen ngobrol juga. Soalnya kan biasa kerja sendiri. Bawaannya ngantuk."
Gue mengangguk paham seraya terkekeh, lalu meneguk kopi gue dan kembali membuka suara. "Menurut lo apa yang gue lakuin ini ntar membuahkan hasil nggak ya?"
"Sejujurnya gue nggak bisa memastikan sih, Mas, sepengalaman kerja gue di sini, kita hampir nggak pernah kecolongan."
Gue menoleh ke arah Riki. "Udah kerja di sini berapa lama lo?"
"Empat tahun."
Dalam hati gue berseru takjub. Wow, lama juga ya.
"Betah juga ya," canda gue.
"Ya dibetah-betahin sih, Mas. Cari kerja zaman sekarang susah."
Gue mengangguk setuju. Ya, emang susah sih, katanya. Soalnya gue sendiri sejauh ini alhamdulillah nggak pernah ngerasain susahnya nyari kerja. Cuma ngerasain susahnya belajar, belajar, dan belajar sampai bikin gue gumoh rasanya.
"Eh, tapi partner gue di hari itu itungannya masih baru, Mas. Baru masuk dua bulanan kalau nggak salah." Riki meringis canggung, tangannya yang tidak memegang gelas reflek memegang tengkuknya, "apa jangan-jangan yang kecolongan partner gue ya, Mas?" tanyanya ragu-ragu.
Ternyata benar dugaan Riki. Partner dia kecolongan. Video rekaman yang menunjukkan sabotase mobil Mala ada dan kami menemukannya. Rekaman itu terlihat cukup jelas meski wajah si pelaku tidak terlihat terlalu jelas. Tapi satu yang pasti, pelakunya pria kalau dilihat dari postur tubuhnya.
"Atas nama rekan gue mewakili untuk minta maaf ya, Mas. Gue akan tegur dia nanti biar dia lebih teliti lagi dan kejadian ini tidak akan terulang lagi." Raut wajah Riki terlihat sungkan padahal bukan pria itu yang salah.
Gue langsung menepuk pundaknya. "Bukan salah lo, Ki, jadi nggak perlu minta maaf. Gue harusnya yang bilang makasih dan maaf karena udah gue rusuhin. Udah nggak papa, yang penting gue punya bukti buat laporin ini ke polisi."
"Iya, Mas, sekali lagi gue minta maaf atas keteledoran kami."
*
*
*
Selesai membuat laporan ke kantor polisi, gue langsung bergegas menuju rumah sakit, masih dengan pakaian gue yang kemarin. Karena gue nggak punya waktu untuk sekedar berganti pakaian. Waktunya terlalu mepet karena gue harus segera melakukan tindakan operasi pagi itu juga.
"Kaga pulang apa gimana lo, Bang, kok masih pake kemeja yang kemarin?"
Gue tidak terlalu menggubris sapaan Juan, salah satu junior gue yang kini sudah jadi residen di tahun ke tiganya. Kebetulan karena kami sudah akrab sejak kuliah, jadi sapaan kami selalu lo-gue. Juan nyaris tidak pernah memanggil gue dengan sebutan 'dok' kecuali di depan pasien. Kurang ajar? Ya, lumayan, ini orang emang agak kurang kalau sama gue. Untung gue orangnya selow.
__ADS_1
Gue langsung bergegas menuju ruang ganti. Sebenernya gue pengen mandi dulu tapi berhubung waktunya sudah nggak cukup jadi gue hanya cuci muka dan ganti pakaian.
"Beneran nggak balik ya lo semalam, Bang?" tanya Juan sekali lagi. Saat melihat gue keluar dari ruang ganti.
Gue menggeleng lalu merebut starbuck-nya. Sepet banget mata gue rasanya, meski sensasi perih langsung menyapa lambung gue begitu cairan berkafein itu masuk ke dalam tubuh.
"Habis jaga malem lo?"
Juan mengangguk lalu menghilang dari pandangan gue sesaat dan kembali lagi sambil membawa botol air mineral dan sebungkus roti.
"Kok belum balik?" tanya gue heran. Gue kemudian menyerahkan starbuck miliknya lagi, lalu menukarnya dengan roti dan air mineral yang Juan bawa.
"Mau join operasi lo gue, Bang. Boleh kan?"
Gue langsung mendengus disela kunyahan gue. Pantesan ini anak gercep banget bawain gue makanan. Ada maunya ternyata.
"Ambis banget sih lo jadi dokter?" cibir gue kemudian.
Juan langsung garuk-garuk kepala bagian belakangnya sambil menyengir. "Boleh ya, dok?" bujuknya kemudian.
Oh ya, satu lagi Juan akan memanggil gue dengan sebutan 'dok' kalau ada maunya seperti sekarang. Ini orang meski terlihat slengekan dan sering kali terlihat seperti orang yang tidak serius dalam belajar, tapi aslinya sebaliknya. Juan benar-benar serius dalam mengejar gelar spesialisnya. Gue suka salut dengan semangatnya yang sering kali tidak main-main apalagi kalau sudah berurusan sama kasus yang menarik minatnya. Ia akan suka rela melakukan apa saja termasuk join ke operasi seniornya secara cuma-cuma.
"Iya, boleh, tapi ntar jadi ***-op gue langsung ya?"
"Kenapa gitu? Jangan dong, Bang, gue nggak enak sama residen yang lain."
"Nggak papa, kebetulan nggak ada residen yang join operasi gue pagi ini."
"Anjir, kok bisa, Bang?"
"Kalah gercep gue sama Prof. Adnan."
"Oalah, pantesan."
Gue membuka tutup botol. "Jadi mau join apa enggak?" Lalu menegaknya hingga setengah.
"Jadi, Bang, tapi ntar gue-nya jangan digalakin."
"Ya, tergantung kalau kerjaan lo bagus ya nggak mungkin gue galakin lah."
Mendengar umpatan samar Juan, gue langsung memukul kepala pria yang 2 tahun lebih muda dari gue itu menggunakan botol air mineral gue yang masih setengah. "Heh, jangan kurang ajar lo sama gue, gini-gini gue senior lo. Itungannya gue atasan lo karena posisi lo masih residen."
"Iya, dok, iya. Maafkan saya."
"Ya udah, ayo, buruan! Ngapain masih di sini? Udah telat nih kita."
"Siap, dok," ucap Juan sambil memberi gue hormat, baru setelahnya kami bergegas menuju ruang operasi.
*
*
*
"Dibilang nggak usah ke sini juga ngapain ngeyel ke sini sih?" sambut Mala saat gue baru masuk ke dalam rumahnya.
Raut wajah gadis itu terlihat lebih cerah dari kemarin. Bahkan ia sendiri yang membukakan pintu untuk gue. Entah lah kemana perginya ART mereka sehingga Mala sendiri yang harus membukakan pintu.
"Kali aja lo kangen," balas gue dengan nada bergurau.
"Najis."
Gue langsung terbahak. "Gimana keadaan lo? Masih ada keluhan nggak? Atau masih ada yang sakit?"
"Aman. Udah sehat kok besok juga gue udah masuk kerja lagi. Boring juga di rumah nggak ngapa-ngapain, jarum jam rasanya jadi lambat banget muternya."
Mala kemudian mengajak gue ke ruang tamu. "Mau minum apa lo?"
"Enggak usah, gue mampir bentar doang kok. Mau langsung pulang gue abis ini, ngantuk banget soalnya. Kangen kasur, pengen tidur."
Gue menggeleng sebagai tanda penolakan lalu duduk di sofa. Mala melakukan hal serupa.
"Kan udah gue bilangin tadi di chat kalau gue udah sehat, jadi lo nggak perlu mampir. Terus ini lo gimana ntar pulangnya kalau ngantuk? Yakin lo aman nyetir sendiri? Gue suruh supir bokap gue aja ya buat nganterin lo?"
Raut wajah khawatir terlihat jelas pada wajah Mala. Hal ini membuat perasaan gue menghangat.
__ADS_1
"Enggak usah, gue tadi naik taksi kok, ntar gue pulangnya bareng Ohim kalau enggak sama Abbas, katanya mereka mau ke sini, sekalian jengukin lo bentar katanya."
"Ya ampun, Gha, lo itu bener-bener ya."
"Ya, gimana gue nggak bisa tidur kalau belum memastikan kalau lo bener-bener udah sehat."
"Semalem tidur nggak?"
"Tidur kok."
"Berapa jam?"
"Gue udah lapor polisi," ucap gue mengalihkan pembicaraan, "sekarang polisi udah mulai menangani kasus ini. Besok kalau lo udah bener-bener sehat ke kantor polisi ya buat kasih keterangan lebih lanjut. Gue temenin kok. Jadi lo nggak perlu takut."
"Jadi beneran orang sengaja, Gha?"
Gue mengangguk untuk mengiyakan. Telapak tangan gue kemudian menggenggam telapak tangan Mala yang sedikit dingin.
"Iya, jadi untuk sementara lo tinggal di rumah dulu, ya, nggak usah balik ke apartemen sampai orang itu berhasil ditangkep."
Tidak seperti biasa, kali ini Mala langsung mengangguk setuju. Padahal biasanya harus melewati proses adu mulut dulu, tumbenan banget ini langsung nurut.
"Udah nggak papa, lo aman kok di sini. Pulang-pergi untuk sementara dianter supir dulu ya, kalau semisal gue nggak bisa anter-jemput? Nggak papa kan?"
"Iya, nggak papa, Gha, lo juga nggak harus nganter-jemput gue terus kali. Biar gue pake supir Mama kalau enggak supir Papa. Makasih ya buat semuanya. Gue nggak tahu deh kalau nggak ada lo gimana."
"Nggak usah sungkan, namanya juga calon suami. Apa sih yang enggak buat calon istri?" goda gue sambil menaikkan alis naik-turun.
Hal ini langsung membuat Mala memasang wajah pura-pura ingin muntah. "Najis, Gha! Siapa juga yang mau jadi istri lo. Gue belum bilang mau, ya."
"Gue nggak nawarin kok, tapi gue maksa. Calon istri gue harus lo, ntar minggu depan gue bakal dateng sama keluarga gue buat ngelamar lo. Tungguin aja!"
Sesuai prediksi Mala langsung memukul gue. "Sembarangan banget lo minggu depan. Enggak!" tolaknya mentah-mentah, "lo jangan gila ya, Gha, lo pikir nyiapin kebaya cukup seminggu? Belum yang lainnya, enggak! Pokoknya kalau lo berani dateng ke sini minggu depan buat ngelamar gue usir lo, sumpah. Gue serius."
"Kan baju lo banyak, nggak usah pake kebaya nggak papa. Ntar pake kebayanya pas nikah aja, lamarannya pake biasa. Gue juga nggak bakal dateng pake kemeja biasa kok."
"Iiih, mana boleh begitu. Gue mau lamaran pake kebaya couple--"
"Hah? Lo mau gue pake kebaya juga, La?" potong gue sambil menaikkan sebelah alis heran. Dan lagi-lagi Mala kembali memukul gue. Mana kali ini sakit banget lagi kalau dibandingin yang tadi.
"Bego! Ya, enggak begitu maksud gue, malih! Ya, lo pake batik lah, gue buat rok dan lo atasan kemeja, jadi couple gitu. Ngerti nggak sih? Jangan norak-norak bisa nggak?"
"Harus banget ya pake begituan? Kalau nggak pake kebaya atau batik couplean nggak boleh?"
"Ya, bukan nggak boleh dong, Gha, cuma gue pengennya lamaran pake WO sekalian. Kan nyokap lo punya EO sendiri tuh, jadi enak. Undangan pake dress code, terus keluarga pake seragam, kita pake batik couple, terus aku pengen tema lamaran kita pake nuansa flower pastel gitu. Duh, lucu deh pasti, Gha."
Gue menatap Mala dengan ekspresi tidak percaya. "Lucu apanya, njir, yang ada ribet. Harus nyari kain, cari tukang jahitnya, belum ngurus ini-itu. Astaga, La, ribet banget sih perkara lamaran doang. Gue ogah, ah, kita sama-sama sibuk, ntar siapa yang mau nyiapin ini-itu? Emang menurut lo sempet? Lamaran biasa aja lah, ntar yang 'wah' acara nikahan sama resepsi aja. Oke?"
"Tapi gue mau acara lamaran gue nggak biasa, Gha. Tenang aja, ntar kita patungan deh buat acaranya."
"Bukan masalah itu, tapi kalau lamaran dibikin acara seperti yang lo sebutin, yang ada ntar ribetnya double, La. Lo ngerti nggak sih maksud gue?"
"Ya, nggak papa. Seru pasti, Gha. Mau ya?" bujuk Mala sambil menggoyangkan lengan gue.
Astaga, gue pikir Mala akan malas dengan acara semacam ini. Tapi kenapa ternyata dia malah excited begini?
"Gha," bujuk Mala tidak ingin menyerah, "mau, ya? Ya, ya, ya?"
"Iya, iya, terserah lo mau-nya apa. Tapi ini gue males ribet, ya, jadi gue nggak mau tahu lo ntar nggak boleh misuh-misuh kalau semisal gue nggak banyak membantu acara lamaran. Janji?"
"Iya."
"Janjinya mana?" desak gue sambil menyodorkan jari kelingking gue.
Mala langsung terbahak. "Dih, kayak bocil tahu nggak sih, Gha? Pake acara janji kelingking segala."
"Biarin, soalnya gue males sama tabiat jelek lo." Tiba-tiba merasa haus, "ambilin minum dong, sekarang gue haus deh."
"Dih, tadi katanya nggak mau."
"Ya gue pikir mereka bakal langsung ke sini, tahunya nggak nyampe-nyampe."
"Mau sekalian makan?" tawar Mala langsung berdiri.
Gue menggeleng sebagai tanda jawaban dan memilih menyandarkan punggung gue pada sofa. Sedangkan Mala langsung bergegas menuju dapur.
__ADS_1
Tbc,