
*
*
*
"Lagi sibuk ngapain sih? Serius banget."
Gue spontan menoleh ke asal suara lalu menggeser tubuh gue. Memberi ruang untuk Mala duduk di sana. Mala menurut, ia kemudian duduk di sana sambil makan buah-buahan.
"Ini loh, La, liat-liat ruko. Coba kamu liat deh!"
Gue kemudian mendekatkan MacBook gue ke arah Mala. Dia terlihat tidak begitu tertarik dan hanya melirik sekilas. Sepertinya dia lebih tertarik dengan beberapa potongan buah-buahan yang barusan ia bawa.
"Mau ngapain sih liat-liat ruko? Kayak mau beli aja," komentarnya sambil mengunyah potongan buah apel, ia melirik ke arah layar lalu kembali berkomentar, "mana lantai dua banget lagi yang dilihat-lihat. Kayak punya uang aja," ledeknya kemudian.
"Harganya masih bisa kita jangkau kok," balas gue kemudian.
Mala menaikkan sebelah alisnya heran. "Kita?"
Gue mengangguk cepat. "Ya kan duit aku, duit kamu juga. Berarti artinya emang duit kita kan?" tanya gue memastikan.
Bukankah konsep rumah tangga begitu? Uang istri ya tetap jadi uang istri, sedangkan uang suami menjadi uang istri.
Setelahnya Mala tidak berkomentar, yang dia lakukan hanya diam seolah sedang berpikir. Namun, tangannya secara naluriah menyuapi gue. Yang tentu saja langsung gue terima dengan senang hati.
"Gimana kamu setuju nggak kalau aku beli ruko?" tanya gue kemudian.
Mala terlihat ragu-ragu menatap gue. "Bentar dulu, masalahnya lo mau buat apaan beli ruko segala, Gha? Gue bentar lagi lahiran loh, apa nggak sebaiknya kita nggak bikin plan yang aneh-aneh dulu?"
Sejujurnya, gue agak tersinggung dengan kalimatnya yang bilang 'plan aneh-aneh', tapi gue berusaha untuk menahan diri.
"Investasi masa depan, La. Tenang aja untuk biaya lahiran, bahkan sampai dana pendidikan untuk anak kita, gue udah siapin kok," ucap gue kemudian.
__ADS_1
Jauh sebelum gue menikah dengan Mala, gue sudah mempersiapkan beberapa dana masa depan karena menurut gue itu penting disiapkan lebih awal. Karena memang dari awal gue sudah punya tujuan untuk menikah dan punya anak, makanya gue siapin semua lebih awal. Biar pas udah nikahnya, gue nggak dipusingin sama masalah keuangan.
Mala menaikkan sebelah alisnya heran. "Terus lo mau beli buat apa? Mau disewakan gitu?"
Gue menggeleng lalu meletakkan MacBook gue di atas meja. Kini badan gue menghadap Mala sepenuhnya. "Jadi gini, aku punya rencana mau bikin kayak semacem kelas fotografi gitu untuk lantai atas, terus untuk lantai bawah buat jualan perlengkapannya. Gimana menurut kamu?"
Mala sedikit mendengus. "Kamu nggak seprofesional itu untuk buka kelas fotografi, Gha. Menurutmu bakal laku gitu?"
Gue spontan garuk-garuk kepala. Ya, memang sih gue belum seprofesional itu di bidang fotografi, tapi setidaknya ketrampilan gue di bidang ini sudah lumayan lah, nggak awam-awam banget.
"Ya apa salahnya sih dicoba? Mumpung si baby belum lahir, aku pengen berbisnis juga, La. Nah kan, kebetulan aku suka fotografi, aku rasa nggak ada salahnya dicoba."
Gue juga pengen jadi orang yang berhasil melalui hobi gue.
Mala menatap gue tidak yakin lalu menggeleng. "Kamu berencana pensiun jadi dokter dalam waktu dekat?"
Seketika gue langsung membantah. "Ya enggak lah, La, ini itu cuma buat selingan aja gitu. Kayak semacam healing versi gue gitu loh."
Gue merengut sedih. Sepertinya Mala kurang setuju dengan ide gue. Mau tidak mau berarti gue harus membatalkannya.
"Ya udah, kalau kamu nggak kasih izin, oke, La. Aku nggak bakalan jadi beli kok rukonya, cuma nggak usah ngatain aku aneh juga lah." Gue sedikit tersinggung kala disebut aneh, "tiap orang punya versi healing-nya sendiri, La."
"Astaga, ngambek." Mala berdecak sedikit kesal sambil meletakkan mangkuk buahnya, "astaga, gini banget punya laki cancer. Sensitifnya ngalahin pantat bayi." Kedua tangannya kemudian meraih telapak tangan gue dan menggenggamnya erat, "sorry, kalau perkataan gue barusan bikin lo tersinggung. Sumpah demi Tuhan gue nggak ada maksud buat itu. Gue bukan nggak kasih izin, cuma menurut gue, lo perlu pertimbangin ini betul-betul. Bikin usaha itu nggak gampang, Gha, apalagi kamu nggak punya basic-nya, gue cuma pengen lo pertimbangin semua mateng-mateng sebelum ambil keputusan ini, Gha."
"Lo ngerti kan maksud gue? Sebagai seorang istri sekaligus sahabat lo, gue juga mau yang terbaik buat lo, apapun yang lo pengenin, yang lo rencanain, semuanya. Aku nggak mau kamu salah ambil langkah gitu loh, Gha. Coba kapan-kapan kamu diskusi sama Ohim, minta pendapat dia. Kira-kira apa yang kamu plan ini bakal bisa beneran jadi peluang bisnis atau enggak."
Gue mengangguk paham setelah mendengar semua perkataan. Mala memang selalu menjadi yang terbaik di dalam hidup gue. Enggak salah orang-orang selalu minta gue untuk menikahinya, karena memang pada kenyataannya Mala lah yang paling gue butuhin di dunia ini. Untuk mengucapkan terima kasih, gue cepat-cepat langsung memeluknya erat.
"Iya, sayang, makasih ya. Maafin aku yang agak ngambekan."
"Iya, cuma peluknya pelan-pelan, Gha! Anak lo kegencet ini," amuk Mala sambil memukul pundak gue.
Ups, tanpa sadar ternyata gue memeluk Mala terlalu kencang.
__ADS_1
"Hehe, maafin ya, sayang." Gue kemudian mengelus perut buncit Mala lalu menghujaminya dengan ciuman, "Papa sayang banget kok sama kamu. Maafin Papa ya."
"Gha, udah, geli! Jangan diciumin terus-terusan gitu!" teriak Mala kesal.
Gue terkekeh geli kala melihatnya.
"Kalo diginiin boleh kan?" Tangan gue kemudian mengelus perut buncitnya.
Mala menatap gue datar. "Iya, boleh, cuma nggak usah ke mana-mana jarinya, nggak usah sampe bawah juga!" amuknya sambil menahan tangan gue agar tidak semakin turun ke bawah.
Namun, hari ini sepertinya gue ingin mengisenginya. "Emang kenapa kalau sampai bawah? Kata Ayah boleh kok," ucap gue makin gencar menggodanya.
Mala melotot tajam. "Kan kemarin udah," decaknya kemudian.
Gue pura-pura memasang wajah merengut. "Tapi kan hari ini belum," rengek gue kemudian.
Mala memejamkan kedua matanya menahan geram. "Gha, lo jangan mancing-mancing, ya! Gue besok ada operasi pagi-pagi, siangnya juga gue join operasi lo. Jadwal gue penuh besok."
Dengan wajah panik, gue langsung mengangkat kedua tangan gue tinggi-tinggi. "Oke, oke, sorry, gue nggak ada maksud lebih. Gue cuma bercanda kok, jadi--"
"Bercanda lo nggak lucu," potong Mala judes. Ia langsung berdiri, "ayo, buruan!" ajaknya membuat gue kebingungan.
"Ke mana?" tanya gue kemudian.
"Tanggung jawab lah."
Gue melongo tidak paham. "Hah?"
Gue masih memasang wajah seperti orang bego. Membiarkan tangan gue ditarik paksa Mala untuk naik ke lantai atas, menuju kamar kami.
Maafin istri gue ya, guys, dia emang agak lain. Tolong jangan bully dia, emang hormon hamilnya dia suka begitu.
Tbc,
__ADS_1