Married With My Besti

Married With My Besti
Jenguk Baby


__ADS_3

Hari ini begitu kelar visit pagi, gue menyempatkan diri untuk mengunjungi anak kami. Mala ikut dan tentu saja dengan bantuan kursi roda. Salah satu privilege yang kami dapatkan karena kami sama-sama tenaga kesehatan di sini adalah kami bisa lebih gampang jenguk baby. Enggak perlu nunggu jam besuk, tapi cukup menyesuaikan sama waktu longgar gue. Begitu ada waktu luang gue bisa curi-curi waktu buat jengukin. Selama beberapa hari terakhir sih kondisinya bagus, bahkan kemarin sudah mulai dicoba dipindah ke box bayi tidak di inkubator lagi. Semoga saja hari ini semakin membaik dan kami bisa langsung pulang bareng.


Begitu sampai di NICU, Mala minta turun dari kursi roda. Sekalian biar banyak gerak. Ayah memang sudah menyarankan agar Mala lebih banyak gerak, namun, tetap tidak memaksakan diri.


Gue tetap membimbing Mala dalam melangkah, meski sebenarnya langkah kakinya sudah cukup lancar. Kebetulan dia termasuk yang rajin setelah bokap kasih izin buat belajar jalan dan gerak badan.


Ya, anggap saja ini adalah salah satu bentuk perhatian gue buat dia. Maklum, gue bukan termasuk suami siaga, bahkan sejak Mala hamil sampai melahirkan. Apalagi kemarin waktu dia habis lahiran, semuanya lebih diurus Bunda sama Mama, karena gue terlalu sibuk sama pasien gue. Sejujurnya, terselip perasaan bersalah tapi mau bagaimana lagi. Sudah tuntutan pekerjaan dan gue nggak mungkin mengabaikan tanggung jawab gue kan?


"Widih, mesra amat pasangan ortu baru kita ini. Perasaan Mala udah lancar deh kemarin pas ke sini, ngapain lo pegangin segala, Gha?" goda Mia, dokter anak yang kebetulan bertugas hari ini, "takut digondol pria lain atau gimana deh?" sambungnya kemudian.


Spontan gue langsung tertawa. "Haha, pasangan LDM diam aja lo. Ntar ngiri," balas gue kemudian.


Suami Mia adalah anggota TNI AL jadi bisa dibilang mereka adalah pasangan LDM sejati. Tahu sendiri kan kesibukan anggota TNI dan dipadukan dokter spesialis?


Samar-samar gue mendengar umpatan darinya. Gue sama Mala langsung terbahak setelahnya.


"Gimana kondisi anak gue hari ini? Jadi kapan di-acc kepulangannya?"


"Si bapak mah nggak sabaran banget. Sabar dong, jangan buru-buru gitu lah, anak lo masih perlu observasi lanjutan. Kita belum berani lepas dia, kondisinya belum memungkinkan."


Gue menatap Mia dengan ekspresi heran. "Loh, bukannya kemarin udah bagus, Mi?"


Mia memasukkan kedua tangan ke dalam saku jasnya lalu mengajak kami mengikuti langkah kakinya. "Anak kalian masuk inkubator lagi, semalam sempet demam. Kayaknya dia masih belum terlalu bisa menyesuaikan sama suhu normal." ia tersenyum tipis sambil menatap gue dan Mala dengan tatapan iba, "yang sabar, ya, kalian kayaknya si baby masih perlu waktu. Masih pengen bareng sama gue deh kayaknya anak kalian. Duh, tahu aja sama yang cakep. Pinter banget ya anak kalian."


Kami tidak terlalu menggubris gurauan Mia, karena pandangan kami terfokus pada putra kami yang terlelap di dalam inkubator. Perasaan sedih kembali menghantam diri kami. Meski kami sudah mengantisipasi dengan segala kemungkinan yang akan terjadi, tapi tetap saja perasaan khawatir dan takut tetap tidak terelakkan.

__ADS_1


Gue kemudian mengusap pundak Mala, mencoba memberinya sedikit kekuatan.


"Tapi dia baik-baik aja kan?" tanya gue harap-harap cemas.


Mia mengangguk yakin. "Of course. Anak kalian kan jagoan. Kondisi semuanya bagus kok, enggak ada yang salah, cuma emang kayaknya anak kalian masih agak sensitif sama suhu dan dia masih perlu menyesuaikan diri lagi. Semalem juga demamnya ringan kok, bukan demam tinggi. Makanya gue nggak ngehubungi kalian."


"Beneran nggak ada yang perlu kita khawatirin kan?" ulang Mala dengan raut wajah khawatir yang jelas tidak bisa dia sembunyikan.


Mia menggeleng cepat. "Enggak. Soal tagihan rumah sakit juga nggak perlu kalian khawatirkan, kan ada diskon karyawan. Apalagi dua-duanya kerja di sini. Jadi gue jamin aman," balasnya dengan nada bergurau.


Gue mengangguk paham, sedikit lega kalau memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Thanks, ya, Mi, titip anak kita."


Gue sama Mala mengangguk setuju. Mungkin memang begitu tujuannya.


Ekspresi seketika berubah, terlihat seperti orang yang baru teringat sesuatu. "Oh ya, btw, sampe sekarang kalian masih belum dapet nama buat anak kalian?"


Gue sama Mala langsung bertukar pandang dan menggeleng kompak setelahnya.


"Loh, kok masih belum nyiapin?"


Gue menggeleng. "Belum nemu yang cocok."


Mia mengangguk paham. "Oh. Kenapa nggak minta saran dan masukan dari orang tua masing-masing?"

__ADS_1


"Agha yang nggak cocok." kini giliran Mala yang menyahut.


"Mau cari nama yang kayak gimana sih, Gha?"


"Yang bagus lah, buat anak pertama gue nih, jadi nggak boleh asal lah."


Mia tidak berkomentar lebih lanjut dan hanya mengangguk paham. "Iya deh, serah kalian. Kalau gitu gue tinggal dulu, ya."


"Kita masih boleh di sini kan?"


Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara, Mia mengangguk sambil mengacungkan jempolnya. Enaknya kerja di rumah sakit dan kenal sama petugasnya tuh, ya begini. Kita lebih leluasa buat jenguk. Kecuali kalau ada...


Tiba-tiba gue merasakan ponsel gue bergetar. Gue sedikit berdecak lalu merogoh ke dalam saku celana dan mengeluarkan benda pipih itu dari dalam sana.


"Siapa?" tanya Mala heran.


Gue langsung menunjukkan layar ponsel gue dengan wajah masam gue. Ya namanya juga hidup, nggak semuanya menyenangkan. Pasti tetap ada positif dan negatifnya.


Mala tersenyum sambil mengelus lengan gue. "Enggak papa, kamu lanjut aja dulu kerjanya, ntar kalau ada waktu luang baru deh jengukin baby-nya."


Gue tidak bisa berkomentar lebih lanjut dan hanya mampu mengangguk lalu pamit pergi untuk menangani pasien.


Huft, kapan gue punya quality time bareng anak gue?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2