Married With My Besti

Married With My Besti
Bertemu Camer


__ADS_3

*


*


*


"Enaknya dibeliin apa ya, Bas?"


Abbas mengerutkan dahi bingung saat mendengar pertanyaan sang kekasih. Ia kemudian menghentikan laju mobilnya karena sedang berada di lampu merah.


"Siapa yang dibeliin apa?" Abbas balik bertanya dengan ekspresi bingung.


"Ibu kamu lah. Sebagai perempuan yang berpengalaman sebelumnya, aku nggak mungkin datang ke rumah calon mertua dengan tangan kosong, bisa jadi bahan omongan aku ntar." Alisa menoleh ke arah Abbas, "enaknya dibeliin apa? Kamu ada rekomen?"


Melihat lampu merah berubah hijau, Abbas memilih untuk melajukan mobilnya kembali sebelum akhirnya menjawab. "Enggak usah lah."


"Ya mana bisa lah, Bas, kamu sih ngabarinnya dadakan banget. Kalau enggak kan aku bisa bikinin sesuatu dulu buat beliau."


"Kan semalem aku udah kasih kabar, bukan yang tadi banget loh aku ngabarinnya," sahut Abbas tidak terima.


Alisa langsung mendengus. Tidak percaya dengan jawaban pria itu yang terkesan menyebalkan, menurutnya. "Ya kamu yang bener aja lah, Bas, kamu ngabarinnya malem, mana sempet aku belanja bahan buat bikin sesuatu."


"Kan kamu minggu ini katanya nggak bisa, besok ngajar, kamu sendiri yang bilang loh kalau minggu ini kegiatan kamu full."


"Kan bisa minggu depan."


Abbas menggeleng tidak setuju. "Kelamaan, aku udah nggak bisa nunggu lama, Sa. Aku pengen dengan cepat ngantongi restu terus lamar kamu ke orang tua kamu, terus kita nikah."


Alisa diam. Helaan napas panjang terdengar tak lama setelahnya. Ia bahkan bingung hendak berkomentar apa. Sebuah fakta yang baru ia ketahui tentang Abbas setelah mereka mengganti status mereka. Pria itu kalau sudah punya kemauan sulit sekali ia bantah. Entah lah, bisa jadi mungkin karena saking takutnya ia kalau ditinggal pria itu jadi membuatnya lebih memilih mengalah kalau beradu argumen dengan pria itu.


"Kita mampir di toko buah atau toko kue dulu deh."


"Mau ngapain?"


"Beli sembako." Alisa terkekeh gemas, "ya buat beli buah atau kue lah, Bas, masa pertanyaan simple begini masih kamu tanyain."


"Ya, maksud aku ngapain beli begitu segala, nggak usah, ibu nggak suka kue."


"Namanya juga sopan santun bertamu, masa iya berkunjung tangan kosong kan ya nggak sopan, minimal bawa apa gitu kek. Emang dulu kamu kalau ke rumah pacar kamu, kamu nggak pernah bawa apa-apa?"


Abbas menggeleng cepat. Alisa melotot kaget.


"Apa? Jadi kamu dateng gitu aja tanpa bawa bingkisan apa gitu?"


"Enggak pernah datang ke rumah pacar maksud aku, Sa, emang selama kita temenan pernah aku kenalin pacar aku ke kamu?"


Alisa semakin dibuat terkejut oleh kalimat Abbas yang menurutnya terasa janggal.


"Ya, siapa tahu emang dasar kamu-nya yang nggak mau ngenalin? Toh, aku juga nggak kenalin semua pacar aku ke kalian kok. Kali aja kamu begitu."


Abbas kembali menggeleng. "Enggak, aku nggak begitu. Kalau memang ada pasti bakalan aku kenalin, tapi berhubung nggak ada yang jadi nggak pernah aku kenalin. Aku sesetia itu loh sama kamu, Sa," ucapnya bangga.

__ADS_1


Namun, respon Alisa justru berupa dengusan tidak percaya. "Ini bukan perkara setia atau nggak setia, tapi emang kamu-nya aja yang bodoh. Udah tahu aku-nya suka gonta-ganti pacar, masih aja ditungguin. Gila kamu, aku kan kemarin bahkan sempet nikah sama pria lain, Bas, kok kamu bisa mikir untuk setia sama aku sih? Kamu yakin nggak ada yang salah sama kepribadian kamu?" ia mulai khawatir.


Kali ini Abbas tersenyum. "Jodoh nggak akan ke mana, Sa, buktinya penantian aku terbayarkan bukan? Kamu pada akhirnya mau juga sama aku. Jadi, aku rasa emang nggak ada yang salah sama kepribadian aku. Emang dasar aku setia sama kamu dan jodoh kamu itu aku."


"Terus kalau seandainya kita nggak berjodoh gimana?"


"Ya enggak gimana-gimana, pilihannya cuma dua, aku nggak nikah atau nunggu sampai aku ketemu sama perempuan lain yang bisa gantiin kamu. Tapi nggak tahu kenapa ternyata sulit buat nyari pengganti kamu, Sa."


Sekarang Alisa makin speechless dibuatnya. Sudah lah, ia sudah tidak sanggup berkomentar apapun. Mungkin memang pria itu sesetia itu terhadapnya. Kita akui saja lah.


*


*


*


Alisa semakin merasa jantungnya berdebar kencang saat Abbas mengajaknya turun dari mobil. Susah payah ia menelan ludahnya. Pikirannya mulai berkecamuk, bagaimana jika kedatangannya tidak mendapat sambutan baik dari ibu Abbas. Meski pria itu bilang kalau sang ibu akan usaha untuk belajar menerimanya tapi tetap saja, ia merasa was-was. Bagaimana kalau usaha itu berujung gagal? Mendadak ia kembali tidak siap.


"Sa, ayo, masuk!"


Lamunan Alisa langsung buyar. Ia menarik napas panjang lalu mengangguk, berusaha meyakinkan dirinya sendiri kalau ia bisa melakukannya. Ia tidak boleh kalah, apapun yang terjadi dia akan bisa melewatinya. Pasti bisa, batinnya menyemangati diri sendiri.


"Assalamualaikum!" ucap Abbas saat mereka akhirnya masuk ke dalam rumah. Sebelah tangannya menggenggam telapak tangan Alisa sedangkan tangan yang lain membawa keranjang buah. Yang tadi sempat diledek pria itu karena terlihat seperti orang yang mau menjenguk orang sakit.


Sepi. Tidak ada siapapun yang terdengar menyahut.


"Ibu kamu ke mana? Adik sama ipar kamu juga nggak ada deh kayaknya, di garasi kayaknya tadi nggak ada mobil kan? Pada pergi jangan-jangan?" tebak Alisa berasumsi.


Dalam hati perempuan itu langsung mengangguk dan mengiyakan, tapi tetap saja ia merasa gengsi untuk mengiyakan secara langsung.


"Kamu kenapa jadi ngalihin pembicaraan?" protes Alisa heran.


Abbas menggeleng cepat. "Enggak, mengalihkan pembicaraan, beneran nanya. Soalnya kamu harusnya nggak nanya itu karena kita tadi bisa masuk tanpa buka kunci loh, ibu nggak mungkin pergi tanpa kunci pintu."


"Ya kali aja beliau lupa."


"Enggak mungkin. Aku kenal banget sama ibu aku, Sa. Bentar, kamu tunggu dulu biar aku cari ke kamar mandi. Mungkin beliau lagi mandi."


Alisa mengangguk paham lalu memilih untuk duduk di sofa yang ada di ruang tamu. Sedangkan Abbas memilih bergegas ke kamar mandi untuk mengecek apakah sang ibu ada di sana atau tidak. Dan benar dugaannya, ternyata ibunya memang mandi. Terbukti saat ia mendengar suara guyuran air. Tanpa menyapa, Abbas memutuskan untuk menuju ruang tengah, menyusul Alisa.


Namun, saat ia tiba di sana, ia justru tidak menemukan siapa pun.


Lah, pergi ke mana nih? Tidak mungkin kan Alisa kabur atau melarikan diri saking gugupnya ketemu ibunya? Ia rasa perempuan itu bukan tipe wanita yang begitu.


"Sa! Alisa!" panggilnya mulai khawatir.


"Ssst! Diem, Bas, ponakan kamu tadi kebangun, ini mau aku coba tidurin lagi soalnya kayaknya masih ngantuk," bisik Alisa dengan suara pelan.


Abbas tidak bisa menahan keterkejutannya saat mendapati Alisa kini tengah menggendong Sasa, ponakannya. Hatinya tiba-tiba menghangat melihat pemandangan ini. Alisa dan jiwa keibuannya sangat cocok. Ia mengangguk paham lalu membiarkan Alisa menimang sang keponakan agar kembali terlelap.


"Loh, ibu pikir kamu dateng sama calonmu?" sambut Hapsari saat menyadari putra sulungnya.

__ADS_1


Tanpa perlu repot-repot mengeluarkan suara, Abbas menggeser tubuhnya lalu menunjuk ke arah Alisa. Hapsari sempat terkejut selama beberapa saat sebelum akhirnya berkomentar.


"Anaknya berapa?"


"Anaknya siapa? Maksudnya Alisa anak ke berapa gitu? Dia bungsu sih, Bu."


Hapsari berdecak kesal. "Bukan itu maksud ibu. Tapi anaknya calonmu itu sama suami sebelumnya, udah sampai punya anak berapa sebelum cerai?"


"Oh. Belum kalau itu."


Hapsari langsung memasang wajah was-wasnya. "Bukan karena nggak bisa hamil kan, Bas?" tanyanya mulai khawatir.


Abbas menggeleng cepat. "Alhamdulillah bukan, Bu, sebelum resmi cerai dia sempet hamil cuma ternyata Tuhan berkehendak lain, dia keguguran sebelum anaknya lahir."


Hapsari mengangguk paham lalu memilih untuk menyapa Alisa. Sebisa mungkin ia bersikap biasa saja meski perasaan belum rela sulit ia hilangkan begitu saja. Karena kalau boleh memilih, ia masih berharap kalau Abbas memilih perempuan yang masih gadis ketimbang perempuan yang pernah menikah.


"Jadi ini yang namanya Alisa?"


Alisa tersenyum canggung lalu mengangguk dan mengiyakan. "Bentar, Bu, eh, Tante maksud saya, saya tidurin Sasa di kamar lagi dulu."


"Sini biar Ibu aja." Hapsari mencoba mengambil alih sang cucu dari gendongan Alisa, namun, ditolak perempuan itu.


"Enggak usah, Tante, biar saya saja. Nggak papa. Bentar." ia pamit sebentar masuk ke dalam kamar dan menindurkan Sasa di ranjang baru setelahnya ia keluar setelah memastikan bayi itu kembali terlelap.


"Salam kenal, Bu, eh, Tante, maksudnya, saya Alisa," ucap Alisa memperkenalkan diri.


Hapsari mengangguk seraya mengelus rambutnya saat perempuan itu mencium punggung tangannya.


"Nggak papa, boleh langsung sekalian kok panggil ibu. Nggak bakal ibu larang."


"Ayo, duduk! Duh, ibu mau nyuruh kalian makan tapi ibu belum masak, kalian sih datengnya dadakan kan ibu jadinya nggak sempet nyiapin sesuatu."


"Enggak papa, Bu, nggak usah repot-repot tadi kita juga udah sarapan kok."


Hapsari mengangguk paham. "Ini kalian pagi-pagi ke sini memangnya nggak pada kerja."


"Saya masuk kelas siang sih, Bu."


"Lah, masih kuliah?"


"Bukan, Bu, tapi Alisa ini dosen."


"Oh, dosen?" Hapsari mengangguk paham, "ya sudah, kalian ngobrol dulu. Ibu mau ke belakang."


"Ngapain? Di sini aja temenin kita dong, Bu. Masa ada tamu malah ditinggal."


"Cuma sebentar, nggak papa kan Nak Alisa kalau ibu tinggal sebentar?"


Mau tidak mau Alisa tentu langsung mengangguk maklum. Perasaannya mendadak tidak enak. Apa jangan-jangan ini pertanda kalau ibu Abbas sebenernya tidak bisa menerimanya ya?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2