Married With My Besti

Married With My Besti
Adu Mulut Dulu Lah


__ADS_3

Abbas langsung terkekeh saat membuka pintu apartemennya. Ada gue dan Ohim yang berdiri di depan pintunya, kedua mata kami menatapnya secara tidak bersahabat. Setelah menyelesaikan pekerjaan masing-masing, gue sama Ohim sepakat untuk langsung menemui Abbas. Kali ini Ohim tidak menjemput gue secara paksa seperti tempo hari, ia hanya mengajak ketemuan di lobi gedung apartemen Abbas tinggal.


"Di rumah kalian bini nggak pada masak apa gimana? Pulang kerja bukannya langsung balik malah mampir ke sini. Apartemen gue nggak ada apa-apa, njir."


Gue dan Ohim mengabaikan gurauan Abbas. Sambil mendorong bahu pria itu kami langsung masuk ke dalam begitu saja.


"Gimana otak lo udah sadar apa belum?" tanya Ohim, "kalau belum ayo, gue jedotin dulu di tembok biar lo sadar," sambungnya kemudian.


"Kalau pala gue lo jedotin yang ada gue pingsan bukannya sadar," balas Abbas sambil menutup pintu. Pria itu kemudian berbelok menuju dapur untuk mengambil minuman dari dalam kulkas.


Ohim menggeleng tidak masalah. "Enggak papa, gue bawa tim medis kalau semisal lo pingsan," sahutnya kemudian, kedua ekor matanya langsung melirik ke arah gue, "ayo, tinggal milih mau dijedotin di mana dulu," sambungnya seolah sedang mengajak negoisasi.


Gue hanya bereaksi dengan memutar kedua bola mata malas. Sementara Abbas tertawa.


Lah, masih sempet-sempetnya ketawa aja ini orang?


"Ayo lah, gue juga siap kayaknya jedotin pala lo, Bas," sahut gue ikut-ikutan.


Melihat reaksi Abbas saat ini gue jadi ikutan gemas dengannya. Bagaimana bisa pria ini masih terlihat sesantai ini?


"Serem banget sih, anjir, kalian berdua. Gue jadi takut. Ini seriusan yang model beginian, bini kalian nggak takut sama kalian dan justru kalian lah yang takut sama mereka? Kok gue nggak percaya."


Abbas berpura-pura memasang wajah tidak percayanya sambil geleng-geleng kepala, diiringi kekehan geli.


Gue memilih untuk tidak menjawab dan hanya tetap pada posisi. Lain halnya dengan Ohim, pria itu menghela napas sambil membuka jas mahalnya lalu menyampirkan- nya pada sofa. Ia kemudian melonggarkan dasinya diikuti dengan melepas kancing bagian atas dan kancing pada lengan kemejanya.


"Sekarang kasih tahu gue, kalau semua itu nggak bener kan? Lo nggak punya pikiran begitu?"


Ohim berdecak lalu duduk di salah sofa panjang sambil menggulung lengan kemejanya. Gue kemudian ikut menyusul dan duduk di sampingnya.


Abbas memilih duduk di single sofa setelah meletakkan minuman kaleng di atas meja. "Kalau emang bener iya, lo mau apa, Him?"


"Bakal langsung gue daftarin biar jadi pasien Agha."


Gue langsung menoleh ke arah Ohim dan menendang kakinya. "Gue dokter bedah, anjir," protes gue kemudian.


"Ya, malah tambah bagus, emang itu tujuan gue. Biar ntar lo bedah sekalian itu otaknya," balas Ohim dengan nada kesalnya.


Gue mendengus. "Gue dokter bedah umum, Him, bukan dokter bedah saraf. Beda cerita," sahut gue menimpali kalimat Ohim.


Ini calon bapak emang suka gitu, sok tahu. Dia pikir mentang-mentang gue dokter bedah umum, semuanya bisa gue bedah kali, ya.

__ADS_1


Di luar dugaan, Ohim tiba-tiba berdecak kesal sambil menimpuk wajah gue dengan keras. Jujur, gue agak kaget jadi gue nggak sempat menghindar.


"Kata gue mending lo diem deh, Gha, sebelum lo yang gue bikin masuk IGD duluan," ancam Ohim terdengar tidak main-main.


Alhasil, nyali gue seketika langsung menciut. Di antara kita bertiga tetap Ohim lah yang paling sulit mengontrol emosi. Kalau emang lagi beneran emosi dia suka tiba-tiba main hajar orang aja. Nggak peduli siapa orang itu, kalau gue sih masih suka mikir meski kadang-kadang.


Berbeda dengan gue yang nyalinya seketika langsung menciut, Abbas malah tertawa. Seolah tidak ada beban dosa atau tanggungan cicilan lainnya.


"Thanks banget ya, kalian emang mood booster terbaik gue. Meski dunia jahat sama gue, asal kalian ada, gue rasa gue nggak masalah deh, guys."


Gue sama Ohim seketika langsung bertukar pandang. Detik berikutnya kami secara kompak langsung melempari Abbas menggunakan bantal sofa.


"Najis!" koor kami tak kalah kompak.


Tawa renyah kembali terdengar dari mulut Abbas. Pria itu benar-benar terbahak sampai sudut matanya berair.


"Sumpah, guys, gue beneran berterima kasih banget sama kalian. Mungkin tanpa kalian gue bakalan melakukan hal bodoh itu. Thanks banget karena kalian masih tetep mau peduli sama gue dan keluarga gue."


Ohim mendengus. "Enggak usah ngaco, kita itu udah bukan cuma temen, tapi udah kayak keluarga. Jadi, kalau ada apa-apa udah semestinya saling ngebantu dan mengingatkan. Jangan pernah anggap kalau lo sendirian, Bas, masih ada gue dan juga Agha yang bakal selalu berdiri di belakang lo."


Gue mengangguk setuju. "Ohim bener, kita itu udah jadi keluarga, Bas. Emang sudah sepatutnya kalau soal beginian harus banget kita yang turun tangan. Sorry, kalau kami terkesan ikut campur. Tapi kita cuma mau yang terbaik buat lo dan keluarga lo. Gue nggak mau nantinya lo nyesel, Bas."


Abbas mengangguk paham. "Enggak papa, Gha, justru gue berterima kasih ke kalian, tanpa kalian lakuin itu gue rasa Farhan mungkin nggak akan berani ambil keputusan itu dan mungkin harus gue yang kena imbasnya."


Gue rasa Abbas benar, kalau saja kemarin Ohim nggak nekat ngajakin gue ketemu sama Farhan lebih dulu. Gue rasa Abbas benar-benar nekat menikahi Glorya.


"Adek lo emang perlu digituin sesekali, Bas, jangan terlalu manjain dia deh. Enggak suka banget gue liatnya, jadi songong gitu bocahnya, anjir, Agha aja sampe emosi duluan liat kelakuan lo."


Abbas menggaruk kepalanya salah tingkah. "Sorry, kalau sikap gue emang terkesan kurang dewasa dalam menghadapi adek gue, tapi gue juga nggak tahu harus gimana, Gha, nyokap gue tuh manjain dia, sedangkan yang ada di otak gue cuma fokus nyari uang buat mereka. Salah gue juga sih."


Gue mendekat ke arah Abbas lalu menepuk pundaknya. "Enggak papa, bro, yang penting untuk ke depannya lo jangan begini lagi. Lo bisa tetep bantu mereka, tapi lo harus tetap tahu batasan."


"Agha benar, apa yang mau lo lakuin kemarin tuh terlalu nekat, Bas dan nggak bagus buat Farhan."


Abbas menghela napas panjang sambil mengangguk setuju. "Thanks ya kalian, coba--"


Kalimat Abbas terpaksa harus gue potong karena tiba-tiba ponsel pria itu berbunyi.


"Bas, hape lo bunyi, coba angkat dulu!" gue langsung menyerahkan ponsel Abbas ke pria itu, "Alisa," sambung gue, "kalian masih berhubungan dekat?" tanya gue sambil menatap Abbas curiga.


Dia tidak menjawab dan memilih langsung pergi meninggalkan gue dan Ohim demi mengangkat telfon dari Alisa. Mencoba menyingkirkan pikiran negatif, tapi ternyata tidak lah semudah itu.

__ADS_1


"Mereka nggak aneh-aneh kan, Him?" tanya gue random.


Ohim berdecak sambil melempar wajah gue menggunakan bantal sofa. "Lo yang pikirannya aneh-aneh!"


"Tapi mereka mencurigakan, Him, masa cuma mau angkat telfon sampe dibawa pergi gitu, takut banget kalau ketahuan kita?"


"Udah deh, nggak usah kepo urusan orang mending lo cabut duluan, anak lo udah dijemput apa belum?"


Gue menegak isi kaleng soda gue yang ternyata tinggal sedikit lalu membenarkan posisi duduk gue agar lebih nyaman.


"Aman, tenang, hari ini jatahnya bini gue yang jemput Kai."


Ohim tidak berkomentar dan hanya mengangguk paham. Lalu tak berapa lama kemudian, Abbas kembali dengan wajah paniknya. Gue yang tadinya lagi bersandar pada badan sofa, reflek langsung menegakkan tubuh.


"Ada apa?" tanya gue kepo.


"Gue harus pergi sekarang."


"Ke mana?" kali ini giliran Ohim yang bertanya.


"Alisa butuh gue."


Baik gue dan Ohim langsung bertukar pandang. "Emang Alisa kenapa?" tanya gue mewakili.


Abbas menggeleng. "Gue nggak bisa cerita sekarang, yang jelas kondisinya lagi nggak baik-baik saja dan sekarang dia butuh gue. Gue harus pergi."


Dengan gerakan cepat, gue langsung mencekal tangannya. "Bro, lo nggak bisa pergi gitu aja, Alisa perempuan beristri dan lo nggak bisa nemui dia sesuka hati lo!"


Abbas menatap gue tajam, lalu menyingkirkan cekalan tangan gue dengan mudah.


"Lo kalau nggak tahu apa-apa mending diem!"


Setelah mengatakan itu, Abbas langsung pergi begitu saja. Gue kemudian menoleh ke arah Ohim.


"Him, kok lo diem aja sih?"


"Abbas mungkin punya alasan, Gha. Untuk sekarang kita jangan ikut campur dulu."


"Tapi, Him," protes gue tidak setuju.


Pria itu menatap gue datar sambil menepuk pundak gue iba. "Yuk, pulang, aja lah kita. Udah nggak usah terlalu dipikirin, untuk sekarang kita percaya aja dulu sama Abbas."

__ADS_1


Gue masih ingin protes, tapi tidak bisa gue lakukan dan hanya mampu menghela napas pasrah lalu ikut pulang begitu saja.


Tbc,


__ADS_2