Married With My Besti

Married With My Besti
Spesial Pov 3


__ADS_3

*


*


*


Hari ini Mala memutuskan untuk pulang ke apartemennya karena hendak mengambil barang di sana. Semenjak insiden kecelakaan itu, kedua orangtuanya belum mengizinkan dirinya tinggal di apartemen lagi. Saat sedang sibuk mencari barang yang ia butuhkan, tiba-tiba suara bell berbunyi. Alhasil ia harus menunda kegiatan mencari barang dan membuka pintu.


Mala tidak bisa menahan kerutan di dahinya saat menemukan siapa tamunya. Wajahnya terlihat benar-benar kaget.


"Hai, apa kabar?" sapa pria itu.


Ragu-ragu Mala mengangguk untuk mengiyakan. Sepertinya wanita itu benar-benar masih shock dengan keberadaan pria itu. Yang menurutnya tiba-tiba. Tidak ada angin, tidak ada hujan kenapa mantan kekasihnya ini tiba-tiba menemuinya?


Ya, benar pria itu adalah Danu. Mantan kekasih Mala yang terkenal posesif itu, setidaknya begitulah komentar Agha dulu.


"Sorry, Nu, ini ada apa ya, kok tiba-tiba ke sini?"


Seingatnya ia sudah mengembalikan semua barang pemberian pria ini. Lalu untuk apa pria ini datang kemari?


"Nggak papa sih, kebetulan ada kerjaan deket sini terus keinget kamu. Ya udah aku putusin buat mampir. Hehe, aku ganggu ya?"


"Enggak sih, soalnya aku ke sini juga cuma mau ambil barang dong."


"Itu kode biar aku segera pergi ya? Padahal aku kangen banget sama kamu."


"Hah?" Mala menggeleng cepat, "eh, enggak gitu sih, Nu." Tangannya secara reflek menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal, "ya udah deh, ayo, masuk dulu!"


Mala kemudian mempersilahkan Danu masuk meski awalnya ia ragu-ragu. Entah kenapa perasaannya tidak enak. Ia merasakan gelagat yang tidak biasa pada pria itu.


"Duduk dulu, Nu, biar aku ambilin minum."


Setelah mengatakan itu, Mala berniat langsung bergegas menuju dapur. Namun, tiba-tiba tangannya ditahan Danu. Merasa risih, Mala langsung menatap pria itu tajam, mengkode pria itu agar segera melepaskan tangannya. Mengerti kode itu Danu langsung melepaskan tangan Mala begitu saja.


"Sorry," ucap Danu.


Menurut Mala ucapan permintaan maaf pria itu terlihat tidak benar-benar tulus. Dan kali ini ia sudah tidak bisa untuk tidak menaruh rasa curiga pada pria ini.


"Mau lo apa?" tantang Mala tidak ingin basa-basi.


Di luar dugaan, Danu malah tertawa sambil bertepuk tangan. Hal ini membuat Mala nyaris saja mengatai mantannya ini 'gila'.


"Haha, wow, kok langsung ganti lo-gue sih, sayang?"


"Nu, kita udah putus ya? Dan kalau lo lupa, yang ngajakin putus lo duluan. Lo kalau nggak ada hal penting, saran gue mending lo cabut deh mumpung gue masih berbaik hati."


Seolah sedang menantang, Danu tersenyum sinis sembari melangkah maju mendekat ke arah Mala. Hal ini membuat gadis itu merasa tidak aman. Semakin pria itu mendekat ke arahnya, semakin ia memundurkan tubuhnya. Mala mulai ketakutan. Ia panik, namun, ia tidak boleh terlihat panik agar Danu tidak semakin meremehkannya. Atau bahkan berani berbuat macam-macam padanya.


"La, lo pikir lo secantik itu apa?"


Mala menggeleng cepat. "Enggak. Gue nggak ngerasa secantik itu. Gue ngerasa B aja tuh."


"Gue nggak lagi bercanda, La!"


Emosi Danu sedikit tersulut. Padahal Mala serius dan tidak sedang bercanda seperti yang dituduhkan pria itu barusan.


"Terus mau lo apa?"


"Tubuh lo--"


Plak!

__ADS_1


"Lo jangan kurang ajar ya, Nu!" ancam Mala setelah menampar pipi Danu dengan cukup keras. Kedua matanya terlihat memerah karena menahan tangis sekaligus emosi. Kali ini tubuhnya terlihat semakin bergetar.


Dengan gerakan terburu-buru Mala langsung mencari keberadaan ponsel dan mencoba menghubungi Agha.


"Mau nelfon siapa lo? Orang yang lo sebut temen tapi lo ajak tidur bareng itu?"


Pertanyaan Danu membuat Mala mengurungkan niatnya menghubungi Agha.


"Maksud lo siapa? Gue ngajak tidur siapa?" tanya Mala tidak paham, "kalau lo pikir gue sama Agha--Aww"


Plak!


Kali ini giliran Danu yang menampar pipi Mala. Gadis itu langsung mengaduh kesakitan bahkan pipinya terlihat memerah bekas tamparan pria itu.


"Jangan sebut namanya! Gue nggak sudi dengernya."


Kali ini air Mala jatuh. Tubuhnya semakin bergetar karena ketakutan. Ia tidak menyangka kalau pria itu sekarang bahkan berani main tangan terhadapnya. Mala seperti tidak mengenal sosok Danu yang sekarang.


"Nu, lo sebenernya kenapa sih? Danu yang gue kenal nggak begini."


"Lo bahkan nggak sadar kan udah bikin gue begini? Lo tahu kenapa? Karena lo terlalu sibuk sama orang yang lo akui sebagai temen tapi mau lo nikahin. Kalian main di belakang gue kan? Ngaku lo!"


"Enggak, Nu, aku nggak begitu demi--"


"Nggak usah bawa-bawa Tuhan," potong Danu dengan tatapan tidak sukanya, "lo nggak malu?" Ia kemudian menyugar rambutnya ke belakang, "ahh, enggak, emang lebih bagus sih kalau lo nggak punya malu. Jadi gue bisa nidurin tubuh lo tanpa rasa bersalah."


Mala menggeleng panik. Ia menangis sesegukan. Kali ini Mala tidak bisa untuk tidak menghubungi Agha. Beruntung kali sambungan telfonnya langsung terhubung.


"Gha, tolongin gue, plis! Plis, tolongin gue!" ucapnya dengan suara bergetar, "Gha, gue takut."


Dengan penuh amarah Danu langsung menjatuhkan kursi yang ada di dapur. Hal ini membuat Mala menjerit ketakutan dan langsung mematikan sambungan telfon. Ia tidak mau kalau sampai Danu merebutnya.


"Siapa lo berani ngatur gue? Kita udah putus, La, jadi lo nggak punya hak untuk itu."


Mala benar-benar merasa sudah putus asa dalam menghadapi Danu. Otaknya tidak bisa berpikir jernih, seluruh tubuhnya bergetar ketakutan. Yang ia lakukan hanya mampu menangis tersedu-sedu sambil berdoa semoga Agha segera menyusulnya kemari.


"Gue pastikan lo bakal nyesel karena udah ngelakuin ini sama gue."


"Asal lo tahu, gue lebih nyesel karena sempat kenal--"


Danu benar-benar seperti orang kesetanan. "Kurang ajar!" potong Danu sambil memukul wajah Mala, hingga sudut bibir gadis itu terluka, "lo emang sukanya dikasarin ya, La?"


Tangan Danu kemudian menyentuh dagu Mala, kali ini lebih lembut. "Ya ampun, berdarah, sayang. Makanya kamu jangan bikin aku emosi. Ayo, bangun dulu, kita obatin." Ia berniat merangkul pundak Mala dan membantu gadis itu berdiri.


Namun, dengan gerakan kasar Mala langsung menepisnya. Tentu saja ini membuat Danu kembali naik pitam.


"Lo emang kayaknya minta banget dikasarin ya, La. Gue bilang jangan bikin gue emosi. Lo itu ngerti nggak sih?" amuk Danu sambil menarik rambut Mala kasar.


Selama bertahun-tahun pacaran dengan Danu, ini baru pertama kalinya ia melihat sisi mengerikan Danu yang seperti sekarang. Ia benar-benar tidak menyangka kalau pria itu memiliki sisi mengerikan seperti ini.


"Gue bener-bener nggak kenal lo yang sekarang, Nu. Lo bukan Danu Wiratmaja yang pernah gue sayang dan cintai dulu."


"Memang bukan!"


"Nu, plis, jangan begini! Kamu berhak untuk bahagia. Kasian Tante."


"Nggak usah sok ngajarin bahagia kalau kenyataannya lo adalah sumber luka gue." Di luar dugaan kedua mata Danu tiba-tiba berubah memerah, terlihat seperti sedang menahan tangis, "kamu kenapa sih, La, tega giniin aku? Salah aku apa? Kalau dari awal kamu maunya nikah sama temen kamu itu, harusnya kamu nggak biarin aku masuk ke dalam hidup kamu. Harusnya kamu nggak kasih harapan ke kau! Harusnya kita nggak pacaran!" Tiba-tiba suara Danu kembali meninggi. Ia langsung berdiri dan menarik tangan Mala kasar.


Danu membawa menyeret Mala menuju ruang tengah dan mendorong tubuh gadis itu ke atas sofa. Sudut bibirnya membentuk senyum sinis meremehkan.


"Gue bakalan bikin lo gagal nikah sama temen lo itu."

__ADS_1


Mala menggeleng cepat. "Jangan, Nu! Plis, jangan apa-apain gue! Pikirin Mama kamu!"


Seperti orang kerasukan, Danu jelas mengabaikan kalimat Mala. Pria itu tidak peduli, bahkan dengan berani ia langsung mendekat ke arah wajah Mala, berniat mencium bibir gadis itu. Namun, beruntung Mala dapat menghindar. Bahkan tangan gadis itu masih sempat menampar Danu.


Danu yang merasa marah langsung menarik kemeja Mala hingga kancing atasnya lepas. Gadis itu menjerit ketakutan sedangkan Danu tertawa puas. Pria itu merasa menang. Dengan penuh percaya diri Danu mendekatkan wajahnya pada dada Mala, namun, dengan cepat gadis itu menendang ************ pria itu.


Danu mengaduh kesakitan. Hal ini membuat Mala mencoba melarikan diri. Namun, naas karena Danu dengan cepat berhasil menangkapnya kembali.


"Sayang, ayo berhenti main-main! Aku nggak mau kita capek sebelum 'main beneran'. Udahan, yuk, oke, kalau kamu nggak mau di sofa, kita pindah ke kamar aja gimana?" tawar Danu.


Mala menggeleng cepat. "Lo jangan gila ya, Nu!"


"Enggak, sayang."


"Stop panggil gue sayang! Kita udah putus, Nu!"


"Gue nggak peduli. Kalau lo coba-coba kabur gue bakalan main kasar, tapi kalau lo nurut, gue jamin bakal bikin lo enak dan nyaman. Jadi, sayang, please, kerja samanya."


"Sinting!"


"Oh, jadi lo maunya main kasar? Oke, fine, kalau memang itu mau lo. Bakal gue kabulin." Sambil tertawa sinis Danu terus mendekat ke arah Mala hingga tubuh gadis itu menabrak tembok. Pria itu kembali tersenyum penuh kemenangan sambil menahan kedua lengan Mala ke atas, wajahnya mendekat ke arah leher gadis itu yang terekspos.


"Aku suka wangi kamu," bisik Danu membuat Mala merinding dan semakin bergetar ketakutan.


"Danu, plis, aku mohon!" pinta Mala dengan isak tangisnya.


Pria itu mengangguk. "Iya, sayang, sabar, ya. Bentar lagi kita mu--"


"MALA!"


Kalimat Danu terpaksa terpotong saat mendengar suara seorang pria memanggil nama Mala. Dengan gerakan spontan pria itu melepaskan cengkraman pada kedua lengan Mala. Dan ini sukses membuat tubuh gadis itu ambruk ke lantai.


"ASTAGA, MALA!" teriak Agha panik. Pria itu dengan gerakan cepat menghampiri Mala sambil melepas snelli-nya dan langsung memakaikan pada gadis itu, "hei, are you okey?" tanyanya khawatir. Tangannya langsung mengelus pucuk rambut Mala dan sesekali membubuhkan kecupan di sana sedangkan Mala hanya mampu menangis sesegukan sambil memeluknya erat.


Danu yang mencoba kabur langsung ditahan petugas keamanan yang datang bersama Agha.


"La, bentar, La," ucap Agha mencoba melepaskan pelukan Mala. Namun, dengan gelengan tegas perempuan itu menolak. Bahkan pelukannya semakin erat.


"Bentar doang, gue janji nggak bakal lama," pinta Agha putus asa. Pasalnya ia merasa tidak tahan melihat senyum meremehkan Danu sekarang. Perasaannya bergejolak ingin mengajar pria itu minimal sampai pria itu masuk IGD.


Dengan gelengan tegas, Mala kembali menolak. Bahkan pelukannya makin erat daripada sebelumnya.


Agha menghela napas dan menatap dua petugas keamanan yang sedang menahan kedua tangan Danu. "Langsung dibawa ke kantor polisi saja Pak."


"Baik, Mas."


Fokus Agha kini kembali pada Mala yang tubuhnya terlihat semakin bergetar di dalam pelukannya. Setelah petugas keamanan itu membawa Danu pergi.


"Pindah ke sofa, yuk, La," ajak Agha. Namun, lagi-lagi dijawab dengan gelengan kepala dari perempuan itu.


"Pindah ke kamar?"


Mala masih membalas dengan gelengan kepala.


"Terus maunya apa? Dipeluk gini doang?"


Baru kali ini akhirnya Mala memberikan jawaban berbeda, meski perempuan itu belum mengeluarkan suara selain suara tangis sesegukannya.


Agha mengangguk paham. Ia semakin mengeratkan pelukannya agar membuat Mala merasa sedikit lebih aman.


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2