Married With My Besti

Married With My Besti
Memperjelas Status


__ADS_3

Gue menatap heran ke arah Riska yang masih duduk di tempatnya. Padahal teman-temannya sudah membubarkan diri sejak lima menit yang lalu. Perempuan berjilbab itu nampak menunduk dan wajahnya pun terlihat gelisah. Seperti ingin menanyakan sesuatu tapi ragu-ragu.


"Ada yang masih mau ditanyain, Ris?" tanya gue pada akhirnya.


Gue bukan tipe senior yang pelit ilmu, kalau junior gue masih ingin berdiskusi dengan gue tentang beberapa kasus dan penyakit bakalan gue ladenin, asal di waktu yang senggang. Tapi kalau gue-nya sibuk ya, sorry to sorry, gue nggak bisa diajak diskusi.


Raut wajah Riska terlihat terkejut selama beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk cepat.


Gue mengangguk sambil meletakkan ponsel gue kembali, setelah membalas pesan singkat Mala. Kebetulan barusan sang istri habis mengirim chat.


"Tapi pertanyaan saya agak privasi, dok. Apa boleh?"


"Waduh." Gue pura-pura kaget sambil tertawa kecil.


Riska langsung menggeleng panik. "Tapi kalau dokter Agha keberatan, nggak papa kok, dok, saya nggak jadi nanya," balasnya panik.


Gue tersenyum simpul. Sepertinya gue tahu arah pembicaraan Riska, maka dengan serius gue menyanggupi. Menurut gue ini adalah waktu yang tepat.


"Boleh kok. Selagi masih bisa saya jawab, bakal saya jawab."


"Dokter Agha kenapa baik banget sih?"


"Karena kedua orangtua saya mengajarkan saya agar menjadi orang baik, Ris," jawab gue kembali tersenyum simpul.


"Orangtua dokter Agha pasti bangga banget ya punya anak kayak dokter."


Spontan gue tertawa saat mengingat hubungan lucu antara gue dan bokap. Namun, tiba-tiba pertanyaan random muncul di dalam otak gue. Kira-kira Ayah pernah bangga nggak ya, punya anak kayak gue?


"Kenapa, dok?" tanya Riska kebingungan.

__ADS_1


Gue menggeleng. "Enggak papa. Jadi pertanyaannya cuma itu doang?"


"Bukan, dok, yang tadi baru prolog."


Gue mengangguk paham. "Kalau saya minta sekarang langsung ke inti, apa kamu keberatan?"


Riska menggeleng. Ada jeda beberapa saat, sampai akhirnya perempuan itu berani membuka suara kembali.


"Dokter Agha sama dokter Mala beneran mau nikah ya?"


Bukannya langsung menjawab, gue malah balik bertanya. "Dapet gosip dari mana kamu?" Soalnya gue agak kepo sama yang nyebarin. Kok nggak akurat banget.


"Jadi nggak bener kan, dok?"


"Bukan nggak bener sih, cuma kurang tepat," koreksi gue kemudian.


Kening Riskan mengkerut heran. "Maksudnya?"


"Dokter tahu nggak kalau saya itu suka dokter Agha?"


Wow. Gue cukup takjub dengan keberanian Riska. Gue pikir perempuan ini nggak bakalan berani bilang suka gue secara terang-terangan begini. Tapi ternyata gue salah. Bener juga ya, anak zaman sekarang tuh nyalinya gede semua. Enggak cemen macam Abbas. Cupu banget dia sumpah. Mana lama banget move on-nya lagi.


Eh, bentar, kok gue malah ngatain Abbas?


Gue mengangguk dengan ekspresi setenang mungkin.


"Lalu kenapa dokter diam saja? Kenapa dokter nggak pernah nyuruh saya berhenti menyukai dokter, kalau semisal dokter Agha tahu perasaan saya?"


Gue diam sejenak sebelum akhirnya membuka suara. "Kamu mau suka sama siapa itu hak kamu, Riska. Meski yang kamu suka itu saya, tidak lantas saya punya hak buat larang-larang kamu. Kan katanya perasaan orang itu nggak bisa dipaksa, masa saya mau maksa kamu berhenti suka saya? Itu hak kamu sepenuhnya, selagi kamu tidak mengganggu hubungan dan pasangan yang saya jalani, saya nggak masalah."

__ADS_1


"Saya bodoh banget ya, dok? Berani-beraninya suka sama dokter, padahal jelas-jelas derajat kita beda. Dokter Agha sudah spesialis, begitu juga sama dokter Mala. Saya yang masih koas kok nggak tahu malu banget sampai berani suka dan mikir disukain balik." Riska mengatakan kalimat itu sambil menangis setengah tertawa.


Gue meringis saat melihatnya lalu menyodorkan selembar tisu. "No, no, no. Saya nggak pernah melihat perempuan dari kacamata yang begitu, Ris. Saya sama Mala memutuskan menikah karena kami sudah terlalu nyaman satu sama lain, udah tahu baik-buruknya masing-masing. Tidak mudah bagi orang lain menerima buruknya saya. Saya rasa bahkan kamu mungkin nggak bakalan sanggup dalam menghadapi saya."


"Dokter Mala memang sesempurna itu ya, dok?"


Lagi-lagi gue tertawa. "Sebenernya kalau boleh jujur Mala itu jauh dari kata mending, apalagi sempurna. Jangan tertipu kamu sama kamuflasenya."


Riska terkekeh sambil mengusap sisa air matanya. "Tapi dokter mau tuh nikahin dokter Mala."


Gue garuk-garuk kepala salah tingkah. Iya, juga ya.


Gue kemudian meringis malu. "Ya, kalau itu soalnya kepaksa karena enggak ada yang lain," gurau gue kemudian.


"Dokter nggak mau nganggep saya ada sih," balas Riska ikut bergurau. Namun, cukup membuat gue merasa seperti sedang disindir.


Eh?


Cepat-cepat gue menggeleng sambil mengibaskan kedua telapak tangan dengan ekspresi panik. "Enggak gitu maksud saya. Maaf kalau candaan saya kelewatan."


Riska mengangguk paham. "Enggak papa, dok, saya paham kok. Saya juga bercanda."


Gue meringis canggung. "Tapi saya tetap mau minta maaf, mungkin sikap saya kemarin sedikit berlebih sehingga berefek yang kurang menguntungkan di kamu. Tapi serius bukan maksud saya mau tebar pesona apalagi PHP-in kamu. Saya tahu kamu cerdas dan cepet banget nangkep kalau diajarin sesuatu, makanya saya suka. Bahkan kamu termasuk dokter koas favorit saya loh asal kamu tahu."


"Sampai sekarang dokter Agha juga masih tetap jadi dokter favorit saya kok. Makasih ya, dok, atas semua ilmunya selama ini termasuk yang barusan. Makasih karena sudah membuat saya tidak menyesal karena menyukai anda. Karena anda memang selayak ini disukai banyak orang. Dan selamat atas pernikahannya, saya ikut berbahagia meski hati saya agak terluka."


Gue tersenyum tulus. "Terima kasih juga, Ris. Saya percaya kamu bakalan dapet yang lebih baik dari saya. Karena saya nggak sebaik yang kamu lihat, pun juga nggak sesempurna yang kamu bayangkan."


"Bahagia terus sama dokter Mala ya, dok."

__ADS_1


Gue mengangguk. "Akan terus saya usahakan."


Tbc


__ADS_2