
*
*
*
Ohim mengerutkan dahi heran saat menyadari kedatangan Abbas yang seorang diri. Tumbenan sekali pria itu datang seorang diri, biasanya juga bersama sang pujaan hati. Batinnya heran.
"Alisa mana?"
Abbas menggeleng sebagai tanda jawaban. Mereka sedang berada di parkiran rumah sakit karena hendak menjenguk ibunda Agha, kebetulan mereka lumayan akrab jelas saja begitu mengetahui sang ibu dari sang sahabat, mereka langsung meluangkan waktu untuk mengunjungi bunda Agha.
"Enggak ikut dia, jadi gue sendiri. Ada urusan."
Ohim mengangguk paham dan tidak bertanya lebih lanjut soal Alisa yang tumbenan absen hadir bersama Abbas. Sejak meresmikan hubungan mereka, keduanya memang kerap dan nyaris tidak pernah absen datang berdua. Di mana ada salah satunya, pasti salah satunya lagi ada. Pokok sudah seperti mengalahkan pengantin baru yang kemana-mana maunya berdua.
"Oh, jadi gegara itu mula lo suntuk begitu?"
"Bukan. Lebih tepatnya karena gue lagi pusing."
"Pusing kenapa? Bukannya nyokap lo udah kasih restu?"
Abbas mengangguk untuk mengiyakan. Namun diiringi helaan napas berat tak lama setelahnya.
"Beliau pengen gue sama Alisa cepet-cepet nikah."
Ohim mengerutkan dahi tidak paham. "Bukannya itu bagus? Emang lo atau Alisa ada yang belum siap nikah?" tanyanya heran, "atau malah dua-duanya belum siap nikah?"
"Enggak, gue sama Alisa emang maunya secepatnya. Bahkan gue sama Alisa berencana nggak mau pake resepsi."
"Waduh," respon Ohim spontan.
Abbas langsung mengangguk dan mengiyakan. "Iya, itu dia masalahnya. Gue pusing banget deh, maksud gue gini. Kan gue cowok, kalau gue cewek sih wajar kalau seandainya nyokap gue kasian kalau semisal gue nggak ngerasain duduk di pelaminan. Tapi masalahnya gue ini cowok, nggak peduli soal resepsi, pelaminan dan lainnya. Gue bodo amat soal ginian, yang penting di otak kami pria sih jelas cuma nikah sah secara agama dan juga negara. Itu udah cukup. Bener kan?"
Di luar prediksi Ohim menggeleng tanda tidak setuju. "Enggak sih, bagi gue masih kurang," ucapnya lalu masuk ke dalam lift.
"Maksud lo?"
"Sebagai pria itu butuh bisa unboxing tanpa keganggu sama si merah sih. Bagi gue itu nggak kalah penting."
Abbas langsung mendengus kesal diiringi umpatan samar lalu ikut menyusul masuk ke dalam lift.
"Otak lo itu ya, Him!" decaknya sambil melayangkan pukulan ke udara, "bener-bener deh."
Ohim mengangkat kedua bahunya cuek. "Gue sih normal, nggak munafik. Jujur nih gue. Enggak kayak lo," cibirnya kemudian.
Abbas mengangguk cepat. "Oke, kita anggap saja begitu! Tapi kalau masalah resepsi dan lainnya, sebagai cowok kita nggak terlalu peduli kan?"
Kali ini Ohim mengangguk cepat. Sebagai seseorang yang lebih berpengalaman, ia setuju karena mengadakan resepsi pernikahan itu sangat melelahkan. Selain menguras emosi juga kadang saat menyiapkannya, menjalaninya juga cukup melelahkan baginya. Jadi kalau Abbas memilih untuk tidak memakai resepsi pernikahan, ia cukup setuju dengan ide tersebut.
"Selain karena malas, gue juga mikirin banyak hal. Tabungan gue kemarin nyaris ludes buat biaya lahiran Glorya, terus kalau gue siap nikahi Alisa, jelas gue harus beli rumah lah, Him, dan beli rumah di Jakarta kan butuh biaya yang gede."
__ADS_1
"Lah, kan Alisa udah ada rumah, lo juga ada apartemen."
Abbas menggeleng tidak setuju. "Enggak lah, gue nggak mau anak-anak gue nantinya tinggal di apartemen, lagian lo tahu sendiri ukuran apartemen gue. Terus untuk rumah Alisa, itu rumah pemberian mantan suaminya, Him, kalau lo lupa."
"Lo gengsi?"
Abbas berdecak. "Bukan masalah gengsi atau enggak, tapi masalahnya gue nggak bisa. Masuk ke rumahnya aja gue kalau boleh jujur ogah, karena keinget pas Alisa nangis dengan wajah putus asanya waktu itu. Jujur, gue sakit banget kalau inget, Him, jadi gue ogah kalau disuruh tinggal di sana. Lagian gue cowok, anjir, masa iya numpang?"
"Buset, kan Alisa nantinya bakal jadi istri lo juga, masa iya lo nyebutnya numpang? Enggak gitu lah, Bas."
Abbas tetap menggeleng tidak setuju. "Tetap saja gue mau beli rumah pake duit gue sendiri, toh, Alisa juga nggak pengen resepsi lagi karena dulu udah pernah."
Ohim tidak langsung merespon atau menjawab. Ia menatap pria itu sebentar lalu mengangguk ragu-ragu setelahnya.
"Tapi itu lo yakin Alisa-nya beneran nggak mau resepsi lagi. Meski udah pernah kan tetep aja beda, pasangannya beda. Konsepnya nanti beda, keluarganya juga beda. Enggak bermaksud menghasut ya gue, Bas, cuma nanya aja. Takutnya ntar sebenernya Alisa pengen cuma dia nggak enak bilangnya karena lo yang bilang dia udah pernah duduk di pelaminan." Ohim menghela napas sambil menepuk pundaknya, "sebenernya kalau masalah uang, gue ada kok kalau cuma buat resepsi doang. Uang tabungan lo bisa lo pake buat beli rumah dulu."
"Mau lo kasih gitu itu maksudnya?"
Ohim langsung tertawa. "Anjir, ya kaga lah, pinjem doang lah, ntar harus lo ganti kalau udah uang. Lo kata biaya resepsi cukup 10 juta. Gini, gini, gue tetep berdarah China kalau lo lupa," gerutunya kemudian.
Sambil terkekeh, Abbas mengangguk paham. "Iya, tapi thanks, ya, buat tawarannya. Gue cukup terharu dengernya karena itu tandanya lo peduli."
"Ya iya lah, gue peduli. Masa sama temen sendiri nggak peduli?"
Abbas kembali mengangguk sambil tersenyum lalu keduanya keluar dari lift.
*
*
*
Abbas langsung tertawa saat mendengar pertanyaan Alisa. Perempuan itu bahkan baru masuk ke dalam mobilnya, baru mau memasang seat beltnya tapi yang ditanyakan justru malah Bunda-nya Agha dan bukannya kabar dirinya. Bukan apa-apa, masalahnya ini Alisa baru pulang dari Malang setelah LDR selama lebih dari dua hari, dan malam-malam ia datang ke stasiun untuk menjemput perempuan itu, tapi yang ditanyakan justru orang lain.
"Kita abis LDR-an lho, Sa, masak yang kamu tanyain kabar Bunda Agha dan bukannya aku?" protes Agha kemudian.
Alisa tidak langsung menjawab. Perempuan itu memilih untuk memandang Abbas dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan seksama. Menurutnya tidak ada yang salah, terlihat baik-baik saja dan Abbas pun terlihat bugar.
"Kamu keliatan sehat kok," komentarnya kemudian.
"Tapi hati aku?"
Alisa menaikkan sebelah alis bingung. "Emang kenapa sama hati kamu?" tanyanya heran.
"Ya kangen dong, sayang. Pake segala nanya."
Alisa mendengus. "Udah buruan jalan, aku capek banget pengen cepet-cepet istirahat. Pegel banget rasanya badan aku."
Abbas menurut, langsung menyalakan mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan stasiun.
"Ya siapa suruh kamu naik kereta? Aku kan udah suruh kamu naik pesawat aja, kamu sih ngeyel."
__ADS_1
"Sayang duit lah, Bas, Jakarta-Malang kan deket. Aku cuma dosen bukan Ceo macem kamu atau Ohim. Jadi mending naik kereta lebih murah."
"Tapi kan lebih efisien kalau naik pesawat, Sa, lebih cepet dan nggak terlalu bikin kamu-nya capek. Itu loh maksud aku, kalau masalah harga, sekarang mah jaman udah canggih, tiket pesawat nggak semahal dulu, apalagi banyak diskon-diskon gitu. Jadi, menurut aku harusnya kamu naik pesawat lah. Lagian aku yakin uang dosen macem kamu jauh lebih banyak ketimbang uang Ceo macem aku."
Alisa menaikkan alis heran. "Kenapa kamu bisa mikir gitu?"
Abbas merespon dengan mengangkat kedua bahunya.
"Oke, skip, terserah kamu mau mikir gimana. Sekarang kamu jawab dulu itu kondisi Tante Ayu, aku nggak enak deh karena nggak ikut jenguk beliau."
"Enggak papa, kapan-kapan aku temenin jenguknya. Beliau udah dioperasi, masih keliatan lumayan seger sih kalau menurut aku, Sa, untuk ukuran orang sakit. Beliau juga keliatan lebih ceria ketimbang Om Randu. Aku malah kadang kayak ngerasa yang sakit Om Randu. Soalnya kan biasanya Om Randu cerewet pol kan, suka bercanda gitu-gitu, eh, sekarang kayak banyak diem gitu, jadi malah kayak keliatan sakit."
"Sedih itu pasti, Bas, kan istrinya sakit, kanker pula pasti kepikiran lah. Takut kenapa-kenapa gitu."
"Iya juga sih, kan kita tahu banget Om Randu bucin parah sama Tante Ayu. Enggak kebayang kalau nanti semisal Om Randu yang ditinggal duluan, pasti beliau sedih banget tuh."
"Pasti lah. Terus Agha gimana kondisinya? Kasian juga ya, dia, kemarin abis jagain Mala terus karena kandungannya lemah, eh, sekarang malah Bunda-nya kena kanker."
Abbas manggut-manggut sambil mengiyakan. Meski pekerjaan Agha di rumah sakit dan memudahkan pria itu mengunjungi sang Bunda sewaktu-waktu, tapi pada kenyataannya tidak semudah itu.
"Iya, kasian banget, Sa. Kemarin gue ketemu sebentar sih, soalnya dia ada emergency call jadi pas gue ke sana, dia udah langsung cabut. Tapi emang dia keliatan capek banget sih, ya soalnya beda sama Om Randu yang bener-bener fokus sama Tante Ayu dan udah ninggalin kerjaan. Tapi kan kalau Agha masih harus sibuk ini-itu, jadi dia emang keliatan capek. Aku perhatiin makin kurus aja dia. Kasian."
Alisa mengangguk paham. "Ya, dia pasti kepikiran lah, kurang tidur, kurang istirahat, makan juga pasti udah nggak kayak biasanya."
Abbas ikut mengangguk tapi tidak memberi komentar. Keduanya hening selama beberapa saat sebelum akhirnya, ia menoleh ke arah Alisa.
"Kita gimana ya, Sa?" tanyanya tiba-tiba.
Alisa mengerutkan dahi bingung. "Hah? Gimana apa maksudnya?"
"Nikahnya. Menurut kamu, kita perlu resepsi pernikahan nggak sih?"
"Bukannya kita udah bahas ini sebelumnya?" Alisa balik bertanya.
Abbas menggaruk kepalanya salah tingkah lalu meringis tipis. "Ya, nggak papa, pengen nanya aja lagi. Menurut kamu resepsi jangan?"
"Enggak usah."
"Yakin nggak usah?"
"Kamu pengen?"
Abbas menggeleng cepat.
Alisa tersenyum. "Ya udah, berarti jawabannya udah jelas kan?"
Sambil tersenyum Abbas mengangguk dan mengiyakan. Hatinya bertambah bahagia saat telapak tangan Alisa tiba-tiba menyusup ke telapak tangannya. Ia menoleh sebentar lalu keduanya tertawa bersama.
"Makasih, Sa," ucapnya tulus sambil mengecup punggung tangan sang kekasih.
Tbc,
__ADS_1