Married With My Besti

Married With My Besti
AA Couple Story 6


__ADS_3

*


*


*


"Apaan sih?" decak Alisa sebal. Ia baru saja keluar dari kamar, tapi sang suami tiba-tiba menyuruhnya masuk kembali.


"Ganti!"


"Pakaian aku sopan kok," sahut Alisa tidak terima. Dress bunga-bunga yang ia kenakan panjangnya di bawah lutut, lalu untuk bagian lengannya pun seperemat lengan. Tidak ada potongan aneh-aneh pada punggung maupun leher dress tersebut. Lalu di mana letak salahnya?


"Heels kamu yang jadi masalah, Sa. Ayo, buruan ganti!"


"Emang kenapa? Kaki aku udah sembuh loh, Bas. Jangan mulai!"


Jujur, kalau sedang mode begini Alisa mulai malas menghadapi kelakukan sang suami. Karena menurutnya terkadang sikap berlebihannya tidak tahu tempat. Ya, seperti sekarang.


Abbas menggeleng tegas lalu menyuruh sang istri agar mengganti sepatunya. Alisa masih diam tak bergeming, tatapan matanya terlihat tidak suka, kedua tangannya pun menyilang di depan dada.


"Pilih ganti atau nggak jadi pergi."


Nada bicara Abbas terdengar seperti sedang mengancam, meski menurut Alisa sendiri itu tidak terdengar seperti ancaman sama sekali. Perempuan itu bahkan mendengus.


"Enggak jadi pergi juga malah bagus," gumamnya kemudian.


Samar-samar Abbas mendengarnya. Ia menghela napas sambil menatap sang istri dengan ekspresi seriusnya.


"Kalau kamu emang keberatan pergi, tinggal bilang, Sa! Kita bisa kok nggak usah pergi. Mau pacaran aja? Ayo! Mau ke mana aja aku turutin, asal jangan ke luar kota. Soalnya besok aku ada rapat penting. Asal deket-deket boleh kok."


Kini giliran Alisa yang menghela napas. Perempuan itu kemudian duduk di tepi ranjang dan melepas heels-nya.

__ADS_1


"Ya, kamu nggak keberatan tapi anggota keluarga kamu yang lain? Yang ada ntar pasti mereka nyindir-nyindir aku kalau pas ketemu, terus nanti mereka bakalan bilang kalau setelah nikah sama aku, kamu jadi nggak mau kumpul-kumpul begitu." Alisa mendengus, "yang bener aja. Enggak, males banget aku. Udah cukup ya mereka memandang sebelah mata status janda yang pernah aku sandang. Aku nggak terima kalau harus diperlakukan begitu."


Abbas menatap sang istri dengan tatapan bersalahnya. Ia kemudian melangkah agar lebih dekat sang istri. Helaan napas panjang terdengar tidak lama setelahnya.


"Nikah sama aku berat ya, Sa?"


Alisa kemudian berdiri dan meletakkan heels-nya ke rak sepatu lalu mencari pengganti untuk heels-nya.


"Namanya pernikahan memang berat, Bas, mau dijalani sama orang yang tepat atau enggak tetep aja berat, enggak kerasa berat kalau kitanya nggak dikit-dikit ngeluh. Lagian namanya hidup, nggak ada yang mudah, kadang di bawah kadang di bawah banget kan? Kadang di atas kadang juga di atas banget. Ya begitu lah hidup. Udah lah, ayo, buruan kita langsung gas berangkat! Daripada ntar telat kena nyinyiran keluarga kamu yang maha benar itu deh."


"Sa," panggil Abbas dengan nada sedikit tersinggung.


Alisa meringis tidak enak. Sepertinya ia mulai merasa bersalah karena mungkin saja kalimatnya barusan sedikit keterlaluan.


"Maaf kalau kalimat aku tadi keterlaluan, Bas. Aku cuma bercanda sebenernya, kamu nggak usah pasang muka yang begitu banget lah, yang maha benar nggak cuma keluarga kamu kok tapi banyak manusia lainnya. Kadang aku juga gitu kan?"


Sambil terkekeh, Abbas mengangguk dan mengiyakan. "Kalau kamu lumayan sering sih."


*


*


*


"Nah, ini dia tamu spesial yang ditungguin dari tadi."


Abbas hanya mampu memasang wajah datarnya, sedang Alisa jelas harus memasang senyum terbaiknya.


Setidaknya itu yang ada di pikirannya. Menurutnya ia harus menjadi manusia paling ramah kalau tidak ingin mendapat perlakuan julid dari anggota keluarga Abbas. Kalau dulu, ia masih bisa bersikap sesuka hatinya saat berada di lingkup keluarga mantan suami, tapi tidak dengan sekarang.


"Iya, tadi jalanan agak macet,'" ujar Alisa mencari alasan. Mereka tidak sepenuhnya berbohong, karena tadi mereka sempat terjebak macet meski hanya sebentar.

__ADS_1


"Gimana, udah isi?"


Alisa ingin sekali meremas bibir wanita berisi yang kini sedang menggendong balita. Serius, ia sangat emosi saat harus menghadapi saudara sepupu Abbas yang satu ini. Padahal kata Abbas perempuan ini hanya sepupu ipar saja. Tapi sikap menjengkelkannya itu loh sering kali terkesan tahu segalanya atau bahkan tak jarang, perempuan itu akan bersikap bahwa ia sangat mengenal Abbas dengan baik. Padahal dibandingkan perempuan itu, dirinya jelas lebih mengenal sang suami dengan sangat baik. Karena mau bagaimanapun ia dan Abbas berteman sejak keduanya duduk di bangku SMA.


Sebenernya ia sudah hampir terbiasa dengan pertanyaan seperti demikian, yang membuatnya kesal. Harus banget ya ditanyakan sebelum basa-basi dulu, bahas apa gitu kek, tanya kabar atau apa gitu lah. Mau bagaimanapun tetap saja itu adalah pertanyaan yang cukup sensitif.


"Udah lah. Gue nikahin anak orang ya kali nggak gue kasih makan," sahut Abbas dengan wajah tidak bersahabatnya.


Perempuan itu langsung merespon dengan tertawa sarkas. "Hahaha, gila sensi banget lo, Bas, kan gue nanya baik-baik."


"Ya itu menurut lo pribadi, menurut orang lain ya mana tahu kan. Kita nggak pernah tahu sebenernya isi hati mereka kayak apa loh, meski ekspresinya terlihat tersenyum."


Alisa langsung mencubit sang suami, mengkode pria itu agar tidak terlalu bereaksi secara berlebihan. Tapi sepertinya ia sudah terlanjur kesal. Sejujurnya ia sudah cukup bersalah mengajak perempuan itu untuk kemari, ia menjadi semakin bersalah karena baru sampai tapi Alisa sudah diperlakukan demikian. Meski untuk beberapa orang sebagian adalah hal yang wajar, tapi bagi Abbas tidak.


Suasana pun berubah sedikit kurang nyaman. Tak ingin membuat suasana makin tidak nyaman, Alisa lalu mengajak sang suami untuk mencari keberadaan sang ibu. Tentu saja setelah meminta maaf terhadap sepupunya barusan. Yang jelas saja langsung mendapat protes dari sang suami.


"Lain kali nggak usah begitu lah, Bas," tegur Alisa merasa sungkan. Sekesal-kesalnya ia terhadap sepupu Abbas, ia tidak enak kalau suaminya sampai bersikap demikian.


Abbas mendengus. "Kamu yang jangan begitu. Orang macem mereka tuh sesekali harusnya dikasih pelajaran biar kapok."


Alisa garuk-garuk kepala bagian bawahnya salah tingkah. "Ya aku tahu, emang sepupu ipar kamu yang ini nyebelin abis--"


"Tuh, kamu aja udah ngakuin kok," potong Abbas tidak terima.


Alisa mendengus. "Bentar dulu. Aku belum selesai ngomong," decaknya sedikit kesel, "kebiasaan banget deh orang belum selesai ngomong juga asal dipotong aja. Maksud aku meski dia nyebelin tapi kan nggak seharunya kamu bersikap demikian, apalagi kan cuma nanya udah isi belum doang."


"Ya karena aku udah hentikan niat lanjutan dia, coba kalau enggak tadi, udah pasti merembet kemana-mana pasti."


"Ya kan intinya belum."


Abbas menatap sang istri datar. "Ini kita masih ada di luar, kamu jangan mancing aku bisa kali, Sa. Nanti bisa kok dilanjut di rumah. Sekarang mending kita sapa tamu yang lain," ajaknya kemudian. Ia menarik sebelah tangan sang istri lalu mengajaknya menuju kerumunan yang lain. Alisa sendir hanya mampu pasrah ditarik sang suami.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2