Married With My Besti

Married With My Besti
Merasa Bersalah


__ADS_3

Gue berniat segera meninggalkan area rumah sakit. Namun, saat gue baru keluar dari gedung tidak sengaja gue bertemu dengan Ferdi, salah satu rekan sejawat cuma beda spesialis. Dulu kami bahkan sempat satu kelompok pas masih jaman koas.


"Halo, bro, mau ke mana nih?" sapanya sambil mengangkat tangannya.


"Cari sarapan."


Ferdi langsung tertawa. "Jam segini baru nyari sarapan," ledeknya kemudian, "tadi pagi nggak dimasakin bini apa gimana lo?"


"Dapet emergency call gue tadi, njir, ada operasi cito pagi-pagi. Dan ini baru sempet keluar nyari sarapan. Bini gue sih tadi udah nawarin buat dibawain, cuma gue tolak."


"Kenapa? Masakan Mala nggak enak?" selorohnya sambil terbahak.


"Sembarangan! Enak lah, syukur alhamdulillah kemampuan Mala nggak seburuk itu buat urusan dapur," ucap gue tidak terima.


"Terus gimana kalau urusan ranjang?" godanya sambil berbisik. Kedua matanya naik-turun sambil terkekeh.


Gue langsung tersenyum jumawa sambil mengacungkan dua jempol gue. "Oh, kalau itu nggak usah lo raguin. Dan yang perlu gue raguin kayaknya kemampuan lo deh," balas gue meledeknya, "udah nikah 2 tahun lebih tapi bini lo kenapa nggak hamil-hamil deh. Dih, kalah lo sama gue."


"Sialan," Ferdi langsung mengumpat kesal, "kalau itu beda cerita, njir! Gue sama bini gue emang nunda kehamilan, gegara dia mau fokus ke S2-nya."


Gue langsung terbahak. Sebenarnya gue tahu juga alasan ini, makanya gue berani ngegodain dia soal ini. Karena nggak mungkin gue berani nanya gituan apalagi ngegodain, kalau mereka nggak nunda kehamilan. Mau bagaimanapun ini tetap pertanyaan sensitif.


"Belum kelar ya emang?"


"Udah sih, tinggal nunggu wisuda bulan depan."


Gue langsung menepuk pundaknya. "Widih, langsung gas program dong abis ini?"


Ferdi mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Enggak tahu juga nih, belom sempet ngomongin ini lebih lanjut. Katanya doi pengen lanjut S3 juga soalnya. Tahu lah, pusing juga gue lama-lama."


Gue meringis canggung. "Waduh, yang sabar aja ya, bro. Pasti nanti ketemu jalan keluarnya kok."


"Iya. Lo juga ya."


Gue mengerutkan dahi gue bingung. "Lah, emang gue kenapa?"


"Mala maksud gue," koreksi Ferdi tapi masih bikin gue bingung.


"Ohh, dia setelah nikah sama gue jinak kok. Udah nggak kayak dulu pas jaman masih bestie."

__ADS_1


"Bukan itu, maksud gue, soal kondisi Mala yang barusan. Lo yang sabar ya, kalau ngadepin bini agak keras kepala, GWS juga buat bini lo."


Gue masih loading.


"Lah, emang bini gue kenapa sampe lo GWS-in?"


"Lah? Lo belum tahu?"


Gue menggeleng seperti orang bodoh. Cepat-cepat gue merogoh kantong celana gue dan mengeluarkan ponsel dari dalam sana. Mengecek apakah gue melewatkan pesan dari Mala.


Enggak kok. Dia nggak ada ngabarin apa-apa. Ini si Ferdi lagi ngibulin gue apa gimana?


"Gue barusan chatan sama Mala, dia nggak ngabarin apa-apa tuh. Lo jangan bercanda, njir!"


"Lah, gue bercanda apaan? Kaga, gue serius. Tadi gue ketemu Mala di di dalem, lagi tiduran di brankar, sama bokap lo juga. Jadwal praktek bokap lo di RS sini bukannya cuma senin sama selasa? Ini Rabu, Gha, ngapain bokap lo di sini kalau bukan buat cek kondisi bini lo?"


Melihat ekspresi serius Ferdi, gue langsung mengangguk paham dan pamit pergi. Astaga, gue bahkan lupa bilang makasih karena udah dikasih tahu.


Langkah kaki gue sedikit terburu-buru saat memasuki IGD. Gue mencari-cari keberadaan Mala dengan panik.


Untungnya tidak butuh waktu lama gue akhirnya menemukan Mala. Dia ditemani Bunda. Gue langsung berlari menghampiri mereka.


Mala terlihat kaget dengan keberadaan gue.


Gue menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan. Oke, gue nggak boleh marah sekalipun pengen banget marah. Gue harus bisa tahan emosi.


"Harusnya aku yang tanya, La. Kenapa kamu ada di sini? Dan kenapa nggak ngabarin aku? Kenapa, La? Apa emang kamu nggak nganggep aku suami kamu?" Nada bicara gue terdengar sarkas.


Bunda langsung memukul lengan gue pelan. "Dek, nggak boleh gitu ngomongnya! Mala bukannya nggak mau kasih kabar, cuma kan tadi kamu lagi ada operasi."


"Tapi kan bisa, Bun, langsung ngabarin setelah operasi."


Gue merengut menahan kesal. Mau bagaimanapun gue ini kan suami Mala, Ayah dari janin yang dia kandung. Masa ia gue nggak langsung dikabarin?


"Niatnya emang gitu, tapi kan kamu belum sempet makan dari tadi pagi, Gha, tadi kamu sendiri yang bilang kan kalau laper juga. Jadi aku mau ngabarin ya nunggu kamu kelar makan dulu. Sekarang gimana, kamu udah makan belum? Jangan bilang kamu belum sempet makan?"


Kini giliran Mala yang menatap gue sedikit tajam. Gue langsung memalingkan wajah untuk menghindarinya.


"Astaga, Agha."

__ADS_1


"Iya, iya, nanti abis ini aku langsung makan. Kamu kondisinya gimana? Kata Ayah gimana? Bayi kita nggak papa kan? Dia baik-baik aja kan?"


"Iya, dia baik-baik aja. Aku nggak papa, cuma kecapekan dikit. Tadi pagi aku sempet flek--"


"Kenapa nggak bilang dari awal?" potong gue dengan wajah kesal.


"Kan kamu dapet emergency call, gimana aku ngomongnya?"


Oh iya, gue lupa.


"Udah lah, intinya aku nggak papa, bayi kita juga baik-baik aja. Masalah selesai kan?"


"Ya nggak semudah itu lah," sahut gue kesal, "kamu bikin aku ngerasa bersalah tau. Jadi kayak suami yang nggak berguna--"


"Gha," panggil Mala dengan wajah datarnya.


Gue agak ngeri kalau Mala udah dalam mode begini. Cepat-cepat gue langsung minta maaf.


"Iya, iya, maaf."


"Enggak papa, Gha, kata Ayahmu Mala cuma butuh bed rest sehari atau dua hari cukup kok." Bunda kembali membuka suara sambil mengelus lengan gue.


"Mau ambil cuti hamil sekalian apa gimana?" tawar gue pada Mala.


Mala langsung berdecak tidak suka. "Gha, please!"


"Gue cuma mau yang terbaik buat kalian, La, emang salah?"


"Salah. Karena yang terbaik versi lo belum tentu berbaik buat gue juga, Gha. Kamu nggak bisa banget ya hargai keputusan aku?"


"Kenapa malah jadi berantem sih?" Bunda memandang gue dan Mala secara bergantian, "Bunda tahu ini bukan kapasitas buat Bunda ikut campur. Tapi bisa nggak kalian tahan ego masing-masing? Terutama buat kamu, Gha, istri kamu baru aja abis pendarahan. Kondisinya lagi kurang fit, kamu jangan marah-marah terus bisa nggak sih?"


"Iya, Bun, maafin Agha." Gue merengut kesal lalu menatap Mala, "maafin aku juga ya, La, marah-marah terus. Kayaknya efek laper deh makanya aku sensi banget."


"Ya, makanya makan dong Agha Altair Kalandra, astaga!"


"Hehe, iya, sayang."


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2