Married With My Besti

Married With My Besti
Berasa Kena Prank


__ADS_3

*


*


*


"Gha, hape kamu! Berisik!" decak Mala sambil menarik selimut bagian gue.


Gue ikut berdecak lalu menarik selimut itu kembali setelah meraba-raba dan mencari keberadaan ponsel gue. Masih dengan kedua mata yang enggan terbuka, gue menjawab panggilan tersebut.


"Hm," respon gue seadanya. Gue merapatkan diri, mendekat ke arah Mala untuk mencari kehangatan.


"Gha, ini gue."


Oh, ini suara Ohim.


"Ya?" gue garuk-garuk dagu masih dengan kedua mata terpejam.


"Lo nggak dinas?"


"Weekend nih, ya kali spesialis dinas malam di hari weekend. Bercanda aja lo! Di rumah nih gue, lagi kelon sama istri." gue semakin merapatkan diri ke tubuh Mala sambil memeluk pinggang rampingnya.


"Gha, tangan kamu," omelnya kemudian.


Gue langsung melepaskan pelukan gue. "Ada apa sih? Ganggu aja lo! Enggak tidur lo? Jam berapa sih ini?"


"Bini gue mau lahiran nih, ya kali mau tidur."


"Oalah, Rumi mau lahiran? Pantesan, gue kemarin pas Mala terpaksa melahirkan sebelum waktunya juga nggak bisa tidur sih, si Kai pas udah lahir aja, gue juga masih susah tidur."


Mala tiba-tiba mengubah posisinya sehingga menghadap gue lalu bertanya, "Siapa uang mau lahiran, Gha?"


"Rumi, La. Arumi, istri Ohim," balas gue setengah mengantuk. Detik berikutnya gue kemudian baru tersadar lalu bangun dari posisi rebahan secara reflek, "hah? Rumi mau lahiran? Bini lo udah mau lahiran, Him?" seru gue kemudian. Karena saking kagetnya gue sampai tidak mengontrol nada suara gue, sehingga suara yang gue keluarkan cukup membuat Kai terbangun lalu menangis kencang.


Mala tentu saja langsung mengomel. "Bagus, teriak-teriak aja kayak di hutan, lupa kalau udah punya anak?" sindirnya sambil memukul gue. Ia berdecak lalu berlari kecil menghampiri box bayi untuk menenangkan Kai.


Gue meringis karena merasa bersalah. "Maafin Papa ya, sayang," bisik gue menyesal.


"Gha, lo kenapa malah jadi asik sendiri gitu sih? Ini nasib gue gimana?"


Suara Ohim kembali terdengar. Oh iya, gue masih telfonan sama Ohim.


"Iya, gimana, Him? Sorry, sorry, anak gue bangun tadi. Gue kaget banget buset, ini seriusan istri lo udah mau lahiran?"


"Ya kalau masalah itu gue mana paham. Lo mending ke rumah gue deh sekarang, bantuin gue, anjir, gue panik banget ini. Rumi ngeluh sakit terus, mau gue telfonin Umi, tapi Umi nggak lagi di Jakarta lagi di Semarang. Nyokap gue bahkan nggak ada di Indo, harapan gue tinggal lo, bro, karena selain karena lo dokter, lo juga udah berpengalaman soal istri yang melahirkan."


"Enggak juga sih menurut gue," balas gue kemudian, "kan dulu Mala lahirannya dadakan karena kondisi yang tidak memungkinkan, bukan karena udah waktunya melahirkan. Jadi gue belum seberpengalaman itu."


"Sama aja, intinya lo udah punya bini, dan bini lo udah pernah melahirkan. Buruan lo ke sini, gue soalnya nggak tahu harus ngapain."


Gue menoleh ke arah Mala yang masih berusaha menenangkan Kai. Anak gue masih menangis dan belum mau tidur lagi. Masa gue tinggal?


"Duh, Him, ini si Kai kayaknya agak rewel deh, belum mau tidur lagi nih. Masa gue tinggal?"


"Terus nasib gue sama Rumi sekarang gimana? Gue mau langsung ke rumah sakit berdua nggak berani, Gha, serius."


Kening gue mengkerut spontan. "Enggak berani gimana maksudnya?" tanya gue heran.


"Gue posisinya lagi panik, takut malah kenapa-kenapa di jalan. Lo bantuin gue dong, Gha! Anak lo masih rewel?"

__ADS_1


Gue menoleh ke arah Mala. Sekarang Kai sudah jauh lebih tenang, dia mulai terlelap nyaman di pundak Mala.


"Udah tidur lagi sih, bentar gue nanya Mala dulu." gue kemudian berjalan mendekat ke arah Mala sambil menjauhkan ponsel gue dari telinga lalu berbisik, "La, aku ke rumah Ohim bentar boleh nggak?"


"Ngapain? Kata kamu tadi Rumi udah mau lahiran kenapa nggak langsung ke rumah sakit aja?"


"Ohim nggak berani nyetir sendiri, ini dia sekalian minta aku buat setirin dia. Boleh nggak? Kai rewel lagi nggak ntar kira-kira?"


Mala baru mengangguk paham setelah mendengar penjelasan gue. "Oalah, ya udah kamu langsung ke rumah Ohim kalau gitu. Kasian Rumi-nya ntar nunggu kelamaan."


"Kamu nggak papa sendirian di rumah?"


"Kok sendirian? Kan ada Kai, Gha, jadinya berdua dong," koreksi Mala.


Gue meringis malu sambil menepuk dahi. "Oh iya, kan udah Kai." gue kemudian kembali menempelkan ponsel pada telinga, "bro, bisa, bro, gue siap-siap bentar lagi otw. Lo siapin semuanya juga, ya, biar ntar begitu gue sampai kita langsung cus berangkat."


"Yang perlu disiapin apa?" tanya Ohim bingung.


"Ya, keperluan bayinya. Kek selimut bayi, baju new born buat anak lo, sama keperluan yang lain, baju buat istri lo jangan lupa."


"Oke, gue siapin dulu semuanya kalau gitu. Lo buruan ke sini, jangan pake lama."


"Iya."


Setelahnya, gue langsung mematikan sambungan telfon dan bergegas untuk bersiap-siap.


"Aku berangkat dulu, ya, ntar kalau ada apa-apa langsung kabarin."


Mala mengangguk paham. "Hati-hati nyetirnya yang penting sampai tujuan dengan selamat."


"Dan cepat," sambung gue mendekat ke arah Kai, berniat mencium kening putra kami, tapi Mala tidak mengizinkannya. Ia langsung memukul pundak gue keras, sehingga membuat gue mengaduh sakit.


Gue merengut sedikit. "Ya udah, iya, iya, aku berangkat." gue berniat langsung keluar dari kamar, namun, tepat saat memegang handle pintu, gue kemudian berbalik, "kalau cium Mama-nya boleh nggak?"


Mala berdecak sambil melotot kesal. "Berangkat sekarang atau aku lempar sandal?"


Tanpa perlu repot-repot membalas, gue langsung berlari keluar dari kamar dan memutuskan untuk berangkat ke rumah Ohim.


*


*


*


Gue spontan melongo saat menemukan ada koper ukuran besar berada di ruang tamu rumah Ohim. Fokus gue seketika langsung teralihkan. Gue menatap Ohim dengan sebelah alis terangkat tinggi.


"Lo mau minggat?" tanya gue heran.


"Lah, bukannya lo bilang bawa semua keperluan baby sama istri gue? Ya ini gue udah bawain, masih kurang?"


Saking gemasnya gue ingin sekali menjitak kepala Ohim, tapi melihat Arumi yang terlihat begitu kesakitan membuat gue tidak tega. Lalu mengajak mereka untuk langsung berangkat.


"Lo yakin ini semua nggak berlebihan?" tanya gue memastikan sebelum kami benar-benar berangkat.


"Gue rasa sih enggak, dulu lo bawa apa aja buat persiapan?"


Gue langsung menggeleng sebagai tanda jawaban. "Bro, gue nggak ada persiapan, gue aja kemarin pas lagi di rumah sakit kok, ya kali nyiapin ini-itu. Nggak sempet lah."


"Ya udah, kalau gitu berarti lo nggak tahu. Langsung berangkat aja!"

__ADS_1


Gue tidak protes setelahnya, hanya mengangguk pasrah lalu mendorong koper besar milik Ohim.


"Lo udah hubungi dokter kandungan kalian?" tanya gue begitu kami masuk ke dalam mobil.


"Enggak. Emang harus?"


Gue menghentikan niatan gue untuk memakai seat belt dan menatap Ohim dan Rumi yang keduanya duduk di bangku belakang. Jujur, gue bingung mau jelasinnya.


"Ya udah, ayo lah, berangkat, ntar langsung diurus di sana."


"By the way, dokter kandungan gue itu bokap lo sih."


Gue tidak merespon lebih selain hanya mengangguk paham. Begitu sampai di rumah sakit, gue langsung mengurus administrasi dan lainnya sementara Arumi langsung ditangani. Begitu kelar mengurus semuanya, gue langsung mencari mereka untuk mengetahui kondisi Rumi.


"Gimana?" tanya gue pada Ohim.


Pria itu menggeleng. "Enggak tahu, masih dicek."


Gue mengangguk paham lalu merogoh saku celana. Mengeluarkan ponsel dari dalam sana lalu memainkannya, ternyata memang ada pesan singkat dari Mala.


Wifei ❤️ : gimana Rumi?


Anda : belum tahu, masih dicek dokter, Kai gimana? Rewel gk?


Wifei ❤️ : enggak, udah tidur anteng


Wifei ❤️ : sent a picture


Anda : mama-nya gk pap sekalian?


Hening, tidak ada balasan. Gue memilih untuk kembali memasukkan ponsel ke dalam saku karena dokter yang memeriksa kondisi Rumi datang menghampiri Ohim.


"Gimana, dok?"


Pram tersenyum tipis untuk menyapa gue. Kebetulan dia pernah jadi junior gue sama Mala.


"Bapak tidak perlu khawatir karena Ibu Arumi baik-baik saja, bayinya juga sehat. Abis ini bisa langsung pulang," ucap Pram menjelaskan.


"Lah, belum mau melahirkan, Pram?"


"Belum, dok, Ibu Arumi hanya mengalami kontraksi palsu, belum ada pembukaan."


"Oh." gue manggut-manggut paham.


"Kalau gitu saya permisi dok, mari!"


Gue mengangguk dan mempersilahkan Pram pergi.


"Maksudnya gimana itu, Gha?"


"Bini lo belum mau lahir, anak lo belum pengen keluar jadi sekarang mending pulang. Ayo, buruan, pulang!"


"Maksudnya kontraksi palsu?"


"Ya, kontraksi yang mirip kayak orang mau melahirkan padahal belum mau melahirkan. Gitu."


"Terus lahirannya kapan?"


"Ya gue nggak tahu pasti, ntar nunggu kontraksi beneran, Ohim. Udan, ayo, pulang!" ajak gue kemudian.

__ADS_1


Udah dibangunin tengah malem, jauh-jauh nyetir, nyamperin rumah Ohim, nganterin mereka ke rumah sakit, eh, tahunya malah ternyata cuma kontraksi palsu. Berasa kena prank deh gue.


__ADS_2