Married With My Besti

Married With My Besti
Apa Semua Baik-Baik Saja?


__ADS_3

*


*


*


Mala seketika langsung mengubah ekspresinya menjadi secerah mungkin saat menyadari kehadiran sang suami.


"Hai, gimana operasinya lancar?" tanyanya berbasa-basi.


Agha memang baru saja selesai melakukan operasi, pria itu bahkan belum mengganti pakaiannya dan langsung bergegas kemari untuk melihat kondisi sang istri. Karena kondisi Mala masih dalam tahap pemulihan, ia memang sengaja menyempatkan bolak-balik ke sana untuk mengecek kondisi Mala sendiri.


"Loh, Mama atau Bunda ke mana?" tanya Agha heran.


Pria itu kemudian celingukan mencari keberadaan Bunda dan mertuanya atau siapapun yang bertugas menemani Mala. Padahal ia sudah mewanti-wanti anggota keluarganya agar selalu menemani sang istri. Tapi saat ia sampai di sana, justru tidak ada siapapun selain Mala sendiri. Ia berdecak kesal tak lama setelahnya.


"Kok kamu sendirian?" tanyanya heran.


Cklek!


Tak lama setelahnya pintu kamar mandi terbuka, lalu Yana keluar dari sana. "Apa? Mama abis dari kamar mandi, kamu pikir Mama tega gitu ngebiarin Mala sendirian dengan kondisi begini?" ketusnya kemudian.


Agha meringis malu. "Hehe, iya, kirain Mala sendirian."


Yana mendengus. "Dasar! Ngapain kamu ke sini bukannya ngurus pasien kamu?"


Agha tersenyum. "Ya, namanya istri lagi sakit, Ma, ya diurus juga dong, masa pasien terus yang dipikir." ia kemudian menoleh ke arah sang istri, "iya, nggak, La?"


Di luar dugaan, Yana kembali mendengus. "Ya siapa tahu kamu kayak Papa mertua kamu."


Mendengar Papa mertuanya tiba-tiba disebut, Agha langsung melirik Mala. Bibirnya bergerak seraya bertanya 'kenapa' tanpa perlu mengeluarkan suara.


"Biasa," balas Mala tanpa mengeluarkan suara juga.


Yana langsung melotot tajam ke arah putri dan menantunya. "Kalian lagi ngomongin Mama ya?" tuduhnya kemudian.


Agha menggeleng cepat sambil mengibaskan kedua telapak tangannya. "Enggak kok, siapa juga yang lagi ngomongin Mama? Orang kita diem aja. Iya kan, La?"


Mala tidak menjawab dan hanya terkekeh sebagai respon.


Yana mendengus. "Kamu ke sininya lama apa bentar doang?


"Kenapa emang, Ma?" Agha balik bertanya.


"Mama mau keluar sebentar, ke mini market depan kalau ada kamu kan istrimu bisa Mama tinggal."

__ADS_1


"Oh, kalau Mama mau keluar dulu nggak papa," Agha meraih ponselnya untuk mengecek jam, "biar aku yang jaga Mala, aku masih free sampai setengah jam-an lagi kok, Ma. Aman." ia kemudian mengacungkan jempolnya.


Yana mengangguk paham lalu meraih dompetnya dan pamit pergi.


"Hati-hati, Ma," pesan Agha sebelum sang mertua meninggalkan kamar inap.


Yana tidak banyak berkomentar, perempuan paruh baya itu hanya mengangguk diiringi dengusan samar.


Agha kemudian duduk di kursi samping ranjang. "Gimana keadaan kamu, La? Mau pulang kapan?"


"Sore ini kalau bisa. Aku udah kangen Kai, Gha. Dia kenapa nggak diajak ke sini sih?"


"Kai masih kecil, La, kasian kalau keseringan diajak ke sini. Lagian Kai lagi seneng banget main sama Abbas."


"Tapi katanya semalem dia nyariin aku?"


"Iya, namanya bocah kalau nggak nyari ibunya mau nyari siapa lagi?"


"Iya juga sih." Mala mengangguk dan mengiyakan.


"Kamu seriusan udah ngerasa sehat? Mau pulang sore ini beneran?"


"Iya, Gha, udah bosen tahu. Kamu mah enak, bisa pergi sana-sini, lha aku? Cuma bisa baringan di tempat tidur. Capek banget loh, Gha, aku juga pengen aktif lagi kayak sebelum-sebelumnya."


"Mau liburan bertiga nggak?" tawar Agha membuat Mala tiba-tiba mengerutkan dahi heran.


"Ya nggak papa, buat refreshing gitu. Ibarat kata healing lah, move on dari yang udah-udah. Gimana?" tawar Agha.


Di luar dugaan, Mala justru menggeleng sebagai tanda jawaban. "Kayaknya enggak dulu deh."


"Kenapa?"


"Belum mood aja gitu, takut mubazir, ntar bukannya seneng-seneng malah cuma ngabisin uang doang. Next time aja ya?"


Agha menghela napas pendek. Telapak tangannya kemudian menggenggam telapak tangan sang istri. "Kamu masih belum bisa ikhlasin adik Kai ya, La?"


Tanpa ragu Mala langsung mengangguk dan mengiyakan. "Udah, Gha, insha Allah aku udah ikhlas kok. Memang mungkin ini rencana yang lebih baik, toh, dia hadir tanpa kita rencanakan, jadi nggak seberat itu kok mengikhlaskannya." ia mencoba untuk tersenyum saat mengatakan kalimat tersebut.


Meski demikian, Agha merasa seperti ada yang mengganjal. Menurutnya Mala kurang jujur terhadapnya dan hanya berpura-pura tegar. Padahal ia yakin kalau istrinya ini pasti sangat terpukul.


"Kenapa nggak jujur aja sih, La?"


"Kenapa?" Mala balik bertanya dengan ekspresi bingungnya.


Agha menggeleng lalu mengecup dahi Mala secara tiba-tiba. Hal ini membuat Mala seketika membulatkan kedua matanya heran.

__ADS_1


"Kenapa sih random banget?"


"Enggak papa, aku cuma mau bilang kalau aku sayang banget sama kamu, La. Itu aja."


"Kamu yakin?" tanya Mala seolah tidak percaya.


Dengan cepat Agha mengangguk dan mengiyakan. Respon Mala setelahnya hanya sebatas dengusan samar.


*


*


*


Karena memang kondisi Mala sudah cukup bagus dan stabil, akhirnya Randu mengizinkan sang menantu untuk pulang. Tetap saja dengan persyaratan kegiatan yang masih tetap harus dibatasi mengingat kondisi Mala yang masih perlu pemulihan.


Mala cukup menurut dan tidak membantah semua perintah mertua maupun sang suami. Sehingga ia pulih lebih cepat.


Secara fisik mungkin Mala pulih lebih cepat, tapi secara psikis Agha meragukannya. Mala masih bersikap biasa saja seolah tidak habis mengalami insiden keguguran. Dan entah kenapa itu justru mengganggu pikiran Agha.


"Gimana keadaan istrimu? Tidak ada masalah kan?" sapa Randu saat ia tidak sengaja bertemu putranya di rumah sakit.


Agha mengangguk untuk mengiyakan.


"Tapi kenapa ekspresi kamu begitu?" tanya Randu heran.


Kali ini Agha menghela napas panjang. "Enggak tahu, Yah, jujur Agha bingung. Mala keliatan baik-baik aja, dia nurut kalau semisal aku minta dia batasi kegiatan dia dulu, nggak protes atau lainnya, tapi justru itu bikin aku kayak ngerasa ngeganjel."


Randu mengerutkan dahi tidak paham. "Maksudnya?"


"Menurut Agha, Mala kayak nahan perasaannya gitu loh, Yah. Sejak awal Agha kasih tahu Mala, dia yang lebih kuatin Agha, dia bilang sedih tapi dia nggak nangis sama sekali. Jadi Agha bingung."


"Mungkin Mala butuh waktu untuk meyakinkan diri kalau memang dirinya nggak baik-baik saja. Coba ajak ngobrol dia pelan-pelan kalau gitu!"


"Udah Agha coba, Yah, tapi tetep aja, Mala pasti bakalan langsung mengalihkan pembicaraan."


"Susah juga ya."


"Ya makanya itu, Agha bingung harus gimana?"


"Untuk sementara ikuti dulu lah moodnya yang sekarang, Ayah yakin juga ntar lama-lama Mala capek sendiri terus bakal cerita semuanya. Percaya saja sama istrimu!"


Mau tidak mau Agha akhirnya mengangguk dan mengiyakan.


"Yang penting kamu lebih peka saja, jangan sampai nanti Mala-nya keblabasan terus nggak mau cerita-cerita."

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2