
*
*
*
Setelah berganti pakaian yang lebih rapi, gue langsung menelfon Mala. Kebetulan jam shift gue baru beres dan gue juga baru selesai melakukan tindakan.
"Ya, halo, gimana, Gha?"
"Assalamualaikum!" sapa gue dengan nada iseng menggodanya.
"Wa'alaikumsalam. Kenapa, Gha?"
"Udah beres belum, aku udah selesai nih. Mau pulang bareng atau tinggal?"
Terdengar dengusan tidak percaya dari seberang. "Pertanyaan kamu itu loh, Gha, masa begitu? Ya ditungguin dong, bentar, aku lagi ganti baju."
Gue tersenyum tipis saat tidak sengaja berpapasan dengan orang. "Touch up-nya di mobil aja, ya? Aku tungguin. Buruan, aku samper ke ruangan kamu?"
"Enggak usah, kamu tunggu di mobil aja."
"Oke."
Gue mengangguk paham lalu mematikan sambungan telfon dan langsung bergegas turun ke lantai bawah. Sambil nunggu Mala selesai ganti baju dan touch up, gue bakal cerita sedikit soal kasus KDRT yang terjadi sama Alisa kemarin. Sesuai keinginan perempuan itu, Alisa tidak ingin memperpanjang kasus satu ini, dua-duanya memutuskan untuk berdamai dan pisah secara baik-baik, meski keluarga Alisa awalnya tidak terima di awal.
Tentu saja, apalagi mengingat Alisa itu anak bungsu dan perempuan satu-satunya di keluarganya. Melihat sang adik diperlakukan begitu kedua kakak laki-lakinya jelas saja tidak terima, sama seperti gue, Abbas, dan Ohim. Bahkan kakak Alisa sempat memperkarakan kasus ini dengan melaporkannya langsung ke polisi. Keluarga Kevin pun jelas tidak terima, karena sebelumnya keduanya sudah sepakat untuk tidak akan mengambil tindakan hukum. Akhirnya karena tidak terima, keluarga Kevin melaporkan balik keluarga Alisa atas kasus pencemaran nama baik. Agak lucu sih ini menurut gue, maksudnya kan yang ini beneran bukan yang mengada-ada. Tapi ya maklum lah, namanya orang kaya ya emang begini.
Terus kalau saling lapor kok bisa akhirnya keduanya damai?
Nah, yang ini seru nih, karena semua ini berkat campur tangan Abbas. Sumpah sih, gue harus banget melihat Abbas dan Alisa menikah suatu saat nanti. Harus lah pokoknya, nggak mau tahu gue. Iya, bener maksa banget gue.
Soalnya, Abbas tuh yang cinta mati sama Alisa dan rela melakukan apa aja gitu loh buat Alisa, nggak macem si mantan suami Alisa yang kayak tai itu. Abbas berhasil meyakinkan kedua kakak Alisa agar mencabut tuntutannya dan pihak Kevin pun akhirnya melakukan hal serupa.
Gue kurang paham sih sama apa yang Abbas lakukan tepatnya sampai kakak Alisa yang terkenal keras itu bisa luluh juga. Kebangetan sih kalau Alisa nggak luluh juga suatu saat nanti. Enggak kepo juga sih sebenernya gue, yang penting mah mereka sekarang baik-baik aja juga udah cukup. Alisa udah kembali ceria dan Abbas, yah, kembali membucin dengan tenang.
Oke, kita abaikan calon pasangan tua yang masih malu-malu anjing ini. Kita doakan saja semoga ntar kita tahu-tahu dapat sebaran undangan gitu aja. Aamiin.
__ADS_1
Berhubung Mala masih belum kelihatan batang hidungnya, padahal gue udah sampai di mobil sampai agak ngantuk. Mari kita lanjut bahas soal Ohim.
Nah, si Ohim sekarang udah resmi jadi Bapak nih. Anaknya cewek, mirip banget sama Rumi. Gue sama yang lain belum menemukan di mana letak kemiripan Ohim dengan anak gadisnya itu.
Tok Tok Tok
Gue spontan menoleh ke arah pintu kaca diketuk lalu menurunkan kaca. Ternyata Mala yang mengetuk. Gue kemudian langsung membuka kunci pintu dan membiarkan istri gue masuk. Wajahnya terlihat cemberut karena menahan kesal.
"Dipanggil dari tadi juga nggak nyahut-nyahut, lagi ngelamunin apaan sih?" decaknya kesal. Ia memakai seat belat sambil menatap gue galak. Sedangkan gue hanya mampu meringis sambil meminta maaf.
"Enggak ada. Udah selesai?"
Mala menatap gue galak. "Kalau belum, menurut kamu, aku udah ada di sini?" ia kemudian berdecak, "udah, nggak usah banyak nanya, ayo pulang sekarang! Nanti keburu Kai tidur."
Gue mengangguk paham lalu mulai menyalakan mobil dan melajukannya meninggalkan area rumah sakit. Beruntung karena jalanan hari ini tidak terlalu macet, jadi kami sampai rumah Mama lebih cepat. Tapi meski demikian tetap saja Kai sudah tidur duluan. Mala langsung berubah bad mood dan kembali marah-marah.
"Gara-gara kamu nih," rajuknya kesal.
Gue melongo seperti orang bodoh. Perasaan yang nungguin lama tadi gue deh, gue yang nungguin Mala, bukan justru sebaliknya. Kenapa bisa jadi gue yang salah? Ya gue tahu pria tempatnya salah, tapi kan ya nggak gini-gini amat dong.
Gue awalnya pengen protes, tapi terpaksa urung karena kedatangan Mama. Cepat-cepat gue langsung berdiri dan mencium punggung tangan beliau.
"Ada di ruangan kerjanya. Kalian nginep?"
"Enggak lah, pulang. Mau ngapain emang nginep segala?" sahut Mala cepat. Ia menyandarkan tubuhnya pada badan sofa, lalu tahu-tahu kepalanya nyender di pundak gue.
Si Mala emang hobinya begini, dia bisa ngambek, ngomel-ngomel nggak jelas padahal gue nggak ngerasa salah, tapi abis itu bisa langsung begini. Nempel-nempel seolah nggak mau jauh. Ya emang begini sih Mama-nya Kai itu. Agak lain.
"Ya, emang harus nunggu ngapain dulu kalau nginep di rumah Mama?"
Dengan wajah polosnya bak tak punya dosa, Mala mengangguk dan mengiyakan dengan cepat. Hal ini membuat Mama langsung mendengus kesal sedangkan gue hanya terkekeh geli. Mama mertua gue sama Mala tuh bener-benar mirip, dulu Papa mertua gue suka pusing nggak ya kalau menghadapi keduanya?
"Gha, pulang sekarang, yuk!" ajak Mala kemudian.
Gue baru mau buka mulut untuk membalas, namun, kalah cepat sama Mama mertua gue.
"Tunggu, bentar, jangan pulang dulu! Mama mau nanya."
__ADS_1
"Nanya apa, Ma?" tanya gue mulai deg-degan.
Enggak tahu kenapa, gue tuh kalau ditanyain terus pake prolog dulu gini, bikin gue deg-degan terus over thinking duluan.
"Mama mau nanya, buat acara ulang tahun Kai nanti kalian mau bikin acara enggak sih? Kok kayaknya kalian berdua santai-santai aja? Apa emang mau ambil cuti terus liburan bertiga gitu?"
Tubuh gue sama Mala yang tadinya sedang saling menyandar pada badan sofa, spontan langsung menegap kompak. Hah? Ulang tahun? Ulang tahun Kai? Kai udah mau ulang tahun?
"Emang kapan, Ma?" tanya Mala panik.
Gue langsung menoleh ke arah Mala. Lah, Mala juga nggak inget?
Mama langsung berdecak sambil geleng-geleng tidak percaya. "Jadi kalian berdua lupa?" tanyanya dengan nada tidak percaya, "kalian berdua nggak inget sama tanggal lahir anak sendiri?"
Gue garuk-garuk kepala salah tingkah sambil meringis malu.
"Astaga, Tuhan, kasian banget cucu Mama. Punya orang tua kok begini banget. Kai ulang tahunnya lusa loh."
"Seriusan lusa, Ma?" tanya gue memastikan.
Gue masih tidak percaya. Masa iya, anak gue udah beneran setahun aja. Buset, cepet banget. Perasaan kemarin baru belajar merangkak.
"Ya, serius, masa iya Mama bercanda. Kalian beneran nggak inget?" ulang Mama. Kali ini giliran Mama mertua gue yang mencoba memastikan. Kalau gue sih serius nggak inget, tanggal pernikahan kami saja juga nggak inget, bahkan kadang tanggal ulang tahun suka lupa, apalagi ini.
"Ya, namanya juga lupa, Ma. Ya nggak inget," sahut Mala. Ia kemudian menepuk paha gue dan langsung berdiri, "ayo, pulang sekarang!" ajaknya kemudian.
"Terus rencananya mau adain acara atau enggak?"
"Liat ntar lah, berhubung udah mepet, ya nggak usah ngadain acara aja. Ntar dirayain bertiga aja lah dulu. Sekalian quality time buat bareng."
Mama mengangguk paham dan nggak protes. "Ya udah, terserah kalian maunya gimana. Tapi kalau semisal masih pengen bikin acara bilang ke Mama, ntar biar Mama bantu urusin semuanya."
"Emang masih kekejar, Ma?" tanya gue ragu-ragu.
"Ya apa gunanya kamu sebagai anak pemilik EO besar, Gha, kalau nggak dimanfaatin?"
Gue meringis sambil mengangguk paham. Benar juga, kita bisa minta bantuan Bunda dan tim nih buat bikin acara dadakannya.
__ADS_1
"Enggak usah," sahut Mala tiba-tiba, ia kemudian langsung membawa barang bawaan Kai. Mengkode agar gue segera menggendong Kai yang terlelap di atas karpet.
Gue terkekeh gemas saat melihat genggaman tangannya yang masih ada mainannya, sepertinya tadi Kai sedang asik bermain sampai ketiduran. Ya ampun, anak gue udah besar, udah mau setahun aja. Kok mendadak melow ya anak gue udah sebesar ini? Gue ke mana aja sampai baru sadar?