Married With My Besti

Married With My Besti
AA Story Couple 11


__ADS_3

*


*


*


Abbas merasa khawatir campur berdebar saat pulang dan disambut dengan suara orang muntah dari kamar mandi. Tidak dapat dipungkiri kalau ia merasa khawatir tapi di sisi lain ia juga merasa berharap senang.


"Sa, Alisa? Are you okay? Boleh aku masuk?"


Meski mereka sudah sah menjadi suami istri selama berbulan-bulan, tapi bukan berarti ia bisa seenaknya keluar masuk kamar mandi saat sang istri masih ada di dalam. Abbas akan selalu meminta izin lebih dahulu sebelum masuk.


"No. Nggak boleh!"


Untuk sekarang perasaan khawatir lebih mendominasi. Oh, tidak mungkin. Ini sih sang istri sedang dalam kondisi kurang sehat. Batinnya berasumsi.


"Tapi kedengerannya kamu butuh bantuan, Sa, aku masuk ya? Atau mau aku ambilin air hangat?" tawarnya kemudian.


"Bikinin yang manis-manis. Teh hangat boleh."


Meski awalnya ragu-ragu, Abbas tidak protes dan langsung bergegas menuju dapur. Langkah kakinya mendadak terhenti saat kedua netranya menangkap gelas kotor di atas meja. Sambil menghela napas sedih, ia kemudian membawa gelas kotor itu untuk dicucinya. Setelah selesai, baru lah ia membuat teh hangat untuk sang istri kemudian.

__ADS_1


Abbas memilih untuk membawa teh hangat buatannya menuju kamar. Saat ia sampai di sana, Alisa baru saja keluar dari kamar mandi. Wajahnya terlihat basah dan kedua sudut mata yang sedikit berair. Ia menghela napas sedih lalu meletakkan teh buatannya di atas meja. Baru setelahnya ia mengambil handuk untuk diberikan sang istri.


"Kamu abis ketemu siapa?"


Alisa menghentikan usapan pada wajahnya lalu menatap sang suami dengan tatapan herannya.


"Maksudnya?" tanyanya tidak paham.


"Kamu abis muntah-muntah karena abis minum jamu yang dibeliin ibu kan?" Abbas berdecak tak lama setelahnya, "aku harus bilang berapa kali sih, Sa, jangan terlalu memaksakan diri. Aku nggak suka deh kalau kamu begini. Aku sayang banget sama kamu, Sa, tolong!"


"Jujur sama aku, ibu abis ngomong apa aja sama kamu?"


"Bukan ibu." Alisa pergi sebentar untuk menjemur handuknya agar tidak bau.


"Bukan, siapa-siapa."


"Alisa!" panggil Abbas dengan nada tidak sabarannya.


"Enggak, Bas, nggak penting siapa. Karena yang paling penting aku pengen hamil, itu aja."


Alisa kemudian diam dan memilih untuk meminum teh buatan Abbas. Sementara pria itu terlihat diam saja dengan wajah betenya.

__ADS_1


Alisa yang mulai menyadari wajah bete sang suami menghela napas dan menghampiri Abbas.


"Segala sesuatu itu butuh perjuangan, Bas. Dan ini perjuangan aku, tolong, kamu sebagai suami yang baik, support aku, aku butuh support kamu, Bas. Kamu tahu itu kan?"


Abbas mengangguk dan mengiyakan. "Tapi aku nggak suka kalau kamu menderita, Sa. Aku nikahin kamu biar kamu bahagia sama aku, bukan justru sebaliknya. Jadi aku beneran sedih kalau liat kamu sampai sebegininya."


"Bas, aku harus bilang berapa kali sih? Aku itu bahagia banget jadi istri kamu. Perhatian kamu, rasa peduli kamu, aku suka semuanya, Bas. Kamu jangan khawatir kalau aku nggak akan bahagia. Karena aku beneran bahagia banget."


Abbas tidak langsung membalas dan malah menatap sang istri seolah sedang mencari kebohongan pada kedua mata Alisa. Namun nihil, ia tidak dapat menemukannya.


Kamu lagi berusaha nyenengin aku ya, Sa."


"Aku jujur, Bas. Kamu kenapa nggak mau percaya sih?"


"Maaf." Abbas merengut sedih, "maaf kalau sikap aku masih belum bisa bikin kamu nyaman."


Alisa mendengus lalu menyuruh sang suami untuk segera mandi. Sementara dirinya menyiapkan makan malam.


Namun, Alisa tidak bisa langsung ke dapur karena ponselnya nampak bergetar pertanda pesan masuk.


Nomor tidak dikenal.

__ADS_1


+62885xxxxxxx : Sa, ayo bertemu


Tbc,


__ADS_2