Married With My Besti

Married With My Besti
AA Couple Story 7


__ADS_3

*


*


*


"Kenapa telat sih?" protes Hapsari saat menyadari kedatangan putra dan anak menantunya. Semua sanak saudara sudah datang sedadi tadi, tapi mereka justru baru datang, "kan Alisa nggak ngajar harusnya bisa datang lebih awal lah, biar bisa bantu-bantu. Mana kalian belum ada anak lagi," decaknya kemudian.


"Bu," tegur Abbas sedikit tersinggung.


Maksud sang ibu yang boleh telat cuma orang-orang yang udah punya anak? Sedangkan dirinya dan Alisa tidak boleh begitu?


Kenapa orang-orang di sini menyebalkan semua? Batin Abbas menggerutu kesal.


Hapsari mendengus. "Bukan itu maksud ibu, maksudnya, ya kan kalian cuma berdua aja, belum repot ngurusin anak jadi seharusnya nggak telat begini. Ngapain dulu sih kalian di rumah?"


"Ya, ibu pikir istri nggak punya pekerjaan rumah tangga apa?"

__ADS_1


"Bas, kamu ini kenapa sih?" bisik Alisa sedikit kesal. Menurutnya mood sang suami jelek sekali, ia sampai pusing menghadapinya.


"Iya, bu, maaf ya, nanti di pertemuan selanjutnya diusahakan tidak begini."


Alisa mencoba tetap tersenyum meski rasanya agak kesal juga, karena yang membuat mereka terlambat adalah Abbas. Selain drama heels yang tidak boleh ia kenakan, ada drama lain yang membuat mereka terlambat datang ke acara rutin ya dilakukan keluarga Abbas ini. Semacam acara arisan keluarga besar gitu lah.


"Mana boleh begitu, nanti kalau acara selanjutnya udah boleh telat lah, ntar Ibu doain kalian udah dikasih kepercayaan sama Tuhan agar segera punya momongan. Gimana, Alisa, kamu rutin minum jamu yang ibu kirimin itu kan?"


Alisa menelan ludahnya susah payah.


Mampus. Batinnya panik. Masalahnya, ia tidak bisa mengkonsumi jamu-jamu seperti yang diberikan sang ibu mertua. Saat ia pertama kali meminumnya, baru juga dapat satu teguk, ia sudah langsung muntah-muntah. Setelahnya, ia tidak berani lagi buat meminumnya lagi karena trauma sudah duluan. Ia bahkan punya rencana untuk membuang jamu tersebut saking tidak tahannya dirinya.


"Kau tahu kan ibu beliin kamu itu karena ibu peduli. Ini bukan hanya perkara harga jamu itu yang nggak murah, tapi juga kamu yang nggak bisa menghargai usaha Ibu loh, Sa. Masa nggak kamu minum."


"Minum kok, Bu," elak Alisa kemudian. Ia meringis canggung lalu menyikut perut sang suami, mengkode pria itu agar segera membantunya.


Paham kode yang diberikan sang istri. Abbas langsung manggut cepat. "Iya kok, Alisa minum jamunya. Cuma baru sekali."

__ADS_1


Alisa rasanya ingin menepuk dahinya sendiri saking gemasnya melihat kepolosan sang suami yang susah sekali berbohong. Kalau sudah begini sudah pasti kalau ia akan kena omel.


"Kenapa nggak diminum rutin, Sa? Kamu ini memang nggak mau cepet punya anak atau gimana sih? Kok kesannya kayak orang yang nggak pengen begitu."


"Bu," tegur Abbas, "Alisa nggak begitu. Dia sama kok kayak yang lain pengen cepet punya keturunan. Abbas rasa mereka yang sudah menikah juga pengen begitu, meski tidak semua. Tapi ibu malah bilang begitu."


"Terus kamu yang nggak mau cepet punya anak?" tuduh Hapsari.


"Sama kayak Alisa, Abbas juga pengen cepet punya anak. Tapi kalau belum dikasih, ya nggak papa, kami coba untuk nggak memaksakan sesuatu yang belum jadi rejeki kita."


"Loh, kalau kalian saja usahanya antara niat dan nggak niat begitu kok, ya Tuhan sendiri malas mau mengabulkan. Mumpung masih muda loh, nanti kalau udah sama-sama tua nggak bisa urus anak. Mau siapa yang urus? Mau baby sister aja yang urus? Boros, Bas, kamu pikir pengasuh artis terkenal itu bayarannya nggak mahal. Mahal banget, buktinya mereka bisa sampai bikin rumah dan lainnya. Ya karena bayaran mereka mahal."


Alisa hanya mampu menundukkan kepalanya. Ia tidak berani berkomentar apapun setelahnya. Lama-lama tidak tahan ia kemudian membiarkan ibu dan anak itu saling mengobrol. Sementara dirinya akhirnya memilih untuk pergi.


"Sekarang kamu jujur sama ibu, Bas, sebenernya istrimu ini dulu diceraikan suaminya karena apaa? Jangan-jangan karena nggak bisa kasih keturunan buat suaminya yang sebelumnya. Makanya setelah sama kamu pun. Alisa nggak kunjung hamil-hamil, ibu sempet denger gosip katanya begitu."


Abbas berdecak. "Jangan suka nonton atau dengerin gosip nggak jelas deh, Bu, apalagi suka nyebarin gosip-gosip nggak jelas itu. Please, dihindari yang betul. Nih, ya, Bu, Abbas kasih tahu, dulu Alisa sempat hamil dan keguguran. Bahkan Abbas sendiri yang ngurusin dia waktu keguguran. Bisa-bisanya ibu bilang begitu." ia geleng-geleng kepala tidak percaya lalu pergi menyusul sang istri.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2