Married With My Besti

Married With My Besti
Diskusi


__ADS_3

*


*


*


Gue menatap Kai yang terlelap di pangkuan Mala dengan perasaan bersalah. Gue akui gue bukan orang tua yang baik, selama hampir setahun tumbuh kembang Kai, gue udah lumayan banyak ketinggalan karena kesibukan gue. Padahal perasaan gue udah selalu nyempetin waktu buat main sama Kai meski bentar banget, jatah mandi juga selalu gue yang ambil alih karena gue mau tetep menghabiskan waktu sama Kai. Soalnya gue begini saja udah sering ketinggalan momen tumbuh kembangnya, apalagi kalau enggak.


"Enggak nyangka ya, La, Kai udah mau setahun," gumam gue sambil menghela napas.


Kai mengangguk setuju sambil mengelus dahi Kai penuh sayang. "Iya, nggak nyangka banget. Aku buruk banget ya, Gha, jadi Mama? Masa lupa sama tanggal lahir anaknya sendiri."


"Namanya juga orang lupa, La, nggak papa," ucap gue mencoba menenangkan, "lagian juga cuma lupa tanggal lahir, aku juga lupa kok. Yang penting kita nggak lupa sama tanggung jawab kita sebagai orang tua. Kamu tetap Mama yang hebat buat Kai, La, kamu udah berusaha keras."


Mala tersenyum miris. "Kalau begitu berarti kita orang tua yang buruk?"


Gue langsung terkekeh geli sambil garuk-garuk kepala. "Mungkin," jawab gue kemudian, "tapi meski begitu, kan seenggaknya kita udah ngelakuin yang terbaik."


"Ambil cuti yuk, Gha," ucap Mala tiba-tiba.


"Ya nggak bisa lah, La, kalau dadakan. Jadwal operasi aku nggak bisa di-reschedule ulang."


"Ya enggak dadakan juga, Gha. Tapi yang penting kita luangin waktu buat Kai gitu loh."


Gue ber'oh'ria sambil mengangguk paham. "Oh, kalau itu sih aku setuju. Lagian kita juga belum liburan bertiga kan? Kemarin liburan berdua doang juga gagal karena si sultan nyebelin itu."


Maka menaikkan sebelah alis heran. "Sultan nyebelin?" beonya merasa aneh, "siapa itu?"


"Bagas waras elah, La, itu orang kan nyebelin banget. Semua barang yang nempel di tubuhnya kan branded semua, udah pasti sultan kan dia?"


Di luar dugaaan, Mala langsung terbahak. Hal ini membuat tidur Kai yang berada di pangkuan Mala, sedikit terusik.


"Astaga, ya ampun, Gha, ada-ada aja kamu namainnya."


"Tapi emang bener kan?"


Tanpa perlu banyak berpikir Mala langsung mengangguk untuk mengiyakannya.

__ADS_1


"Kan, apa juga aku bilang. Emang sultan kan, apa sih profesinya?"


Di luar dugaan, Mala malah mengangkat kedua bahunya secara bersamaan. "Jujur, aku sama Bagas tuh beneran lost kontak sih abis kejadian itu, kami bener-bener baru ketemu ya kemarin itu, jadi aku nggak tahu profesi dia apa. Enggak nanya-nanya juga sih."


"Terus background keluarganya?"


"Keluarganya punya perusahaan properti gitu sih setahu aku, saudara Bagas tuh dulunya cuma Dirga, berhubung Dirga udah meninggal, ya, sekarang dia jadi anak tunggal."


Gue tersenyum tipis saat mendengar cara Mala mengucapkan nama Dirga dengan perasaan jauh lebih tenang, tidak seperti kemarin-kemarin.


Gue kembali ber'oh'ria sambil mengangguk paham. Gue nggak terlalu tertarik juga sih sama itu orang, bodo amat lah sama profesinya. Bukan urusan gue.


"Oke, skip, kita lupain si Bagas waras, mending kita bahas mau liburan ke mana? Menurut kamu ke mana? Perlu keluar negeri nggak?"


Mala langsung menggeleng cepat. "Enggak usah, Kai masih terlalu kecil, bawa bayi ke luar negeri itu ribet, Gha. Aku nggak siap. Di Indo aja lah, Kai belum tahu Indonesia selain Jakarta juga, masa udah mau diajak ke luar negeri."


Mengingat kesibukan kami, kami memang belum pernah membawa Kai ke luar kota. Kalau ada seminar di antara salah satunya, gue atau Mala, maka kami lebih memilih untuk bergantian jagainnya.


"Terus ke mana? Bali?"


"Kejauhan, yang deket-deket aja dulu kenapa sih?"


"Kalau jauh-jauh kasian Kai-nya dong, Gha."


"Terus mau ke mana? Ya udah aku ikut kamu," ucap gue pasrah.


"Ke Solo aja gimana? Ke rumah Bude Ajeng," usul Mala, "kita liburan sekalian mampir ke rumah Bude kamu atau keluarga kamu."


"Aku bosen," rengek gue tidak setuju. Dulu, gue lumayan sering diajak bolak-balik Jakarta-Solo waktu nenek masih ada.


"Ya itu kamu, kalau Kai kan belum pernah ke Solo, Gha. Sekalian mengunjungi rumah Bude loh. Enggak cuma liburan."


"Ya udah, iya, terserah kamu lah. Aku ngikut, yang penting kamu seneng. Abis dari Solo mampir ke Jogja seru deh kayaknya, La, gimana menurut kamu?"


Mala berpikir sebentar lalu mengangguk setuju. "Gitu juga boleh."


Gue langsung bersorak kegirangan. "Asik, nanti aku langsung cari tempat hotel yang bagus buat penginapan begitu sampai rumah." tiba-tiba gue teringat sesuatu, "terus untuk acara hari H ulang tahun Kai besok gimana? Aku perlu minta bantuan Bunda and tim nggak?"

__ADS_1


Mala terlihat berpikir sejenak lalu menggeleng ragu-ragu. "Enggak usah aja gimana menurut kamu, Gha? Maksud aku, kan acaranya udah mepet banget, aku nggak enak sama Bunda dan tim, takutnya kerjaan mereka pas lagi banyak-banyaknya, eh, malah kita tambahin. Kan capeknya doble, Gha."


"Ya, enggak papa, nanti tinggal dikasih uang lemburnya yang double."


"Tetep aja kasian, Gha. Udah lah, nggak usah neko-neko, kita undang makan keluarga inti di restoran, udah. Lagian Kai juga belum terlalu ngerti juga, jadi menurut aku nggak papa."


Kali ini giliran gue yang berpikir sejenak. Kalimat Mala ada benarnya juga, toh, Kai belum terlalu ngerti dan paham soal ulang tahun, kalau nggak dirayain secara besar-besaran kan nggak bisa protes atau ngambek. Jadi, gue rasa nggak akan ada masalah.


"Oke, kalau gitu masalah ulang tahun Kai beres ya? Deal nggak akan ada acara besar-besaran?"


"Enggak usah, makan-makan sama keluarga inti aja cukup deh kayaknya."


"Abbas sama Ohim perlu diundang juga nggak ntar?"


"Ya enggak usah lah, ngapain? Ntar yang diundang Mama sama Papa, di keluarga kamu cuma Ayah, Bunda, sama keluarga Kak Ale doang. Udah. Buat warga komplek dan mereka berdua, ntar dikasih bingkisan kecil gitu buat kek acara syukuran setahunnya Kai."


Gue mengangguk paham. "Oke, nanti aku coba minta tolong sama tukang catering langganan Bunda biar dibuatin. Sama sekalian buat staf rumah sakit kan?"


"Oh iya, staf rumah sakit. Ntar aku bikinin list-nya dulu lah kalau gitu."


"Oke. Ntar aku bantuin."


"Enggak usah," tolaknya cepat.


Kening gue mengkerut heran. "Kenapa emang, kok enggak usah?"


"Abis kamu orangnya pamrih, tiap bantuin pasti minta balasan. Malesin," dengusnya kesal.


Reflek gue tertawa. "Su'udzon aja sih sama suami sendiri!"


"Ya, makanya jadi suami tuh jangan suka bikin su'udzon istrinya. Jadi begini kan?"


"Lah, kenapa tetep aku yang kena?" protes gue kemudian.


"Udah, nggak usah banyak protes, mending kamu fokus nyetir udah."


Gue mendengus. "Galak," komentar gue kemudian.

__ADS_1


Tbc,


__ADS_2