
*
*
*
Dengan panik Abbas langsung membawa sang istri yang tampak pucat menuju rumah sakit. Perasaan cemas, khawatir, semua menjadi satu. Tidak biasa sang istri sampai begini hanya karena sedang periode menstruasi. Pikirannya mulai berkecamuk semoga tidak terjadi sesuatu yang buruk terhadap sang istri.
“Suster, tolong, suster! Istri saya pingsan.”
Abbas berlari dengan tergesa-gesa saat memasuki ruang IGD. Para perawat dan staf medis langsung berlari menghampiri untuk membantunya.
“Istrinya kenapa, Mas?”
“Istri saya lagi periode, saya baru pulang dari beliin dia pembalut, tiba-tiba pas dia mau ganti terus dia pingsan.”
“Biasanya memang begini, Mas?”
Abbas menggeleng cepat. “Enggak.”
Sang perawat mengangguk paham, ia kemudian menyuruh Abbas menunggu di luar sementara sang istri ditangani dokter. Karena tidak bisa berpikir jernih, ia kemudian memutuskan untuk menelfon Agha. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya telfonnya diangkat.
"Hm," respon Agha dari seberang. Kalau didengar dari nada bicaranya pria itu terdengar lelah.
Abbas maklum, selain karena kesibukan pria itu sebagai dokter bedah, tapi semenjak sang istri hamil, memang Agha lebih mudah lelah. Bukan tanpa alasan, meski perut Mala sudah terlihat besar tapi morning sick masih belum berhenti, alhasil beberapa asupan nutrisi tidak bisa masuk dengan baik. Jadi, Abbas tidak terlalu heran.
__ADS_1
"Sorry, gue ganggu istirahat lo ya?"
Di seberang, Agha langsung mendengus. "Istirahat apa? Orang gue baru keluar dari ruang operasi, belum istirahat nih gue. Kenapa?"
"Lo keberatan nggak kalau semisal gue minta lo turun ke IGD sini?"
"Hah? Siapa yang sakit?"
Nada bicara Agha terdengar kaget saat Abbas memintanya untuk datang ke IGD. Kedua matanya yang tadi sempat mengantuk kini mendadak langsung sirna.
"Alisa, Gha, Alisa tadi pingsan. Sumpah gue panik banget, lo bisa ke sini temenin gue?"
"Oke, gue otw ke sana, lo jangan panik dulu!"
Tanpa menunggu Abbas membalas, Agha langsung bergegas menuju IGD.
"Dia lagi periode, Gha."
Agha seketika langsung mengerutkan dahi heran. Setahunya Alisa tidak memiliki riwayat sakit serius karena menstruasi. Maksudnya, mungkin beberapa orang memiliki sakit menstruasi yang terkadang memang sampai bikin seseorang pingsan, tapi seingatnya Alisa tidak memiliki riwayat tersebut.
"Kok bisa? Bukannya biasanya nggak sampe begini?"
"Gue juga nggak tahu, biasa emang nggak begini, Gha. Makanya gue panik banget karena Alisa nggak pernah sampe begini cuma karena periode."
Agha mendadak menyipitkan kedua mata curiga. "Lo yakin ini beneran menstruasi?"
__ADS_1
"Maksud lo?"
Agha baru hendak membuka suara, tapi dokter yang memeriksa Alisa datang.
"Permisi, dengan suami Ny.Alisa?"
"Saya, dok." Abbas langsung membuka suara dan mendekat ke arah dokter itu, Agha pun ikut mendekat.
"Gimana keadaan istrinya temen saya, Han?" tanya Agha mewakili.
"Begini, dok, seperti kami menemukan kecurigaan--"
"Kecurigaan apa itu, dok?" potong Abbas dengan wajah paniknya. Agha langsung menepuk pundak pria itu.
"Bas, dengerin dokternya jelasin dulu," tegurnya kemudian.
Abbas langsung meminta maaf pada dokter tersebut karena merasa tidak enak.
Dokter tersebut mengangguk maklum.
"Jadi, gimana istri saya."
"Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan lebih dahulu untuk mempertegas diagnosis kami. Untuk sementara Bapak bisa menunggu. Nanti begitu hasilnya keluar akan langsung kami kabari."
Agha manggut-manggut paham, lalu membiarkan dokter itu melakukan tugasnya. Sementara dirinya berusaha menenangkan Abbas.
__ADS_1
"Enggak papa, Bas, gue yakin kok, Alisa pasti nggak papa."
Tbc,