
*
*
*
Pagi ini Abbas merasa begitu antusias untuk menjemput Alisa. Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, tidak sabar tengah ia rasakan. Membayangkan semuanya membuat Abbas semakin bersemangat dan tidak sabar.
"Selamat pagi ibu dosen yang cantik!" sapa Abbas saat pintu gerbang rumah Alisa terbuka.
Abbas seketika menaikkan alis heran saat menyadari perempuan itu masih mengenakan daster batik rumahan selututnya. Ia bahkan menebak kalau perempuan itu belum mandi. Perasaan kesal tidak bisa ia cegah.
Kok bisa-bisanya dirinya sudah serapi ini sedangkan sang kekasih masih berpenampilan begini. Seperti tidak niat untuk pergi saja.
"Kok kamu masih pake baju rumahan? Sa, kamu nggak lupa kan kalau hari ini kita mau ketemu ibu aku?" protesnya kemudian.
Meski kesal, Abbas mencoba untuk tetap tenang dan tidak tersulut emosi.
Bukannya menjawab, perempuan itu malah mengigit bibir bawahnya sambil melirik Abbas dengan tatapan ragu.
"Aku takut deh, Bas."
"Hah?" Abbas melongo dengan ekspresi bingung.
"Masuk dulu, yuk!" ajak Alisa.
Abbas sempat menolak karena memang sejak awal pria itu enggan menginjakkan kaki di rumah itu. Bukan tanpa alasan, karena rumah tersebut dulunya rumah Alisa bersama sang mantan suami, yang kini sudah menjadi hak milik Alisa sepenuhnya.
"Aku tunggu di mobil aja kenapa sih?"
"Kelamaan dong, aku belum siap-siap nih."
"Salah sendiri kenapa nggak siap-siap dari tadi," gerutu Abbas menahan kesal.
Bukan bermaksud bersikap kekanakan karena cemburu, hanya saja saat ia masuk ke rumah ini, bayangan Alisa menangis dengan kedua tangan memeluk lutut dan ekspresi ketakutan kembali terbayang. Ia merasa seolah seperti trauma. Padahal Alisa sendiri sudah biasa aja.
"Kamu marah?"
Abbas menggeleng cepat. "Aku kesel."
"Yakin mau nungguin di mobil aja?" tawar Alisa sambil mengelus lengan Abbas karena merasa tidak enak dengan pria itu.
Alisa tidak suka dipaksa atau memaksa.
Abbas mendesah pasrah. "Ya udah, aku masuk."
__ADS_1
Senyum Alisa langsung terbit. "Makasih," ucapnya serius.
Pria itu tidak merespon dan hanya mengikuti Alisa dari belakang.
"Ngomong-ngomong, kapan kamu rencana mau jual rumah ini?" tanya Abbas begitu masuk ke dalam rumah.
"Ya, nanti kalau kita udah nikah."
Abbas berdecak. "Jual rumah itu butuh proses lama loh, Sa, aku rasa kayaknya kamu perlu nyiapin dari sekarang, biar nanti kita nikah semua udah beres."
Alisa meringis. "Enggak bisa ya kalau kita tinggal di si--"
"Kamu jangan mencoba menguji kesabaran aku, Sa. Kamu boleh uji kesabaran aku, silahkan, kalau memang kamu rasa itu perlu, tapi, please! Jangan soal ini. Aku beneran nggak bisa. Kamu mengerti?"
Meski diiringi helaan napas, pada akhirnya Alisa mengangguk dan mengiyakan. "Maaf nggak seharusnya aku ngomong begitu."
"Udah lah, aku nggak mau bahas ini lebih lanjut, sekarang mending kamu siap-siap terus kita berangkat."
"Aku kayaknya belum siap deh."
Abbas mengerutkan dahi heran, raut wajahnya yang tadi cemberut sekarang terlihat makin cemberut. "Maksud kamu apa, Sa? Kamu nggak siap nikah sama aku?"
"No, Bas, kamu kenapa mikir gitu. Aku siap, cuma kalau buat ketemu ibu kamu hari ini aku kayak belum siap deh. Aku takut," aku Alisa jujur. Kepalanya menunduk seraya menahan kegelisahan, "aku belum siapnya kalau hari ini, Bas, menurut aku ini terlalu cepat nggak sih?"
Tanpa keraguan, Alisa langsung mengangguk cepat.
"Terus kenapa kamu masih ragu kalau kamu sendiri udah percaya sama aku? Aku nggak akan mungkin ngajak kamu kalau ibu belum kasih restu, Sa, nggak mungkin. Kamu tahu kenapa? Karena aku nggak mau kamu terluka nantinya sama omongan ibu aku, makanya aku mau bawa kamu ke beliau saat ibu udah kasih restu." Abbas mengangguk tak lama setelahnya, "ya, emang bener ibu belum sepenuhnya kasih restunya buat kita, tapi ibu mau berusaha belajar nerima kita. Dan saatnya kita buat nunjukin keseriusan kita agar ibu segera kasih restu sepenuhnya ke kita."
Alisa diam dan menatap kedua mata Abbas intens. Perlahan tapi pasti, ketakutannya mendadak sirna. Ia tersenyum lalu memeluk pria itu erat.
"Makasih, Bas, makasih buat yakinin aku." Alisa kemudian merenggangkan pelukannya, "aku siap-siap dulu ya kalau begitu. Kamu tunggu sebentar, aku janji, aku nggak akan lama."
Abbas mendengus seraya terkekeh. "Yakin banget kalau kamu nantinya nggak bakalan lama?"
"Yakin dong, kan demi calon suami biar nggak nunggu kelamaan," jawab Alisa dengan senyum percaya dirinya.
Abbas kembali terkekeh. "Udah sana buruan siap-siap, godain aku-nya kapan-kapan lagi aja, ntar keburu siang."
Alisa tidak membalas, hanya mengangguk patuh lalu segera berlari kecil menaiki anak tangga. Abbas yang melihat kelakuan sang kekasih hanya mampu terkekeh. Umur udah kepala tiga tapi kelakuan masih kayak bocah. Batinnya kemudian.
*
*
*
__ADS_1
Alisa hanya mampu memasang wajah gugupnya saat ia sampai di lantai bawah dan langsung disambut decakan Abbas.
"Eh, kenapa? Ada yang salah sama pakaian aku?" tanya Alisa panik, "enggak cocok ya? Terlalu berlebihan? Apa aku perlu ganti? Bentar, aku nggak akan lama, aku--"
"Sa," panggil Abbas tiba-tiba memotong kalimatnya.
Alisa semakin mengerutkan dahinya bingung, merasa aneh dengan sikap Abbas. "Kenapa sih? Aku nggak cocok pake baju ini?"
Abbas kembali berdecak. "Bukan itu."
"Terus?"
"Kamu kelewat cantik pake itu, kalau begini penampilan kamu, nanti aku bisa-bisa diomeli ibu dikira bohongi beliau," gerutu Abbas yang semakin mengundang kerutan di dahi perempuan itu.
Alisa bingung sekaligus tidak paham. Ini arah pembicaraan sang kekasih mau dibawa ke mana sih?
"Maksudnya gimana?"
"Iya, penampilan kamu yang sekarang kayak anak gadis, Sa, orang mana notice kalau kamu sebenernya pernah menikah dan sempat hamil dulunya. Ah, ibu pasti bakalan ngomelin aku ini."
"Iiih, apaan sih, norak banget gombalannya."
Mendapat pujian secara tidak langsung, membuat Alisa mendadak salah tingkah.
"Tapi kamu seneng kan? Itu sampai bikin pipi kamu merah kayak tomat rebus gitu," goda Abbas meledek yang membuat Alisa semakin salah tingkah.
"Iiih, apaan sih, Bas, orang ini aku pake blush on juga, bukan karena salah tingkah," elak Alisa tidak terima.
"Apaan orang tadi belum begitu kok, hayo, ngaku! Bo'ong kan? Padahal aslinya kamu salting!"
"Ini kita jadi pergi atau kamu mau godain aku aja sih?"
Alisa mulai tidak tahan, ia berkacak pinggang dengan kedua mata pura-pura melotot marah. "Kalau nggak jadi, mending aku ganti baju lagi."
"Hehe, jangan dong, masa gitu aja ngambek sih. Iya, iya, sekarang ayo kita berangkat, udah siap kan?"
Alisa menghela napas panjang. "Siap nggak siap bukannya harus siap?"
Sambil tersenyum Abbas mengangguk dan mengiyakan. "Iya, harus siap dong. Bu dosen kebanggaan Abbas harus siap. Kan udah pernah jadi harusnya nggak terlalu gugup," godanya kemudian.
Alisa mendengus dengan cemberutnya. "Justru karena udah pernah, Bas," gumamnya sambil tersenyum getir.
Kira-kira nanti apakah ia mampu menghadapi semua pertanyaan yang dilayangkan sang calon ibu mertua ya? Mendadak Alisa merasa gugup kembali. Tapi tentu saja ia tidak akan lari, apapun yang akan ia hadapinya nanti, ia akan bertahan. Karena Alisa sudah berjanji dengan Abbas dan ia tidak akan mengkhianati pria itu.
Tbc,
__ADS_1