Married With My Besti

Married With My Besti
Mampus!


__ADS_3

*


*.


*


"Gha, aku mau ke kang sayur depan. Kamu ada request dimasakin sesuatu nggak?"


Mendengar pertanyaan Mala, tubuh gue reflek langsung menegak sempurna. Gue yang tadinya lagi asik baca jurnal kesehatan, otomatis langsung meletakkan i-Pad dan sepenuhnya menaruh perhatian pada Mala. Ekspresi gue seketika langsung berbinar cerah.


Yes, akhirnya Mala udah nggak ngambek lagi.


"Kamu udah nggak marah, La?" tanya gue senang.


Kalau gue dengar dari nada bicara Mala tadi, sudah terdengar biasa saja. Tidak seperti kemarin-kemarin yang selalu terselip nada ketus di setiap kalimatnya, atau bahkan ekspresinya pun pasti datar. Tapi hari ini nada bicara dan ekspresinya sudah kembali seperti sebelum-sebelumnya. Fix, uda nggak ngambek pasti.


Namun, tiba-tiba gue merasakan ekspresi berbeda dari Mala tepat setelah gue bertanya. Batin gue seketika bertanya-tanya, salah ngomong lagi kah gue?


Decakan terdengar tak lama setelahnya. Bahkan kini Mala melirik gue tajam. "Kenapa malah kamu ingetin lagi sih, Gha? Bikin bad mood lagi kan. Tahu lah, nggak jadi masak aku." Setelah mengatakan itu Mala langsung bergegas naik ke lantai atas.


Gue hanya mampu melongo dengan ekspresi bingung, sambil menatap punggung Mala yang kian menjauh. Buset, salah lagi nih gue? Kan niat gue tadi cuma nanya, kenapa malah diambekin lagi deh.


Enggak mood nerusin baca, gue akhirnya memilih untuk keluar rumah. Suntuk juga gue lama-lama di rumah tapi Mala sedang mode merajuk begini. Mala kalau lagi mode merajuk dan memilih menyingkir artinya enggak mau diganggu. Beda kalau udah deket-deket artinya minta dibujuk. Daripada gabut mending keluar, ngajakin Bapak-bapak komplek ngopi sambil bahas harga tanah mana yang bagus. Siapa tahu nemu yang cocok terus Mala kasih izin gue buat beli tanah. Kan lumayan.


Gue rencananya tadi mau main ke rumah Pak Ahsan, tapi nggak sengaja waktu lewat depan rumah Aldi, gue nggak sengaja liat dia lagi motongin rumput. Gokil, rajin juga dia. Perasaan dulu pas awal-awal nikah sama Mala, hal ter-rajin yang gue lakuin tuh nyapu, buang sampah sama ngepel, meski untuk ngepel itu sangat-sangat jarang terjadi. Tapi lihatlah Aldi, sampe rajin motong rumput segala.


"Rajinnya," puji gue sedikit berteriak karena takut Aldi nggak denger.


Aldi langsung menoleh ke arah gue. "Eh, Bang Agha, mau ke mana, Bang?" tanyanya ikut berteriak.


"Nyari temen," balas gue sambil terkekeh.


Aldi ikut terkekeh. "Sini main ke rumah gue, Bang!" ajaknya kemudian.


Gue berpikir sejenak. Pandangan gue kemudian beralih pada garasi rumahnya. Hanya ada satu mobil, itu artinya Ririn sedang tidak ada di rumah jadi sepertinya gue bisa main ke rumah Aldi. Maka tanpa ragu, kaki gue kemudian melangkah masuk ke halaman rumahnya.

__ADS_1


"Kak Mala ke mana, Bang?" tanyanya berbasa-basi.


Gue tersenyum kecut. "Di rumah. Ngambek."


Aldi tidak berkomentar lebih, pria itu hanya terkekeh maklum.


"Lo rajin banget deh, kenapa nggak panggil tukang aja?" tanya gue mengalihkan pembicaraan.


Takut aja gitu tiba-tiba dia nanya penyebab Mala ngambek. Kan bahaya, ntar gue harus jawab apa coba? Kan nggak lucu kalau gue jawab Mala ngambek gegara istrinya. Eh, sebenarnya bukan gegara Ririn juga sih, kan yang salah gue juga. Kenapa gue jadi nyalahin orang?


"Daripada gabut, Bang."


"Lah, penganten baru gabut. Pacaran sana, pacaran abis nikah tuh enak tahu," goda gue sambil memainkan alis naik-turun, "ngomong-ngomong bini lo ke mana?"


Meski sudah tahu jawaban pastinya, tapi nggak papa lah, namanya orang Indo, jago lah kalau soal basa-basi.


"Pergi."


Gue pura-pura memasang wajah kaget. "Lah, ke mana? Kok lo nggak ikut?"


Oh, oke, sepertinya Aldi tidak ingin membahas tentang istrinya lebih lanjut. Gila, seserius inikah masalah di pernikahan mereka? Ya ampun, kasian banget mereka mana masih dalam suasana pengantin baru lagi. Kan harusnya kalau masih pengantin baru hawanya bahagia terus, tapi ini? Kok kayaknya justru sebaliknya.


"Bang!" panggil Aldi.


Lamunan gue seketika langsung buyar. "Hah?" Ekspresi gue sekarang pasti kayak orang bego, "kenapa? Kenapa?"


Aldi terkekeh. "Ngelamunin apaan sih? Masih pagi juga."


Gue garuk-garuk kepala salah tingkah. "Enggak, nggak ada." kemudian menggeleng cepat.


"Terus lo tadi dengerin gue ngomong apa nggak, Bang?"


Gue meringis sambil menatap Aldi tidak enak. "Lo ngomong sesuatu?" Sekarang giliran gue yang bertanya.


Aldi kembali terkekeh dan geleng-geleng kepala. Kali ini diikuti decakan tidak percaya. Sebentar, kalau dipikir-pikir Aldi murah banget senyum ya, terus senyumannya juga lumayan manis, wajah oke. Dilihat barang branded yang menempel di tubuhnya juga bukan sembarangan semua, bahkan sekarang saat sedang di rumah dan cuma motongin rumput depan rumah pun barang yang menempel di badannya bermerk semua. Udah jelas banget ini orang bukan dari keluarga sembarangan, tapi kenapa Ririn kayak susah banget nerima Aldi?

__ADS_1


"Bang, lo ngelamun lagi?"


Gue spontan terbahak campur sungkan. "Eh, sorry, sorry, lo ngomong apaan barusan?"


Aldi menghela napas. Ia berdecak kembali. "Kalau kepikiran istri mending pulang deh kata gue, Bang," godanya kemudian.


"Nunggu dicariin dulu sih gue," ucap gue percaya diri.


"Lah, kenapa gitu?"


"Kalau nggak nyari duluan berarti belum berminat untuk diajak baikan sih. Dia emang gitu orangnya."


Aldi manggut-manggut paham. "Oh, kalau boleh tahu kalian pacaran berapa lama, Bang, sebelum memutuskan nikah? Udah lama banget ya? Soalnya gue perhatiin udah kayak saling kenal banget."


Gue menggeleng. "Enggak. Gue sama bini gue nggak pacaran, kita pacarannya abis nikah."


"Enggak pacaran?" ulang Aldi terlihat tidak yakin dengan jawaban gue.


Gue langsung mengangguk dan mengiyakan. "Langsung nikah. Nih, gue kasih tahu ya, sebenernya gue sama Mala tuh nikahnya agak lucu."


"Lucu gimana?" tanya Aldi kepo.


"Kan gue sama Mala sebenernya tuh dari awal temenan doang, tapi akhirnya memutuskan buat nikah. Rencana awal sih kita mau lamaran dulu, tunangan, engagement party gitu-gitu lah biar kayak yang lain. Eh, tapi malah langsung disuruh ijab qobul sekalian. Alhasil jarak antara acara ijab qobul sama resepsi kita lumayan jauh," ucap gue menjelaskan.


"Lo kenal sama istri gue, Bang?" tanya Aldi tiba-tiba.


Seketika gue langsung memasang wajah bingung. "Hah?"


"Sebelum kita pindah ke sini maksud gue, Bang. Kalian udah saling kenal?"


Kali ini gue diam. Lidah gue terasa kelu. Gue nggak tahu harus menjawab apa padahal pertanyaannya sesederhana ini.


Mampus, harus jawab apaan nih?


Tbc,

__ADS_1


__ADS_2