
*
*
*
Mala masuk ke dalam ruangan gue dengan wajah ditekuk. Sebelah tangannya nampak menenteng paper bag ukuran sedang. Bukannya langsung duduk di sofa seperti biasa, Mala malah berdiri di depan meja gue sambil berkacak pinggang. Hal ini membuat gue bertanya-tanya, tadi pagi gue abis bikin salah apa ya?
Hari ini kita berangkat ke RS sendiri-sendiri, karena gue ada emergency call yang mengharuskan gue berangkat lebih dulu.
Apa tadi gue lupa balikin handuk basah ke tempat semula ya? Atau lebih parahnya, jangan-jangan gue taruh handuknya di kasur lagi.
Seperti istri-istri pada umumnya, Mala akan selalu mengomel tentang hal ini. Ini agak aneh sebenernya, sebelum kami menikah, gue tuh nyaris nggak pernah naruh handuk basah sembarangan, tapi anehnya setelah nikah gue suka lupa.
Beda kasus kalau soal baju ya, kalau soal baju emang dari dulu gue suka ambil sembarangan. Mau merapihkan itu butuh effort tertentu. Jadi gue nggak heran kalau Mala sering mengomel soal ini.
Tapi tidak mungkin juga Mala mengomel soal ini, karena kan gue kerja pake kemeja, dan bagian kemeja emang digantung, jadi udah pasti aman lah.
Perihal handuk basah juga nggak deh, soalnya gue baru inget kalau gue bahkan masukin ke keranjang cucian karena menurut gue sudah perlu dicuci.
Terus karena apa dong?
Susah juga ya ternyata nebak mood istri itu.
Malas menerka-nerka, gue akhirnya memilih untuk langsung bertanya.
"Kenapa?" tanya gue kemudian.
Bukannya langsung menjawab, Mala malah mengabaikan gue dan langsung berjalan menuju sofa yang ada di ruangan gue. Ia langsung duduk di sana setelah meletakkan paper bag yang dibawa di atas meja. Mau tak mau, gue akhirnya langsung berdiri dan menyusulnya.
"Gue lagi males tebak-tebakan, La."
"Lo jujur deh sama gue," ucap Mala sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. Kedua matanya sangat-sangat tidak bersahabat, membuat batin gue semakin bertanya-tanya. Abis bikin salah apaan lagi sih gue?
"Soal?"
Mala menggerakkan dagunya menunjuk ke arah paper bag. Gue yang masih tidak paham, memilih langsung membuka paper bag itu, yang ternyata berisi cookies.
"Maksudnya gimana sih? Gue nggak paham."
"Lo tahu nggak itu dari siapa?"
Gue menggeleng cepat. "Ya, mana gue tahu, kan lo yang bawa, La."
"Dari Riska."
"Dokter koas?"
Mala langsung mengangguk cepat.
"Oh," respon gue, "dalam rangka?"
__ADS_1
"Flirting lo, anjir."
"Ngaco lo!"
Mala berdecak kesal. "Staff RS kan kebanyakan belum tahu kalau kita udah nikah. Dan gue yakin ini anak pasti abis lo baperin makanya sampai berani flirting lo secara terang-terangan begini. Sekarang ngaku sama gue, Gha, abis lo apain ini anak orang?"
"Apaan sih? Nggak gue apa-apain ya, La, astaga. Ya kali gue berani ngapa-ngapain anak orang, kan gue udah punya lo."
Mala menggeleng tidak percaya. "Enggak, gue nggak percaya. Enggak mungkin banget Riska yang tipe kalem begitu, berani flirting mentornya kalau lo nggak kasih harapan. Dia anak kesayangan gue, Gha, tolonglah, jangan lo baperin sembarangan! Kasian."
Istri gue emang agak lain, ya? Ada orang flirting ke suaminya, yang dikhawatirkan justru yang flirting bukan suaminya sendiri.
"Gha, ngaku nggak lo! Lo abis ngapain? Kalau enggak, coba lo inget-inget dulu, siapa tahu lo lupa."
Gue menggeleng cepat. "Enggak ada."
"Pasti ada. Diinget-inget dulu, jangan main bilang nggak ada padahal lo-nya belum usaha mengingat."
Sambil berdecak kesal gue akhirnya menurut. Mencoba mengingat perlakuan apa yang sudah gue lakukan terhadap Riska, sehingga membuat perempuan itu baper terhadap gue.
"Apa ya?" gumam gue sambil mengusap dagu.
"Lo pernah beliin dia sesuatu semisal."
"Makanan?" Gue menggeleng cepat, "gue lumayan sering kok beliin makanan buat staff paramedis."
Mala menggeleng. "Yang lain."
"Ya, mana gue tahu lo yang beliin kenapa tanya gue?"
Gue mencoba mengingat kembali dan gue teringat sesuatu. "Emang nggak ada, La, kecuali--"
"Kecuali apa?" potong Mala dengan nada mendesak dan tidak sabaran.
"Pembalut."
Mala diam tanpa ekspresi.
"Seriusan cuma itu, La, cuma pembalut. Enggak ada yang lain," balas gue santai.
"Dasar bego!"
"La! Gue suami lo, ya, nggak sopan banget ngatain suami sendiri bego."
"Tapi emang lo itu bego, Gha. Lo ngerti nggak sih kalau kebanyakan cowok pasti malu kalau disuruh beli pembalut?"
Gue langsung mengangguk cepat. Tapi gue enggak, gue biasa aja sih. Cuma beli ini, nggak disuruh nyolong.
"Dan lo beliin dia secara sukarela?"
Lagi-lagi gue mengangguk cepat. "Abis kasian, La, dia pasti nggak nyaman kalau nggak cepet ganti. Lagian kejadian itu udah lumayan lama."
__ADS_1
"Gha, serius gue mau nanya. Lo ngerti nggak sih konsep kalau setiap kebaikan yang kita lakuin itu nggak selamanya baik juga di mata orang lain?"
"Ya ngerti lah, La."
"Terus ini kenapa lo nggak sadar?" amuk Mala sambil menjitak kepala gue gemas.
Gue mengaduh sesaat.
"Anjir, gue cuma beliin pembalut masa sampai lo giniin sih, La?"
"Ya, karena efek dari tindakan lo luar biasa, suami gue yang katanya ganteng."
"Kok cuma katanya? Beneran ganteng, elah," protes gue tidak terima.
"Percuma ganteng tapi bego."
Gue menatap Mala tidak terima. "Heh! Sembarangan!"
Mala berdecak sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dada. "Tahu lah, bodo amat, gue nggak ikut-ikutan kalau semisal itu anak orang makin baper. Yang penting gue udah kasih peringatan, saran gue mending lo ke depannya lebih hati-hati dalam bersikap. Kalau ngajarin anak koas tuh yang bener, bukannya malah bikin baper anak orang," omelnya kemudian.
"Jadi ini salah gue?"
"Ya iya lah, pake nanya lagi. Coba lo pikir aja mana ada perempuan yang nggak baper kalau udah dibeliin pembalut," gerutu Mala.
Gue menopang dagu sambil memiringkan wajah, menatap Mala yang masih asik menggerutu. "Jadi lo baper sama gue gegara pembalut juga?" tanya gue kepo.
"Menurut lo?"
Gue mengangkat kedua bahu gue secara bersamaan. "Ya mana gue tahu, kalau gue tahu, gue nggak bakal nanya."
Bukannya menjawab, Mala malah berdiri. "Udah sana lo lanjut kerjanya, gue juga mau lanjut kerja juga. Gue ke sini cuma mau kasih itu ke lo."
Gue meraih paper bag yang tadi Mala bawa, lalu menyerahkannya pada perempuan itu. "Lo balikin aja deh kalau gitu, bilangin ke dia kalau gue nggak bisa nerima karena takut istrinya gitu."
"Kok gue dibawa-bawa?" protes Mala tidak terima.
"Cari aman."
"Ngerepotin lo!" decak Mala.
"Hehe, makasih, sayang," ucap gue sambil mengedip genit. Yang langsung dibalas Mala dengan pura-pura ingin muntah.
Gue langsung terbahak. "Langsung jadi nih?" goda gue kemudian.
"Agha stop ngeselin!"
Gue masih terbahak. "Cie, salting."
"Orang gila," balas Mala langsung keluar dari ruangan gue.
Gue hanya geleng-geleng kapal seraya menatap Mala yang sudah menghilang di balik pintu.
__ADS_1
Tbc